Bab 7

Oh, ada revisi karakter Aji Saka di bab 1-6 kalau nganggur dan berminat, baca aja. Kalo kagak, lewati aja gk masalah 🥴🥴🥴🥴

"Bagaimana kabar Arinda?" Genta bertanya sambil mengembuskan asap rokok. Dipanjangkan garis pandangnya, dan jalan Suroto tampak menggeliat siang terik ini. Seminggu mengurung diri di rumah setelah proses penggeledahan oleh pihak polisi, Genta pikir sudah saatnya untuk kembali bersama kawan-kawannya. Lebih-lebih tentang sepucuk surat yang ditinggalkan pelaku pembunuhan Siska belum juga menemukan titik terang, Genta meminta kawan Tim Komdis turut membantu memecah arti sandi dari ketikan sialan itu.

"Baik, Res. Yah, seperti biasa. Ketika aku kuliah, aku menitipkannya di daycare, lalu menjemputnya sepulang dari kampus. Dia sudah belajar membaca, omong-omong. Dan, pertanyaannya seiring kemampuannya baca terlatih, jadi makin beragam setiap hari."

"Oh, ya?" Genta tersenyum geli. "Pasti lucu banget tuh anak. Bisa bikin ibunya kewalahan."

Dian memutar mata. "Dia tanya, Ma, kenapa, sih suara kambing embek sementara suara kucing meow? Kenapa hewan memiliki suara berbeda? Kenapa suara Mama dan suara Arinda nggak berbeda?"

Genta terpingkal.

"Aku harus jawab apaan, coba, ditodong dengan pertanyaan seperti itu? Astaga. Bisa pusing kepalaku meladeni pertanyaannya dari hari ke hari."

"Nggak bisa bayangin betapa merepotkannya anak itu. Sekecil itu saja sudah cerdas. Bagaimana dia gede. Dia bakal jadi kayak kamu, Yan. Cewek pinter."

Perempuan mungil tersebut menggeleng perlahan. Dia menyenggol bahu Genta lantas berucap, "Tapi aku beruntung banget memilikinya dalam hidupku, Res. Walaupun taruhannya besar sekali, aku nggak pernah bisa berdiri seperti sekarang kalau nggak ada dia. Mungkin aku masih menjadi anak manja yang hidupnya dikekang oleh orang tua militer. Mungkin aku nggak akan bisa masuk ke jurusan kesenian sementara orang tuaku getol memasukkanku ke fakultas kedokteran. Dan bisa jadi kalau nggak ada Arinda, aku nggak mengenalmu sebagai teman yang baik."

"Hidup selucu itu, bukan? Kita nggak pernah tahu apa tujuan kejadian yang menghantam kita sampai kita berada di titik tersebut. Sakit memang, penuh luka bukan lagi, tapi aku berpikir, jika memang ada, Tuhan konyol sekali memberikan kehidupan secara cuma-cuma buat manusia-manusia bangsat seperti kita."

"Semalam aku menelepon orang tuaku, Res." Jeda sesaat, dan Genta secara otomatis memalingkan wajah ke arah Dian. Dilihat dari sisi mana pun, Dian adalah perempuan menarik. Kulitnya seputih pasir putih, rambutnya panjang yang sering ia cepol sesuka hati. Perempuan tersebut memiliki mata sebulat kelereng dan segelap langit malam. Pipinya yang tembam sering ria pulas menggunakan entah apa yang membuatnya kian terlihat segar. Sulit dipercaya ia dicampakkan laki-laki. Dunia beserta isinya bahkan, jika ingin berlebihan dalam menilai profil Dian, rasa-rasanya sudi menekukkan lutut hanya untuk membuatnya tertawa. "Aku nggak tahu apa yang menggerakkanku menelepon mereka setelah, mungkin, ribuan teleponku mereka tolak. Hanya saja, sama sepertimu dan... dan Siska, walaupaun aku sekarang memiliki anak, aku hanyalah seorang putri kecil yang masih mengharapkan sosok orang tua pelindung."

Seperti ada yang meninju perut Genta. Dan rasanya sakit sekali. Hati Genta seakan-akan menggeripis mendengar penuturan Dian barusan. Tanpa mendengar kisah lebih lanjutnya pun, Genta sudah merasakan sakit itu berkelindan dengan ketakutan di dasar hatinya. Dengan sebelah tangan yang bebas dari rokok, Genta mengelus punggung tangan Dian untuk memberikan dukungan.

