©10. Prejudice ⌛
Malam ini, bulan bersinar sangat terang di kota Songgak. Di pelataran paviliun utama, seorang gadis jelita mengenakan hanbok khas kerajaan berjalan dengan anggun.
Dia adalah putri Nakrang, anak ketiga dari Raja Taejo sekaligus saudara sedarah dari pangeran Jeonghan dan pangeran Jisoo. Sebagai keturunan perempuan pertama, dia mendapat gelar putri istana atau Gongju.
Ditemani dayang pribadinya, putri Nakrang yang baru menyelesaikan makan malam bersama para penghuni istana hendak kembali ke kamar pribadinya.
Sepanjang perjalanan, dia mendengarkan dengan seksama penuturan dari dayang Oh, sesekali sang putri tersenyum tatkala merasa tersanjung dengan apa yang di sampaikan pelayan pribadinya itu.
"Agassi, bukankah itu pangeran Jisoo? " tanya dayang Oh, menunjuk kearah taman. Dari tempat mereka berdiri, terlihat pangeran Jisoo sedang berbicara dengan seorang perempuan yang posisinya berdirinya membelakangi putri Nakrang.
Pria itu tampak senang, terbukti dari senyum di bibirnya yang tak pernah lepas. Kemudian, mereka di kejutkan dengan perbuatan putra mahkota yang menyematkan hiasan rambut di kepala wanita tersebut.
Entah mengapa, seketika ekspresi putri Nakrang berubah, wajahnya menjadi masam seperti tak dapat menahan keterkejutan.
"Jangan beritahukan apa yang kau lihat malam ini kepada siapapun, mengerti! " titah wanita itu pelan namun penuh penekanan.
"ba-baik," ujar sang dayang takut-takut.
Mereka melanjutkan kembali perjalanan, mengabaikan pemandangan romantis yang ada di depan sana.
...
" Ji eun-ssi, tunggu," pangeran Jisoo mengejar langkah salah seorang juru masak istana yang saat ini hendak kembali ke desanya.
Wanita yang merasa namanya dipanggil itu, kemudian menolehkan wajah. Dia membungkuk sebentar, dan kembali memasang ekspresi yang sangat datar, "Ada perlu apa, Wangja-nim memanggil saya? " ujarnya sangat sopan.
"Apa kau sudah mau pulang? " tanyanya spontan. Sayangnya Ji Eun sudah tidak terkejut lagi dengan pertanyaan putra mahkota di istana itu.
"Tentu saja, tuan. Tugas saya sudah selesai, saya harus segera kembali sebelum malam semakin larut, ayah saya pasti sudah menunggu di rumah, " jawab Ji Eun masih enggan menampakkan senyumnya.
"Apa aku boleh mengatarmu?"
Sepertinya dugaan Ji Eun tepat, karena ini sudah kelima kalinya pria itu menanyakan hal yang sama semenjak Ji Eun mulai bekerja untuk istana.
"Mohon maaf, saya hanya rakyat biasa, yang mulia. Tidak sepantasnya anda mengantar saya, tidak enak jika ada yang melihat, mereka bisa salah paham, " tolak wanita tersebut kelewat halus.
"Kau selalu saja mengatakan jawaban yang sama, " ujar pria itu kecewa tapi masih berusaha tersenyum.
Jisoo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu melangkahkan kaki mendekati Ji Eun dan menyematkan hiasan emas, hadiah yang dia beli waktu berkunjung ke China.
Ji Eun diam saja saat pangeran mulai menyematkan hiasan rambut itu di rambutnya yang terikat.
Setelah selesai, Ji Eun menaikkan tangannya ke kepala, ingin melihat hiasan seperti apa yang di berikan sang pangeran. Namun, Jisoo lebih dahulu menahan tangan wanita itu.
"Jangan di lepas, ini titah dariku! " ucapnya mutlak. Dengan terpaksa Ji Eun menurunkan tangannya kembali.
"Pakailah hiasan itu setiap kali kau akan ke istana, " pintanya lembut.
