Bab 2
Satu-satunya bab yang membuat Genta tergila-gila dengan gunung adalah perjalanannya. Jalur pendakian selalu mampu menimbulkan perasaan cinta dalam diri Genta. Puncak tidak pernah menjadikan Genta terobsesi. Semenggiur apa pun cerita pesona akan indahnya puncak suatu gunung, akan memesonanya lautan awan yang tidak akan pernah ia dapat di dataran rendah, tidak akan sanggup membikin Genta buru-buru menyelesaikan perjalanan demi menikmatinya. Memang, puncak akan menawarkan keindahan paling mahal yang pernah Tuhan ciptakan di muka bumi. Kesohoran puncak yang merupakan tempat berkumpulnya para dewa, Genta akui tidak akan bisa didapat hanya dengan separuh niat. Namun, hanya itu yang ditawarkan oleh puncak. Tidak lebih.
Trek pendakian selalu membuat Genta takjub. Di jalur itulah, sebenar-benarnya manusia ditunjukkan. Di jalur pendakian gunung mana pun, tidak ada topeng yang bisa dipergunakan manusia. Ia akan menjadi setan jika rupanya demikian. Ia akan mewujud iblis jika cetakannya seperti itu. Bisa jadi ia akan menjadi dewi penolong jika ia memiliki perangai kesetiakawanan. Satu-satunya hal yang selalu diamalkan Genta dan ia turunkan kepada anggota mapala maupun tim Kaki Wilis adalah solidaritas. Satu-satunya agama yang berlaku di gunung adalah kemanusiaan, Genta selalu mengamini demikian. Jadi, dari mula ia bergelut di organisasi mapala kampus maupun di open trip yang ia bangun, ia selalu mengedepankan solidaritas. Tolong menolong. Persahabatan. Siapa pun yang membutuhkan bantuan kita di atas gunung harus kita tolong. Tidak peduli kita suka atau tidak, tidak peduli kita kenal atau tidak, tidak peduli beragama sama atau beda. Begitu sabda yang selalu ia anut.
Jadi, sungguh, setelah sekian lama ia menganut agama yang ia dapatkan dari pendakian, melihat mayat perempuan yang dibunuh secara sengaja oleh anggotanya sendiri merupakan hal yang tidak pernah ia pikirkan dari mimpi paling buruk sekali pun. Demi Tuhan, oleh sahabatnya sendiri. Sial! Ruangan Komdis riuh oleh suara isak dari anggota komdis perempuan. Para lelaki yang dipasrahi Genta tongkat kepemimpinan—Ben, Rick, Gerard, Welirang—berdiri tegang memutari sosok mayat babak belur yang tergeletak bersimbah darah di atas lantai. Genta menahan napas. Darah seolah tersumpal di tengkorak kepalanya.
"Demi Tuhan gue nggak tahu kenapa bisa seperti ini!" Ben berteriak lantang. Mata sipit di balik kacamatanya melotot meyakinkan. "Tadi gue pergi untuk nyari makan, Res, tapi pulang-pulang dia sudah mati seperti ini!"
"Jangan melempar tanggung jawab, Bangsat!" Rick menghardik murka. Peluh menetes di sekujur tubuhnya. Darah dari mayat yang mati menyiprati jas almamaternya. "Lo tahu sendiri perempuan ini dari kemarin rewel-rewel terus! Dia selalu menantang semua aturan yang kita buat! Bahkan dia menampar Dian yang hendak memberinya hukuman!"
"Tapi itu bukan alasan untuk membunuhnya, Keparat!" Gerard membuka suara. "Dari tadi sudah gue bilang, kita boleh menghukumnya, asal jangan sampai kelewatan. Sekarang dia mati gini. Siapa yang mau tanggung jawab?"
"Lo juga menendang dan menamparnya, Ger!" Rick membela diri. "Kalau kita dipenjara, lo pun masuk penjara!"
"Aku nggak mau dipenjara!" Dian, satu dari dua perempuan yang ada di sana, kembali meraung. "Demi Tuhan aku nggak mau dipenjara!"
"Tapi lo tadi ikutan menjambak rambutnya, kan?" Kembali Rick menyembur berapi-api. "Siska meludahi dan menginjak perutnya, Welirang bahkan menyeret tubuhnya, dan lo, Ben, meskipun dari tadi lo hanya melihat penganiayaan yang berujung kematian ini, lo menjadi saksi yang membiarkan aksi kekerasan ini tanpa memberikan perlawanan!"