"Yang menjawab ibuku. Dia berkata, halo, halo, siapa di sana? Halo. Ada yang bisa saya bantu? Ini dengan siapa?" Perempuan tersebut tertawa, tapi air matanya tergelincir membasuh pipinya. "Ya, Tuhan, aku kangen banget, Res. Kangen banget sama ibuku." Air mata Dian kian menyusul. Satu per satu. Menggunakan punggung tangan, Genta mencoba mengusap air-air itu. Tapi mereka seolah longsor dari lereng yang selama ini ditambal sekokoh mungkin. "Aku nggak bisa menjawab satu pun pertanyaan Ibu selain menangis dan menangis. Aku tahu dosaku nggak termaafkan. Aku tahu, aku telah mencoreng nama baik mereka.Tapi, Res, aku nggak bisa mengubah masa lalu. Aku nggak bisa memutar waktu. Dibuang seperti itu, aku masih membutuhkan mereka. Terlebih setelah rentetan kejadian yang menimpa kita, aku ingin mereka di sisiku, menemaniku, melindungiku, dan berkata semua akan baik-baik saja."

"Semua akan baik-baik saja, Yan." Dari belakang mereka, Rick menyodorkan sapu tangan yang seketika Dian gunakan untuk mengusap air matanya. "Gue memang nggak bisa menjanjikan itu seratus persen, tapi gue yakin, selama kita saling mendukung dan membantu, kita bisa selamat dari kejadian ini. Pihak polisi belum menemukan tersangkanya, jadi kita masih belum tahu, apakah tersangka pembunuhan Siska ada sangkut pautnya dengan... kejadian malam itu."

Perut Genta melilit. Ingatannya terputar pada spekulasinya tetang adanya pengkhianat di antara mereka--jika, dan hanya jika, pembunuh itu memiliki latar belakang yang saling berkaitan dengan pembunuhan mahasiswi baru tersebut. Genta berharap dugaannya salah, dan Siska entah dapat dari mana, memiliki musuh yang dendam kepadanya sehingga membunuhnya sekeji itu. Hanya saja, ketika harapan itu dilantingkan, gagasan tentang pengkhianat selalu menyelusup. Lembut sekali. Seperti tiupan angin sepoi di akhir Bulan Juli. Kemudian, tahu-tahu saja, memiting pergerakan otaknya. Membekukan kemampuan berpikirnya.

Kendati masih terlalu gelap, Genta tidak bisa memungkiri, rasa takut mengebor pertahanannya. Di antara mereka, pembunuh itu berkeliaran. Bisa jadi dia Rick. Memberikan dukungan sementara di belakang menusuk diam-diam. Sangat mungkin Dian, menjatuhkan air mata hanya untuk menutupi semua perilaku biadabnya. Atau Aji Saka, bertindak seolah-olah tenang, tidak ada gangguan, tapi menyimpan ribuan dendam entah apa. Atau bagaimana dengan Ben? Pemuda yang selalu terobsesi dengan gunung. Tidak bisa disangkal apabila ia masih memiliki dendam kepada Genta. Pembunuhan yang ia lakukan terhadap Siska besar kemungkinan ia gunakan untuk meneror pertahanan Genta, sehingga Genta akan merasakan sakit yang sama acap kali Ben ditolak ikutan mendaki. Keparat memang. Terlalu psikopat memang, tapi Genta tidak mampu membiarkan kerja otaknya merangkai dugaan-dugaan tersebut seliar sekarang. Gerard pun memiliki kesempatan yang sama untuk menduduki posisi tersangka. Ia pemuda temperamental. Genta sangat ingat perseteruannya dengan Siska tahun lalu. Perempuan malang tersebut menegur keras Gerard yang merusak acara pameran seni lukis dari komunitasnya. Siska sempat menampar Gerard, dan laki-laki sialan itu tidak mau menahan egonya dengan melayangkan tinju yang seketika membuat Siska pingsan. Sejak kejadian itu, hampir setahun mereka berseteru. Melayangkan tuduhan kepada Gerard bukanlah hal yang sulit. Lalu, oh, si teruna berbadan ramping, Welirang. Laki-laki penakut yang--Genta harus memaklumi kinerja otaknya, sebab tidak ada satu pun alasan kenapa Welirang sampai membunuh Siska--diam-diam memiliki kebencian entah apa kepada Siska yang membuatnya pendek akal.

