08

Ulangan hanya tinggal menunggu hari, setiap hari Oci menunggu Adrian di perpustakaan. Tapi tetap saja Adrian tak pernah nongol. Ini dipastikan hari terakhir ia menunggu, bukan hanya karena jenuh menunggu yang tak pasti itu menyebalkan. Tapi juga keuangannya yang semakin menipis dari hasil kerjanya. Sedang dari Adrian jelas ia tak akan mendapatkan uang.

"Assalamualaikum, bu." Oci berbicara dengan pelan.

"....."

"Iya bu, ada yang mau Oci sampaikan." setelah mengakhiri pembicaraan Ociana langsung menggendong tasnya dan berjalan menuju gerbang Sekolah.

"Lama banget sih lo," Adrian sudah duduk di atas motor N-max  nya.

"Kenapa kamu gak masuk? Aku udah nungguin kamu lama di dalam." Oci menatap sekilas pada Adrian.

"Males," Oci hanya geleng-geleng tak percaya.

"Terus mau kamu itu apa?" Oci sudah jengkel dengan tingkah Adrian yang tak bisa ditebak.

"Jadiin lo pacar gue,"

Deg, wajah Oci langsung bersemu merah. 'Ini pasti gurauan kan?'

"Malah bengong, ayo naik. Kita kencan," senyum Adrian terlihat tulus.

"Apaan sih Kamu? Gak lucu tau."

"Aku emang bukan Sule," Oci langsung membungkam rapat bibirnya dan memilih naik ke atas motor, dibandingkan harus terus berdebat anfaedah dengan Adrian.

"Aku harus ketemu ibu Kamu," dengan suara sedikit kencang Oci berbicara.

"Mau ngapain?"

"Ada hal penting yang harus kami bicarakan tentang kamu."

"Loh, aku aja belum ngehamilin kamu. Masa langsung minta Mami buat nikahin kita?" refleks Oci langsung mencubit pinggang Adrian, membuat Adrian pun mengerem motornya mendadak.

"Jangan asal kamu kalo ngomong," Oci memberenggut.

"Lagi dong," Adrian justru kembali menggodanya.

"Aku turun di sini aja,"

"Et dah, gitu aja marah. Tapi gue serius." Adrian menatap Ociana, ada keseriusan dimatanya.

"Gue pengen lindungi elo, jaga elo dan bikin lo happy."

"Aku gak bisa," tolak Oci lirih.

"Gue gak butuh jawaban lo yang konyol. Buat gue lo itu cewek gue dan milik gue selamanya." keduanya terdiam dan Adrian kembali melajukan motornya ke tujuan semula.

Entah daerah mana ini? Mall mewah dengan arsitektur menawan memukau mata Oci. Seumur hidupnya ia tak pernah menginjakkan kaki ke dalam Mall. Hari-harinya ia habiskan untuk sekolah dan bekerja.

Banyak yang bilang Jakarta adalah kota surganya masyarakat Indonesia, tapi baginya Jakarta adalah kota penuh luka yang menyakitkan, beban yang membelenggu masa mudanya.

"Yuk," Adrian mengulurkan tangan kanannya. Oci hanya memandangnya dengan kedua alis bertaut.

"Lama banget," dengan cepat Adrian menyatukan jemari mereka dan menuntun Oci agar berjalan beriringan.

"Ian, aku malu." bisik Oci yang hampir tak terdengar suaranya.

Adrian tak menjawab justru mengeratkan genggaman tangannya dan membawa Oci ke sebuah toko pakaian yang berada di lantai dasar.

Toko mewah yang bisa Oci perkirakan harga barang di toko tersebut pasti mahal. Namun Adrian terus menggenggam tangannya erat, membuatnya tak mampu lari dan pergi dari tempat yang tak seharusnya ia pijak saat ini.

"Ini gimana? Atau yang ini?" tangannya mencocokkan baju lengan pendek pada tubuh mungil Oci, "Tapi kegedean, lagian kenapa sih lo itu buntet?"

Oci langsung memasang wajah kesal, kedua pipinya menggembung membuat Adrian langsung tergelak tawa.

"Gue kan jujur. Lo itu buntet, ngaku aja anak kelas 11 tapi badan kayak anak kelas 6," Oci menepis tangan Adrian dan membalikkan tubuhnya. Namun dengan cepat Adrian memegangi tangan Oci.

"Jangan pergi," ada rasa pilu dari ucapannya yang membuat Oci menghentikan langkahnya.

"Lo coba baju yang ini ya, sama celana ini juga. Gak baik kita jalan-jalan pake seragam." Oci hanya mengangguk dan masuk kedalam ruang ganti.

"Gimana?" Oci berdiri dihadapan Adrian mengenakan kaos oblong berwarna merah berpadu dengan celana jeans selutut berwarna putih. Kulit kuning langsat membuatnya terlihat berkilau.

"Nih sama sekalian sepatunya," Adrian membungkuk dan memasangkan sepatu kets putih di kaki Oci.

"Perfect,"

Wajah Oci kembali memerah mendapatkan perlakuan Adrian padanya, seumur hidup ia tak pernah mendapat perlakuan istimewa bahkan dari orangtuanya sekalipun.

"Makasih," cicit Oci.

"Ada syarat buat kata 'sama-sama' dari gue." Oci langsung memandang Adrian yang juga tengah menatapnya, dengan tatapan yang membuat jantung Oci memacu cepat.

"Apa itu?"