"Ya, Tuhan, aku nggak mau dipenjara!"
"Aku juga nggak mau dipenjara! Masa depanku masih jauh. Aku bahkan akan mengadakan pameran lukisan dua bulan lagi! Aku nggak mau hidupku hancur! Aku masih memiliki adik dan orang tua!"
"Gue nggak mungkin lah menentang elo-elo pada. Makanya gue diem aja!"
"Kalau lo tahu ini salah, baiknya lo menghentikan bukan malah menonton! Bego banget sih lo!"
"Kalau lo tahu ini salah, lo nggak meneruskan penganiayaan ini, Goblok!"
"Berhenti, Anjing!" Suara Aji menggelegar menengahi. Suara tangis Dian dan Siska kembali mengiris kebekuan malam tersebut. Ia berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan mayat. Ia sibak rambut perempuan itu, lalu menoleh ke arah Genta. "Kita harus melapor, Res."
"Aku nggak mau dipenjara, Mas Genta." Irang—panggilan dari Welirang—membuka suara. Ia yang sedari tadi diam, menggigil ketakutan di pojok ruang. Air matanya terjatuh. Jari-jarinya ia gigit dengan perasaan cemas. "Aku hanya tinggal bersama Biyung. Kalau Biyung kutinggal dipenjara, siapa yang bekerja dan memberi makan Biyung? Biyung sudah sepuh, Mas. Matanya rabun. Nggak bisa bekerja apa-apa di usia senjanya."
"Eh, Irang, kalau lo tahu konsekuensinya seperti ini, kenapa dari tadi lo ikutan menghajar perempuan ini?" Gerard meninju meja kayu. "Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin kita nggak lapor? Para polisi itu akan tahu siapa dalang dari pembunuhan ini! Anjing!"
"Aku juga nggak mau dipenjara, Res." Siska mengimbuhi pernyataan Irang. "Dua bulan lagi mimpiku untuk mengadakan pameran seni lukis akan terlaksana setelah bertahun-tahun aku kuliah di sini. Semua keluargaku menyambut gembira. Jadi aku nggak mau dipenjara."
"Aku pun sama, Res." Dian mencicit. Tangisnya terisak-isak. Tubuhnya bergetar menahan gumpalan emosi yang meluap akibat insiden mengerikan ini. "Aku punya anak. Kalau aku dipenjara bagaimana nasib anakku kelak?"
"Anjing lo semua!" Suara Gerard kembali murka. "Emang kalau lo bisa bebas dari penjara, secara otomatis lo juga bebas dari rasa bersalah? Gue ogah hidup dalam rasa bersalah! Lebih baik dipenjara! Tahu jelas nasib ke depannya gimana! Daripada hidup tapi sampai kita mati kita dihantui oleh malam ini! Lagian, lo bisa menjamin para polisi nggak mengetahui aksi kita? Mikir dong pakai otak!"
"Gue setuju dengan Gerard!" Ben memberi dukungan lain. "Gue juga nggak mau dibayang-bayangi ketakutan seumur hidup! Kita lapor ke polisi. Mungkin kita akan dipenjara lima atau sepuluh tahun, tapi itu lebih baik daripada kita nggak bisa hidup tenang. Lagian, gue juga nggak melakukan penganiayaan terhadap perempuan ini. Secara otomatis, hukuman gue nggak akan berat daripada kalian!" ucapnya berapi-api seraya membetulkan letak kacamata.
"Lo benar-benar manusia egois yang pernah gue kenal, ya, Bangsat!" Rick merenggut kerah Ben. "Dari awal gue udah curiga kenapa lo mengusulkan mencari makan di saat kita lagi dalam keadaan bangsat kayak gini! Bajingan lo! Lo pasti sudah memperkirakan kejadian ini akan terjadi, makanya lo main kabur aja! Anjing!" Kuat, telak, dalam satu entakan keras, Rick menjinju Ben.
Laki-laki tambun itu secara otomatis tersungkur. Tubuhnya menggempur meja kayu. Dian dan Siska menjerit ketakutan. Mereka saling peluk guna mengais-ngais kekuatan. Irang semakin kuat menggigit jari-jemarinya. Gerard membantu Ben untuk berdiri, sementara Aji menghampiri Genta.
