Bab 3
Jutaan tetes air shower yang jatuh merunjam tubuhnya, Genta harap mampu menggeriapkan ketakutan dalam kepalanya. Tapi, sial, setiap ia menutup mata, ketakutan itu bertambah besar. Mengintai kewarasannya. Mengencingi agama kemanusiaan yang selama ia hidup ia anut dengan teguh. Ia berteriak lantang, lantas meninju tembok keramik. Berharap bayang-bayang perempuan itu hancur dalam sekali hantam. Namun, Genta harus menelan kekecewaan ketika yang ada justru gambaran-gambaran yang semakin nyata. Semakin melucuti keberaniannya. Semakin menertawakan pilihannya.
Wajah perempuan itu benjut. Pipi kirinya membiru. Dua giginya—entah gigi bagian mana—tanggal. Bibirnya pecah. Hidungnya bengkok dan mengeluarkan banyak darah. Pelipis kanannya sobek. Darah merembes dari kepala bagian belakang. Demi Tuhan, kekejian seperti apa yang mampu membuat wajah ringkih gadis ini bisa mengerikan seperti itu? Apa yang telah sahabat-sahabatnya lakukan padanya? Genta tidak bisa menakar, bagaimana sakitnya penganiayaan yang perempuan ini dapatkan sebelum nyawanya diberangus manusia-manusia sialan itu? Agak-agaknya, menyematkan kata manusia kepada bajingan yang telah mencederainya sungguhlah sulit. Seperti memaksanya menelan satu kuintal adonan semen.
Genta tidak mampu mengidentifikasi seperti apa rupa perempuan ini kala masih hidup. Namun, satu yang membuat Genta teringat bahkan sampai ketika ia merampungkan aksinya, tahi lalat di atas tulang pipi kirinya. Tahi lalat tersebut kecil saja, bahkan nyaris tidak Genta kenali akibat darah, tapi mampu menampar Genta kuat-kuat. Mampu menciptakan dunia fantasi dalam kepala Genta. Perempuan ini pasti manis. Mengingat bagaimana Rick Chandra menggambarkan dia selalu menentang setiap aturan yang diberikan oleh tim Komdis, menarik satu garis simpul; perempuan manis yang berani; perempuan manis yang memiliki kekuatan dan prinsip. Dan Genta, adalah satu-satunya orang yang memiliki pemikiran keparat untuk menyembunyikan jasadnya di dalam tembok.
Ya, Tuhan.
Tubuh Genta bergetar hebat. Kembali ia tinju dinding keramik di hadapannya. Berkali-kali. Sampai buku-buku jarinya terasa remuk. Berharap, setiap tinju yang ia layangkan, mampu meringsekkan bayangan-bayangan sialan yang terus bercokol di kulit kepalanya. Air mata merembes dari bulu-bulu matanya yang tebal, berkelindan jadi satu dengan air shower. Lantang, ia berteriak lagi. Lebih kuat. Lebih menyedihkan. Lebih memprihatinkan.
Ya, Tuhan.
Genta bersimpuh. Punggung telanjangnya digempur tetes-tetes air shower. Kedua tangannya ia tatap dengan perasaan hancur. Perasaan bersalah. Perasaan terkutuk. Kedua tangan berengsek inilah yang mengangkat jasad perempuan itu. Tubuhnya kecil. Bahkan terasa seringan kapas. Sewaktu Genta mengangkatnya dari lantai, kepala perempuan itu terkulai di dadanya. Kaki-kakinya yang kecil terayun-ayun mengenai lututnya. Kelopak matanya yang turut terluka tampak tertutup dengan tenang. Bulu matanya yang pendek dan tipis mengingatkan Genta dengan tumbuhan putri malu, yang apabila disentuh, akan menutup diri. Rambut perempuan itu panjang, dan ketika mengenai lengan Genta, teksturnya terasa selembut abu. Sewaktu surai tersebut tertimpa sinar lampu, mereka mengilap keperakan. Menceritakan sebuah kisah bahwa rambut ini adalah rambut yang tidak absen dari perawatan.
