Bab 4



Ponsel Genta menyalak. Mengiris kebekuan malam. Pemuda tersebut terlihat ogah-ogahan menerima siapa pun penelepon sialan yang mengganggunya tidur. Tidak tahukah ia, Genta baru saja bisa mengatupkan kelopak dini hari akibat sibuk mempersiapkan pendakian? Tubuh bongsor tersebut menggeliat, kemudian mengganti posisi rebah. Guling kapas yang empuk, ia peluk dengan nyaman. Dengkurnya kembali berbunyi teratur. Namun, tidak berselang lama, ponselnya meraung ulang. Suaranya yang melengking, kali ini tanpa ampun seperti mengebor gendang telinga Genta. Tidak cukup sekali, mendapat pengabaian dari Genta, ponsel itu terus mendengking. Menjeritkan lagu sumbang yang Genta unduh serampangan. Berkali-kali. Berputar-putar. Layarnya berkedip-kedip. Getarnya merambat kuat ke tubuh Genta.

"Sialan!" Genta mengumpat gusar. Kelopaknya terasa berat, seperti tertindih dua ekor banteng yang kemudian direkat menggunakan lem kayu. Butuh tenaga ekstra buat Genta untuk mengangkatnya. Merah di mata itu menandakan betapa pemuda tersebut didera rasa kantuk luar biasa. Ia menyibak juluran rambut panjangnya yang semerawut. Tangannya meraba-raba kasur untuk segera menyumpal ponsel keparat yang telah mengganggu kenyamanannya beristirahat. Tatkala gawai itu ia genggam, dan jempolnya buru-buru menggeser warna tombol merah, nama Rick Chandra serta merta menghentikan aksi Genta.

Ia menelan ludah, menggeser notifikasi jawab, dan menempelkan benda pipih tersebut di kuping. "Ya...," suara serak khas bangun tidurnya menyapa. "Da pa, Rick?"

"Res, ini nggak bisa dibiarkan gitu saja." Intonasi suara yang terdengar tergesa-gesa dari seberang sana, tak ayal seperti membunyikan alarm bahaya di alam bawah sadar Genta. "Gue baru keluar dari kantor polisi. Tahu, nggak, Res? Pukul delapan tadi malam, gue dibawa ke kantor polisi dan diperiksa sampai sekarang. Gue takut banget, Res. Seriusan."

Tembakan-tembakan kalimat Rick, sempurna membuat Genta terjaga dari tidur. Ia terlonjak, nyaris melompat. Dilarikan pandangannya ke arah jam yang bertengger di tembok depan dipannya. Pukul empat pagi. Suara-suara mengaji dari surau-surau samping gang rumahnya pantas saja sudah merebak.

"Kok, bisa? Ada yang mencurigai kamu?" Memaksa tubuhnya beranjak dari kasur, Genta berjalan menuju dapur. Ia mengambil segelas air es untuk mengumpulkan kewarasannya.

"Ada yang melihat gue ngobrol dengan gadis itu di lapangan sebelum ospek bubar. Gila! Gue diperiksa tanpa ampun. Pertanyaan-pertanyaan polisi itu kayak ngejebak gitu, Res. Kalau gue jawab, bakal ada pertanyaan serupa lainnya yang makin menjebak. Sementara kalau nggak gue jawab, mereka akan curiga. Kita harus bertindak, Res. Gue nggak ingin dipenjara, demi Tuhan."

Hantaman rasa pening itu tahu-tahu menyerang kepala Genta. Ia kembali ke kamar dan mendesah berat. Bibir kehitamannya ia gigit rupa-rupa. Berjalan mondar-mandir, Genta mencoba merangkai skenario seperti apa yang akan ia gunakan untuk menambal berbagai macam kebocoran yang mungkin saja bisa digunakan polisi untuk menangkap mereka. Masalahnya, kali ini, apabila polisi mampu mengendus kejahatan tersebut, Genta turut menjadi tersangka. Ialah pemilik otak untuk menyembunyikan jasad perempuan itu. Kawan-kawannya tidak akan mungkin diam begitu saja. Lebih-lebih Gerard dan Ben yang sedari awal menentang rencananya.

Berpikirlah, Keparat.

"Gue takut kalau polisi itu terus-terusan mengincar gue, kita bisa ketangkap. Res. Ini untung aja gue bisa berkelit dengan lancar selama pemeriksaan tadi. Coba kalau gue sampai salah ngomong sedikit saja, nasib kita nahas, Res."

Usus-usus Genta seperti ada yang memilin. Menjadikannya ngilu. Berpikirlah, Sialan.

"Tapi kamu nggak sampai membeberkan rahasia kita, kan?" tanyanya gundah.

"Nggak, lah, Sialan. Gila, apa, gue mengorbankan diri gue ke dalam marahabaya sendiri? Lagian, gue udah terikat sumpah. Gue nggak ingin kena tulah."