Kemungkinan-kemungkinan tersebut memantul-mantul tanpa bisa Genta cegah di balik tempurung kepalanya. Sangat menyakitkan mengingat mereka bersahabat, tapi sekaligus menebarkan aura ketakutan yang tidak mampu Genta tampik begitu saja.

"Selama kasus pembunuhan Siska belum terungkap, jangan racuni pikiran kita dengan pikiran-pikiran buruk. Jujur, kita bisa terperangkap dalam pikiran buruk kita yang bisa berujung bunuh diri kalau kita terus meladeni pikiran kita, Yan. Gue udah terperangkap dalam pemikiran keparat itu sejak malam kita berseteru. Dan, asli, gue tertekan. Gue stres nggak keru-keruan. Gue seperti nggak akan bisa melanjutkan hidup sialan ini kalau gue nggak mencoba tetap berpikir positif."

"Sulit, Rick. Demi Tuhan, sulit banget. Siska sahabatku. Dari pertama kali kami masuk kuliah bersama. Melihat kondisinya mengenaskan seperti itu, aku teringat Arinda. Kalau pembunuh itu mengincarku, bagaimana nasib Arinda? Jujur saja, aku sudah nggak menghendaki hidup di dunia ini semenjak orang tuaku mengusirku hanya karena aku hamil di luar nikah. Bahkan mati pun rasa-rasanya lebih menyenangkan daripada hidup menanggung rasa sakit yang aku nggak bisa menyembuhkannya. Tapi bagaimana dengan Arinda? Gadis kecil itu adalah tanggung jawabku setelah aku melahirkannya di saat aku nggak memiliki persiapan fisik dan psikis. Aku menyayanginya, dan aku bakal jadi perempuan paling jahat jika aku menelantarkannya."

"Seperti apa yang dikatakan Aji, Yan. Kita sudah melakukan semaksimal mungkin. Kita hanya bisa berdoa agar kejadian ini segera berlalu."

"Aku hanyalah perempuan biasa, Rick. Seorang ibu yang jatuh cinta pada anaknya. Jika sampai terjadi sesuatu hal pada anakku, aku nggak akan memaafkan diriku sendiri."

"Aku nggak akan membiarkan hal-hal buruk menimpa kita, Yan." Genta membuka suara, mematikan batang rokoknya. Saat ini mereka bertiga tengah berada di perpustakaan kota untuk mencari tahu makna sialan yang tersembunyi di balik ketikan itu. Sementara Ben, Gerard, Aji Saka, dan Welirang, Genta tugaskan mencari di seluruh penjuru perpustakaan maupun toko buku di Yogyakarta. Makna tersebut harus segera ditemukan. Karena siapa pun dia, sahabatnya sendiri--jika prasangka Genta tentang pengkhianat itu benar--maupun orang yang tidak ia kenal, sedang dalam bahaya. Seminggu tidak bisa pergi ke mana-mana sebab menjalani laporan secara berkesinambungan di kepolisian, membuat aktivitas Genta buntu. Dan beruntungnya, belum ada aksi pembunuhan lain.

Ayo dicari, atau aku akan mati

Bangsat! Maksudnya apaan?

"Itu sudah menjadi sumpahku, Yan. Kalian semua sahabatku, dan aku nggak ingin satu di antara kita terluka. Aku memang nggak tahu apa yang melatarbelakangi pembunuhan sialan itu, tapi aku pastikan, kita nggak akan kenapa-kenapa. Fokus kita sekarang mencari tahu arti dari sebait puisi keparat tersebut sambil terus melanjutkan tugas kita masing-masing mengenai malam itu. Aku belum mendapatkan follow up tugas yang aku pasrahkan kepada kalian, dan kuharap, dengan kejadian yang menimpa Siska nggak membuat kita lengah."