"Jangan membuat keputusan yang salah, Res," ujarnya, mengedarkan pandangan. Dua puluh dua tahun hidup dalam kondisi serbamalas-malasan, tak pelak membuat Aji kelimpungan mencari pegangan dalam situasi genting seperti ini. Dan Genta, meskipun orang paling menyebalkan yang pernah ia kenal, merupakan satu-satunya sosok yang bisa ia percayai secara utuh. "Kita harus melaporkan kejadian ini ke polisi atau kita semua bisa kena masalah. Ingat. Kita punya alibi kuat dalam kasus pembantaian ini. Kita bisa bebas tanpa harus menanggung perasaan bersalah. Selesaikan semuanya, Res."
"Gue ggak nyangka lo bakal bilang seperti itu, Ji," Rick mendesis. Mata hitamnya tajam menusuk Aji. "Dari semua orang keparat di sini, cuma lo satu-satunya yang memiliki pemikiran normal. Tapi malam ini kenapa lo bisa setega itu mementingkan diri lo sendiri dan mengorbankan yang lain? Lo bisa hidup tanpa menanggung perasaan bersalah? Lo yakin bisa damai setelah membiarkan biyungnya Irang sendirian di usia sepuhnya? Lo yakin bisa tenang setelah membiarkan anaknya Dian kehilangan ibunya? Lo yakin bisa damai setelah impian terbesar Siska kandas begitu saja? Lo benar-benar nggak memiliki rasa setia kawan, Ji."
"Maafkan saya, Rick. Tapi kita pikir logis saja. Kesetiakawanan nggak ada sangkut pautnya dalam masalah pembunuhan. Yang dikorbankan gede banget, Rick. Dan saya, yang nggak ada campur tangan sama sekali dalam kejadian ini, nggak mau banget kalau harus menanggung dosa orang banyak."
"Lo enak ngomong gitu, apa lo nggak mikir bagaimana nasib kami semua?"
"Apa kamu nggak mikir bagaimana perasaan saya, yang demi Tuhan, nggak tahu apa-apa, harus terlibat dari kasus ini? Kamu mungkin hanya menanggung hukuman beberapa tahun, Rick. Tapi setelah itu kita bebas semuanya."
"Mas Genta, aku mohon, Mas. Jangan masukin aku ke penjara. Aku nggak tahu gimana nasib Biyung nantinya, Mas."
"Res, gue mohon, Res."
Menarik napas besar berkali-kali, Genta sungguh berharap, oksigen kotor yang mampu ia hirup kali ini mampu melonggarkan segala prahara dalam dadanya. Nyatanya, yang ada, justru kian menyakitkan. Jantung Genta bertalu-talu dahsyat. Darah seperti dipompa dengan kecepatan beratus-ratus kali lipat. Seumur hidup menjunjung tinggi nilai persahabatan dan kemanusiaan, tak pernah terpikirkan oleh Genta, ia akan dihadapkan dengan sebuah kasus yang mengorbankan satu di antara dua agamanya tersebut.
Demi Tuhan, jika orang-orang biadab yang tega membunuh perempuan ini bukanlah sahabat-sahabatnya sendiri, Genta tidak akan berpikir jutaan kali untuk segera melapor kepada polisi. Pembunuhan adalah sebuah insiden yang sangat tidak bermoral. Bagaimana pelaku bisa setolol itu membunuh dan merenggut kehidupan orang lain? Tidakkah mereka berpikir masa depan orang itu? Impian-impian keluarga yang dilimpahkan kepadanya? Harapan besar yang keluarganya titipkan di atas kedua pundak korban? Tidakkah mereka berpikir bagaimana hancurnya orang tua korban? Setelah berjuang hidup dan mati membesarkan korban, tahu-tahu nyawa anaknya dipenggal secara membabi buta? Ditendang? Diinjak? Bahkan diseret? Ya, Tuhan, Genta tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan perempuan ini ketika meregang nyawa di tangan manusia-manusia keparat.