"Baiklah, wangja-nim. Terimakasih atas pemberiannya, " ujar Ji Eun seraya membungkuk singkat.
"Sama-sama. Ji Eun-ssi, hati-hati di jalan," tutupnya sebelum kembali berjalan masuk ke dalam istana.
Ji Eun hanya memandangi kepergian pria itu dengan tatapan yang sangat datar.
'Pangeran itu sangat menyusahkan ... '
©©©
.
.
========
=================
- Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada -
=================
=========
⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.
Length: 2200++.
.
.
Goryeo, Songak, 943
"Seokmin-ah, lihatlah ke utara."
Mendengar penuturan sahabatnya, lamunan Seokmin seketika buyar, intuisinya mendorong Seokmin untuk menatap kearah yang bersesuaian dengan apa yang Mingyu katakan.
Disana, dia bisa melihat dengan jelas bulan sedang menerangi putri Ji Eun beserta seseorang yang sedang berdiri membelakanginya. Dari postur tubuhnya saja Seokmin sudah tau siapa yang sedang berhadapan dengan Ji Eun sekarang.
" Seokmin-ah, apa kau masih bisa mengatakan hal yang sama, setelah melihat semuanya ..." tanya Mingyu jenaka. Sudah ia duga, semua wanita di dunia sama saja, sama-sama hanya mengincar harta. Itu semua terbukti dari cara Ji Eun yang terlihat pasrah saja saat pangeran Jisoo menyematkan sesuatu di kepalanya, sudah pasti itu bukan benda marahan, "sudahlah, lupakan saja wanita itu, lebih baik fokus saja pada pelatihan beberapa hari kedepan."
Niatnya sih ingin menghibur, akan tetapi perkataan Mingyu barusan malah membuat hatinya makin gak jelas. Tanpa mengucap sepatah kata apapun, Seokmin pergi meninggalkan Mingyu.
"Hei, kau mau kemana? " tanya Mingyu setengah berteriak. Namun sayang, teriakan pria itu tidak di gubris, Seokmin terus saja berjalan.
"Yaa! " sentak Mingyu kasar, dia ikut bangkit, kemudian menyeimbangi langkah Seokmin, "jangan gampang ngambek begitu, kau ini pria bukan sih! ", dan setelahnya mereka kembali ke tenda. Mingyu terus saja meledek Seokmin, namun tidak di hiraukan.
Selama masa penyaringan prajurit istana, para pemuda memang diharuskan untuk tinggal di istana selama waktu yang telah ditentukan sampai hari pengumuman nanti. Mereka dibagi menjadi dua puluh kelompok dan tidur di dalam tenda berukuran kecil. Hal ini berguna untuk melatih tingkat Kedisiplinan para calon prajurit.
Untung saja, Seokmin dan Mingyu berada di dalam tenda yang sama, sehingga Seokmin tidak begitu kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru. Ditambah lagi, Mingyu merupakan anak yang mudah bergaul, sehingga mereka cepet akrab dengan para calon prajurit yang satu tenda dengan mereka seperti Jungkook, Eunwoo, Jaehyun, dan lain sebagainya.
Mood Seokmin sudah kembali, dirinya bersama yang lain sedang asik bercerita sampai kemudian suara seorang panglima kerajaan menyapa mereka.
"Apa diantara kalian ada yang bisa menunggangi kuda? Aku butuh bantuan untuk mengawal para juru masak istana pulang ke tempat mereka," tanya Soonyoung. Dari tenda satu ke tenda lain telah ia sambangi, namun tak ada satupun dari mereka yang punya pengalaman menaiki kuda.
Karena kuda adalah sesuatu yang sangat mahal bagi rakyat Goryeo, hanya orang-orang yang berkecukupan ataupun berkepentingan khusus yang bisa menaikinya.
"Soonyoung? " sapa Seokmin terkejut melihat kunjungan teman lamanya. Soonyoung sendiri terkesan mengabaikan sapaan itu, ya ... semuanya demi formalitas kerajaan. Prajurit yang berkelas tinggi sepertinya dilarang melakukan interaksi kepada calon prajurit kecuali sedang ada keperluan mendesak seperti sekarang.