"Genta benar, Yan. Lo mungkin nggak memiliki orang tua di sisi lo, tapi lo memiliki kami. Ada gue, ada Genta, ada Aji, ada teman-teman yang lain. Kita saling menjaga, Yan, karena itulah satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang-sekarang ini. Gue akan menemani Genta untuk melindungi lo. Lo tenang. Lo nggak akan kami biarkan terluka."

Senyum akhirnya terulas dari bibir Dian. Ia meniriskan air matanya kembali menggunakan tisu, kemudian merangkum tangan Genta dan Rick dalam genggamannya. Mengernyit, Genta menatap perempuan itu. Ia tampak begitu indah, tapi rapuh dan hancur dalam waktu bersamaan. Sebuah propaganda yang jarang ditemui. Tapi di titik ini, Genta memuji bagaimana alam telah menyepuh sosok mungil tersebut, dan menjadikannya setangguh karang.

"Aku nggak tahu apa yang terjadi padaku hari ini, esok, atau entah berapa puluh tahun kemudian. Tapi Rick, Res, satu hal yang pasti, aku sangat menyayangi Arinda. Jika terjadi apa-apa padaku, tolong lindungi dia. Tolong asuh dia sebagaimana anak kandung kalian. Arinda nggak memiliki siapa-siapa selain aku, sementara kakek neneknya masih menyerukan perang padaku. Tolong, tolong jaga anakku. Aku mohon."

Gelinciran ludah itu kian dalam ketika sebelah tangan Rick yang satu lagi merangkum genggaman tangan mereka. Genta menaikkan alis, menatap Rick dalam diam. Diselisiknya bulu mata Rick yang tebal dan berkilau. Mereka berbaris rapi laksana dayang-dayang keraton. Entah setan apa yang tengah mempermainkan perasaannya, pertama kali semenjak ia menemukan Rick dalam sebuah pentas seni, Genta baru menyadari, laki-laki tersebut memiliki barisan alis yang seketika mengingatkannya dengan pekatnya hutan di Gunung Pangrangro. Asu! Apakah ia baru saja memuji alis Rick? Sialan! Orang sinting mana yang tanpa tedeng aling-aling mendamba alis seseorang? Genta hanya mendengus kecil tatkala Rick menangkap tatapannya. Anak tunggal tersebut terdiam. Tapi biji kelereng sewarna kue sus keringnya menantang tatapan Genta. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Rick mengangguk tanda persetujuan kepada Dian. Dan, kegiatan mereka untuk membedah puisi pun dilanjutkan kembali.

Buku-buku tentang kemunculan puisi di Indonesia mereka gelar, sejarah puisi, biografi para sastrawan. Surat kabar Horizon yang sering memuat kritik sastra juga mereka bentang. Puisi-puisi angkatan '70, '80, sampai 2000 mereka baca. Untuk menemani mereka memaknai puisi-puisi dalam buku-buku itu, berbagai macam kamus bahasa Indonesia pun turut menyertai. Tapi, sampai sekarang, nyaris lima jam mereka berkutat, tak ada satu pun tanda-tanda mereka mengerti bait-bait puisi yang mereka maksud. Mendapati itu, Genta mendesah. Ia merogoh kantung celananya dan sebuah firasat buruk kembali berdentang. Tak ada satu pun pesan dari Aji, Ben, Gerard, dan Welirang. Genta tidak tahu sejauh mana mereka mencari informasi mengenai sebait puisi ini.

"Takdir terjatuh. Rupa tanah." Dian bergumam. Genta menoleh ke arahnya sementara Rick masih sibuk menyelusuri puisi-puisi Rendra. "Ini maksudnya sebuah takdir, nggak, sih?" Ia berpaling ke arah kedua kawannya. "Jika kamu ditanya, takdirmu jadi apa, apa yang kamu jawab?"

"Untuk saat ini, mungkin takdirku menjadi seorang pendaki," jawab Genta asal.

"Eum... pendaki, ya? Rick, coba tengok di kamus, apa arti kata takdir."

Rick menengadah, dan langsung menyambar KBBI terdekat menuruti instruksi Dian. "tak·dir n 1 ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan; nasib: dng -- , akhirnya kutemukan anak yg hilang itu; 2 jika; seandainya: -- nya terjadi apa-apa dng diri abang kpd siapa kami akan beruntung; 3 kalau ... pun: -- pun harus menghadapi risiko yg berbahaya, akan diteruskan juga niatnya;-- Ilahi takdir Allah; ber·tak·dir v bergantung takdir; me·nak·dir·kan v (Tuhan) menentukan lebih dahulu (sejak semula): Tuhan sudah ~ perkawinan kita."