Sialnya, seperti yang terpapar di depan mata, orang-orang yang telah mencederai agama kemanusiaannya justru sahabat-sahabatnya sendiri. Sahabat-sahabatnya sendiri, asu. Genta tahu bagaimana kehidupan Welirang. Semenjak ayahnya mati, ia memboyong ibunya dari Sleman ke Yogyakarta. Seperti yang dikatakan Welirang, ibunya sudah rabun. Usianya mungkin menginjak angka tujuh puluhan. Ia hidup dari hasil kerja keras Welirang menjadi reporter lepas di koran-koran lokal. Seluruh hidup ibunya bergantung pada Welirang. Beliau tidak bisa makan tanpa disuapi Welirang. Beliau tidak bisa mandi tanpa dimandikan Welirang. Beliau bahkan tidak bisa cebok setelah buang air tanpa kehadiran Welirang. Demi Tuhan, memasukkan Welirang ke dalam penjara seperti membunuh dua orang di dalam ruangan ini.
Sementara Dian adalah seorang single mom setelah laki-laki bangsat yang menghamilinya kabur begitu Dian berkata ia hamil. Ayahnya yang seorang militer terang-terangan menolak kehadiran jabang dalam tubuh Dian. Ia sudah menggadang-gadang akan mengawinkan Dian dengan anak jenderal di kemiliterannya. Namun semua itu kandas setelah kenyataan pahit menghantam perempuan mungil tersebut. Dian didepak dari rumah begitu warta tentang kebuntingannya mengudara. Sementara ibunya yang merupakan Ibu Persit yang patuh kepada suami, tidak bisa membantu Dian menghadapi masa-masa sulitnya. Dia harus hidup kerja keras demi menghidupi sang buah hati yang masih balita. Ya, Tuhan, membawa Dian dan Welirang ke dalam penjara seperti membunuh tiga orang sekaligus dalam ruangan ini.
Di antara teman berkawannya, Ricky Chandra, yang akrab dipanggil Rick, memanglah orang paling keras. Temperamental. Sangat impulsif. Emosional. Hanya saja, jauh di dalam lubuk hatinya, Genta tahu, laki-laki berotot tersebut memiliki hati selembut beledu. Ia memang tidak memiliki latar belakang keluarga yang karut-marut sebagaimana kedua sahabatnya tadi. Hanya saja, Genta kenal bagaimana keluarga Rick selama ini. Dua puluh tahun orang tuanya menjalani pernikahan, Rick baru bisa hadir di tengah rumah tangga mereka ketika usia mereka menginjak empat puluh tahun. Genta bisa membayangkan kebahagiaan sedahsyat apa yang mereka rasakan tatkala Tuhan menganugerahkan Rick di tengah-tengah mereka. Orang tua Rick sangat mencintainya, bahkan cenderung memanjakannya. Dan, memasukkan Rick ke dalam penjara, seperti halnya telah membunuh lima orang sekaligus dalam ruangan ini.
Genta mendesah berat. Dipandanginya teman-temannya satu per satu. Genta baru mengenal Siska setahun belakangan. Dan dari perempuan yang pernah Genta kenal dalam hidupnya, tidak pernah sekali pun ia bertemu dengan perempuan yang memiliki semangat juang seperti dia. Pameran yang akan diadakan dua bulan lagi itu, merupakan hasil kerja keras yang ia tempuh selama bertahun-tahun. Genta ingat bagaimana tahun lalu siska mengajaknya ke Jakarta guna bertemu dengan maestro seni lukis di sana. Meminta saran serta menyodorkan proposal kerja sama dalam pamerannya nanti. Digempur hujan deras, dipanggang teriknya matahari, nyata-nyatanya tak menyurutkan impian gadis muda itu. Dan, memasukkan Siska ke dalam penjara, sama halnya mematikan semangat yang menyala dalam gadis itu, yang entah, akan bisa kembali menyala atau justru padam sampai habis dimakan waktu.
"Res, pikirkan baik-baik ini semua, Res."