Kedua tangannya yang turut dibabat habis manusia-manusia keparat tersebut, memberitahu Genta bahwa mereka adalah tangan-tangan yang terawat. Bersih, sehat, kencang, dengan bulu-bulu yang lumayan panjang. Hanya saja, kulit itu terasa sedingin es serut. Tidak ada kehangatan sebagaimana manusia pada umumnya. Dan itu cukup untuk menyadarkan Genta bahwa, perempuan ini memang benar-benar mati. Ia memang benar-benar telah dibunuh. Oleh sahabat-sahabatnya sendiri. Dan sialnya, Genta sama sekali tidak mengira bahwa ialah satu-satunya jenderal di dalam insiden mengerikan ini yang menginstruksikan untuk memendam jasadnya di balik lemari besar. Ketika kebanyakan temannya meminta Genta untuk melapor, Genta justru berpikiran lain.
Ia telah memutus hubungan perempuan ini dengan dunia.
Ia telah memutus hak keluarga perempuan itu untuk tahu keadaan yang sebenarnya.
Ia turut menyumbang kesedihan sebuah keluarga.
Ia turut mengambil andil hancurnya sebuah harap dan cita orang tua kepada anaknya.
Ya, Tuhan.
Genta tidak tahu, benarkah aksinya kali ini? Benarkah keputusannya malam ini? Jujur saja, ucapan Ben tak luput dari pemikirannya. Bagaimana jika setelah peristiwa besar yang ia ambil alih, para polisi tetap mampu menemukan jasad korban dan menangkap para tersangkanya? Hukuman yang ia dan teman-temannya dapat akan jauh lebih besar. Konsekuensi yang mereka terima bisa berkali-kali lipat. Itu artinya, segala pertimbangan yang ia godok secara paksa akan bubar jalan. Gambaran hidup Biyung dapat ditebak seperti apa. Anak perempuan Dian akan terpampang jelas masa depannya. Kekecewaan dan kesedihan orang tua Rick seperti dapat Genta rasakan, dan kegagalan-kegagalan Siska berembus tepat di urat nadinya. Semuanya menjadi omong kosong. Sebagaimana isi otaknya subuh ini.
Genta mematikan shower. Ia mengusap muka dengan perasaan letih. Sebelumnya, ia tak pernah didera payah seberat ini. Mendaki tiga gunung dalam sepekan pun, tak mampu menitipkan rasa capai di otot-otot Genta. Bahkan saat terperosok ke jurang kala mendaki Arjuna, tak sanggup memenjarakan tubuh Genta dengan sesuatu bernama penat. Genta pernah berhadapan dengan maut berkali-kali sewaktu mendaki gunung, dan jujur saja, efeknya tidak semenakutkan sekarang. Diksi payah yang selama dua puluh dua tahun ini agak-agaknya lesap dari hidupnya, kini muncul dan memberati jasadnya.
Mendadak, ketika subuh mulai merangkak di kaki-kaki langit, Genta rindu beristirahat. Mungkin satu atau dua jam saja. Atau mungkin satu atau dua minggu. Bisa jadi satu atau dua tahun. Atau barangkali, untuk selamanya.
Genta mendesah. Berat.
Ia memakai bokser setelah mengeringkan tubuh. Singlet bersih yang ia ambil serampangan dari lemari, ia kenakan. Tadi, sebelum ia pulang, Genta tak lupa mengubur pakaiannya yang telah bersimbah darah korban di tempat yang jauh dari kampus. Segala macam bukti yang mungkin saja mampu diendus polisi, Genta dan kawan-kawannya lenyapkan tanpa sisa. Genta tidak pernah meragukan kemampuan Rick dalam berseni. Sekalipun Rick mengambil jurusan seni lukis, ia menurukan darah pemahat dari ayahnya, dan kemampuan mendekor dari ibunya. Tembok di belakang lemari yang ia jebol untuk menyembunyikan jasad perempuan itu kembali seperti semula. Dinding tersebut tidak mencerminkan dinding baru didempul. Jika tidak diperhatikan betul-betul, orang akan mengira partisi tersebut sudah dibangun sejak puluhan tahun. Darah-darah yang berceceran dilantai mampu diatasi oleh Dian dan Siska. Dan, ruangan yang berantakan, disulap rapi oleh Welirang, Ben, dan Gerard.
Semua bekerja dengan tangkas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata. Setiap orang seperti sadar bagiannya masing-masing. Dalam sekejap mata, sebelum Genta benar-benar meninggalkan ruang terkutuk itu, Genta sama sekali tidak menyangka, bahwa kejadian biadab telah terjadi di sana. Ruangan itu membisu, tapi sejatinya menjadi satu-satunya saksi atas sulur-sulur kemanusiaan yang meranggas membabi buta di sana.