"Gimana? " tanyanya lagi memastikan. Dia sungguh berharap setidaknya satu diantara mereka ada yang mempunyai pengalaman berkuda, ini tenda terakhir yang dia kunjungi, jika tidak ada satupun dari mereka yang bisa, maka terpaksalah para dayang tidak bisa kembali ke rumah mereka.
Hal ini dikarenakan, sebagian prajurit telah di bawa oleh Wang Cho untuk berkunjung ke daerah timur yang masih menjadi kekuasaan kerajaan mereka. Sehingga prajurit yang tersisa tidak cukup banyak.
"Aku bisa, " ujar Mingyu mengajukan diri, sontak semua orang yang berada di dalam tenda menghadap kearahnya. Seokmin pun begitu, ia terkejut melihat temannya mengajukan diri.
"Baiklah, kalau begitu, kau ikut aku sekarang, " perintah Soonyoung.
"kau yakin bisa? " tanya Seokmin sambil berbisik memastikan.
" Tentu saja, aku pernah hidup di peternakan kuda, jadi aku tau cara mengendalikan mereka, " ujar Mingyu kemudian, berusaha meyakinkan Seokmin.
"Baiklah, kalau begitu, hati-hati. Titip salam buat -"
"Ji Eun-ssi kan? Aku akan menyampaikannya, " ujar Mingyu santai seraya mengedip sebelah mata. Mingyu melangkahkan kaki keluar tenda, mengikuti panglima Soonyoung.
"Temanmu hebat juga ya... "
"Iya, dia pasti lolos seleksi ini, "
Sahut calon prajurit lain yang duduk di sekitaran Seokmin. Sejujurnya Seokmin sedikit iri mendengar perkataan mereka, akan tetapi dia berusaha menekan rasa iri itu.
©©©
Pagi ini, para putra dan putri keturunan raja yang tinggal di istana sedang menikmati perjamuan makan di ruang makan istana. Ada pangeran Jeonghan yang memimpin dan duduk di sebelah kanan, selaku putra tertua ketiga. Di sampingnya ada putri Nakrang, hari ini dia mengenakan hanbok berwarna ungu muda. Di sebrang mereka, ada pangeran mahkota Jisoo yang sedang membaca buku ramalan bintang, di sebelahnya pangeran Jisoo ada putri Daemok yang juga sedang membaca buku ramuan kecantikan.
"Ini tidak menyenangkan, " gumam Daemok tak jelas.
"Apanya yang tidak menyenangkan, putri? " tanya Jisoo lembut. Ya, seluruh penjuru istana mengenal Jisoo sebagai pangeran yang rendah hati nan baik budinya. Dia tidak membeda-bedakan para keturunan raja baik itu mereka yang berasal dari darah yang sama ataupun tidak.
"Orabeoni-ku sedang tidak berada disini, aku merasa seperti sedang berkumpul dengan orang-orang asing, " ujarnya polos. Diantara semua anak raja yang tinggal di istana, memang Daemok-lah keturunan raja yang paling muda, usianya masih limabelas tahun.
" jangan bicara seperti itu, kami ini juga Orabeoni-mu, Daemok-ah," tatap Jisoo lembut ke hadapan adik tirinya.
"tetapi tetap saja rasanya beda. Sekarang aku jadi tahu gimana perasaannya Wang Gyu dulu saat menjadi putra tunggal permaisuri Janghwa, hidup sendirian itu tidak enak," ujarnya menyendu.
Akibat ucapan Daemok, suasana menjadi canggung. Baru saja Daemok melafalkan nama yang seharusnya tidak boleh di sebutkan lagi di istana mereka.
"Ekhm~" gumam Jeonghan singkat.
"Daemok-ssi, " panggil Nakrang yang duduk di hadapannya, " kau harus bersikap layaknya putri seorang raja, bukan? Jangan asal berbicara, apalagi memnyebutkan nama seseorang yang seharusnya sudah tidak boleh tersebut, lain kali perhatikan cara bicaramu, " sentak putri Daemok agak kasar.
