Present
Nikaido Yamato x OC
This fanfiction is dedicated for Nikaido Yamato birthday
Warning: bahasa tidak baku, campur dan mungkin banyak typo bertebaran. Dapat menimbulkan efek mual dan geli bagi yang tidak biasa membacanya, mungkin juga OOC. Walau begitu..
HAPPY READING :D
Kicau burung saling bersahutan di pagi yang cerah. Di sebuah rumah dengan nuansa tradisional Jepang. Seorang pria bersurai hijau lumut membuka tirai kamarnya, membiarkan hangatnya sinar mentari pagi itu menyeruak masuk, menyinari sosok wanita yang selama ini menemani separuh hidupnya yang masih terbaring di ranjang. Mengamati raut wajah sang istri yang terlihat kelelahan, membuat dia enggan untuk membangunkannya. Bagaimana tidak lelah, selama ini istrinya merawat anak kembarnya sendirian. Karena dirinya masih sibuk dengan aktifitas dunia hiburan, membuat Yamato merasa bersalah.
Nikaido Yamato, Leader Idolish7 juga seorang aktor. Setelah melajang selama 28 tahun hidupnya, kini ia telah memiliki istri, Haruno Yoru namanya. Ah.. Bukan, Nikaido Yoru sekarang. Mereka mengikat janji sehidup semati 4 tahun silam. Kini telah dikaruniai 2 orang anak kembar, perempuan dan laki-laki.
Yamato termenung memandangi istrinya yang tengah tertidur lelap. Mengulas memori saat ia mengetahui bahwa Yoru tengah mengandung anaknya, kembar. Meski bahagia, ia juga sempat khawatir, karena tahu Yoru menderita anemia, sedangkan dokter berkata ibu yang mengandung anak kembar, membutuhkan nutrisi lebih daripada ibu hamil pada umumnya. Membuat dirinya harus memberi perhatian ekstra agar Yoru tak terlalu lelah. Beruntung, kala itu jadwalnya sedang tak terlalu padat, sehingga ia bisa leluasa menemani, membantu bahkan menggantikan pekerjaan rumah yang harusnya dilakukan oleh sang istri.
Kembali ke masa kini, karena hari ini offday, dia pun lebih memilih kembali ke ranjang, memeluk istrinya untuk kembali tidur. Sayangnya, kedamaian yang dia rasakan tak berlangsung lama, karena beberapa saat kemudian si kembar tahu-tahu sudah berada diatas tubuhnya, merengek minta makan.
"Papaaaaaa! Papaaaaaa banguuunnn! Aku lapal!" rengek Kyoya, anak laki-lakinya.
"Papaaaa! Bangun! Mama bilang kemalin kalau hali ini mama telat bangun, minta papa buat macak aja, coalnya katanya macakan papa juga enak! Kita mau coba macakan papa! Iya kan, nee-chan?"
Balita mungil berparas imut itu terus mengoceh sampai Yamato merasa kalau tingkat kecerewetan anaknya itu makin mirip ibunya. Sedangkan Kyouka--anak perempuannya terlihat santai.
Astaga.. Padahal hari ini aku hanya ingin berdua dengan ibu kalian. Batinnya nelangsa.
"Oke oke, ayo kita ke dapur, biarkan mama istirahat lebih lama," ujarnya bangkit dari kubur-ehem-kasur.
"Baik pa/wokeh pa ayo," seru Kyouka dan Kyoya kompak, menyeret ayahnya keluar kamar.
Ketika ketiga kepala hijau lumut itu meninggalkan kamar, Yoru mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengumpulkan seluruh nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi.
Sepertinya, saking padatnya jadwal Yamato akhir-akhir ini, dirinya sampai tak sadar kalau hari ini adalah hari kelahirannya.
Baguslah. Beruntung sebelumnya aku merencanakan ini bersama member idol yang lain. Maa~ kalau dia ingat pun, tak akan ada bedanya sih, karena pada dasarnya mereka senang mengusili Yamato. Suamiku emang bully-able sih, ahahaha.
"Ughh.."
Yoru membekap mulutnya, lalu dengan terburu-buru berjalan ke wastafel yang berada di sudut ruangan.
Ah.. Semoga hanya pagi ini saja aku merasakan ini. Hari ini aku akan pergi seharian berdua. Kumohon, jangan sampai mual ini terasa sampai malam nanti. Batinnya sambil membasuh wajah, kemudian kembali ke ranjang, bersandar mengistirahatkan kembali jiwa dan raganya.
Setengah jam kemudian, pintu kamar pasangan Nikaido kembali terbuka, menampilkan si kembar dengan wajah belepotan dalam gendongan ayahnya. Melihat pemandangan itu, membuat Yoru yang tengah bersandar, tersenyum tipis.
"Kau sudah bangun rupanya, pagi sayangku," ujar Yamato sambil mencium kening sang istri, dengan si kembar dalam gendongan.
"Pagi~," balas Yoru sambil memejamkan mata, menikmati momen kebersamaan mereka.