"Jadi ini merukan sebuah ketentuan Tuhan. Takdir dari Tuhan berupa tanah."

"Berupa tanah? Maksudnya apaan? Tanah apa? Tanah Lot? Tanah Suci?" Mengerutkan alis, Rick berseru bingung.

"Jika kita menyebut Tanah Suci, apa yang ada dalam pikiranmu saat itu?"

"Mekkah, lah. Apa lagi? Tanah Lot ada di Bali. Tanah...." Meneguk ludah, Rick membulat. Dicondongkan tubuhnya ke arah Dian yang tampak terkejut.

"Takdir terjatuh, rupa tanah... menunjukkan sebuah daerah?"

Genta tidak pernah menyenangi reaksi tubuhnya merespons ucapan Dian. Sendi-sendinya mendadak kaku. Matanya mencelang sempurna. "Daerah... daerah mana?"

Menunduk, Dian kembali menafakuri print out puisi yang sudah diperbanyak oleh Ben beberapa hari lalu. "Perempuan telanjang bertitah-titah. Perempuan telanjang bertitah-titah. Perempuan telanjang bertitah-titah." Dian terus menggumamkan kalimat yang sama, sampai sebaris kata tersebut--walaupun terlalu menghantui belakangan ini--berwujud mengerikan di kepalanya. "Aku nggak tahu maksud dari perempuan telanjang, tapi ia bertitah-titah. Bertitah itu... Rick, cari kata titah di dalam kamus."

Sigap, seperti mendapat gelontoran suntikan, Rick membuka lembar-lembar KBBI-nya ulang. Setelah mendapat apa yang ia cari, ia nyaris berseru lantang. "ti·tah n kata; perintah (biasanya dr raja) yg harus dipatuhi: -- raja harus dipatuhi; ber·ti·tah v berkata: Baginda pun ~; ~ lalu sembah berlaku, pb jika kehendak orang lain kita turut, kehendak kita pun akan diturut juga; me·ni·tah·kan v menyuruh; memerintahkan: baginda ~ tamu agung untuk menghadap."

"Takdir terjatuh, rupa tanah; adalah sebuah daerah yang bla bla bla oleh raja dan nggak bisa langgar."

"Bla bla bla itu apa?"

"Takdir terjatuh rupa tanah, perempuan telanjang bertitah-titah." Seperti mesin perekam, Dian memutar ulang suaranya. "Apakah ini maksudnya, orang yang menjatuhkan takdir itu adalah orang yang mengeluarkan titahnya adalah seorang raja?"

"Yan, bisa diperjelas? Kalimat lo berlibet dan gue nggak tahu apa yang lo maksud?"

"Seorang raja mengeluarkan titah yang harus disepakati entah oleh siapa untuk menjatuhkan takdir itu."

"Gue tahu cara melukis, memahat, dan mematung, tapi serius, gue nggak memiliki kemampuan sastra sama sekali. Maksud lo gimana? Gue nggak mudeng, sial."

"Rick, Res, takdir terjatuh rupa tanah, perempuan telanjang bertitah-titah adalah takdir yang diberikan oleh seorang raja. Aku nggak tahu siapa dan di mana, tapi raja ini memberi sebuah titah. Nggak ada yang bisa membantah titah raja. Ultimatum raja adalah mutlak. Dan sebagai imbalan apabila orang menjalankan titah itu dengan berhasil, maka sang raja menjatuhkan takdir berupa tanah." Tidak mendapat tanggapan baik dari Rick maupun Genta, Dian mengimbuhkan, "Dengan kata lain, siapa pun yang mengikuti titah raja, ia akan mendapat sebuah hadiah berupa daerah."

"Anjing. Keren banget lo, Yan. Tapi titah itu berisi apa? Dan, dan siapa raja yang mengeluarkan titah?"

"Perempuan telanjang," bisik Genta meremangkan bulu kuduk. "Apakah kita pernah memiliki raja perempuan? Perempuan yang dalam keadaan telanjang?"