"Semuanya baik-baik saja, Genta?" Petrus, laki-laki berbadan ramping, menyambut Genta ketika ia keluar dari kamar mandi. "Ayah mendengarmu berteriak-teriak dari tadi. Ada masalah di Semeru?"
Berniat mengabaikannya, Genta berlalu tanpa menjawab pertanyaan Petrus.
"Kamu bisa menceritakan semuanya pada Ayah, Genta."
Kedua kaki itu kembali berhenti. Suara air dari keran dispenser yang dibuka terdengar. Detik berikutnya, aroma kopi mengudara ketika denting sendok yang beradu dengan cangkir menyuruk telinga Genta. Derit kursi yang ditarik ke belakang menyumbang suara tak berselang lama. Setelah itu, bunyi cangkir yang diletakkan dengan hati-hati di atas meja mencuri pendengaran Genta. Ia masih belum mau berbalik. Bahkan sejatinya, ia enggan berhenti.
"Kamu terlihat bersemangat sekali di angkringan tadi. Kenapa sekarang jadi seperti orang yang banyak masalah?"
Genta mendengar suara seruputan perlahan-lahan.
"Kamu bisa membagi masalahmu pada Ayah."
Kopi tubruk. Tiga sendok kopi dengan satu sendok gula. Diaduk—secara alam bawah sadar—enam kali searah jarum jam. Biji kopi yang disangrai sendiri setiap dua minggu sekali, menjadikan rumah mungil di kawasan Wirobrajan tersebut kental dengan bebauan kopi. Di atas meja kayu berwarna hitam yang ada di ruang keluarga ini, terdapat stoples-stoples kaca berisi biji kopi yang dibeli—secara langsung tiap sebulan sekali—di daerah Jebres. Di antara ketidaksukaan Genta teramat sangat pada sosok laki-laki itu, kopi-kopi yang ia ramu di rumah ini adalah pengecualian. Acap kali Genta merasa stres, wangi-wangian khas dari kopi tubruk mampu mengurai tekanan-tekanan dalam kepalanya.
Genta berharap, aroma kopi subuh ini turut menggerai rasa cemasnya. Tapi Genta tahu, berton-ton kopi didatangkan ke rumahnya kali ini pun, tidak akan sanggup mempreteli ketegangan yang saat ini ia rasakan.
"Apakah klienmu komplain dengan pelayanan yang kamu berikan sewaktu di Semeru?" Suara seruputan lagi. Tiga kali sehari. Tidak boleh telat, atau orang tua itu akan mengalami pening tak berkesudahan. Kopi adalah hal yang wajib bagi Petrus. Dokter sudah menginformasikan bahwa jantungnya butuh perhatian lebih kalau mau berumur panjang. Hanya saja, memisahkan Petrus dengan kopi adalah hal yang muskil.
"Nggak ada masalah," jawab Genta pendek.
"Tapi kamu terlihat bersemangat sekali tadi malam, Nak. Bersemangat sekali menandaskan nasi kucingmu dan mengabaikan Ayah. Bersemangat sekali bercerita dengan Aji. Kenapa kamu berantakan pagi ini?"
Emosi berdenyut-denyut di ubun-ubun Genta. Ia paling tahu, mengabaikan eksistensi ayahnya di muka umum seperti mengetuk sisi feminin ayahnya. Laki-laki itu akan merajuk. Sepanjang hari. Dan Genta sungguh lelah meladeninya di saat seluruh tubuhnya terasa ambruk. Ia berbalik, melarikan pandangan, menatap ayahnya. Laki-laki enam puluh lima tahun. Penari Lengger yang tadi ia jumpai di angkringan depan Stasiun Tugu. Jika tanpa busana perempuan, Petrus adalah pria biasa. Memiliki tubuh ramping dengan hidung besar. Kepalanya pelontos. Bibirnya lebar, yang sering tertarik ke atas untuk menawarkan senyum. Dan apabila ia memahat senyum, wajahnya akan terlihat jenaka. Gigi menguningnya yang rapi akan terpampang. Mata besarnya akan mengecil. Ia memiliki alis lebat yang ia wariskan kepada Genta. Tulang pipinya menonjol. Satu-satunya yang khas dari wajah Petrus adalah dagunya. Tulang rahangnya panjang dan meruncing. Ketika ia berbusana perempuan, dagu itu akan terlihat centil menatap lawan jenis.