"Ihh papa! Kok kita tadi gak dikacih kiccih? Papa ga cayang kita?" oceh Kyoya menjawil pipi ayahnya.
"Papa pilih kacih, maca cuma mama yang dicium," imbuh Kyouka.
"Astaga-- kalian cemburu, hm? Mandi dulu yuk sama papa, nanti udah mandi papa cium. Papa ngga mau cium muka kalian yang belepotan."
"Padahal mama juga balu bangun tidul, pasti ada bekas ilelnya," Kyoya menatap ayahnya sebal.
"Sembarangan, mama kalian itu selalu wangi tahu!"
"Ahaha," Yoru tertawa hambar.
"Sudah jangan bertengkar, biarkan mama mandi dulu, Kyouka mandi bareng mama, ya? Biar Kyoya sama papa," lanjutnya kemudian berusaha melerai perdebatan makhluk trio hijau lumut.
"Ngga bareng aja?"
"Kau dan aku? Mandi bareng? Sekarang? Hm?" tanya Yoru sambil tersenyum misterius.
"Kena-eeyaaa--ahahaha maaf aku lupa," Yamato nyengir kuda menyadari maksud pertanyaan istrinya.
"Ah iya, teman-temanmu katanya mau mampir, pengen main bareng si kembar, tetangga sebelah juga. Tolong bantu aku beres-beres ya, makanannya tinggal dihangatkan saja kok."
"Hah~ Bisakah onii-san benar-benar libur tanpa berurusan dengan makhluk-makhluk ga jelas itu?"
"Hey.. Mereka itu teman-temanmu yang berharga, bukan begitu?" ujar Yoru sambil tersenyum menggandeng putri kecilnya.
"Oh? Papa punya teman? Kukila seligala kecepian kayak yang ada di tipi," celetuk putrinya ikut mengomentari sang ayah.
"Pffft--Kyouka.. Jangan gitu sayang, walau begitu, teman-teman papa baik dan mereka juga sayang banget sama papa lho."
"Maca ci ma? Aku ko ga pelcaya"
"Maa~ maa~ yang penting kita mandi dulu sekarang, sebelum makhluk warna warni itu datang," kilah Yamato menghindari topik yang diduga akan berujung menistakan dirinya.
"Ha'ik~"
Baru saja dia akan menggendong Kyouka, anak perempuannya itu menggelengkan kepalanya menolak, meski ingin digendong, entah kenapa dia merasa tak boleh membuat ibunya lelah. Mungkin alam bawah sadarnya tahu bahwa dia akan mempunyai seorang adik lagi.
"Are? Kenapa Kyouka?" Yoru menatap anaknya bingung.
"Ng.. Aku mau jalan aja sambil gandengan cama mama," celoteh Kyouka menggenggam tangan ibunya. Yoru tersenyum mengusap lembut kepala gadis ciliknya.
"Ha'ik~ ayo sayang, duuhh~ manisnya anak mama."
Yamato dan Kyoya menatap keduanya heran. Tak ambil pusing, mereka pun pergi membersihkan diri.
Beberapa jam kemudian terdengar bel berbunyi, para idol yang sengaja datang untuk "merusuh" di rumah keluarga Nikaido itu tersenyum misterius kala sang tuan rumah datang membukakan pintu.
"Ojamashimasu! KYOUKAAA KYOYAA MOMO-NII DATANG~" seru Momo langsung menerobos masuk tanpa menyapa tuan rumah yang baru saja membukakan pintu rumahnya, berlari ke arah si kembar yang memang sedang berada di ruang tengah.
"MORIN-NIICHAAANN YEEYY," seru kedua anak Yamato berlarian menuju Momo.
Dua makhluk imut berbeda gender itu langsung menghambur ke pelukan Momo. Member idol lain hanya bisa menggelengkan kepala, lelah dan tak habis pikir dengan kelakuan senpai-nya satu itu.
"Permisi dan maaf mengganggu waktumu Yoru-nee," ucap Mitsuki canggung, malu dengan kelakuan Momo.
"Tak apa, aku senang kalau kalian sering datang ramai-ramai begini, lumayan buat cuci mata~"
"Ya ampun, nee-san bisa saja, ahahaha" sahut Sogo dan Ryuu menggaruk pipi mereka yang tak gatal.
"Heh, harusnya kau bilang begitu padaku, Mitsu! Kau mengganggu waktu istirahat onii-san," seloroh Yamato sebal.
"Aku datang kemari bukan untuk mendengar keluhanmu, ossan," sahut Mitsuki kalem kemudian duduk dengan santai, ikut bermain dengan si kembar bersama Momo.
"Yoru, apa suamimu ini kurang enak untuk dilihat? Kau lebih senang melihat mereka sekarang?"
"Hmm entahlah ehehehe~," Yoru hanya terkekeh geli melihat suaminya.
"Sudahlah Nikaido, akui saja kalau kau senang," ejek Gaku kemudian duduk lesehan.