Jawaban dari Rick sedikit melonggarkan rasa cemas Genta. Kembali ia tenggak air putihnya, berharap kebuntuan otaknya kali ini turut larut. Hanya saja, yang ada, Genta seakan-akan dipenjarakan oleh tembok besar. Membuatnya tak mampu lolos lewat mana pun. Menyeberangi ruang, setelah meletakkan gelas, Genta membuka jendela kayu kamarnya. Hawa dingin musim kemarau langsung bergulung-gulung memenuhi ruangan. Lampu-lampu dari rumah tetangga tampak menguning di kegelapan subuh. Suara gemericik air dari tetangga tersebut terdengar, ditingkahi oleh celotehan sepasang suami istri yang ribut dari sana. Dari kejauhan, bunyi mesin-mesin motor menyeruak. Berkelindan dengan lantunan ayat-ayat suci dari toa-toa musala. Sementara di rumahnya sendiri, Genta mendengar pintu kamar yang dibuka dan ditutup, suara air dari keran, kemudian bunyi kompor yang dinyalakan. Beberapa menit setelah itu, aroma kopi tubruk yang baru diseduh menguar.

"Res, lo masih di sana, kan?"

"Apa saja yang ditanyakan para polisi itu ke kamu, Rick?"

"Macam-macam. Seperti jam berapa gue pulang? Jam berapa gue dan gadis itu di lapangan? Kenapa hanya gadis itu yang ditahan di lapangan sementara yang lainnya nggak? Dan kenapa harus gadis itu? Apa yang telah gadis itu lakukan sampai harus ditahan? Jam berapa gadis itu dibiarkan pulang? Masih banyak lagi, Res."

"Damn!" Sial! Kenapa dia bisa sampai melupakan hal tersebut? Sebuah naskah tekstual untuk membuat alibi agar mereka lolos dari kemungkinan terburuk. Seperti saat ini. "Asu!" umpatan itu lolos dari bibir Genta. "Kita harus mengarang sebuah cerita dari jawaban-jawaban yang kamu berikan kepada polisi tadi, Rick. Kita susun sedemikian rupa agar kita memiliki alibi masing-masing. Jawaban-jawabanmu kita buatkan skema alurnya, jadi nggak akan terjadi keganjilan dari kita semua apabila mereka memeriksa kita lebih intens lagi."

"Dian seorang jurnalis kampus, Res. Sementara Irang wartawan lepas. Mungkin mereka bisa merangkai cerita untuk menciptakan alibi kita."

"Briliant. Kamu masih ingat dengan semua pertanyaan dari polisi dan semua jawabanmu, kan?"

"Gue nggak mungkin melupakannya sampai kapan pun."

Jawaban Rick kali ini menerbitkan seulas senyum di bibir Genta. Kumis dan cambangnya bergerak-gerak.

"Jadi, gimana, Res, setelah ini? Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus berkumpul, Rick. Kita cocokkan semua cerita kita sewaktu diperiksa oleh polisi di kampus kemarin, dengan jawaban-jawaban yang kamu berikan malam ini. Setelah itu, minta Dian dan Irang untuk menciptakan sebuah alur yang lengkap. Mulai dari awal sampai akhir. Mulai dari pagi sampai malam. Kalau bisa buat sedetail mungkin. Dari jam, menit, hingga detiknya. Jadi, apabila polisi itu ada yang memanggil kita lagi, kita sudah mempersiapkan jawaban yang terstruktur dan nggak bisa dibantah, yang cocok antara satu dan lainnya."

Terdengar suara embusan napas di seberang telepon. "Syukur lo masih bisa berpikir waras, Res. Gue nggak tahu lagi apa yang akan menimpa gue seandainya lo nggak ada."

Genta bahkan tidak tahu, kalimat-kalimatnya barusan harus disyukuri atau bukan. Satu kebohongan tidak akan selamat tanpa ada kebohongan lain. Genta pernah mendengar ungkapan itu. Dan ia sama sekali tidak pernah menyangka, saat ini ia dan kawan-kawannya tengah melakoni gali lubang kebohongan.

"Kira-kira tempat yang tepat untuk bertemu tanpa menimbulkan kecurigaan di mana, Res?"

"Di basecamp mapala." Kalimat tersebut tercetus begitu saja dari mulut Genta. Bahkan tanpa ia pikirkan lebih dulu. "Lo semua anggota mapala. Orang-orang nggak akan curiga kalau kita tengah berdiskusi masalah ini di sana. Apalagi di bulan-bulan Agustus kali ini. Kaki Wilis kebanjiran order. Aku harap, sih, masalah kita nggak menutup jalan rezekinya Kaki Wilis."

"Sialan banget, sih, lo. Dalam kondisi kayak gini, masih aja lo mikirin untung."

"Namanya juga bisnis, Su. Aku juga butuh suntikan pemasukan untuk mengembangkan usahaku, lah. Udah, istirahat sana. Nanti kita kumpul di basecamp pukul sepuluh siang. Itu waktunya anak-anak termasuk junior kita ngumpul. Makin nggak akan terendus kalau kita akan merencanakan sesuatu di sana."