Genta tidak suka itu.
Bukan. Genta membenci semua yang ada pada diri Petrus.
Semua.
Apalagi jika laki-laki tersebut sudah memakai kemban, selendang, jarik, sanggul, pulasan make up tebal, dan melenggokkan tubuhnya dengan luwes seperti ia jumpai sewaktu mengamen semalam, rasa benci itu kian membengkak. Memenuhi rongga dadanya. Menimbulkan keinginan membunuhnya saat itu juga—walaupun Genta tahu, ia tak mungkin melakukannya. Kilasan masa lalu paling keji yang pernah ia miliki seperti kembali dididihkan di atas kuali. Dan memuntahkan rasa sakit yang sama seperti pertama kali ia dapatkan. Ingin rasanya Genta melihat laki-laki itu menderita, kemudian mati mengenaskan sebagaimana neraka yang telah laki-laki itu buat untuk Genta. Tapi Genta tahu, itu hal paling mustahil yang selalu ia mimpikan kala kebencian menyetubuhinya hidup-hidup.
"Hanya masalah kecil di kampus," ungkapnya setengah hati. Menyejajarkan laki-laki tersebut dengan sosok 'ayah' adalah hal yang sulit. Seperti memaksanya memakan seonggok tahi. Sejak kejadian mengenaskan tersebut, sampai sekarang, tidak pernah sekali pun ia sudi menyebutnya ayah. Jangankan menyebut dan melihat keberadaannya sebagai ayah, menghirup oksigen yang sama dengannya saja enggan. Jika ia tidak memiliki tanggung jawab di rumah ini, Genta sudah pasti minggat dari rumah ini dari jauh-jauh hari. "Nggak usah khawatir. Aku bisa melewatinya."
Petrus terdiam. Bola mata hitamnya yang serupa Genta menelisik pemuda itu dengan sayang. "Andai Ayah bisa membaca pikiranmu, Nak. Ayah ingin berperilaku normal sebagaimana seluruh ayah di muka bumi."
Genta hanya mendengus.
"Hampir sebulan ini kamu nggak ada di rumah, Genta. Kamu juga sulit Ayah hubungi. Ponselmu selalu nggak aktif. Berbagai pikiran buruk datang di kepala Ayah. Bagaimana kalau kamu terjadi apa-apa di gunung? Bagaimana kalau kali ini kamu sampai nggak bisa lolos berhadapan dengan maut? Ayah khawatir, Genta. Dan melihatmu tertawa di angkringan tadi rasa-rasanya hadiah terbesar buat Ayah. Ayah berharap kamu menemui Ayah, mengabarkan bahwa kamu baik-baik saja."
"Kamu nggak akan melakukan hal terkutuk itu padaku kalau kamu memang khawatir." Intonasi suara Genta meninggi. Bukannya Genta tidak sengaja mengabaikan ayahnya selama sebulan ini. Hanya saja, Petruslah orangnya. Dia adalah sumber dari semuanya. Sebagai satu-satunya orang yang menyebabkan Genta berkenalan dengan gunung. Dengan cara yang berbeda. Bahkan kalau bisa, Genta ingin berada di gunung agar tidak bertemu dengan laki-laki itu.
Selamanya.
Apa yang telah Petrus perbuat padanya di masa silam... bukanlah hal yang mampu Genta hapuskan sampai sekarang. Demi Tuhan. Sepuluh tahun, tapi luka itu masih sebasah Ranukumbolo. Hatinya masih sebeku Kalimati. Biarpun ia kabur ke seribu gunung di negeri ini, tidak akan mampu menghapuskan neraka itu dalam ingatannya. Genta sudah muak menyimpan ribuan dendam dan benci kepadanya. Tapi, Genta bisa apa? Seseorang yang turut tinggal di sini jelas tidak mungkin Genta abaikan begitu saja.
"Jika nggak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku mau istirahat."