"Diam kau Yaotome, lebih baik tutup mulutmu dan duduk manis saja disana," sahut Yamato ketus. Meski begitu sekilas terlihat oleh mereka rona tipis di pipi sang Leader Ainana.
"Maa~ sudah tak apa, ayo silakan masuk, jangan sungkan, anggap saja rumah send--" ucapan Yoru terpotong oleh seruan Tamaki. Menghela napas lelah, ia kembali berkutat di dapur.
"YOOO KYOUCCHI, YAKKUN! TAMA NII-CHAN BAWAKAN KALIAN OUSAMA PURIN LOH," teriak Tamaki ikut masuk menyusul Momo.
"Yotsuba-san... Mereka bukan maniak puding sepertimu, mereka pasti lebih suka usamimi friends, bukan begitu Kyou-chan?" tanya Iori pada Kyouka yang memang satu selera. Suka benda imut.
"Un!"
Senang dengan jawaban itu, Iori memberinya sepasang boneka usamimi ukuran mini, menepuk sayang kepala si gadis cilik.
"Wah, aligatou Ichi-nii!" seru Kyouka kemudian berlari menuju ayahnya yang kini sedang membantu ibunya di dapur.
"NOOO COME ON LITTLE YAMATO KITA MENYANYI ALA COCONA-CHAN," seru Nagi tak tahu malu menyodorkan sekantong DVD anime favoritnya.
"YADA, OM AJAK NEE-CHAN AJA KALO MAU NYANYI COCONA, KYO MAUNYA NALI CAMA NYANYI KEK PAPA BIAL KELEN," Kyoya berteriak pada Nagi yang kini tengah melihatnya penuh minat.
"Ouh--! Kyoya, apa kau tahu? Ayahmu juga terlihat keren saat menarikan tarian peri hutan," ujar Nagi bersiap membuka lembaran aib Yamato yang melintas di kepalanya.
"Sou da~ Yamato-san keren lho~," sahut Riku meng-iya-kan pernyataan Nagi sambil menahan tawa.
"Cukup sampai disana Nagi, Riku," cegah Yamato agar Riku dan Nagi tak bicara lebih lanjut. Kalau tidak dicegah sekarang, aib dirinya yang lain akan terbongkar di depan kedua anaknya. Sambil menggendong Kyouka dia membawa camilan untuk disantap oleh mereka. Sedangkan, Nagi dan Riku hanya terkekeh.
"Oh, benalkah? PAPAAA AKU MAU LIAT TALIAN PELI HUTAN," seru si kembar dengan mata berbinar, membayangkan sang ayah yang akan menari dengan elegan bak peri.
"Pffft", semua orang menahan tawa, kenangan memalukan Yamato saat itu masih terekam jelas di ingatan mereka. Sebisa mungkin, mereka menahan tawa kala mendengar kedua anak Yamato meminta leader IDOLiSH7 itu untuk menarikan kembali tarian yang menurut Yamato laknat.
"Ayolah pa.. Please, ya ya ya?"
Kedua mata violet milik makhluk mungil copy-an istrinya menatapnya penuh harap, sementara teman-teman dan senpai-nya bergetar menahan tawa. Yamato tak bisa menolak permohonan kedua anaknya tapi sekali lagi, image papa keren yang susah payah dia bangun bisa hancur kalau begini caranya, bagaimanapun juga ia tak mau sampai dinistakan oleh anak-anak manisnya.
"Aa--lain kali saja ya? Papa hari ini kan mau pergi dulu bareng mama, kalian mau main kan? Main dulu sama teman-teman papa," ujar Yamato berusaha mengelak.
Hari ini dia memang ada rencana pergi berdua dengan Yoru. Kenapa si kembar tak dibawa? Mereka masih terlalu kecil untuk jadi pusat perhatian orang-orang, belum siap mental.
"Yadaaa~ maunya cekalang, ayolah pa!" rengek Kyouka memberi tatapan puppy eyes miliknya.
Member IDOLiSH7, Gaku, Ryuu, dan RE:VALE bukannya merasa bersalah karena telah membuat anak-anak Yamato merengek, mereka malah menikmati momen ini. Momen dimana Yamato tak akan bisa menolak permintaan aneh dari si kembar. Yamato memang lemah terhadap hal-hal seperti itu.
"Sudah, sudah, kasihan papa. Kalian bisa lihat papa menari lain kali, ya? Kalian hari ini kan, mau main bareng teman-teman papa dan Hi-kun," ujar Yoru berusaha membujuk anak-anaknya.
"Tapi Hi-kun belum datang," keluh Kyoya dan Kyouka. Ah iya, Hi-kun adalah putra dari Kujo Tenn yang menikahi salah seorang kouhai-ku dulu, sekaligus tetangga yang kusebut tadi. Umur putra mereka tak jauh dengan si kembar. Kadang karena merasa sepi ketika di tinggal tour ke luar kota oleh suami, kami sering menginap bersama.
