®11. Amnesia? ⌛

========
=================

— Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada.—

=================
=========

⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.

Length: 1600++.
.
.

Seoul, 2019

Lee Ji Eun merendam tubuhnya di dalam bath tub berisikan busa, juga rimbunan kelopak mawar. Dia menenggelamkan tubuhnya sampai sebatas hidung, merenungkan nasib yang udah dia lalui selama menjadi manusia lagi semenjak dua bulan lamanya.

Memejamkan mata, wanita berperawakan mungil tersebut mengingat kembali setitik kenangan sebelum dirinya akan melangsungkan pernikahan pada malam kelabu itu. Pertanyaan demi pertanyaan dari pria di masalalunya serasa terus menghantui Ji Eun.

"Apa sampai sekarang, kau masih tak  memiliki rasa terhadapku? "

"Kenapa harus sahabatku, Nona. Kenapa bukan aku saja orangnya?"

"Dari sekian banyak wanita, kenapa harus kau yang membuatku patah hati, Nona? "

"Apa aku sudah tak punya harapan? "

"Kau menikahinya hanya demi kedudukan, bukan? "

"Selamat tinggal, Nona ... "

Kalimat terakhir, Ji Eun ingat sekali orang itu mengatakannya sebelum tubuh Ji Eun di kremasi. Ji Eun masih mengingat dengan jelas, bagaimana raut terluka yang berusaha orang itu sembunyikan. Perlahan, air matanya terjatuh dan tercampur dengan air mandiannya.

'Maafkan aku ... Seokmin-ssi '

~•~

Baru saja terjaga dari tidurnya, Lee Seokmin merasakan kepalanya sangat sakit, seperti baru saja di hantam oleh benda keras.

Padahal seingatnya, tadi malam selesai dia  menulis surat wasiat, pria itu pergi meminum teh sebelum akhirnya terlelap tak sadarkan diri.

Dia tak menyangka kalau dirinya masih bisa bangun lagi. Padahal menurut pedagang ramuan herbal di songgak, racun yang dia campur kedalam tehnya tadi malam merupakan salah satu racun paling mematikan yang ada di era dinasti Goryeo.

Dia masih ingat, bahkan dirinya sempat mengeluarkan batuk darah dari mulutnya sebelum benar-benar tak sadarkan diri.

"Ahmm, sudah pagi, " gumamnya pelan.

"Ternyata aku tidak jadi mati ...," rancaunya kebingungan.

"membingungkan, kenapa aku masih baik-baik saja? "

Seokmin berusaha mengendalikan kesadarannya, namun, semakin kembali kesadarannya, semakin pria itu merasa ada yang sedikit janggal.

Dia merasakan ada yang aneh dengan lingkungan sekitarnya.  Begitu banyak pernak-pernik asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sepertinya dia tidak pernah membeli barang-barang seperti itu.

"Kenapa kamarku jadi seperti ini? "

"Jangan-jangan, ini alam baka?" pria itu bertanya-tanya.

" Tapi ... bukankah harusnya alam baka itu seperti ruang tanpa benda? " Seokmin menggelengkan kepalanya.

Kemudian dia menyadari kalau di sekitar kepalanya ada kupu-kupu berwarna biru muda yang berputar mengitarinya. Seokmin mengangkat telunjuknya, entah apa yang dia pikirkan, secara tidak sadar ia melakukannya.

Kupu-kupu itu mendarat di jarinya seraya mengepak-ngepakkan sayap. Seokmin memandanginya dengan intens, kemudian dia menyadari sesuatu, "Kau? Bukankah kupu-kupu yang ada di bukunya Wonwoo itu? " agak aneh memang, dia bertanya pada makhluk yang jelas-jelas tidak bisa berbicara.

"Sedang apa kau disini? "

Seokmin semakin heran dengan keadaan ini, refleks, pria itu menggaruk kepala tanda kebingungan. Namun, lagi-lagi, dirinya merasa aneh. Rambutnya terasa begitu halus dan lembut. Dia hafal betul kalau tekstur rambutnya tidak seperti itu.

Penasaran, pria itu kemudian mematahkan sehelai rambutnya, dan mengamati benda itu. Benar dugaannya, rambut di genggamannya tidak berwarna hitam, tidak juga ikal. Dia sangat lurus dan berwarna kecoklatan.

"ini aneh, rambutku tidak pernah di potong sependek ini," gumamnya.

Saat menunduk kebawah, tak sengaja dia memperhatikan baju yang ia kenakan sangat lain dari biasanya. Atasannya terbuat dari kain katun, bawahnya juga berbahan sama. Jelas-jelas, hanya orang-orang berada saja yang boleh memakai pakaian seperti ini.

Anehnya lagi, model pakaian yang dia kenakan terasa sangat asing di matanya. Belum pernah rasanya dia melihat ada orang memakai baju seperti itu.

Deg.