Dian kembali menyelisik puisinya. Mulutnya bergumam, "Ia akan kembali bertumbal kepala. Prabu mufakat. Dua aji-aji membabat. Takdir terjatuh. Rupa tanah. Semak belukar. Sebelum mekar. Ayo dicari, atau aku akan mati."

Kalimat terakhir puisi tersebut selalu mampu memuntir usus-usus Genta. Ia memang bukan Welirang maupun Dian yang memiliki basic sastra, tapi ia mampu mengenali emosi dari kalimat pamungkas tersebut. Kata ajakan berwujud ayo selalu mengingatkan Genta setiap kali menyemangati kliennya apabila kelelahan di trek pendakian. "Ayo semangat, puncak tinggal dikit lagi." Sebuah mantra dalam dunia pendakian paling menyebalkan yang pernah tercipta. Disuarakan oleh orang yang bersemangat dan penuh suka cita kepada orang yang kelelahan dan di ambang keputusasaan. Ayo dicari, atau aku akan mati, adalah ungkapan dengan tone ceria dan penuh kegembiraan dari orang yang menganggap kematian adalah sebuah hal menyenangkan kepada sekumpulan orang lelah dan putus asa seperti dirinya dan kawan-kawannya.

"Ia akan kembali bertumbal kepala. Ia akan kembali. Ia akan kembali.... akan kembali, akan kembali. Jika kamu menjawab pertanyaanku dengan kalimat, aku akan kembali, apakah kira-kira pertanyaan yang tepat untuk aku tanyakan?"

"Apakah kamu akan kembali? atau, apakah kamu akan pergi selamanya, bisa jadi apakah kamu akan meninggalkanku?" Genta menjawab walaupun ia tidak tahu ke mana muara dari pertanyaan Dian.

"Takdir terjatuh rupa tanah. Perempuan telanjang bertitah-titah. Aku akan kembali bertumbal kepala. Prabu mufakat. Dua aji-aji membabat."

"Sial, kepala gue pusing, njing. Apaan ah elah maksudnya. Gue benar-benar nggak mengerti puisi. Jangankan puisi, nilai bahasa Indonesia gue saja tiarap dari SD sampai lulus." Rick menjatuhkan kepala di atas KBBI yang tergelar di hadapannya.

"Perempuan telanjang bertitah-titah." Mengabaikan Rick, Dian melanjutkan, "Aku akan kembali bertumbal kepala. Prabu mufakat. Prabu... prabu... Rick, cari kata prabu," perintahnya tanpa menghiraukan Rick.

Seperti tadi, tiap mendengar perintah Dian, Rick menegakkan kepala dan langsung membuka halaman yang ia cari. Hanya saja, jika tadi ia bersemangat menyerukan jawabannya, kali ini lekuk keningnya menandakan kebingungan tidak bisa disembunyikan. "pra·bu kl n (sebutan) raja: sang -- , baginda; ke·pra·bu·an n tanda-tanda kebesaran (kerajaan)." Ia mengangkat kepala menatap Dian. "Seorang raja perempuan memberi titah kepada raja? Mana ada ada dua raja dalam satu daerah, kan? Kayak Hamengkubuwono kesepuluh ini. Hanya dia doang raja kita. Hanya ada satu presiden di negeri kita."

"Tidak ada raja perempuan di sepanjang ingatanku." Dian menimpali.

"Apakah itu artinya, perempuan telanjang bertitah itu bukanlah raja?"

"Bisa jadi ia kerabat kerajaan. Dia menyerukan titah tersebut kemudian pergi dan akan kembali dengan tumbal kepala. Siapa pun dia, dia menginginkan seseorang menumbalkan kepalanya."

"Asu." Genta berjengkit. "Sadis banget itu."

"Takdir terjatuh rupa tanah. Perempuan telanjang bertitah-titah. Aku akan kembali bertumbal kepala. Prabu mufakat. Dua aji-aji membabat." Dian tampak berpikir keras, setelahnya ia merampas KBBI dalam jangkauan Rick, mencocokkan kata demi kata yang ia cari, lantas kembali menafakuri puisi tersebut. Entah berapa lama Dian berpikir, menggali seluruh kemampuan bahasa dan menghidupkan pancaindranya setajam mungkin. Ia terlihat memejam dalam beberapa waktu, dan melihat langit-langit perpus di waktu kemudian. Lama ia berkutat dengan pemikirannya sendiri, sampai akhirnya ia berjengit mengagetkan.