"Lah, bukannya itu justru merepotkan? Bagaimana kita diskusi kalau camp lagi dalam keadaan ramai?"

"Ya, kalau mereka pada bubar. Kayak kamu nggak pernah tahu tabiat anak-anak saja, sih? Ngumpul kalau lagi ada kelas, dan balik kalau kelas bubar. Gampang itu."

Sebuah outline cerita yang terdengar sempurna. Lebih-lebih jika Dian dan Irang mampu menyusun satu plot utuh untuk mengelabui polisi, kekhawatiran dan ketakutan Genta tidak akan terjadi. Ia yakin, jika semua orang yang terlibat dalam insiden malam tersebut mampu menyumbangkan andilnya untuk menutupi kejadian ini, kejahatan mereka tidak akan terendus. Sampai kapan pun.

Semoga.

Basecamp mapala yang terletak di belakang gedung fakultas seni rupa, Genta sulap sebagai bangunan multifungsi. Selain menjadi tempat mengumpulnya para mapala, basecamp Kampus A juga digunakan Genta sebagai kantor Kaki Wilis. Selain karena letaknya di kampus, Genta bisa melakukan dua tugas sekaligus di sana. Pemilik open trip Kaki Wilis dan ketua organisasi mapala. Ben yang Genta pasrahi sebagai admin daring Kaki Wilis, kadang turut mendaftarkan mahasiswa-mahasiswa yang ingin mendaki ke Semeru, mencatat siapa saja yang melanggar peraturan gunung untuk mendapatkan sanksi tegas dari Genta, serta siap siaga menjalin hubungan kerja sama dengan para ranger gunung—sehingga apabila ada musibah, dia bisa menginformasikannya kepada Genta.

Dian dan Siska dipasrahi sebagai orang yang mengotrol peralatan mendaki di sana. Ada dua puluh tas keril, lima puluh trecking pole, sepulu sleeping bag, tiga belas pasang sepatu gunung, dan beberapa peralatan lainnya termasuk nesting, kompor, dan tabung gas portabel yang harus mereka cek secara berkala. Baik fungsi maupun kebersihannya. Alat-alat tersebut Genta beli dari menyisihkan keuntungannya membuka jasa open trip, yang kemudian dia sewakan kepada para mahasiswa yang ingin menyewa. Sementara Rick, Gerard, Aji, dan Welirang adalah guide yang Genta rekrut.

Sebagai seorang pemimpin perusahaan walaupun masih kecil, Genta menggaji sahabat-sahabatnya dengan layak. Mungkin mereka memang teman dekatnya, tapi jika berurusan dengan bisnis, Genta akan profesional. Memberi gaji, bonus, bahkan uang lembur apabila ada pendakian yang ngaret akibat molornya para pendaki siput—pendaki yang jalannya paling lambat.

Selain merekrut sahabat-sahabatnya, Genta juga memiliki karyawan lain yang ia angkat sebagai guide dan porter dari kalangan junior. Ada sekitar lima belas orang yang stand by di Kaki Wilis. Sementara porter-porter lainnya ada empat belas orang yang tersebar di seven summits Indonesia.

Seperti yang ditargetkan Genta, pukul dua belas siang, para pendaki yang hendak maupun turun dari gunung termasuk junior-junior di Kaki Wilis yang sedari tadi seliweran sok sibuk, perlahan-lahan mengundurkan diri dari basecamp. Ruangan luas tersebut hanya tersisa tim utama Kaki Wilis. Ketika Ben memutuskan telepon dan mengabarkan kepada Genta bahwa ia gagal menego porter di Latimojong yang bisa memasakkan sesuai menu para dokter, kengerian menyeruak dari sana. Biarpun suasana di luar camp ramai oleh celoteh mahasiswa yang lagi melepas dahaga di kantin, keheningan mendadak merangkak di antara mereka.

Rick menceritakan apa yang ia alami semalam. Semuanya. Sedetail-detailnya. Hanya saja, begitu ia merampungkan kisah, Gerard yang sedari tadi terlihat sibuk merapikan webbing dan harness, mendesis murka.

"Gue bilang juga apa. Ini nggak akan lolos. Para polisi itu bukan manusia-manusia tolol, Bajingan! Mereka saja bisa mengendus ke mana perginya teroris, apalagi cuma manusia-manusia tolol kayak kita. Suka atau nggak suka, Res, gue mau melapor. Lebih baik gue dipenjara karena gue melapor, daripada gue dipenjara setelah gue kedapatan berbohong dan sengaja menyembunyikan masalah ini. Hukuman gue bisa berat."