Petrus terdiam. Jari-jarinya bergetar. Ia menunduk. Diraihnya gagang cangkir, kemudian diseruputnya kopi tubruk pelan-pelan. Sekali saja, Petrus selalu berharap, sekali saja ia bisa meraih anaknya sebagaimana ketika ia menggendong pemuda itu kala masih bayi. Hanya saja, Petrus tahu, harapan yang selalu ia gantungkan ketika berjumpa dengan Yesus tersebut, sia-sia. Dosa yang ia lakukan pada Genta di masa silam tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Bahkan apabila ia menebusnya dengan kematian, dosa tersebut akan tetap mengkristal. Unggul menjadi satu-satunya subjek perilaku Genta kepadanya.
==
Berita menghilangnya mahasiswi baru menggempur Kampus A. Desas-desus meluas. Poster-poster tentang menghilangnya mahasiswi tersebut dipasang di mana-mana. Tidak hanya di kampus, surat-surat kabar Yogyakarta menayangkan warta ini sebagai headline. Radio-radio lokal menyiarkan setiap satu jam sekali. Teve-teve domestik tak luput mengambil alih. Cuitan-cuitan di Twitter dan Facebook menjadi trending. Dari satu tweet, bisa di-retweet puluhan ribu kali. Dari satu status, bisa di-share ribuan kali. Kengerian merebak. Apalagi didukung keluarga korban yang hampir setiap hari ke kampus sambil menjeritkan tangis, buletin ini kian membuat bulu kuduk merinding. Aneka cerita yang dilatarbelakangi dengan bau-bau mistis menyembul. Dibumbui ini itu, digoreng sana-sini, sehingga jurnal utama itu menjadi kabur. Selama seminggu ini, Kampus A penuh dengan wartawan dan polisi. Semua mahasiswa yang berhubungan dengan perempuan itu digeledah dan diwawancara oleh polisi. Tak terkecuali anak-anak Komdis.
Ajaibnya, sampai detik ini, tidak ada yang mampu mengendus kejahatan anak-anak Tim Komdis. Biarpun sudah diperiksa, Genta dan sahabat-sahabatnya lolos dari jeratan polisi. Mereka tetap melenggang bebas. Dan sebagai sumpah yang telah mereka ambil, tak satu pun dari mereka yang mengobrolkan perkara ini. Sesuai arahan Genta, sejak keluar dari ruang sesat itu, mereka semua harus bisa memerankan sandiwara sesuai porsi masing-masing. Semuanya disulap menjadi pribadi yang tidak tercemar oleh aksi pembunuhan tersebut.
Biadap, memang. Tapi inilah satu-satunya jalan yang mampu Genta lihat malam itu.
"Res, ada klien yang ingin menyewa Kaki Wilis ke Latimojong." Ben, yang dipasrahi Genta sebagai admin media daring, memberi Genta print out tentang penyewa yang dibicarakannya. "Katanya, sih, mau ambil tanggal 17. Jadi bisa tujuh belasan di puncak."
Mengembuskan asap rokok, Genta membaca print out dari Ben. "Lima orang dokter. Boleh juga, nih. Mereka mau ambil private?"
"Seperti yang tertulis di situ, Res. Tuh, mereka juga sudah memesan menu-menu di sana."
Genta mengarahkan guliran matanya di kolom yang dibuat Ben. Dan detik setelah itu, ia melotot lebar. "Buju buset," pekiknya. "Mereka mau mendaki apa mau pelesiran, sih? Pakai minta nasi kebuli, segala."
"Coba lihat." Aji yang duduk di hadapan Genta, menarik lembaran kertas tersebut dari Genta. "Red wine, apel malang, dan salad keju sebagai pencuci mulut sarapan hari pertama. Siang mau cumi saus tiram dan udang asam manis. Dessert-nya cheesecake, tiramisu, dan victoria sponge. Minumnya jus buah bit dicampur air lemon. Malam dinner dengan nasi goreng kambing, nasi kebuli, lamb mandi, minumnya red wine. Res, kamu kayaknya butuh divisi katering, deh, di Kaki Wilis. Saya setuju banget dengan menu kayak gini. Kalau boleh usul, coba kamu selingin dengan main dish western, Timur Tengah, dengan Indonesia. Saya pengin juga makan kari di gunung."