"Yan...."

"Sudah jelas. Ini adalah sayembara." Dian menggunting ucapan Rick. "Aku nggak tahu siapa itu perempuan telanjang, dan aku nggak tahu apa yang melatarbelakanginya, perempuan itu menginginkan tumbal kepala entah siapa agar siapa pun prabu yang dimaksud mendapatkan hadiah berupa tanah. Daerah yang tandus, yang kering, yang penuh semak, alih-alih daerah yang subur. Semak belukar sebelum mekar."

Genta tidak pernah dibuat seterpesona ini oleh kemampuan berpikir seseorang. Cara Dian menganalisis puisi dan menjabarkannya dalam kalimat sederhana yang mampu ia cerna, mengagumkan dari sisi mana pun.

"Sekarang, kita cari di buku-buku sejarah, daerah dari hasil sayembara--"

Kalimat Dian terputus tatkala ponsel Genta memekik lantang. Nama Aji Saka berkelap-kelip. Mereguk liur, Genta menggeser tombol jawab dan kalimat yang didesingkan Aji tak pernah membuatnya seemosi ini.

"Res, terjadi keributan. Gerard memukul Welirang sampai dia pingsan, lalu dia kabur ke polisi untuk membongkar apa yang telah kita lakukan pada perempuan itu. Sekarang saya lagi mengejarnya menuju polres. Di mana pun kamu berada, kejar dia ke polres untuk mencegah apa pun yang ingin dia lakukan."

"Asu!" Genta memutus ponsel dan berlari ketika Rick memegang lengannya. "Rick kamu ikut aku ngejar Gerard, sementara Dian melanjutkan analisis puisinya di sini."

"Tapi...."

Belum sempat Rick melanjutkan, Genta sudah terlebih dulu berlari menuju Jeepnya terparkir. Kesetanan, ditunggangi emosi yang membeludak luar biasa, Genta meluncur ke arah timur, lantas berbelok ke Jalan Suroto. Dipacunya mobil dengan kecepatan tinggi. Sementara di samping, Rick menyumpahserapahi cara Genta mengemudi. Mobil dan motor yang menghalangi, ia salip tanpa ampun. Amarah itu membutakannya seketika, bahkan membuat tubuhnya digempur aliran panas. Ia pastikan bisa melepuh akibat bara emosi yang mendidih di tubuhnya. Tanpa menyalakan lampu sein, Genta mengambil jalur kanan, lantas menggunting arah dan berbelok ke Jalan Yos Sudarso. Beberapa pengendara di belakang Genta secara spontan meneriakkan caci maki. Genta tak ambil pusing. Ia lebih mementingkan nasibnya dan para sahabat. Manusia keparat itu harus tahu telah bermain api. Genta sudah memperingatkan dari awal sejak masalah sialan ini terjadi, dan Genta tidak akan mengampuni kendati bajingan itu menghamba maaf padanya.

Di perempatan lampu lalu lintas yang tengah menyemprongkan warna merah, Genta terus melaju, membelah jalan Abu Bakar Ali. Mobilnya seperti kesurupan saat melewati Malioboro. Ia menyerempet beberapa kali bus TransJojga, dan menyenggol spion motor-motor sebab padatnya Malioboro siang ini. Hampir menabrak pelancong yang menyeberang jalan begitu saja, lantas ia memutar kemudinya ke kanan melalui Reksobayan. Ke mana motor bebek laki-laki sialan itu? Ke mana perginya keparat itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut meledak beringar bingar. Emosi benar-benar telah menggelapkannya. Bahkan ia secara sadar menghardik Rick dengan kasar saat menginterupsi caranya menyetir. Demi Tuhan, benar-benar demi Tuhan, jika kali ini ia tidak mampu menghalangi kelakuan konyol berengsek itu, ia yang akan mendatangkan kematian buatnya.

