©12. Flashback ⌛

Tadi malam ...

Selepas menghantarkan beberapa pekerja istana pulang, tersisa nona Ji Eun seorang yang masih menunggu di tandu beroda.

Panglima Kwon memerintahkan nona Ji Eun pindah dari tandu dan menaiki kuda yang di tunggangi oleh Mingyu, sedangkan dia berencana memulangkan pasukan yang lain dan hanya menyisakan beberapa saja untuk menghantar nona Lee untuk pulang.

Tidak ada penolakan dari Ji Eun, dan wanita tersebut pun terkesan santai saja menerima perintah dari sang panglima.

Tapi ... disini, malah Mingyulah yang terkesan sangat keberatan atas perintah panglima Kwon. Kenapa juga harus dirinya yang membawa sang Nona, kenapa bukan prajurit lain saja yang jelas-jelas lebih berpengalaman.

"Maaf, Kwon-nim. Saya keberatan menerima nona Lee menunggangi kuda yang saya naiki," jujur Mingyu tanpa rasa takut sedikitpun.

Disisi lain, pengawal lain yang tersisa saat ini menatap Mingyu dengan tatapan tak menyangka. Mereka berpikir Mingyu ingin mencari mati dengan menolak perintah dari atasan mereka.

"Alasannya? " tanya sang panglima dengan suara serendah mungkin. Biasanya tidak akan ada prajurit yang berani menjawab jika panglima Kwon sudah berbicara dengan nada serendah itu.

Namun, berbeda halnya dengan Mingyu. Tanpa gentar sedikitpun, dia berani menjawab pertanyaan panglima Kwon.

"Tidak etis rasanya membiarkan nona Lee menaiki kuda dari calon prajurit seperti saya. Saya hanya takut tidak bisa menjaga dia dengan baik. Biarkan dia menaiki kuda milik prajurit lain saja," jawab sekaligus usul dari si calon prajurit itu. Alibi yang sangat mengesankan, padahal faktanya bukan gara-gara itu Mingyu menolak. Dia hanya ingin menjaga perasaan sahabatnya saja.

Tiga prajurit lain yang tersisa, hanya bisa mengumpati perilaku Mingyu dalam hati mereka. Calon prajurit itu mencari mati namanya jika berani menentang perintah si panglima.

"Wah, wah ... kau berani juga menjawab pertanyaanku ya, tuan, " tatap Soonyoung dingin, "sikapmu yang seperti ini agaknya akan jadi penghambat untuk kau bisa di terima jadi prajurit istana." ucap pria sipit itu sarkas.

"K-kau, k-kau mengancamku? " tanya Mingyu tak percaya. Saat akan mengeluarkan suara lagi, omongannya lebih dulu di interupsi oleh wanita yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah mereka semua.

"Aku pulang sendiri saja! " sahut wanita itu datar, dia terlalu malas mendengar perdebatan tidak penting dari para pengawal istana itu.

"Tapi Nona ..."

"Sudahlah, Kwon-nim. Kalau memang anak buahmu keberatan menerimaku, biar aku pulang sendiri saja, kalian kembalilah ke istana, " tambah sang Nona tanpa memberikan senyum sedikitpun.

Kwon Soonyoung tentu tidak mungkin menuruti perintah sang nona. Di kondisi seperti ini sangat bahaya baginya untuk pulang sendirian, terlebih lagi jarak dari hutan ke desa si nona masih agak jauh.

Soonyoung menatap prajurit lainnya, mereka semua juga sama-sama terlihat enggan menerima Ji Eun menaiki kuda mereka. Ayolah ... semua orang yang bisa berkuda pasti tau jika membawa orang lain menunggangi kuda bersama akan terasa sulit, terlebih jika orang itu mengenakan hanbok.

"Kim Mingyu-ssi!" panggil Soonyoung seperti mengintimidasi dengan maksud agar pria muda itu mau menerima perintahnya.