"Nanti aja gue kasih tau, sekarang kita makan dulu. Gue laper," Oci hanya mengikuti kembali langkah Adrian yang terus menggamit jemarinya dengan erat.

Keduanya duduk di sebuah meja dengan kursi berhadapan. Meja dipenuhi dengan hidangan lezat yang memicu cacing di perut Oci berjoget  meminta asupan.

"Ian," Oci menatap Adrian yang tengah asik meminum minuman yang Oci tak tahu namanya, "Ini gak kebanyakan?"

"Kalo lo kekenyangan ya udah jangan dipaksakan ntar perut lo meledak. Gak lucu kalo kita dikira Teroris cuma gegara perut lo meledak kekenyangan," Oci mendengkus kesal dengan jawaban Adrian yang selalu kesal.

Setelah melahap beberapa menu yang ada dihadapannya, Oci menghembuskan nafas puas. Ia begitu kenyang dan menikmati hidangan istimewa pemberian Adrian.

"Makasih, Ian."

"Utang makasih lo udah 2 kali. Jadi lo harus membayar segera," Adrian tersenyum, "Tapi gue gak butuh bayaran materi. Karena duit keluarga gue gak akan abis 7 turunan." Oci mencebik kembali mendengar jawaban Adrian yang terdengar sombong tapi nyata.

"Udah yuk kita nonton Preman pensiun,"

"Sebentar," Oci menunjuk pada piring-piring yang masih tersisa setengah porsi disetiap menu yang dipesan, "dibungkus, boleh?"

"Kita pesen lagi aja ntar, jangan makanan bekas juga Oci."

"Gak usah Ian, ini gak diacak jadi masih layak buat dinikmati. Lagipula kalo pesen lagi bakal lama, makanan ini mubazir." Adrian hanya mengiyakan dan memanggil pelayan agar membungkus semua makanan sisa mereka.

"Kita gak akan pulang malem kan? Aku harus kerja besok subuh." Adrian mengangguk dan kembali menggamit tangan Oci, sebelah tangannya lagi menjinjing kantong isi box makanan milik Oci.

'Apa itu Rika?' mata Oci memicing menatap gadis remaja yang mirip adiknya.

"Yuk!" Adrian membawa popcorn dan 2 minuman dingin.

Oci mengangguk dan mengikuti langkah Adrian yang lebih dulu memasuki pintu bioskop.

Perasaan aneh menjalar di tubuh Oci, saat kakinya memasuki ruang gelap yang begitu dingin.

Karena film sudah akan dimulai maka lampu sejak tadi telah dimatikan, semua penonton terlihat antusias menatap layar besar dihadapan mereka.

"Lo duduk di pinggir ya," Adrian meminta Oci bertukar posisi dengannya, ketika melihat lelaki cukup tampan yang duduk di samping Oci.

Oci tak banyak berkomentar, ia tau jika di bioskop dilarang berbicara dengan suara lantang. Jika ia menolak, tanpa perlu diragukan pasti Adrian akan nekad.

Hampir 2 jam keduanya di dalam ruangan yang begitu dingin bagi Oci. Akhirnya keluar dan Oci bisa kembali merasakan tubuhnya menghangat.

"Masih kedinginan?" Adrian memegangi tangan Oci yang terasa seperti es balok.

"Enggak kok, ni makasih untuk jaketnya." Oci menyerahkan jaket Adrian yang tadi dipakaikan Adrian padanya ketika melihat tubuhnya menggigil.

"Enak aja maen balikin. Lo harus cuciin dulu dong tuh jaket. Baru bisa lo balikin sama gue," kilah Adrian.

"Tapi aku udah ada jaket juga ini."

"Bodo." tak ada lagi argumen dari keduanya, dan mereka memutuskan untuk melanjutkan acara jalan-jalan. Sebenarnya ini jelas keinginan Adrian yang masih tak ingin berpisah dari Ociana.

"Ayo dong Ian, ini udah jam 11. Aku udah telat buat kerja." Adrian mendengkus mendengar rengekan Oci yang terus meminta pulang sejak tadi.

"Malam ini lo gak akan kerja, ngerti?"

"Gak bisa song Ian, nanti aku dipecat."

"Kita pulang, tapi lo tetep gak kerja malam ini atau kita di sini sampe mall tutup?"

"Ya udah kita pulang dan aku bolos." Adrian tersenyum penuh kemenangan.

"Kita mampir di sana ya," Oci menunjuk pada gerobak penjual kacang tanah keliling.

"Ngapain?"

"Beli kacang," jawab Oci polos.

Mobil Adrian berhenti tepat di samping gerobak, dan Oci langsung turun dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Bah, seliter ya suukna."

Setelah memberikan uang selembar sepuluh ribuan Oci kembali kedalam mobil dengan membawa kantong kresek berisi kacang tanah.

"Lo suka begituan?" Adrian menatap dengan tatapan horor.

"Semua keluargaku suka kecuali Rika." ada sesuatu yang tersirat saat nama itu Oci ucapkan, tapi Adrian tak ingin mempermasalahkannya.

"Ya udah kita balik sekarang," Oci mengangguk wajahnya menatap ke depan seperti sedang menerawang jauh.

'Apapun rasa sakit yang lo pernah derita sejak dulu, gue janji akan menebusnya dengan kebahagiaan yang berlipat semampu gue." Adrian mencuri pandang pada Oci yang tetap dengan lamunannya.

"Kita sampai Ci," di tengah jalan Oci tertidur sangat pulas membuat Adrian sengaja memperlambat laju mobilnya.

Classical_Clover

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top