Menyusul uraian Gerard, suara isakan tangis dari Dian dan Siska terdengar. "Tapi kamu nggak bisa egois begitu, Ger." Siska membuka suara. Ia memeluk Dian yang terkulai pasrah. "Keegoisanmu bisa membunuh kita semua di sini." Air matanya mengalir deras. "Masih ingat, kan, dengan apa yang dikatakan Genta malam itu? Nggak hanya kita yang dikorbankan. Seluruh keluarga kita pun turut berkorban. Aku nggak mau hal itu terjadi. Aku nggak tega ngelihat orang tuaku menderita karena ulahku."

"Itu lebih baik daripada diam saja, Bangsat!"

"Jangan omonganmu, Ger." Aji menyela, mengembuskan asap rokok.

"Jaga omongan gimana? Perempuan bangsat itu telah menjambak-jambak gadis nggak bersalah yang mati seminggu lalu!"

"Sialan! Lo bisa, nggak, sih, ngehargai temen lo sendiri? Siska itu perempuan!" Rick ikutan tersulut. Ia merangsek tubuh Gerard yang lebih pendek darinya. Spontan, Genta menahan tubuhnya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

"Perempuan setan maksud lo." Gerard mendesis keji. "Lo dan Aji jangan tutup mata, deh. Kita di sini nggak ada yang suci. Kita semua pembunuh. Sekali lagi gue bilang, pembunuh. Apa yang perlu dihargai dari para pembunuh di sini? Lo mau gue ngebaik-baikin Siska, sementara minggu lalu kedua tangan ini udah merenggut nyawa mahasiswa baru?"

Ketika diksi 'pembunuh' disuarakan, keadaan kian mencekam. Isak tangis Dian seperti mengiris ulu hati. Aji membuang muka. Welirang tampak tersudut di pojok ruang sambil menggigit kuku-kukunya.

"Bisa, nggak, sih, kita nggak menyebut kata laknat itu di sini?" Genta mencoba menurunkan tensi.

"Lo bilang kata pembunuh itu laknat? Lalu lo sematkan kata apa untuk manusia-manusia keparat yang udah membunuh perempuan itu, hah? Lo sematkan kata apa untuk satu-satunya manusia yang menyuruh kita semua mengubur jasad itu di sini? Apaan? Bajingan? Keparat? Anjing? Bahkan kita lebih laknat dari kata itu, Res."

Sulutan emosi Gerard seperti turut membakar emosi Ben. Menatap Genta, ia pun berkisik parau, "Benar, kan, apa kata gue, ini nggak akan berhasil. Suka atau nggak suka, kita semua memang pembunuh di sini. Selicin apa pun lo mau meloloskan kita dari sini, nggak akan berhasil. Para polisi itu memiliki kemampuan terlatih. Kita hanyalah manusia-manusia dungu yang menjadi penjahat semalam tapi berlagak sudah profesional."

"Ben, Ger, aku mohon. Kita ngumpul di sini untuk berdiskusi. Bukan untuk adu emosi. Aku memiliki satu alternatif, yang apabila kita saling mendukung, aku jamin kita bisa lolos." Sekuat tenaga, menahan amarah yang siap meledak, Genta mencoba menurunkan emosi mereka berdua. Dia tidak ingin, waktu yang seharusnya digunakan untuk menyusun siasat ini bubar jalan akibat ego dari masing-masing mereka. Genta tahu, Ben dan Gerard memiliki alasan kuat dengan pendirian mereka. Hanya saja, Genta pun memiliki pemaparan tak bisa dibantah.

"Apa jaminan lo, Res?" Seperti tidak memedulikan bagaimana usahanya Genta mendulang kesabaran menghadapi mereka, Ben kembali menyalak. "Kalau lo menjamin seratus persen kita bisa lolos, gue ucapkan sekali lagi, seratus persen, baru gue akan percaya pada lo. Apa yang telah lo lakukan pada kita memang seberat itu, Res."

Genta berdecih. Membuang tatapan. Kedua perempuan itu masih terus terisak. Welirang seperti hendak melenyapkan tubuhnya dari ruangan ini. Sementara Aji tampak tidak tahu harus berbuat apa. Laki-laki itu hanya menatap Genta. Kalimat yang Genta lontarkan barusan, cukup untuk membuatnya mengangkat alis. Memiliki alternatif? Dilihat dari sisi mana pun, Genta memang sosok yang cukup menyebalkan. Kadang, sifat kepemimpinannya terkesan otoriter. Apalagi jika ada mapala yang kedapatan melanggar aturan di gunung, Genta tidak akan segan-segan memberikan hukuman berat. Tapi tak pernah sekali pun Aji meragukan kemampuan berpikir Genta. Apabila Genta berkata A, maka ia meyakininya dengan takzim. Kendati ia sering menyepelekan Genta dan selalu merundungnya, Aji senantiasa berkata iya buat Genta. Meskipun ia sering adu mulut, bahkan adu tonjok dengan Genta, Aji adalah 'iya' di setiap perilaku dan kalimat Genta.

