07

"Teh, bisa kerja gak sih? Lihat nih jaket aku jadi kena pemutih." saat tiba Ociana langsung mendapat lemparan jaket milik Rika.

"Iya maaf, kemarin Teteh gak sengaja Ri."

"Alah, bego banget sih. Cuma nyuci jaket aja gak becus. Ini rumah isinya sampah semua." Ibu datang menghampiri dengan tergopoh-gopoh.

"Ada apa kamu ini Rika? Tetehmu baru datang bukannya diambilkan minum malah marah-marah?"

"Ibu pikir aku ini babunya? Lihat nih!" Rika kembali melemparkan jaketnya di hadapan Ibu.

Melihat adegan yang begitu menyakitkan hati Oci, tangannya langsung mengepal.

"Cukup Rika! Kamu sudah kelewatan. Kamu boleh bentak-bentak Teteh, tapi kamu gak punya hak buat berprilaku kasar sama orangtua kita." Rika hanya mencebik dan melipat kedua tangannya didepan dada.

"Oh ya? Dia orangtua, Teteh bilang. Mereka itu orang gak guna, yang bisanya bikin aku malu dan hidup susah kayak gini." Rika langsung memungut jaket dan keluar rumah dengan membanting daun pintu yang reot. Sedang ibu langsung terduduk dengan isak yang di tahan.

***

Ociana hanya mampu menarik napas dan mengusap bulir yang menetes di pelupuk matanya. Setelah ia masuk ke dalam kamar, ia mendapati Andi sedang menatapnya heran.

"Malam sayang, udah makan belum?" Andi menggelengkan kepalanya.

"Sini sayang, teteh bawain makanan kesukaan kamu." Oci mengeluarkan tempat bekal yang selalu ia bawa setiap hari.

Mata Andi membola, senyumnya merekah sempurna. Ini kali kedua ia melihat pasta dan bisa menikmatinya.

"Dagingnya sisain buat ayah sama ibu ya, teteh mau ngangetin nasi dulu buat mereka." Andi kembali mengangguk, tangannya meraih tangan Oci yang hampir berdiri lalu dengan cepat Andi memeluk tubuh Oci dan mengecup pipi kanannya.

Itulah salah satu cara Andi mengungkapkan rasa terima kasih atau perasaannya. Sejak ia lahir, Andi tak bisa berbicara namun masih bisa mendengar walau harus dengan menatap langsung lawan bicaranya.

Kini ia duduk dibangku kelas dua sekolah luar biasa. Di kelas ia tergolong anak cerdas dan rajin.

Oci kembali dari kamar mandi dengan handuk lusuhnya yang masih di pundak. Rambutnya terlihat masih basah.

"Sudah selesai Ci?" Ibu menghampiri dari arah kamar.

"Udah bu, ini mau siap-siap. Hari ini kompleks Pluit ada dua rumah yang harus di beresin." Oci kembali mengepak tas kecilnya dengan baju ganti.

"Apa kamu gak bisa libur sehari saja?" Oci menatap sejenak ibunya yang sudah tua karena penyakit yang dideritanya.

"Gak bisa bu, tadi Ibu dengar sendiri kan? Rika membutuhkan biaya tambahan, belum lagi Andi akhir pekan ada kunjungan ke kebun binatang. Jadi Oci harus ekstra bekerja." Ia mencium punggung tangan ibunya, "dan Oci gak pulang, karena esok subuh harus langsung ke Muara karang dan langsung berangkat sekolah dari sana." Ibu hanya mengangguk sedih.

"Kapan semua ini berakhir Tuhan? Aku tak mampu terus melihat kelelahan dimata putriku satu-satunya Ini,"

                   ***

Naik Busway adalah alternatif tercepat, tapi Oci akan memilih mengayuh sepedanya hitung-hitung olah raga sore fikirnya.

Namun belum juga ia naik, sebuah tangan mencekalnya dan membawanya dengan cepat. Rasanya ingin berteriak karena kaget. Tapi pas melihat siapa yang datang ia mengurungkan niatnya.

"Lo ikut gue aja." Oci masih membuntuti langkah kaki Adrian yang cepat dengan tangan kanan yang masih digamit Adrian.

"Ni cowok lama-lama kayak gebetan gue aja."

Tanpa dipersilahkan Adrian, Oci langsung masuk ke dalam mobil.

"Kita mau kemana?" Adrian memulai perbincangan ditengah ia mengemudi.

"Ke Pluit Blok C, aku harus nyuci di sana. Alhamdulillah yang nyuruh sampe dua rumah loh," ucapnya bersemangat.

Jika untuk sebagian orang pekerjaannya akan terlihat memalukan dan rendahan. Tapi untuk Oci itu adalah pekerjaan yang mampu ia lakukan selain menjadi guru les untuk anak-anak.

Bahkan ia belum mendapat banyak anak didik untuk bisa menghasilkan uang cukup, karena tetangganya bukanlah orang kaya yang mampu membayarnya lebih. Sebulan les paling hanya seratus ribu, bahkan sering hanya dibayar dengan beras atau sabun cuci saja oleh mereka.

"Apa gak ada kerjaan lain yang lebih layak?"

"Emang kenapa?" Adrian hanya mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.

"Menurutku itu pekerjaan yang mulia dan halal juga baik. So Insyaallah aku juga ikhlas mengerjakannya.

Adrian tak mencela lagi, walau ia sendiri tak bisa berfikir sama seperti Ociana. Buatnya menjadi pekerja kasar itu menggelikan dan menjijikan, bagaimana mungkin itu pekerjaan halal? Bahkan mereka harus mencuci pakaian kotor penuh keringat bahkan berdebu.

Classical_Clover

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top