Baru ketika Jeep melewati kedai kopi, di mana pintu polres sudah di depan mata, manusia keparat itu terlihat. Ia menyalip motor Gerard dan berhenti mendadak di hadapannya. Motor Gerard terguling, ia terjatuh begitu saja. Genta turun, diikuti Rick. Di belakang mereka, dengan vespanya, Aji Saka menepikan kendaraan. Tanpa pikir panjang, Genta menindih tubuh Gerard yang terkejut melihat kedatangannya. Dan ayunan tinjunya yang terkepal pun tidak tertangguhkan. Membabi buta, Genta menghantamkan kepalan tangan kuatnya ke muka Gerard. Rick dan Aji kelimpungan menolong mereka. Mencoba melerai keduanya. Tapi Genta tidak bisa dihentikan. Layangan tinju itu semakin brutal. Tidak terkendali. Darah muncrat di mana-mana. Wajah Gerard babak belur. Mungkin tulang pipi maupun tulang hidungnya ada yang patah, Genta tidak ambil pusing.

"Berhenti, Res! Berhenti!" Sekuat tenaga Aji mencoba menarik tubuh Genta, tapi laki-laki itu tidak terkalahkan. Latihan-latihan fisik yang ia dapat dari gunung, membuatnya sekokoh karang, kepalan tangannya sekuat kayu jati. "Res, kamu bisa membunuh Gerard dan mencelakakan kita semua. Berhenti."

Masih tidak mau berhenti, sementara beberapa orang yang melihat pertikaian itu mulai berdatangan. Dari sisi kiri, Rick mencoba menarik Genta, sedangkan Aji membantunya dari sisi kanan. Ini sudah tidak bisa diampuni. Markas para polisi ada di depan mata. Kalau sampai meraka mengetahui keributan ini, semuanya akan berantakan. Tapi siapa yang bisa menghentikan Genta ketika ia sudah mengambil tindakan? Tidak ada, kecuali secara tiba-tiba Rick menghantam kepalanya, dan dengan sigap Aji memeluk tubuh Genta, baru perkelahian tidak seimbang tersebut berakhir.

Napas Genta memburu. Ia melirik sekitar, dan baru menyadari menjadi perhatian beberapa orang. Tanpa pikir panjang, Genta merenggut kerah kaus Gerard, dan melemparkan manusia sialan itu ke jok penumpang di sampingnya. Buru-buru Rick dan Aji mengikukti Genta dan duduk di jok belakang sebelum pemuda berambut gondrong itu melakukan tindakan yang lebih membahayakan.

Sekali, Aji ingat, pernah melihat Genta kesetanan ketika beberapa juniornya melakukan pendakian Semeru melewati jalur yang tidak resmi. Para junior tersebut tertangkap oleh para ranger Semeru, dan dikembalikan kepada Genta karena keteledorannya membuat mahasiswa menyimpang. Mamang tidak sebrutal sekarang, tapi Genta berhasil memukul mereka sampai babak belur dan memblack list mereka dari mapala. Itu adalah kemarahan pertama dan terakhir yang Aji lihat dari sosok Genta. Ia bersumpah, tidak akan lagi sudi melihat maupun membuat sahabatnya meledak seperti saat itu. Hanya saja, berita yang ia wartakan sangat di luar kendali. Aji tidak pernah melihat Genta seberangsang barusan. Ia tidak pernah melihat Genta semenggelegak itu. Gentares dalam kondisi murka adalah bahaya. Ia bisa saja dengan mudahnya membunuh seseorang ketika angkara menguasainya. Di sepanjang perkawanannya, laki-laki tersebut selalu mampu menahan emosinya. Baru kali ini, dengan mata telanjang, ia seperti tidak lagi mengenali sosok Genta. Laki-laki doyan makan itu serupa iblis. Senyum yang bahkan timbul kala diserang hipo rasa-rasanya mustahil tercipta dari sosoknya.

"Sekali, Ger, kuingatkan sekali lagi, sampai kamu melakukan tindakan tolol kayak tadi, nggak usah menunggu pembunuh itu mendatangimu, aku yang akan memastikan kamu mati di tanganku. Aku sudah pernah bilang, jangan pernah bermain-main denganku. Aku paling nggak suka dikencingi seperti ini. Kamu sudah bersumpah, dan sampai ke liang lahat pun, aku akan mengejar sumpahmu."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top