"Baiklah ... baiklah ... " sahut Mingyu mengalah pada akhirnya. Kemudian pria itu turun dan membantu si nona tanpa ekspresi untuk menaiki kuda yang dia tunggangi.

...

Di perbatasan desa, mereka dihadang oleh sekawanan perompak yang tiba-tiba muncul dari atas pohon. Sangat jarang hal seperti ini terjadi, Soonyoung juga tidak tahu alasan para perompak itu muncul.

Mereka, para perompak bertopeng sudah siap menyerang para pasukan istana itu dengan pedang mereka masing-masing.

Baku hantam pun akhirnya tak terelakkan. Tiga prajurit beserta panglima Kwon ambil bagian menahan serangan kawanan perompak, sedangkan Mingyu bersama Ji Eun di tugaskan untuk melanjutkan perjalanan.

Awalnya Mingyu tidak mau dan ingin ikut bertarung, tapi karena paksaan Soonyoung dan demi keselamatan Ji Eun, maka ikhlas tidak ikhlas dia melanjutkan perjalanannya.

Tidak hanya sampai disitu saja, nyatanya setelah pergi pun ternyata masih ada perompak lain yang mengahadang langkah Mingyu. Mau tak mau kali ini dia memberikan perlawanan sambil menunggangi kuda yang terus berjalan kedepan.

"Bisa kau pegang pedang ini, " tanya Mingyu tergesa. Disatu sisi dia harus fokus mengendarai kuda, sedangkan di sisi lain dia juga harus menjaga keselamatan nona istana itu.

Ji Eun menuruti perintah mingyu dengan memegangi pedang itu menggunakan kedua tangannya. Kini tangan kiri Mingyu menumpu pada tangan Ji Eun, dan menggerakkan pedang yang mereka genggam untuk menahan serangan perompak. Sedangkan tangan kanannya fokus memegang tali kemudi si kuda agar tidak hilang kendali.

Jarak wajah mereka sangat berdekatan, dari jarak seperti ini, Ji Eun bisa merasakan hembusan nafas Mingyu yang memburu, dia juga melihat dengan jelas keringat yang mengalir membasahi kening pria itu. Jujur, hal itu membuat Ji Eun terpesona dan seketika jantungnya mulai berdegup dengan tidak normal.

"AWAS! "

Srek~

Sing~

Mingyu refleks mengangkat tangan kirinya yang masih memegang tangan Jieun, menghalau si perompak yang akan melukai mereka. Akibatnya, bahu Ji Eun tertarik karena pergerakan yang tiba-tiba itu, sementara tangan kiri Mingyu tergores pedang milik si perompak. Kemudian Mingyu menggerakkan pedang itu ke kanan, mencegah serangan si perompak.

Untungnya panglima Kwon beserta prajurit lainnya datang menyusul setelah mereka selesai menangani perompak tadi, dan sekarang mereka kembali menyerang dua perompak yang mengejar Mingyu.

Setelah pertarungan melelahkan tersebut, akhirnya mereka semua sampai juga ke kedai penjagal, tempat nona Lee tinggal.

"Terimakasih karena telah menjagaku, " ujar Ji Eun tulus saat Mingyu membantunya turun dari kuda, setelahnya dia tak sengaja melihat tangan kanan Mingyu yang terus saja mengeluarkan darah akibat kelalaiannya. "lukamu? " tanya Ji Eun khawatir.

Mingyu sendiri tak sadar kalau tangannya terluka. Untuk itu dia merobek sedikit bagian bajunya dan mengikatkan lengannya yang terluka untuk membuat darah itu berhenti.

"Tak usah dihiraukan, masuklah hari semakin larut, "

Kedua insan itu masih betah bertatap-tatapan penuh makna, sayangnya kegiatan ini harus segera berakhir saat Soonyoung mengganggu momen mereka dengan sebuah gumaman.

"Ekhm ..."

Pada akhirnya, tatapan itu terputus dan Mingyu mulai menaiki kudanya lagi saat Ji Eun sudah masuk kedalam rumahnya.

'aku seperti melihat bunga sakura bermekaran diantara mereka ... '

©©©

========
=================

- Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada.-

=================
=========

⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.