"Hi-kun nanti malam datang, sabar ya. Mungkin, nanti kalian juga bisa lihat papa nari peri hutan, oke?" bisik Yoru tersenyum jahil pada anak-anaknya. Senyum cerah terbit di kedua wajah mereka begitu mendengar bisikan ibunya.
"Oke, ma. Kalo gitu mama cama papa boleh pelgi. Celamat cenang-cenang, kita bakal jadi anak baik celamat mama cama papa pelgi."
"Oh, jadi maksudnya, kalau papa dan mama ngga pergi kalian mau jadi anak nakal?" tanya Yamato pada putranya tersenyum penuh makna.
"Ayolah, sayang jangan usil sama anak sendiri, mereka akan lebih sulit ditangani kalau menangis," ujar Yoru menjewer Yamato.
"Ouch.. Sakit, sayang. Ayolah, aku juga hanya bercanda," Yamato menurunkan Kyouka dari gendongannya.
"Memangnya anak kita tahu kau sedang bercanda atau tidak? Kan mukamu dari sananya sudah mirip penjahat--eh.. Hehehehe," kekeh Yoru menggaruk pipinya canggung, dia keceplosan.
"BUAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAH"
Tawa para member idol pecah mendengar omelan Yoru pada Yamato, sedangkan Yamato hanya bisa menghela napas lelah, merutuki nasib wajahnya yang mirip kriminal. Tiba-tiba dia menyeringai terpikir sesuatu.
"Hee~ lantas kenapa kau mau denganku yang berwajah kriminal ini, hm?" bisik Yamato di telinga Yoru. Untung saja kedua anaknya sudah asyik bermain dengan Iori, Nagi, Riku, dan Tamaki.
"Hmm... Karena kau...sudah mencuri separuh jiwaku?" ujar Yoru sambil memiringkan kepalanya, memasang pose berpikir.
Mendengar jawaban seperti itu dari istri, Yamato merasa malu sendiri sampai dia merasakan pipinya memanas. Member idol yang tersisa menikmati pemandangan yang tersaji di depan mereka sampai direkam pula.
Usai berdebat, mereka pun pamit menitipkan penjagaan si kembar pada teman-teman suaminya yang memang senang bermain dengan anak mereka dan tentu saja untuk menyiapkan surprise nanti malam.
Baru saja keluar halaman rumah, mereka bertemu Tenn bersama anak dan istrinya, serta member Zool.
"Loh? Bukannya kalian mau datang nanti malam? Ini masih terlalu sore," ujar Yamato pada Tenn yang bermuka masam menggendong anaknya.
"Oh? Kalian baru mau berangkat rupanya. Anakku daritadi sudah merengek ingin segera bertemu anak kalian," ujar Tenn menatap Yamato dan Yoru, kemudian berkata, "jaga istrimu baik-baik Nikaido, kami masuk."
"Hati-hati di jalan, nee-san," ujar istri Tenn tersenyum penuh arti.
"Tentu, mohon bantuannya untuk menjaga si kembar, kami pamit ya~"
"Kalau Nikaido-san mengecewakanmu, kau bisa lari padaku, Yoru-san," celetuk Torao, dan tentu saja, akibat ucapannya itu, dirinya mendapat delikan tajam dari sang pemilik surai hijau lumut.
"Astaga, Tora! Sopan sedikit, ngapain kau godain istri Nikaido-san! Kau mau dihajar suami dan mertuanya?" omel Touma pada rekan satu grupnya yang terkenal playboy itu.
"Ck, sudahlah Touma, biarkan Torao merasakan pukulan maut Nikaido-san, aku rela," celetuk Haruka, si center ZOOL.
"Minna-san, hentikan," ujar Minami tersenyum dengan aura gelap di sekelilingnya.
"Ha-Ha'ik," sahut mereka gemetar.
"Selamat bersenang-senang, Nikaido-san, kami numpang merusuh ya, dan hati-hati di jalan," ujar lelaki cantik member Zool bersurai cream itu tersenyum manis ke arah pasangan Nikaido.
"Serahkan penjagaan putra-putri kalian pada kami," ujar Touma percaya diri.
"Aa--ahahahah terima kasih, kami pamit."
Yamato dibuat heran. Ada apa dengan hari ini? Kujo Tenn dan Natsume Minami sampai menasihatinya penuh perhatian begitu. Meski sempat kesal karena Torao menggoda istrinya, dia memilih untuk tak ambil pusing.
Dalam perjalanan, beberapa orang fans mengenali Yamato dan menyapanya, meski dalam penyamaran, mereka tetap mengenali Leader IDOLiSH7 itu. Beruntung, mereka tipe fans yang sangat menghargai keberadaan Yoru sebagai istri Yamato.