Sekali lagi, guna menggelontorkan secawan rasa nyeri dalam dadanya, Genta menelan ludah dengan sukar, lantas mengedarkan pandangan. Ruangan Komdis Jurusan Kesenian di Fakultas A lumayan luas. Ada meja dan bangku untuk bekerja. Seperangkat komputer dan mesin pencetak diletakkan di atas meja tersebut. Di belakang meja kerja, terdapat bufet-bufet kecil yang dialihkan fungsinya untuk menyimpan dokumen tentang seminar dan pameran-pameran seni dari tahun ke tahun. Di tembok kusamnya terpajang siapa saja ketua Komdis yang pernah menjabat beserta anggota-anggotanya, serta beberapa piagam berharga yang pernah anggotanya terima. Di sisi kiri ruang, terdapat lemari besar yang digunakan untuk menyimpan peralatan melukis—alat-alat ini biasanya digunakan ketika akan diadakan lomba melukis oleh jurusan.
"Rick...." Setelah sekian lama ia terdiam, membiarkan berbagai macam informasi menyatroni kepalanya, Genta membuka suara. "Kamu dan Irang cari alat seperti cangkul, sekop, atau alat berat lainnya yang bisa digunakan untuk membongkar tembok. Lalu cari semen, batu-bata, cat tembok, pokoknya semua yang berhubungan dengan bahan bangunan secepatnya. Sekarang juga."
Rick mengangguk ke arahnya sebelum melesat ke luar ruang disusul Welirang.
"Apa yang akan lo lakukan, Res?"
"Dian dan Siska bantu aku mendorong lemari dan membersikan ruangan. Bersihkan semua darah yang mungkin muncrat di mana pun."
"Lo nggak bisa melakukan ini, Res!"
"Lo gila, Res?" Ben menyalak!
"Apa yang akan lo lakukan, Keparat?" Gerard menyerang Genta.
"Apa lagi memangnya yang bisa kita lakukan sekarang, Sialan? Aku jelas nggak bisa memasukkan orang-orang tolol seperti kalian ke penjara. Ada banyak pertimbangan, dan menyembunyikan mayat perempuan keparat ini adalah satu-satunya jalan yang terbaik yang bisa kita ambil."
"Jalan terbaik tai lo, apa? Gue nggak mau hidup dalam rasa bersalah dan berdosa seumur hidup!"
"Aku pun sama, Asu. Kalau kamu tahu jalan yang harus kamu tempuh bagaimana, baiknya tadi kamu nggak usah menghubungiku. Sekarang semuanya sudah kayak gini. Aku jelas nggak bisa membiarkan biyungnya Irang sendirian menjemput kematian tanpa kehadiran Irang. Atau membiarkan anaknya Dian mati karena ibunya harus dipenjara. Aku memang manusia keparat, tapi aku bisa apa?"
"Apakah lo pikir keluarga yang ditinggalkan perempuan ini baik-baik saja? Mikir dong pakai otak, bagaimana hancurnya perasaan mereka jika anaknya hilang tanpa mengetahui kabarnya sedikit pun? Ya kalau kita bisa bebas selamanya. Jika kenyataannya berbalik bagaimana? Jika ada polisi yang tahu dengan mayat ini, kita pun berakhir sama. Dipenjara. Malah bisa jadi lebih berat hukuman kita." Mendengar uraian Ben, isakan Dian dan Siska kembali kencang.
"Res, saya sependapat sama pemikiran Ben. Coba kita lapor ke polisi dan bawa perempuan ini ke rumah sakit. Siapa tahu nyawanya masih bisa diselamatkan. Tindakan yang kamu ambil terlalu berisiko, Res." Aji mencoba menurunkan ledakan emosi yang menggumpal di dada Genta.
"Aku memiliki otak, makanya aku memutuskan demikian." Tak mengindahkan ucapan Aji, Genta berseru menghadap Ben. "Kalau kamu punya otak, tadi kamu nggak pergi nyari makan di saat teman-teman bangsatmu menganiaya perempuan ini, tapi kamu pergi ke polisi dan menyelamatkan semua orang di sini termasuk perempuan ini. Aku sama sekali nggak berpikir, kamu masih memikirkan perut ketika ada perempuan yang meregang nyawa di tangan teman-temanmu. Memang, orang tua perempuan ini pasti kacau balau karena anaknya menghilang, tapi aku lebih baik mengorbankan satu pihak daripada harus menghancurkan banyak pihak."
"Lo benar-benar sudah gila!" Gerard datang merangsek kerumunan, lalu tanpa tedeng aling-aling, sebuah hantaman ia berikan kepada Genta.