"Kamu seperti melimpahkan semua dosa ini kepadaku, Ben." Genta sama sekali tidak menduga, bahwa Ben akan menembaknya seperti ini. "Padahal kamu tahu, apa yang terjadi sebenarnya. Tidak ada dosa kecil maupun besar di sini. Semuanya sama. Rata. Masing-masing dari kita memikul kesalahan itu. Nggak hanya aku saja."

"Iya, gue akui, kita semua memang memikul kesalahan dan dosa merata. Tapi, lo dalang dari semuanya, Keparat! Semua masalah ini bermula dari lo! Coba kalau lo nggak memaksakan diri menutup semua kemungkinan, mungkin kita nggak akan belingsatan kayak sekarang. Lo dan sifat sok heroik lo itu sama sekali nggak dibutuhkan di sini. Gue muak setiap lo berkata bisa menyelesaikan semuanya! Gue muak setiap lo bilang untuk kebaikan semuanya! Lo bukan nabi! Lo bukan utusan Yesus! Lo hanya manusia keparat yang kebetulan memiliki kemampuan menjadi pemimpin." Di ujung kalimat itu, Ben tertawa culas. Ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot sambil mendesis, "Pemimpin anjing!"

Kedua tangan Genta terkepal erat. Hatinya meradang. Darahnya seperti meledak-ledak. Lelaki itu tidak hanya melimpahkan semua masalah ini padanya seorang, ia juga menghinanya serupa anjing. Gigi Genta gemerutuk menahan emosi. Satu tonjokan bisa saja ia daratkan di muka Benedictus untuk menyumpal mulut berengseknya. Tapi itu tidak akan mungkin ia lakukan. Emosi yang meledak-ledak di ruangan ini akan kian menjadi dan memecah belah mereka jika ia kalap. Demi Tuhan, tujuannya mengumpulkan para manusia biadab itu untuk mencari jalan keluar. Bukan justru bertengkar seperti orang tolol. Kejadiannya mengingatkan Genta kala menyerukan mengubur jasad mahasiswa baru. Dan itu cukup membuatnya merinding.

"Aku hanya mencoba mencari jalan keluar." Mati-matian Genta menahan intonasi suaranya agar tidak terlepas. Semenjak Ben mengamuk kepadanya pasal larangan menemani para pendaki itu, belum sekali pun Ben menghubungi Genta. Telepon-telepon Genta, ia abaikan. Tidak ada satu pesan pun dari Genta yang menanyakan pendakian tanggal tujuh belas nanti dijawab oleh Ben. Dan kali ini, dipupuk emosi siang di beberapa hari lalu, seperti membakar tumpukan jerami dalam dada Ben. Genta tahu itu. Dan ia tak ingin kian memperkeruh suasana.

"Jalan keluar apaan yang lo cari buat kita? Yang ada, lo justru menggali lubang kuburan buat kita! Lo selalu seperti itu, mencoba mencari jalan keluar menurut versi lo! Oke. Di dalam organisasi dan pekerjaan sialan ini, lo emang atasan kita. Tapi di luar itu, lo nggak lebih dari manusia bajingan yang suka ngatur-ngatur hidup orang! Sekali lagi, lo bukan utusan Tuhan. Lo nggak berhak menentukan kehidupan orang lain tanpa seizin mereka!" Benedictus kian meledak-ledak. "Berhenti menjadi manusia sok mimpin! Lo nggak sebecus itu, Res! Nilai kepemimpinan lo tak lebih baik dari babi-babi sialan di luar sana! Lo jangan merasa paling dibutuhkan di sini!"

Maki-makian Ben yang tanpa ampun merudal kesabaran Genta, membuat Rick kehilangan kendali. Ia menggeser tubuh Genta, dan dalam sekali ayun, sebuah tonjokan ia hantamkan di wajah Ben. Telak. Tak meleset sedikit pun. Terdengar bunyi krak yang Genta asumsikan patahnya kacamata Ben. Laki-laki berkacamata tersebut lengser seketika. Tubuhnya membentur kaki Gerard.

"Bajingan lo!" Sebagai balasan atas tindakan Rick, Gerard melayangkan bogemnya ke arah Rick. Darah muncrat detik itu dari bibir Rick. Keributan melalar. Dian dan Siska menjerit. Hal itu menimbulkan kengerian bagi Welirang. Tubuhnya bergetar hebat di pojok ruang. Kuku-kukunya bisa habis jika ia kerikiti membabi buta.

Ketika kedua orang tersebut hendak melanjutkan adu tinju, Genta dan Aji menyeruak. Memisahkan mereka.

"Kalian semua, bisa dewasa dikit, nggak, sih?" Aji membuang puntung rokoknya dengan gusar. Ia menyeret tubuh Rick menjauh. Sementara Genta memepet Gerard di sisi lain.