Maklum, karena dulu pernikahan mereka dilaksanakan secara tertutup. Beberapa fans nekat menyusup sebagai salah satu tamu undangan. Saking penasaran dengan wujud istri salah satu idola mereka, alhasil mereka tak sanggup berkomentar apa-apa setelah melihat raut bahagia idolanya kala bersanding di pelaminan bersama istrinya kala itu. Saking bersinarnya wajah Yamato, membuat semua tamu yang hadir heran.
Apa benar ini Yamato yang mereka kenal?
Siapa yang mengira bahwa berita pernikahan Leader Idolish7 itu juga membawa berkah pada pihak agensi Takanashi. Banyak tawaran ditujukan untuk Yamato, agar menjadi model iklan produk khusus pasangan bersama sang istri.
Awalnya Yamato bimbang, dia senang, karena itu artinya dia tak akan jauh dari Yoru meskipun sedang bekerja, tapi dia juga cemas karena selama ini istrinya sudah terlalu banyak mengalami hal yang tak menyenangkan, khawatir terjadi lagi sesuatu yang buruk pada istrinya, karena dunia hiburan tak seramah kelihatannya.
Tapi karena Yoru juga termasuk bagian dari staff agensi Takanashi, dia ingin membalas kebaikan Sachou yang telah menerimanya sebagai pegawai, bahkan dianggap seperti putrinya sendiri. Maka, dia pun menyetujui projek yang ditawarkan pada pihak agensi selama satu tahun, meski harus beradu argumen dulu dengan sang suami.
Ketika muncul sebagai model sebuah majalah fashion, Yoru langsung menarik perhatian publik karena statusnya sebagai istri dari Yamato. Walau dirinya telah menjadi seorang model, dia tak pernah sombong pada fans. Dia selalu memberikan senyum ramah juga tak keberatan dimintai foto, selama dalam batas normal, tentu saja. Itu yang membuatnya disukai dan mudah diterima para fans.
"Yamato-san, jaga Yoru-nee dengan baik ya, kami selalu mendukung kalian dan Idolish7," ujar salah seorang fans-nya menyalami Yamato, membuat dirinya yang tengah mengenang masa lalu itu tersadar.
"Oh, tentu! Terima kasih, dukung kami terus ya," balasnya sambil tersenyum.
"Kami pamit Yamato-san, Yoru-nee."
"Bye bye/Jaa ne~"
Mereka pun pergi dengan senyum cerah, entah apa yang mereka bicarakan dengan istrinya tadi, karena dia sibuk mengingat ada acara apa hari ini meski tak kunjung ingat juga. Padahal jalanan begitu ramai dengan pernak-pernik khas Valentine. Yah kalian tahu, kan, kalau atensi Yamato saat ini hanya tertuju pada wanita yang kini berjalan bergandengan tangan dengannya.
Setelah seharian berjalan-jalan melakukan aktivitas orang kencan pada umumnya. Kini Yamato dan Yoru sedang beristirahat sambil menikmati pemandangan sunset di taman kota.
"Kau lelah?" tanya Yamato pada Yoru yang tengah duduk bersandar padanya, dia senang tapi di sisi lain, ada rasa khawatir menyelinap saat melihat wajah istrinya yang agak pucat. Dengan lembut, diusapnya rambut wanita yang tengah memejamkan matanya itu.
"Hmm.. Tidak terlalu, soalnya hari ini kan, aku bisa bersamamu seharian, aku senang, terima kasih Yama-kun," gumamnya.
"Hee~ sudah lama aku tak mendengar panggilan itu darimu, kenapa jarang kau gunakan, hm?"
"Kau kan tahu aturannya, aku akan memanggilmu seperti itu kalau kita cuma berdua, Yama-kun."
"Termasuk di ra--ohok. Ah, kau galak sekali," Yamato meringis, belum juga dia menyelesaikan ucapannya, ia sudah mendapat sikutan di perutnya. Ia merasa sikutan istrinya makin kuat saja, apa isi perutnya di dalam sana baik-baik saja?
"Ya habis ini tempat umum, kau tak malu apa, kalau ucapanmu itu didengar orang? Ah iya aku lupa, urat malu mu itu udah lama putus," keluh Yoru memegang kepalanya frustasi, baru ingat kalau tingkat rasa malu suaminya sudah lama jauh di bawah rata-rata.
"Ahahaha. Haa~ istriku makin menggemaskan saja, onii-san jadi ingin melihatmu mengomel terus."
Yamato menarik dagu Yoru yang ada dalam jangkauannya. Tindakan Yamato yang spontan itu membuat Yoru merona. Begitu juga dengan orang-orang yang berada di taman. Mereka yang menyadari itu Yamato, tapi tak bisa mendekat karena terlempar aura bucin yang sangat kuat.
"He-hentikan Yama-kun, aku malu," cicit Yoru berusaha menutup wajah dengan kedua tangannya. Perbuatan mereka itu mejadi tontonan gratis bagi orang-orang yang ada di sana, membuat mereka gemas sendiri.