"Bacot, Asu!" Genta merebut kertas itu kembali. "Mereka mampu bayar berapa? Bajingan banget, nih, menu-menunya, asli. Aku bahkan nggak tahu victoria sponge itu apa. Semacam Ratu Victoria apa bagaimana, dah?" Ia kembali membaca menu luar biasa itu dengan saksama. Klien yang bekerja sama dengan Kaki Wilis memang aneh-aneh. Ada yang minta dibawakan tenda berwarna pink dengan gambar Hello Kitty ketika ia menjamu satu keluarga maniak Hello Kitty di Penanggungan. Ada yang minta dibawakan salad aneka toping sewaktu membukan open trip di Argopuro. Bahkan sampai ada yang minta dibawakan genset supaya tidak gelap-gelap banget di malam hari kala mendaki Welirang. Nah, kali ini beda lagi ceritanya.
"Sepuluh juta per orang." Ben menginformasikan. "Gue nego segitu, dan mereka oke-oke aja."
"Asu. Banyak juga." Genta menggeleng takjub. "Tapi, siapa yang bisa masakin sebanyak ini dan enak di gunung? Porter-porter kita paling mentok cuma bisa nyajiin nasi goreng. Itu pun pakai bumbu instan. Apalagi victoria sponge ini. Apaan, ya? Kamu pernah dengar?"
Ben menggeleng. "Coba lo nego Mbok Darmi katering langganannya Aji. Kali dia tahu apa itu vitoria-victoria ini."
"Kamu kalau ngomong otak dipakai, sialan! Ya kali, Mbok Darmi diajak nanjak Latimojong?"
"Suruh saja Pak Ponaji berguru ke Mbok Darmi, Res. Saya, sih, asli mau banget kalau menunya menggiurkan ini." Aji memberi usul. Olahan bumbu yang Mbok Darmi masakkan selalu mampu menggoyang lidahnya. Jangan salahkan perutnya yang membuncit. Perempuan sepuh itu lihai banget meramu rempah-rempah. Aji sampai pernah berpikir, bagaimana hidupnya tanpa kehadiran perempuan itu?
"Ah elah ribet banget, sih."
"Nanti gue ikut ke Latimojong, ya, Res?" Ben menyenggol sikut Genta. Ia tertawa lebar, mengakibatkan mata sipitnya tenggelam di balik kelopak. Genta mengamati pemuda keturunan China ini atas bawah. Rambutnya lancip-lancip. Mengingatkan Genta dengan durian. Biarpun tubuhnya bukan tergolong tambun seperti Aji, bahkan cenderung kurus, Benedictus memiliki pipi yang chubi. Apabila ia merajuk, beh, manusia setan itu bisa unyu juga kayak kucing anggora. Bibirnya merah karena tak pernah sekali pun mengisap rokok kendati berkawankan Genta dan Aji yang tidak bisa lepas dari batang nikotin. Ia memiliki iris mata cokelat pinus, yang tersembunyi di balik kacamata persegi. "Udah lama banget nggak mendaki."
"Duh, gimana, ya, Ben, bukannya aku nggak mau ngizinin kamu." Genta kembali mengembuskan rokoknya, mengakibatkan halimun putih dari sana menguar di muka Ben. "Tapi kalau kamu ikutan pergi, siapa yang ngurus administrasi Kaki Wilis? Agustus kayak gini pastinya banyak yang nge-booking perjalanan."
"Karena banyak itulah, lo kudu ikutin gue ke salah satu trip lo, Res. Nih." Ia mengeluarkan beberapa print out lagi dari tas selempangnya. "Ada lima grup yang mau private trip di Kaki Wilis. Empat di antaranya ambil tanggal tujuh belas. Latimojong, Semeru, Gunung Gede sama Rinjani. Sisana, akhir bulan. Ambil Lawu. Lo mau ngeberangkatin siapa lagi? Lo cuma punya tiga tim inti."
Aroma kertas dari duit otomatis tercium hidung Genta. Iris matanya menangkap timbunan rupiah yang bakal ia raup dari perjalanan kali ini. Ia tertawa lebar. Dan Aji otomatis bergidik ngeri melihat cambang dan kumis Genta bergerak-gerak. Genta benar-benar replika genderuwo dilihat dari sisi mana pun. Begitu Aji berspekulasi.
"Gila. Kaki Wilis bisa makin lebar sayapnya kalau kayak gini." Laki-laki gempal itu menyugar rambut gimbalnya.