"Sudahlah Nu-nim, Daemok hanya tak sengaja mengucapkannya, " lerai Jisoo kemudian, "Jja, mari makan, pelayan sudah membawakan kita banyak makanan lezat, " ajak pria itu memecah kecanggungan.
Setelah pelayan meletakkan hidangan di masing-masing meja mereka. Acara makan berjalan dengan khusyuk, tidak ada satupun yang berbicara ketika makan, itu sudah menjadi aturan di keluarga mereka.
Akan tetapi, hari ini Jisoo melakukan kesalahan dengan bertanya selagi dia mencicipi hidangan,
"Rasa sup ini sedikit berbeda dari biasanya, apa yang membuatnya bukan orang yang sama? " tanya Jisoo kepada pelayan yang sedang berdiri di sudut seraya memegang nampan.
"Mohon maaf atas ketidak nyamanannya yang mulia. Yang membuat sup memang bukan orang yang sama, Ji Eun-ssi sedang cidera di bahu kirinya, sehingga dia tidak bisa membuat sup seperti biasanya," jujur sang pelayan.
Sontak perkataan sang pelayan membuat Jisoo mengernyit khawatir, saat hendak membuka mulut lagi, putri Nakrang sudah terlebih dahulu menginterupsinya.
"Wangja-nim, bukankah tidak baik berbicara saat makan? " tegur wanita itu halus.
Mau tak mau Jisoo mengurungkan niatnya dan kembali menyantap hidangan tersebut.
Diam-diam Jeonghan memperhatikan ekspresi Nakrang yang tidak terlihat seperti biasanya.
'Aneh ... '
©©©
"Aigoo, bagaimana ceritanya kau bisa terluka seperti itu, " omel Seokmin setelah kembali dari pelatihan di gedung utama. Dia menatap Mingyu sembari meringis kesakitan melihat temannya mengganti perban yang menutup luka di lengan kirinya. Goresan di lengannya cukup dalam, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memulihkan luka itu.
"Panjang kalau di ceritakan, intinya tadi malam kami mendapat penyerangan dari sekelompok perompak saat akan kembali ke istana, " terang Mingyu agak sedikit berbohong. Nyatanya emang mereka diserang perompak tapi hal itu terjadi saat pasukan istana akan mengantarkan Ji Eun pulang, bukan pada saat mereka kembali. Mingyu terpaksa membohongi Seokmin agar pria itu tidak terlalu memikirkan nasib gadis pujaannya.
"Perompak?" tanya Seokmin cemas, "harusnya tadi malam aku ikut saja untuk mencegah mereka melukaimu, kalau sudah begini gimana nasibmu nanti mingyu-ya, " ujar Seokmin khawatir.
"Sudahlah, tak apa," jawab Mingyu berusaha menenangkan.
"Ngomong-ngomong, tadi Ji Eun menitipkan ini, katanya ibumu pergi ke kedai paman Lee pagi-pagi buta tadi untuk menitipkan buku ini untukmu, katanya itu buku dari Wonwoo," Mingyu mengambil buku tersebut dari atas meja, kemudian menyerahkannya ke Seokmin.
"Buku apa ini? Kenapa Wonwoo berikan padaku? lalu kenapa harus di antar sekarang? " tanya Seokmin tak mengerti. Tetapi, dibanding buku itu, ada hal yang lebih penting yang mengganggu pikirannya, " Kau menemui Nona Lee? Kapan? " tanya Seokmin penasaran.
"Tadi, waktu kalian semua latihan memanah, " sahut Mingyu santai. Seokmin memicingkan mata curiga, namun Mingyu berusaha untuk membuat pria itu agar tak salah paham dengannya.
"Dia hanya memberiku obat, tak lebih dari itu kok, " Mingyu berusaha menjelaskan segamblang mungkin agar Seokmin tak salah paham.