"Hahahaha. Ha'ik ha'ik~ kalau begitu ayo kita pulang," ujarnya sambil mengecup pipi tembem istrinya, membuat wajah Yoru memerah bak kepiting rebus. Orang-orang yang sejak tadi melihat adegan itu otomatis memalingkan wajah, merasa malu. Padahal bukan mereka yang melakukan.
Yamato dan Yoru pun meninggalkan taman kala mentari kembali ke peraduannya. Pasangan itu pulang melalui jalanan kota malam hari yang ramai dengan bergandengan tangan.
"Tadaima~"
Yamato pun tiba di kediamannya, tapi rumahnya dalam keadaan gelap dan sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Seolah keramaian yang terjadi akibat rekan-rekan idolnya sore tadi tak pernah terjadi.
"Loh, kok gelap? Hati-hati sayang, perhatikan langkahmu, dan jangan lepaskan tanganku ya?" pinta Yamato.
"Oke," sahut istrinya tak banyak protes.
"Kyoya, Kyouka! Minna! Kami pulang!" seru Yamato begitu masuk rumah, langsung mencari keberadaaan kedua anaknya.
Pats.
Tiba-tiba lampu menyala, membuat Yamato dan Yoru harus mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatan mereka.
"Celamat ulang tahun, Papa!"
Si kembar muncul sambil mendorong troley dengan kue di atasnya. Diikuti kemunculan seluruh rekan idolnya yang tadi datang berkunjung dengan alasan ingin bermain dengan si kembar.
"Otanjoubi Omedetou, Ainana no Leader, o shiawase ni," seru mereka kompak, memberi selamat dan mendo'akan kebahagiaan untuk Yamato.
"Omaera--," Yamato kehilangan kata-kata.
"Sankyuu na, minna, onii-san bersyukur memiliki teman-teman seperti kalian," imbuhnya malu-malu, menutupi sebagian wajahnya yang merona.
"Terima kasih kembali, leader!" sahut Riku ceria.
"Terima kasih atas semua kerja kerasmu selama ini untuk kami, Yamato-san," ucap Sogo tulus.
"Everyone! Let's hug Yamato together!" seru Nagi mengomando semua orang agar beramai-ramai memeluk leader-nya, yang tentu saja hanya dilakukan oleh member Idolish7.
"Bagaimana rasanya mendapat surprise dari kami, ossan?"
"Aku sama sekali tak menyangka, aku bahkan tak ingat apapun meski berusaha keras mengingatnya tadi, hahahaha," kekeh Yamato menertawakan dirinya sendiri.
"Itu berarti Yama-san memang sudah makin tua, hati-hati nee-san, Yama-san sudah mulai pikun," celetuk Tamaki sambil mengemut sendok bekas puding.
"Pfffft, akhir-akhir ini Tamaki makin pintar," kekeh Mitsuki.
"Oy oy oy, onii-san belum setua itu, ya kan, sayang?" rajuk Yamato meminta pembelaan dari istrinya.
"Entahlah~"
"Kau kejam~ tapi aku sayang."
"Bucin," celetuk Gaku sebal.
"Kalau iri bilang saja, Yaotome," balas Yamato malah sengaja memeluk mesra istrinya di depan Gaku.
"Selamat ya, Yamato-kun. Ah omong-omong ini ada titipan dari Chiba-san. Maaf tak bisa ikut merayakan katanya, sebagai gantinya Beliau akan datang besok," ujar Yuki sambil menyerahkan sesuatu pada Yamato.
"Aaa--arigatou, Yuki-san, maaf aku sudah banyak merepotkanmu dan Momo-san," balas Yamato sambil menerima bungkusan kiriman ayahnya itu.
"Tak usah dipikirkan, karena kita sebagai senpai harus membantu kouhai-nya, ya kan, Yuki?" ujar Momo.
Saat Yamato tengah berbincang dengan Yuki, si kembar datang menghampirinya.
"Paapaaaaaaaa! Ayo nali peli hutan!" seru si kembar sambil bergelayut manja di kedua kakinya.
"A--sudah malam, lebih baik kalian tidur ya?" bujuk Yamato pada anak-anaknya.
"Ouuuh Yamato-- "
"Diam Nagi. Kalian hanya ingin membuat citra kerenku rusak di mata anak-anakku kan? Dasar. Bisakah kalian sedikit berbaik hati pada onii-san di hari ulang tahunnya?"
"Janji adalah janji, Nikaido, kau profesional kan?"
"Tapi tidak begini juga, Kujo."
"Ayolah papa," ucap Kyouka yang sudah memasang jurus puppy eyes andalannya demi melihat ayahnya menyanyi dan menarikan tarian peri hutan.
"Tidak, kalian lihat rekamannya saja," ucap Yamato tegas.
"Tapi kita maunya live!" seru Kyoya masih bersikeras.
"Aaa--papa lupa lagi gerakannya tapi kalau lirik lagunya, papa ingat," elak Yamato. Dia tahu, anak-anaknya hanya akan puas kalau sudah melihat dirinya menari dan menyanyi, daripada hanya salah satu, lebih baik tidak sama sekali, persis watak ibunya.