Jantung pria itu berdegup makin tidak karuan. Buru-buru dia mencari cermin, guna memastikan firasatnya. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, pria itu menutup mulutnya, benar-benar terkejut,

"Astaga ... "

"Katakan ini mimpi ... "

Dia menggelengkan kepalanya sekali lagi, seraya menepuk-nepuk pipinya. Kalau benar itu mimpi harusnya dia tidak merasakan sakit saat telapak
tangannya bersinggungan dengan pipi. Tapi ternyata, semua itu bukan mimpi.

"AAAAAAAA!!! "

"APA YANG TERJADI ???"

Seokmin memundurkan tubuhnya beberapa langkah, mengamati kembali penampilannya dari bawah sampai ke atas.

"KENAPA ... aku terlihat jadi tampan seperti ini?" meskipun kebingungan, pria itu malah berpose sambil menyisir rambutnya kebelakang menggunakan tangannya.

"Ini aneh, tapi keren ..." Seokmin masih belum berhenti mengagumi tubuhnya sendiri.

Secara keseluruhan, parasnya terlihat tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya, hanya saja dia sekarang sedang tidak memakai baju zirah seperti yang terakhir kali dia kenakan, juga rambutnya tidak sepanjang yang dia ingat. Dan juga, di keningnya, kenapa seperti ada benjolan biru seperti habis terhantam batu gitu. "pantas saja kepalaku sakit ... "

Dok ... Dok ... Dok ...

Dok ... Dok ... Dok ...

" Tuan muda, tuan muda? Apa anda baik-baik saja? "

Terdengar gedoran keras dari arah pintu membuat Seokmin berjengit kaget. Sampai sekarang pun gedoran itu masih tidak berhenti.

"Tuan muda? Buka pintunya ..." orang itu terdengar sangat khawatir.

"Dia siapa? Haruskah aku membuka pintunya? " tanya Seokmin kepada kupu-kupu yang masih berterbangan di sekitarnya.

Perlahan-lahan, Seokmin melangkah mendekati pintu. Dia tidak tahu cara membukanya, karena di bawah tuas pintu tersebut terdapat tombol-tombol yang Seokmin tidak mengerti.

Seokmin sudah menarik tuasnya ke bawah, namun sayang, pintu itu masih saja terkunci.

Dok ... Dok ... Dok ...

"Tuan  ... jangan bikin khawatir seperti ini," ujar suara di luar terdengar putus asa.

"Ajuma yang di luar, apa anda tau cara membuka pintu ini gimana? "

"Tuan muda, jangan bercanda. "

"Siapa yang bercanda, aku serius. Ini aku sudah tarik gagangnya kebawah, tapi pintunya tidak mau terbuka" sahut Seokmin ke bingungan.

"Apa tuan sudah menekan password-nya? "

"password? Password itu apa? "

"itu, angka yang ada dibawah tuas pintu anda tuan, "

"astaga, apa Kepalamu terbentur sesuatu, tuan, sepertinya anda terserang amnesia, " ujar pelayan itu semakin panik.

'Amnesia itu apa?' tanyanya dalam hati.

Seokmin mengamati papan tombol di bawahnya, dia tidak tahu angka berapa yang harus dia tekan agar pintunya bisa terbuka.

" Aku sudah menekan semua tombolnya,tapi tetap tidak terbuka, "

"Kalau begitu tunggu sebentar tuan, biar saya carikan kunci cadangannya, "

Ibu Kwon, kepala asisten rumah tangga di istana milik keluarga Lee, segera mengambil kunci cadangan yang terletak di ruang penyimpanan.  Saking paniknya dia bahkan lari terburu-buru.

"Saesange, apa yang terjadi pada anak itu, " ratap Ibu Kwon khawatir.

Setelah berhasil menemukan kuncinya, Ibu Lee buru-buru membuka pintu, lalu dia tersentak kaget mendapati Dokyeom sedang sembunyi di balik pintu seperti orang ketakutan.

"Tuan Dokyeom tidak apa-apa? " tanya Ibu Kwon khawatir. Tapi lucunya, semakin dia mendekat, Seokmin semakin menjauh seperti orang ketakutan.

"Tuan Dokyeom kenapa? " tanya Ibu Kwon cemas.

Seokmin akhirnya terduduk di kasur karena sudah tidak bisa mundur lagi,

"Dokyeom itu siapa? "

®®®

'Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan, cobalah hubungi beberapa saat lagi,'

Sudah ke limapuluh kali dalam seminggu ini Yuju menelpon nomor Dokyeom, namun sepertinya pria itu tidak mengaktifkan Telepon genggam miliknya.

Seketika, Yuju dirundung rasa bersalah karena sempat bertengkar dengan pria yang masih menjadi kekasihnya itu. Yuju bahkan tidak menyangka kalau seminggu ini Dokyeom tidak pergi ke kampus sama sekali.