Length: 1900++.
.
.

Goryeo, Songgak, 943.

"Buku apa ini? Kenapa Wonwoo berikan padaku?"

"mana aku tau, ibumu tidak menjelaskannya pada Ji Eun, "

"lalu kenapa harus di antar sekarang? " tanya Seokmin tak mengerti.

"Aku tidak tahu, tanyakan saja pada Ji Eun, dia yang memberikannya," sahut Mingyu masih fokus membaluri lengannya dengan ramuan yang diberikan oleh Ji Eun.

" Kau bertemu dengan nona Lee? kapan? " tanya Seokmin penasaran.

"Tadi, waktu kalian semua latihan memanah, " sahut Mingyu santai. Seokmin memicingkan mata curiga, namun Mingyu berusaha untuk membuat pria itu agar tak salah paham dengannya.

"Dia hanya memberiku obat, tak lebih dari itu kok, " Mingyu berusaha menjelaskan segamblang mungkin agar Seokmin tak salah paham.

...

Kilas balik

Setelah selesai membantu masak di istana utama, Ji Eun menemui Mingyu yang masih beristirahat di tendanya. Prajurit Kwon lah yang memberi tahu Ji Eun, ketika wanita itu bertanya.

Ji Eun datang membawa rempah-rempah yang dapat mengeringkan luka Mingyu, serta buku yang tadi pagi dititipkan nyonya Lee kepada ayahnya.

"Permisi, " sapa Ji Eun yang sudah berdiri di depan tenda yang ditempati oleh Kim Mingyu.

Mingyu yang masih tiduran dibuat terkejut dengan suara Ji Eun yang membangukannya tiba-tiba. Setengah mengantuk, Mingyu keluar sambil mengucek matanya.

"Ada apa? " tanya pria itu masih setengah sadar.

Namun lucunya, Ji Eun malah mengalihkan tatapannya saat Mingyu keluar dan menyembunyikan wajahnya yang telah bersemu merah.

" k-kau? Kenapa tidak pakai baju? " tanya wanita itu.

Mingyu tidak sadar kalau belum mengenakan atasan, dia memperhatikan ke bawah, dan tentu saja badan berotot itu terpampang sempurna tepat dihadapan Ji Eun.

Pria itu segera masuk sembari menahan malu, mengenakan atasannya dan menghampiri Ji Eun lagi yang sedang mengunggu diluar.

"Maaf, tadi aku belum sepenuhnya sadar," ujarnya canggung.

"Ani, aku yang harusnya minta maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu. Ngomog-ngomong, apa lukamu sudah di obati? "

Mingyu hanya menunjukkan lengannya yang masih di ikat seperti tadi malam namun kainnya lebih bersih, seperti habis diganti. Namun, dia tidak membaluri luka itu dengan ramuan apapun, dia terlalu malas untuk mengambil obat dari tabib Han dan membiarkan saja luka itu mengering dengan sendirinya.

"Sini, biar aku obati dulu, sebelum infeksi," Ji Eun menarik Mingyu kedalam tandu dan mendudukannya di salah satu bangku. Wanita itu kemudian mulai meracikkan obat di meja, dan membawa ramuan itu beserta kain bersih.

Ji Eun meminta Mingyu menyingkap lengan lengan kirinya sampai sebatas ketiak, kemudian wanita itu mulai membuka kain seperti perban yang terlilit di lengannya.

"Lukamu cukup dalam juga, ini tidak mungkin sembuh dalam beberapa hari, " terang Ji Eun masih membersihkan luka dengan air bersih.

"Kau mengerti tentang obat-obatan? "

"Sedikit. Dayang Na pernah mengajarkanku dulu, " sahut wanita itu.

Mingyu menatap gadis itu lamat-lamat. Jika diamati sedekat ini, memang benar, Ji Eun terlihat sangat cantik sekali, pantas saja Seokmin tergila-gila padanya. Hanya saja, kecantikannya tertutupi dengan sifat ketusnya itu.