"Mou~ ya sudah, pokoknya kalau papa sudah ingat kita mau lihat!" seru kedua anaknya kompak menyerah.
"Oke~. Nah, sekarang ayo kalian tidur, jangan lupa gosok gigi, cuci tangan dan kaki. Papa antar kalian ke kamar mandi. Minna, aku tinggal dulu sebentar," ujar Yamato.
"Nikaido-san benar-benar sudah jadi ayah yang baik ya, nii-san," kata Iori agak terharu.
"Aku bahkan hampir lupa kalau dia itu cuma ossan pemabuk yang nyambi jadi idol," sahut Mitsuki setengah bercanda.
"Yamato-san juga jadi jarang ikut minum-minum setelah punya si kembar," lanjut Sogo.
"Loh, bagus kan, Yama-san berubah ke arah yang positif," balas Tamaki menanggapi pernyataan teman-temannya.
"Yes. But watashi jadi agak merasa kesepian desu~," ucap Nagi jujur.
"Tapi Yamato-san tak pernah mengabaikan ajakan kita, lagipula sesekali kita juga sering main kemari. Nee-san juga tak pernah keberatan dengan itu, jadi apa masalahnya?"
Pernyataan sekaligus pertanyaan Riku membuat idol lain termenung. Sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan. Lalu mereka melirik Tenn yang sedang menepuk-nepuk putranya yang sedang tidur sembari memperhatikan istrinya yang sedang membantu Yoru-san di dapur. Melihat Tenn yang menatap istrinya dengan lembut, membuat mereka berpikir kompak.
Ah... Bahkan orang ini pun banyak berubah setelah menikah.
"Ii naa Nikaido, seandainya saja Tsumugi bukan manager kalian dan aku orang biasa," celetuk Gaku tiba-tiba. Membuat member Idolish7 menatapnya tajam.
"Oy oy Yaotome, apa-apaan ucapanmu itu, maneja akan tetap jadi maneja Idolish7," omel Yamato yang muncul dari arah kamar tidur si kembar. Kemudian melesat ke arah dapur untuk membantu istrinya.
"Kau bukan artis pun belum tentu manager menerimamu dengan mudah, Yaotome-san," sahut Iori pedas. Tenn yang mendengar ucapan Iori mendengus, setuju dengan apa yang dia katakan.
"Sabar Gakkun, mungkin saja suatu hari nanti perasaanmu akan terbalas," ucap Tamaki sambil menyendok puding.
"Walau entah kapan itu," sahut Haruka kemudian tertawa bersama Iori dan Tamaki. Trio member termuda itu kompak meledek Gaku.
"Mungkin, Yaotome-san perlu membeli jimat, ah maaf Yaotome-san bukan maksudku--" ucap Sogo.
"Tak apa Osaka-san, aku paham," sahut Gaku pasrah.
"Ouuuh, mungkin Yaotome-shi perlu melakukan ritual juga, biar aku yang melakukan itu untukmu, Yaotome-shi," ucap Nagi.
"Ya silakan, dan kemudian Yaotome akan menjadi bucin Kokona sepertimu," sahut Yamato sambil menyimpan takoyaki di meja.
"OH NOOOO CUKUP MITSUKI YANG JADI PASANGAN KOKONA DI ANIME, JANGAN BERTAMBAH LAGI," seru Nagi frustasi.
"Astaga, dia mulai lagi," keluh Mitsuki.
"Sial, Leader-nya udah tobat, eh malah member-nya yang makin menjadi."
"Sabar Gaku, semua akan indah pada waktunya," ucap Ryuu enteng.
"Sudahlah, hentikan Ryuu. Kau malah membuatku merinding," ucap Gaku sambil bergidik.
Begitulah cara mereka merayakan ulang tahun Yamato. Menghabiskan malam dengan bersenda gurau hingga para manager datang menjemput mereka.
Setelah rekan-rekannya berpamitan untuk pulang, Yamato pergi ke kamar si kembar untuk mengecek mereka, siapa tahu anak-anaknya terbangun akibat keributan tadi, sementara Yoru membereskan sisa-sisa kekacauan di dapur.
Sekembalinya dari kamar si kembar, dia duduk di ruang keluarga. Ia melihat istrinya yang sedang senyam-senyum sendiri sambil melihat layar ponselnya di dapur. Dia lihat apa sih sampai cengegesan gak jelas begitu?
"Sayang?" karena penasaran, Yamato akhirnya memanggil istri tercintanya.
Yoru menoleh, senyumnya merekah. Tiba-tiba saja dia berlari, menghambur ke pelukan suaminya yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Kyaaaaaaaa~, sayang kau keren banget!" seru Yoru menahan teriakan fangirling-nya, karena takut membangunkan anak-anaknya, ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Yamato.
Yamato tertegun, sedetik kemudian, sudut bibirnya terangkat.