"Bacot lo bisa diem, nggak, Sialan?" Tidak mengindahkan Genta dan Aji yang berusaha menjaga ketegangan di ruangan ini surut, Rick meraung murka. Ia kembali melangkah mendekati Ben. "Lo pikir, kalau lo bisa menghakimi Genta sebagai pemimpin anjing, terus lo apaan? Laki-laki pengecut yang kabur saat teman-teman lo dalam masalah? Laki-laki sialan yang justru memikirkan perut di saat teman-teman lo lagi diserbu emosi? Banci! Lo nggak cocok pakai celana. Seharusnya lo ikut ke jajaran Dian dan Siska. Pakai rok. Pakai make up. Penis lo ganti dengan meki. Bajingan lo!"

Seharusnya kalimat itu tidak Rick keluarkan. Respons Benedictus mengerikan. Tahu dia tidak akan mampu mengalahkan Rick Chandra, Ben menyeruduk Rick hingga membentur tembok dengan keras. Kontan, Rick terbatuk. Aji dan Genta kelimpungan memisahkan mereka. Kedua tangan Ben memukul-mukul udara kosong ketika Genta menggeretnya menjauh. Sementara Aji membutuhkan tenaga ekstra untuk mengepung tubuh Rick.

"Demi Tuhan! Kalian berhenti! Aku mohon! Oke, aku salah! Aku manusia anjing! Perempuan keparat! Tapi kumohon, jangan memperkeruh suasana. Berhenti bertengkar. Aku mohon." Jeritan itu terdengar di sela isak kencang Dian. Ia bahkan berlutut di kaki Ben dan Gerard.

"Yan, udah jangan gini. Berdiri." Melepaskan pinggang Ben, Genta menghampiri Dian dan menarik lengannya.

"Enggak, Res. Aku akan menyembah mereka kalau itu yang mereka butuhkan agar tenang. Agar mereka nggak ribut lagi." Air mata berlinang deras dari mata wanita tersebut. Suaranya yang tersendat-sendat, seperti mengoyak perasaan Genta. "Aku akan menyembah mereka agar mereka mengikuti arahan dari kamu. Aku takut, Res. Demi Tuhan. Aku takut banget." Tubuh Dian tremor berat. Siska merengkuhnya ke dalam pelukan. Tangis mereka pecah. Suasana makin emosional.

"Aku juga minta maaf, Ben, Ger. Aku juga salah." Suara Siska mencicit. Meremangkan bulu kuduk. "Aku belum belajar bertahan melihat orang tuaku jatuh sedih apabila aku dipenjara. Aku mohon dengan maaf. Mohon maaf. Kamu boleh mamanggilku perempuan setan, perempuan anjing, apa pun, asal kalian mau mendengarkan Genta. Kali ini saja."

"Arinda masih sangat kecil." Dian menimpali. Siapa pun yang mendengar suara tangis perempuan muda tersebut pasti tidak akan mampu menghunuskan parang di dadanya. Melihat kedua wanita itu saling peluk dan membagi kesedihan, hati Genta hancur. Ada yang terasa melubangi perasaannya. "Ia masih balita. Orang tuaku sama sekali nggak mau mengakuinya sebagai cucu. Lebaran kemarin aku ajak Arinda berkunjung ke rumah eyangnya, tapi bahkan aku nggak diorangkan di sana. Jangankan disapa, mereka tidak melihatku ada, Res. Apalagi menimang cucu mereka. Aku nggak punya saudara yang akan menjaga Arinda kalau aku dipenjara. Aku nggak punya hati memasukkannya ke dalam panti asuhan. Tolong aku, Res. Aku mohon."

Genta menutup mata. Kalimat-kalimat Dian dan Siska benar-benar bak tombak yang merunjam jantungnya. Ia menarik napas landung guna merontokkan emosi yang kobar mendengar caci makian Ben. Membuka mata dan melepaskan napasnya, ia melesatkan pandang ke arah Welirang. Laki-laki kurus berambut keriwil tersebut jauh lebih mengenaskan. Ia membentur-benturkan kepala ke tembok. Dan tak ada satu pun dari mereka yang tahu.

Pemuda berambut gondrong itu menggerakkan kakinya ke sana. Ia mengelus pundak Welirang dengan sabar.

"Irang. Hei. Udah, jangan dibentur-benturkan lagi. Semua baik-baik saja. Irang." Kuat, Genta menahan kepala Welirang. Air mata berjatuhan menimpa bibir tebal pemuda mungil tersebut. Ia menggeleng berkali-kali ke arah ke Genta. Tubuhnya bergetar hebat.

"Mas, demi Allah, lebih baik Mas bunuh aku dengan Biyung jika Mas memasukkan aku ke dalam penjara. Sudah dua hari ini Biyung terbaring di rumah sakit, Mas. Tensi darahnya naik dan hanya aku yang bisa merawat dan menjaga Biyung. Aku mohon, Mas, bunuh aku dan Biyung, Mas. Bunuh kami berdua. Itu lebih baik daripada Mas memisahkan kami."

Aji menutup mata. Cerita yang dikidungkan Dian, Siska, dan Welirang seperti tubir yang ia jumpai di puncak Raung. "Saya percaya sepenuhnya padamu, Res," ungkapnya. Segala pembelaan yang kemarin pernah ia dedahkan kepada Genta, luruh melihat bagaimana kondisi ketiga sahabatnya. "Kamu tahu apa yang terbaik."