" Nona Lee, bolehkah aku bertanya sesuatu? "

"Apa? "

"Kenapa kau selalu ketus jika berhadapan dengan laki-laki, padahal kau tidak seperti itu jika sedang berkumpul dengan teman sesama wanitamu? "

Ji Eun menghentikan aktifitasnya sejenak, kemudian menghela napas berat sebelum mulai membersihkan kembali sisa-sisa darah kering yang menempel.

"Sebenarnya aku juga tidak ingin bersikap seperti itu. Hanya saja, biasanya para pria seperti temanmu suka sekali mencari-cari kesempatan untuk mendekatiku. Aku tidak terlalu suka, rasanya seperti mereka menyukaiku hanya karena parasku, " jujur Ji Eun untuk yang pertama kalinya. Dia sendiri tidak menyangka bisa seterbuka ini dengan Mingyu.

"tapi, tidak semua orang memiliki cara pandang seperti apa yang kau pikirkan, nona. Kalau kau terus bersikap seperti itu, kau hanya akan mengundang musuh. Masih banyak kok pria yang tidak hanya melihat kecantikan fisikmu, contohnya saja, Seokmin. Dia tulus menyukaimu, walaupun kau tidak pernah menghiraukannya." bela Mingyu panjang lebar, "aah - ahh, sakit-sakit, " Ji Eun menekan lukanya terlalu keras saat membaluri ramuan, iya ... dia jengkel di nasehati seperti itu.

"Kau marah karena ucapanku? " pertanyaan retrois itu di lontarkan Mingyu saat melihat kearah Ji Eun.

"Tidak! Siapa yang marah!" sanggah Ji Eun selagi memasang ekspresi sedatar mungkin.

"Aku tahu kalau kau tersinggung, " Mingyu menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan kembali, "aku minta maaf, " sahutnya lagi.

"Tak apa, yang kau ucapkan tidak sepenuhnya salah, "

Terdengar gemuruh langkah kaki yang mendekat kearah tenda. Hal ini membuat Ji Eun maupun Mingyu panik.

"Sepertinya mereka sudah selesai latihan, kau pergilah ke istana, jangan sampai mereka melihatmu dan jadi salah paham, " perintah Mingyu kemudian.

"tapi, aku belum selesai... "

"biar aku lanjutkan sendiri, tinggal di balut kain kan? " tanya Mingyu memastikan seraya tersenyum sangat manis. Ji Eun refleks menganggukkan kepalanya.

"kau yakin? "

"tentu, " sahutnya berusaha meyakinkan Ji Eun. "Jja - kembalilah,"

" Baiklah, " Ji Eun kemudian beranjak, sebelum pergi dia sempat memberi tahukan buku yang dititipkan untuk Seokmin.

Saat Ji Eun mau keluar, Mingyu sempat mengucapkan, "Terimakasih, Nona, " membuat Ji Eun tersenyum walaupun tidak membalas atau bahkan memalingkan wajah kearah Mingyu.

...

"Baiklah, aku percaya padamu. Kau tak mungkin menghianati aku, bukan? "

"Tentu saja, aku ini kan temanmu," ujar Mingyu tersenyum lega.

"Oh iya, emangnya kau pernah mengatakan apa ke Wonwoo sampai dia memberikanmu buku ? " tanya Mingyu memecah keheningan.

"Entahlah, aku sendiri juga tidak begitu ingat, " sahut Seokmin masih mengamati buku itu.

"Jadi kangen sama Wonwoo, kira-kira dia sedang apa ya tanpa kehadiran kita? " ujar Mingyu penasaran.

Belum sempat Seokmin menjawab, tiba-tiba suara Jendral menggema dengan lantang meminta para prajurit pelatihan untuk kembali berlatih.

"Aku kembali ya, kau istirahat saja dulu, " pamit Seokmin, kemudian beranjak dari tempat duduk Mingyu dan pergi bersama teman-temannya yang lain.

⌛⏳⌛
.

.
To Be Continued

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top