"Bukannya kau sendiri yang bilang, kalau aku selalu terlihat keren dimatamu? Hm?" ujarnya penuh percaya diri. Yamato membalas pelukan sang istri, mengelus lembut helai light lilac itu dan mengecup pucuk kepala sang istri.
"Ini beda! Kamu keliatan keren banget! Aku senang! Lain kali aku harus berterima kasih pada Banri-san!"
"Kenapa kau harus berterima kasih pada Banri-san?" imbuhnya kemudian merasa sedikit cemburu.
"Aku melihat penampilan visual untuk peluncuran story game baru kalian di media sosial, dan kau terlihat lebih keren dari biasanya, kurasa itu berkat kerja keras para staff. Aku mengambil Banri-san sebagai perwakilan ucapan terimakasihku, eh bagaimana bilangnya ya, pokoknya begitu!"
"Begitukah? Terimakasih, syukurlah kalau kau senang, chuu~" Yamato melepas pelukan, kemudian mencium kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
Yoru memejamkan matanya, tersenyum, menerima curahan kasih sayang dari sang suami dengan senang hati.
"Kenapa kau berterimakasih? Aku tak melakukan apapun."
"Kau melakukannya," sahut Yamato menatap lembut netra violet milik istrinya.
"Apa?"
Yoru membuka mata, menatap lurus manik abu kehijauan milik Yamato.
"Kau sudah mau melahirkan anak-anak, kau selalu menyambutku pulang dengan senyuman, yah walau kadang, kau tersenyum dengan kerutan di dahi juga, tapi, dengan kondisiku yang masih aktif di dunia hiburan, kau selalu mendukungku sepenuh hati, kau selalu di sisiku, bahkan saat dirimu mengandung, kau pernah kutinggal pergi untuk konser. Sebenarnya aku was-was, ingin ku bawa dirimu saat itu, tapi kau juga memaksa untuk tak membawamu, aku jadi merasa bersalah."
Yoru hanya tersenyum simpul mendengar curahan hati suaminya, di elusnya helai hijau lumut milik sang suami.
"Tak perlu merasa bersalah, lagipula itu sudah berlalu dan kau tau, ibu hamil bukannya tak boleh bepergian naik pesawat, hm?"
"Begitukah."
Yamato menatap dalam mata istrinya kemudian berkata,
"Yoru, terima kasih telah lahir dan hadir dalam kehidupanku," ujar Yamato lembut dan kembali menarik tubuh mungil Yoru ke dalam dekapannya.
"Ah--astaga.. Harusnya kau berterimakasih pada ibuku, tapi baiklah. Terimakasih kembali, suamiku," katanya malu-malu dibalik pelukan sang suami.
Yah.. Sambil berpelukan, kurasa keduanya sama-sama sedang menyembunyikan rona merah yang menjalar di wajah masing-masing.
"Ah iya, Yamato, aku punya sesuatu untukmu," ucap Yoru mengakhiri sesi pelukan.
"Eh? Apa itu? Padahal kau masih disisiku sampai saat ini juga merupakan kado terindah untukku."
Yoru tersenyum kemudian menyerahkan sebuah benda pada suaminya. Yamato yang menerima benda itu tak kuasa menahan haru setelah melihat 2 garis biru di sana. Kemudian kembali dipeluknya Yoru, dibalik pundak mungil sang istri dia menangis dalam diam.
"Ughh, sial airmataku tak mau berhenti. Arigatou, hikss Yoru aku tak tahu apa aku sudah menjadi ayah yang baik untuk mereka atau belum hiks," ujar Yamato sambil memijit pangkal hidungnya, berusaha agar tangisnya tak berubah menjadi senggukan menyedihkan.
Ah untunglah mereka sudah pulang dan anak-anak sudah tidur, kalau tidak aku pasti dibilang cengeng.
"Kau sudah jadi ayah yang baik, tenang saja, meski mungkin kadang anak-anak terlihat bersikap menyebalkan padamu, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, mereka menyayangimu, meski kau nista, hahaha," balas Yoru setengah bercanda, menepuk-nepuk pundak lebar suaminya.
"Oh ayolah, sayang jangan tambahkan nista di belakangnya, onii-san jadi gagal terharu nih," rajuk Yamato. Melepas pelukan memandangi wajah ayu istrinya.
"Baiklah, besok kita ke dokter untuk memeriksa kesehatanmu dan calon adik si kembar, oke?" imbuhnya mengecup kening sang istri, sembari mengelus perutnya yang masih datar.
"Hmm," gumam Yoru tak jelas memenjamkan matanya, kemudian menyandarkan dirinya ke dada bidang Yamato, rupanya dia kelelahan.
"Ah, kau sudah tidur saja, oyasumi istriku, dan sekali lagi terimakasih sudah hadir dan menjadi bagian dari hidupku," bisiknya di telinga sang istri yang tertidur lelap, di gendongnya sang istri ala bridal style menuju kamar tidur mereka.
Ah... Pasti si Pak Tua itu akan senang mendengar kabar ini.
Tamat
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top