"Kita semua memang pembunuh." Genta tak pernah membayangkan, efek dari diksi 'pembunuh' yang diucapkannya begitulah hebat. Bulu kuduknya meremang. Isi perutnya berjumpalit. "Dan seperti kataku, kita semua akan menjadi pembunuh di antara masing-masing teman kalau kita masih terus seperti ini. Aku memang bajingan. Pemimpin anjing. Tapi aku nggak ingin menjadi pembunuh lagi. Cukup sekali dalam hidupku, aku pernah memiliki pemikiran bajingan kayak gitu. Aku nggak ingin berhadapan dengan kata penyesalan lagi."

"Maksud lo apa?" Gerard menyalak.

"Lo bisa diem, nggak, sih, Anjing?" Meniriskan tetesan darah dari di pojok bibir, Rick kembali menantang Gerard. Aji yang berdiri di sampingnya, siaga memiting pergerakan Rick.

"Baik. Aku akan mengatakan ideku, tapi aku nggak mau ada yang menyelaku. Jika ada kalimat yang nanti aku ungkapkan menyakiti kalian,"—Genta menatap Ben dengan tajam kala mengucapkan kata-kata barusan—"kalian nggak ingin berhadapan denganku dalam kondisi seperti ini. Percayalah!" Suara desisannya yang mirip ular meremangkan bulu kuduk. Matanya yang berbingkai bulu mata lebat, mendelik gusar. "Sedari tadi aku sudah berusaha sabar. Kali ini aku nggak ingin salah satu dari kalian menguji kesabaranku." Alis lebat Genta bertaut. Tatapannya nyalang menyisir semua orang yang ada di sana. Keningnya mengerut tidak suka. "Kalian tahu batas sabarku seperti apa. Dan jangan main-main denganku. Kalian benar-benar tidak akan sudi berhadapan dengan Gentares Mapanji Garasakan dalam keadaan murka kali ini!"

Pemuda tersebut hanya akan menyebut sebaris namanya dengan lengkap jika kondisi yang ia hadapi tidak mampu lagi ditoleransi. Suasana langsung lenyap. Tangis Siska dan Dian menyusut. Gerard dan Ben tampak masih emosi, tapi mereka tidak memiliki pilihan selain diam. Welirang mampu menguasai kondisinya. Ia mendekat. Rick Chandra menyandarkan punggung di tembok dengan raut lega.

Aji selalu mengagumi bagaimana pemuda itu mampu mengendalikan suasana ketika Genta disulut emosi. Genta memang manusia jenaka, tapi amarahnya adalah musibah. Genta senantiasa sanggup mengontrol emosinya, tapi ketika kemarahannya terlepas, Genta bisa menjadi manusia yang menakutkan. Sekali Aji melihatnya mengamuk, dan pemuda itu bersumpah, ia tak ingin melihatnya lagi kapan pun.

"Kita semua sudah diperiksa polisi barang satu atau dua pertanyaan saat mereka sampling kemarin," lanjut Genta. "Sementara Rick diperiksa semalam suntuk seperti yang diceritakannya tadi. Tugas kita kali ini adalah menciptakan alibi. Aku dan Aji sudah memiliki alibi yang kuat. Jadi sekarang tinggal membuat alibi untuk kalian semua. Kita daftar semua pertanyaan dan jawaban yang sudah kita berikan kepada polisi. Kita urutkan jawaban itu untuk dibuatkan sebuah kerangka karangan." Seperti apa yang dikatakannya melalui telepon, Genta mengurai strateginya di atas mimbar. Suaranya yang tegas dan lantang, tatapan matanya yang galak, tidak ada yang mampu membantah. Semua terdiam kala Genta memaparkan taktik. Ia menatap satu per satu temannya, seperti mengajak mereka ngobrol sekaligus menawarkan ancaman kepada siapa pun yang ingin menyela.

Lama Genta bersuara, tak ada satu pun di antara mereka yang menyela. Semuanya seperti mati di tempat mereka berdiri masing-masing. Dalam satu jurus yang mengerikan, Genta mampu menguasai keadaan. Dan baru ketika ia membagi peran, kehidupan kawan-kawannya kembali terendus. Dian dan Welirang seperti disuntik tenaga ketika Genta memasrahinya tugas dan tanggung jawab sebagai penulis skenario. Rick tak segan-segan menuliskan sederet pertanyaan dan jawabannya semalam. Mendadak, ruangan kembali riuh oleh pekerjaan. Ketegangan berangsur-angsur mengendur. Gerard dan Ben tidak memiliki celah untuk membantah. Bahkan sejatinya, bagi mereka, ini rencana yang tidak terduga.