"Apa aku hampiri saja ya kerumahnya? " ujar Yuju khawatir sambil menggigiti kuku jarinya. Wanita itu sedang berdiri di depan rumahnya, menimang keputusan apa yang akan dia ambil.

Sejujurnya pagi ini dia ada kelas, namun wanita itu benar-benar khawatir sama keadaan Dokyeom, ditambah lagi saat kemarin pelajaran Sejarah berlangsung, IU Kangsa terkesan tidak memperdulikan ketidak hadiran Dokyeom di kelasnya.

"Aku harus gimana, "

Pada akhirnya, dengan merendahkan sedikit gengsi, wanita itu memutuskan mengunjungi rumah sang kekasih. Masalah kuliahnya hari ini, baru saja dia menitip absen pada salah satu teman yang mengambil mata pelajaran yang sama.

...

Selepas drama pintu tadi, ternyata masih ada drama-drama lain yang menemani Seokmin pagi ini. Wanita di depannya terus-terusan menanyakan apa yang terjadi padanya, dia juga memanggil  Seokmin dengan nama Dokyeom, tentu saja Seokmin mengerut bingung. Padahal sudah berkali-kali dia bilang,

"Aku bukan Lee Dokyeom, " tapi sang wanita terus saja ngeyel, mengatakan kalau namanya dia adalah Lee Dokyeom.

"Sudah saya bilang, tuan tidak boleh meminum alcohol sendirian, tapi masih juga ngelawan, kalau sudah begini saya harus bilang apa pada nyonya besar, " ujar Ibu Kwon setengah menangis. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Dokyeom, karena anak itu mendadak amnesia seperti sekarang.

"pasti benturannya sangat keras, lihatlah bekasnya, ini sedikit membiru," ujar Ibu Kwon sambil mengobati kening pemuda Lee itu.

"Ajhuma, bolehkah aku bertanya?"

"Tentu saja, tuan mau bertanya apa? "

"Apa pemuda ini namanya Lee Dokyeom? " tunjuk Seokmin pada dirinya sendiri.

"Ya Tuhan, sudah berapa kali anda menanyakan pertanyaan yang sama, Tuan, " Ibu Kwon semakin histeris, "aku harus gimana, "

Seokmin terus saja menatap bingung pada wanita paruh baya yang mengobati lukanya sambil menangis.  Melihat wanita tersebut, Seokmin jadi teringat ibunya yang tahun lalu sudah meninggalkan dunia.

"Ajhuma ini ibunya Dokyeom ya? Makanya anda khawatir, begitu? " tanya Seokmin se-sopan mungkin.

"Astaga, Tuhan, tolong sadarkan Tuan muda ini, " ratap Ibu Kwon frustasi.

Sedangkan di depan pintu milik Dokyeom, beberapa art yang sedang tidak bertugas berkumpul untuk menyaksikan keanehan pada tuan muda mereka.

Bahkan mereka juga saling berbisik, menggosipkan apa yang sebenernya terjadi pada tuan mereka.

Yuju yang baru tiba di mansion milik keluarga Lee dibuat bingung saat melihat dari bawah, kamar sang kekasih di kerumuni oleh para pekerja rumah tangga.

"Ada apa ya? " firasat Yuju tidak enak.
Yuju langsung saja menaiki tangga menuju kamar sang kekasih.

"permisi, " sahut wanita itu sopan, meminta akses buat masuk ke kamar sang kekasih.

"Ya Tuhan, Oppa? Kau kenapa? " ujar Yuju menutup mulut saat melihat kepala Dokyeom yang ditutupi perban oleh ibu Kwon.

"Nona Choi, " Sahut Ibu Kwon terkejut saat melihat Yuju sudah berdiri di depan pintu dengan raut yang panik. Yuju mendekati sang kekasih, menatapnya dengan raut khawatir.

"Apa yang terjadi padamu, Kyomie Oppa? " Yuju menyentuh kepala Seokmin, sedangkan yang di sentuh menatap penuh kebingungan.

"Kau siapa? "

⌛⏳⌛
.
.

To Be Continued

================================

Mana's Note 📝 :

Hai, Mana is back.

Udah lama rasanya gak bikin note gini di buku ini.

Jadi disini Mana cuma mau jelasin sedikit aja.

Di tahun 2019, akhirnya Dokyeom udah mulai bertukar tubuh dengan Seokmin. Tapi ....

Seokmin yang ada di tubuh Dokyeom bukan Seokmin yang berada di tahun 943, melainkan Seokmin yang ada di Tahun 948, dimana Raja Jisoo atau Wang So udah naik tahta, dan Seokmin sudah di angkat menjadi Jendral Istana.

Kenapa yang masuk ke tubuh Dokyeom yang sekarang bukan Seokmin yang lagi pelatihan? Lalu, dimana jiwa Dokyeom yang sekarang? Jawabannya ada di chapter selanjutnya.

Sekian Mana Note hari ini, see you in the next chapter :).

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top