Laki-laki berambut panjang tersebut mundur secara otomatis. Anyir darah langsung merebak di sekujur lidahnya. Kepalanya pengar.
"Apakah lo bisa menjamin para polisi nggak datang dan menemukan mayat mahasiswa baru ini? Yang kita bicarakan mayat manusia, Anjing. Bukan bangkai binatang. Panjangin akal lo kalau mau ambil keputusan."
"Bisa! Aku bisa menjamin para polisi nggak menemukan mayat ini kalau kita semua mau mengikat diri dalam sumpah! Jangan ada satu pun yang membeberkan kejadian ini kepada pihak luar, atau sebagai imbalannya, kita semua akan celaka."
"Sumpah? Lo masih percaya pada sumpah? Sialan! Hanya anak-anak bayi yang percaya dengan hal konyol begituan."
"Anak-anak kecil nggak pernah melibatkan tanggung jawab dalam sumpah yang mereka mainkan. Kita ambil sumpah sebagai tanggung jawab kita semua terhadap kejadian ini. Satu saja, aku peringatkan sekali lagi, satu saja jika di antara kita ada yang bocor, enam orang dengan enam keluarga, dengan enam masa depan, dengan enam harapan, akan celaka begitu saja." Genta berujar mantap. Iris sepekat tintanya menatap lurus kepada Gerard. "Oke, kalau kamu mau melaporkan kejadian ini ke polisi, laporkan saja," lanjutnya emosi, "tapi jangan sampai kamu menyesal telah menjadi pembunuh dari orang tua dan keluarga teman-temanmu. Aku dan Aji sudah pasti nggak akan dipenjara karena kami memiliki alibi yang kuat untuk lolos dari jeratan hukum. Tapi, kamu akan dihantui oleh rasa bersalah seumur hidup jika berita kematian ibunya Irang datang, atau jika kehidupan anaknya Dian berantakan.
"Berapa tadi Ben bilang? Sepuluh tahun? Coba pikir, sekarang anaknya Siska berusia empat tahun, dia akan hidup di mana sepuluh tahun ini? Di jalanan liar? Dan mendapat pelecehan seksual setiap harinya? Atau yang lebih keji, menjadi korban perdagangan anak? Kamu siap menerima segala dosa dari konsekuensinya?"
"Tapi ini nggak akan berhasil, Res," intonasi suara Ben mulai turun, "para polisi itu pasti akan tahu pelaku pembunuhan dari mahasiswa baru ini."
"Maka dari itu kita harus mengambil sumpah, Ben. Sumpah yang akan mengikat kita untuk bertanggung jawab dengan apa yang akan kita lakukan malam ini."
"Konsekuensinya besar banget, Res."
"Karena apa yang telah kamu semua perbuat bukanlah perkara kecil. Ini kasus paling keji yang pernah aku temui."
"Lo bukan seperti Gentares yang gue kenal dari zaman sekolah."
"Kamu dan orang-orang tolol di ruangan ini yang mengubahku menjadi seperti ini."
Dan ruangan pun senyap. Sebuah kesepakatan seperti telah diambil dalam jeda yang terisi diam. Siska dan Dian beranjak dari tempatnya. Mereka mencoba menggeser lemari besar di ruangan tersebut. Aji menatap Genta. Hampir empat tahun berkawan dengan laki-laki itu, sungguh malam ini ia melihat Genta dengan sampul yang berbeda. Tidak ada Genta dengan senyum lebar seperti yang ia lihat sewaktu Genta diserang hipotermi di puncak Slamet. Tidak ada Genta dengan keramahtamahan seperti yang ia lihat sewaktu menyeberangi sungai di trek Binaiya. Tidak ada Genta yang memberikan semangat pada para pendaki ketika melewati Jembatan Shiratal Mustaqim di puncak Raung. Yang tersisa malam ini adalah Genta dengan sisi hitamnya. Genta dengan sisi terkutuknya.
"Kalau itu sudah menjadikeputusanmu. Baik. Saya akan membantu Rick dan Irang mencari perkakas bangunanuntuk mengubur mayat ini." Dan sebelum Aji bergegas meninggalkan ruangan,sebuah sumpah tanggung jawab pun ia lisankan di hadapan Genta. Jika Genta sudahberkata penuh tekad tentang suatu hal, Aji tidak akan pernah meragukannyasecuil pun.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top