"Data siapa saja tim komdis yang kemarin turut berhubungan dengan gadis itu. Lalu korek lebih jauh latar belakang kehidupannya. Bahkan kalau bisa, apa saja yang mereka lakukan setelah pulang dari kampus. Tapi ingat, jangan sampai mencurigakan."

"Aku bisa melakukannya, Res." Siska mengangkat suara. Genta mengangguk kecil.

"Ada yang bisa membantu Siska? Supaya alur cerita yang dibuat Dian dan Irang semakin kokoh?"

Mendengus, sambil memalingkan muka, Gerard mengemukakan ketersediaannya. Langsung saja dia dan Siska mendata para komdis yang turut bertugas hari itu.

Di sisi lain, Genta menatap Ben. Pemuda itu masih tampak enggan menyetor mukanya ke arah Genta. Genta maklum. Ada satu urusan yang belum tuntas di antara mereka. "Untuk kamu, korek latar belakang kehidupan gadis itu. Semuanya. Cari siapa nama lengkapnya. Siapa orang tuanya. Dia tinggal di mana. Kehidupan sosialnya seperti apa. Apa saja akun-akun media sosialnya, dan print out semua aktivitas daringnya. Jangan ada yang sampai terlewat. Aku menunggu secepatnya."

Ben tidak menjawab, tapi tak urung, ia berjalan melintasi ruang dan menyambar laptop dari tasnya.

Melihat itu semua, Genta mengembuskan napas lega. Ia kembali menyulut sebatang rokok, lantas keluar dari ruang itu. Udara Yogyakarta di siang yang terik ini memang bukan yang terbaik, tapi itu jauh lebih menyegarkan daripada ruangannya yang penuh sesak akan emosi. Mengempaskan diri di kursi kanan pintu, Genta mencoba mengais ketenangan dari asap-asap rokok yang ia embuskan. Tak berselang lama, Aji turut menjatuhkan diri di sampingnya. Ia meminta api dari rokok Genta ketika mulai membakar sebatang sigaret.

"Aku nggak tahu ini jalan yang terbaik atau justru sebaliknya," Genta berkata parau. Para mahasiswa yang sedang berceloteh di kantin tampak tak terusik sama sekali dengan pertikaian di basecamp mapala barusan.

"Tapi setidaknya kamu sudah mencoba, Res." Pandangan Aji memindai kain tenda yang berayun-ayun diterpa angin yang dijemur di halaman basecamp. "Kalau setelah usaha semaksimal ini pun berujung gagal, setidaknya kita sudah usaha. Nggak ada yang perlu disesalkan."

"Aku sangat nggak siap melihat bagaimana keluarga kita hancur dengan aksi yang aku ambil. Lebih-lebih anaknya Dian dan ibunya Irang."

Rasanya, menyejajarkan Genta dengan ekspresi murung adalah hal yang mustahil. Dalam kondisi apa pun, bahkan nyaris sekarat sewaktu terserang hipo di puncak Slamet, Genta tetap bisa mengeluarkan sebaris senyum. Celetukan banyolnya konstan mengudara. Susah sekali mendapati Genta bermuram durja. Bahkan Aji sanksi, Genta adalah laki-laki keras kepala dengan senyum paling murahan yang pernah ada. Seperti lonte di Sarkem yang memasang tarif tidak layak untuk pelayanan berjam-jam. Tapi kali ini, semenjak kejadian pada malam mencekam itu, Aji benar-benar menjumpai sosok Genta yang asing. Genta yang berbeda. Ia murka dalam satu tempo. Namun ia nelangsa di tempo lainnya. Ia bisa mendulang rasa welas, tapi mampu menggentarkan di lain pihak. Unik. Membuat Aji kian ingin tahu, apalagi ekspresi yang bisa diberikan Genta kepadanya selain roman-roman menjijikkan seperti biasa.

"Jangan pernah menjadi pahlawan buat siapa pun, Res." Ia mengetuk ujung rokoknya guna membuang abu. "Kamu nggak bisa menyelamatkan semua orang dalam sekali rengkuh." Kembali diisapnya batang rokok tersebut. "Tubuh kamu memang kekar, tapi kamu hanyalah manusia seperti saya, seperti Ben, seperti Dian maupun Siska dan Welirang. Ada bagian-bagian dari diri kamu yang nggak mampu menjangkau semua hal dan kamu jangan memaksakannya."

"Aku hanya ingin menolong teman-teman kita."

"Saya tahu. Tapi, kamu harus tahu batas kemampuanmu. Jangan dipaksa. Kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi kemudian jika kita memaksakan kehendak kita. Kita cukup melakukan bagian-bagian yang bisa kita jalani dan biarkan alam yang menyelesaikan bagiannya."

Genta berpaling ke arah AjiSaka. Ditatapnya pemuda itu dengan pandangan sayu. Kemudian ia berujar lirih,"Aku takut banget, Ji. Demi apa pun, aku takut banget. Aku memiliki firasatburuk, dan sumpah demi apa pun di dunia ini, aku nggak ingin salah satu diantara kita celaka."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top