"Kalau kamu nggak mengikutkan Ben dalam pendakian, bisa bocor sayap kamu." Memiliki sahabat seperti Aji memang benar-benar merepotkan sekali waktu. "Tiga tim itu cuma saya, kamu, dan Rick. Gerard nggak bisa dilepas sendirian. Dia butuh teman. Dan menurut saya, Ben orang yang, selain dia udah latihan fisik selama ini, bisa banget nemenin Gerard. Taruh mereka di Semeru. Saya bolehlah di Latimojong kalau kamu mampu melengkapi menu-menu pilihan dokter-dokter itu. Rick lempar saja ke Gede. Kamu ambil Rinjani."
Mendengar uraian itu, Ben menaikkan alis tipisnya. Bibirnya terangkat lebar. "Jadi, gimana? Oke, ya, Res?"
Melepas Ben ke gunung selalu menjadi hal terberat dalam diskusi batin Genta. Berbagai macam pemikiran buruk tentang keadaan Ben senantiasa mengendap-endap alam bawah sadarnya. Wajah Ben yang nyaris mati di Merbabu selamanya akan terus membayang dan menakutkannya. Ck.
"Terakhir ke Semeru pas kita kelas satu SMA, Res. Kangen banget sama Mahameru."
Genta berdecak seraya mengetuk ujung rokoknya. Pengalaman terakhir antara Ben dengan gunung benar-benar tak bisa lepas dari kepala Genta. "Kamu mending di sini saja. Ngurus administrasi, Ben. Aku mau pasangin Gerard dengan Zaenal. Anak seni patung." Kembali ia isap kereteknya.
"Kamu kenal dia?" Aji bertanya. Kali ini mereka sedang ada di kantin jurusan ketika Ben datang. Letaknya dekat basecamp mapala. Dua porsi soto sebagai sarapan Genta sudah ludes di menit sepuluh. Sementara Aji hanya memesan secangkir cokelat panas. Perutnya selalu rutin mendapat sarapan buatan Mbok Darmi.
"Kenal dekat, sih, enggak, Ji. Cuma aku pernah dua kali mendaki bareng dia. Pas di Cikuray sama Bukitraya. Kuat, sih, dia. Di pendakian terakhir denganku aja, dia manggul tiga keril sekaligus karena dua teman lainnya nggak kuat bawa keril. Kutengok di IG-nya juga dia pernah ke Semeru. Pas lah."
"Tapi dia, kan, bukan anggota Kaki Wilis, Res?" Kekecewaan jelas terpancar di raut wajah Ben. "Oke, mungkin dia kuat, tapi apa lo yakin dia bisa bertanggung jawab seperti anak-anak Kaki Wilis lainnya? Untuk urusan sekrusial ini, ceroboh banget, sih, kata gue kalau lo sampai melimpahkannya ke orang lain. Lo nggak kenal dekat dia lagi."
"Segala urusan simaksi bisa di-handle Gerard, Ben. Sementara keperluan segala macam tenda dan makanan, biar ditangani porter kita di Ranupane. Zaenal cuma jadi guide doang. Dia mau nggak bertanggung jawab kayak mana? Siapa yang bisa kabur dari gunung? Apalagi Semeru?"
"Tapi setidaknya, kalau lo mau ambil orang lain, lo bisa sama Irang, kan, Res? Jangan orang yang nggak tahu asal-usulnya kayak gitu. Segala pakai ngurusin administrasi. Administrasi sialan apa yang harus gue urus kalau lo semua pada nggak ada?"
"Irang biar sama gue di Latimojong."
Jawaban Genta kian menggodok kekecewaan Benedictus. Kedua tangannya mengepal kuat. Hidungya kembang kempis. Ia menggebrak meja sebelum berkata, "Masalah lo sama gue apa, sih, Res, sebenarnya? Kenapa setiap gue mau muncak selalu lo larang? Gue udah latihan bertahun-tahun, Res. Bertahun-tahun, anjing. Renang. Lari. Sepeda. Push up. Sit up. Semuanya. Kenapa lo tetap nggak percaya sama gue? Ok, gue minta maaf atas kejadian di Merbabu, tapi please, kasih gue kepercayaan. Lo bukan bokap gue yang bisa seenaknya mengatur-ngatur hidup gue, Anjing!"