"Baiklah, aku percaya padamu. Kau tak mungkin menghianati aku, bukan? "
"Tentu saja, " ujar Mingyu tersenyum lega.
"Oh iya, emangnya kau pernah mengatakan apa ke Wonwoo sampai dia memberikanmu buku ? " Tanya Mingyu memecah keheningan.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak begitu ingat, " sahut Seokmin masih mengamati buku itu.
"Jadi kangen sama Wonwoo, kira-kira dia sedang apa ya tanpa kehadiran kita? " ujar Mingyu penasaran.
...
Di ruang tak terhingga, Wonwoo beserta orang misterius yang di temuinya kemarin sedang duduk sembari bermain catur.
Si pria misterius memainkan sisi hitam sedangkan Wonwoo bermain menggunakan sisi putih. Mereka tampak serius saat menggerakkan bidak-bidak tersebut sesuai dengan arah yang harus di lalui.
"Bukankah menyenangkan, melihat orang-orang bergerak dibawah kendali sang kuasa, " tanya pria misterius tersebut menyeringai tipis.
Tak~
Bidak prajurit milik Wonwoo memakan bidak milik lawannya,
"Begitulah, tapi aku tidak terlalu menyukainya, terlihat membosankan, " Wonwoo bersandar ke kursi lalu menyilangkan kakinya, menunggu gilirannya bermain.
"Benarkah, ku pikir kau menikmatinya, laporan yang kau buat sangat sempurna, "
"Ya, bukankah itu sudah tugasku, "
"Tentu saja. "
Hening sejenak, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
" Doryongnim, tidakkah kau pikir dewa terlalu jahat mempermainkan takdir mereka?" tanya Wonwoo sembari menggerakkan bidaknya menghindar. Punyanya tersisa Raja, kuda, mentri dan dua prajurit.
"Kau pikir itu kehendak mereka? Dirimu ternyata lugu sekali, Wonwoo-ssi," ujar si pria misterius kemudian memakan bidak milik Wonwoo.
"Ya, aku tau diatas dewa masih ada yang lebih berkuasa, tapi, coba lihat dari sudut pandang mereka yang tinggal di dunia paralel. Apa ini adil bagi mereka? "
"Tugasmu hanya mengamati, dan mengarahkan, Wonwoo-ya. Jangan terlibat, kita hanya di tugaskan untuk menjaga keseimbangan alam semesta. "
"Kau benar," Wonwoo kemudian menggerakkan bidak berbentuk kuda dan menggerakkannya ke sudut di mana bidak raja kubu hitam berdiri, "jadi .... saat ini, tugasku hanya melihat saja bukan, sekalipun takdir menuntun mereka untuk saling membunuh? "
Si pria misterius kemudian menyeringai saat menyadari bidaknya sudah tidak bisa lari kemana-mana.
"Skak ... Mat ... "
⌛⏳⌛
.
.
.
To Be Continued
================================
Mana's Unlocked:
[Wang Yo]

[Putri Nakrang]

[ Wang Cho ]

[Putri Daemok]

========
=================

Usia para keturunan raja:
Pangeran Wang Cho: 22 Tahun.
Pangeran Wang Yo: 20 Tahun.
Pangeran Wang Gyu: 19 Tahun.
Pangeran Wang So: 17 Tahun.
Putri Nakrang: 19 Tahun.
Putri Daemok: 15 Tahun.
================
========
Keterangan:
Sejarah yang ada dalam cerita ini tidak mengikuti plot asli dari sejarah yang telah ada di Korea. Karena cerita ini bertema fantasi, jadi Mana tidak mengikuti 100% sejarah yang ada, disini Mana melakukan sedikit adaptasi demi kesesuaian dengan jalan cerita. Mohon maaf sebelumnya, bukan maksud buat merubah sejarah, tapi karena ini hanya cerita fiktif belaka, demi keruntutan alur cerita maka di butuhkan penyesuaian. 🙏🙏🙏
================================
Mana's Dictionary:
Gongju : Putri
Nu-nim : Panggilan laki-laki kepada kakak perempuan formal.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top