Kejadian seperti ini sering Genta lalui, dan Aji mafhum melihatnya. Ada ikatan antara Genta dan Ben yang tidak mampu diendus Aji. Entah itu persahabatan yang terlalu kental, atau apa. Dan semua orang di muka bumi ini sangat paham, ketika Genta bersabda A, tidak ada yang mampu membelokkannya. Bahkan jika itu maut sekalipun.
Ben adalah anak bungsu. Tipe perajuk. Genta selalu mendulang kesabaran ekstra ketika menghadapinya dalam kondisi seperti ini. Menginjak putung rokoknya, Genta menurunkan suara. Emosi Ben sejak kejadian malam itu sungguh buruk. Ia sering uring-uringan tidak jelas. Perkara Genta yang lupa mengabarkan pulang duluan alih-alih menunggunya saja, bisa membuat gawat. Apalagi acara mendaki. Hampir setiap ada rencana mendaki, ia selalu adu mulut dengan Ben.
"Gini, ya, Su, Agustus itu puncaknya musim kemarau. Udara di gunung lagi dingin-dinginnya. Di Semeru kemarin kabutnya bahkan membeku. Dari tim kita nggak ada yang anak medis. Kalau kamu sampai kenapa-kenapa lagi, aku ogah tanggung jawab," ungkapnya. "Aku bukan malaikat, njing. Aku nggak bisa ngejamin kamu selamat seperti di Merbabu atau lewat."
"Itu sudah empat tahun berlalu, Sialan. Empat tahun! Dan lo bukan Tuhan. Hidup gue nggak bisa lo putuskan begitu saja. Lupa orang tua gue dokter? Mereka bahkan siap membuatkan surat sehat buat gue untuk meyakinkan lo bahwa gue emang sehat kalau itu mau lo. Lo jangan jadi pribadi keparat, dong."
"Sorry, Ben. Mau kamu ngebacot kayak apa, silakan. Tapi keputusanku sudah bulat. Selama aku masih hidup, kamu nggak akan pernah bisa mendaki di tim pendakianku. Kamu mau mendaki? Silakan. Cari tim pendakian lain."
"Anjing lo!" Pemuda itu pergi membawa amarahnya serta merta.
Genta menggeleng melihat kepergiannya. Sambil menyelisik print out di tangan, Genta kembali menyulut sebatang tokok. Aroma tembakau yang terbakar oleh api selalu mampu mengalihkan pikiran Genta. Sebenarnya, ia capai menghadapi Ben yang uring-uringan seperti ini. Tidak tega juga kala wajah penuh kecewa itu bersemuka dengannya. Tapi apa boleh buat. Kilasan memori tatkala Ben meregang nyawa di Merbabu sungguh-sungguh mampu menggogrokkan kemauan Genta untuk memberinya kesempatan. Genta tidak ingat berapa kali napas buatan darinya mengembalikan nyawa Ben. Kedua tangannya bergetar hebat sewaktu ia gunakan memompa dada Ben. Tubuhnya nyaris lumpuh karena Ben tidak menyahut panggilan-panggilannya. Bibir itu seputih gamping. Tubuhnya sekaku pohon kelapa. Kematian benar-benar mengecup hidup Ben.
Itu adalah mimpi paling buruk bagi Genta.
Ia bahkan tidak menginjak Merbabu dua tahun utuh sejak kejadian tersebut.
"Seharusnya kamu kasih dia kesempatan, Res," suara Aji menginterupsi kegiatannya menghitung dana yang akan mengaliri Kaki Wilis jika lima private trip ini bisa dia layani. "Kelamaan kamu kecewakan, Ben bisa murka. Kamu nggak kasihan melihatnya kayak gitu?"
Mengisap dalam-dalam batang rokoknya, Genta menjawab, "Bodo amat lah sama kambing satu itu. Apalagi sejak... malam.... Apalagi sejak itu, aku memiliki firasat buruk. Aku nggak mau dia, kamu, binatang-binatang sialan itu sampai kenapa-kenapa."
"Dia berarti banget buat lo?"
Untuk pertanyaan kali ini, Gentatidak menjawab. Ia biarkan kalimat tanya itu menggantung di antara mereka. DanAji, sekalipun memiliki status sahabat dekat Genta, tidak ingin mengusik lebihjauh zona antara Genta dan Ben.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top