05
Sudah hampir dua jam Oci menunggu kedatangan Adrian di dalam perpustakaan yang sudah sepi. Setelah selesai membantu teman-teman satu kelasnya menyelesaikan tugas hari ini. ia sudah menyelesaikan bacaannya yang ia ambil dari rak sejak lama. Namun, Adrian masih saja belum tiba. Matanya terus menatap jam dinding yang bergerak.
"Ini orang mau datang gak sih? Gak tau apa kalo aku tuh harus pulang dan kerja." setelah dipastikan Adrian tak akan datang, Oci segera menutup bukunya dan berdiri meregangkan otot-otot yang terasa kencang.
Dengan langkah cepat Oci melewati lorong yang sangat sepi, untung sekolah Pancasila tergolong sekolah yang memiliki ekstrakurikuler siang dan malam, jadi masih terdengar dari kejauhan suara musik dan orang mengobrol.
Oci kembali berjalan setelah keluar gerbang tinggi dan kokoh sekolah elit tersebut, langkahnya menuju halte bus yang berada kurang lebih 100 meter dari gerbang.
Terdengar suara klakson motor menghentikan langkah Oci, jantungnya memacu kencang. Ia begitu ketakutan. Namun belum juga hilang rasa takutnya kini lelaki berjaket hitam dengan helm menutupi wajahnya menyodorkan helm berwarna hitam di hadapannya.
"Pake," Oci menatap dengan ragu, dan mata keduanya saling mengunci.
"Ma-makasih tapi gak usah, saya bisa pulang sendiri."
"Gak usah bawel cepet pake, gue gak suka ditolak." Oci hanya mampu mengangguk ragu dan mengenakan helm.
"Naik cepet, pegangan."
Oci langsung naik perlahan namun tangannya ia tumpu pada tas yang ia sengaja simpan di depan tubuhnya.
"Lo jatoh, gue gak tanggung jawab." Oci membelalakkan matanya saat Adrian memacu motornya dengan cepat. Refleks tangannya melingkar di pinggang Adrian.
Tanpa sepengetahuan Oci, Adrian langsung tersenyum simpul.
"Udah nyampe, aku turun di depan gang situ aja ya." Oci menunjuk pada gang kecil di depan mereka.
"Ini gang, apa gorong tikus sih? Kecil banget," Oci tidak menjawab ledekan Adrian, ia langsung memberikan helm-nya,
"Makasih ya," seraya berlalu menyusuri gang kecil yang gelap. Kontrakan rumah keluarga Ociana berada kurang lebih 1.5 km dari bibir gang. Tepatnya berada di belakang kompleks perumahan sederhana itu. Kampung pinggiran yang diisi orang-orang berpenghasilan serba pas-pasan. Ada tukang koran, tukang sampah, tukang jualan asongan, atau para pengamen jalanan yang menempati kontrakan-kontrakan dari seng dan terpal itu.
"Sudah pulang De?" Asmi putri ketua RW yang sangat baik dan berbudi ramah menyapanya di depan teras rumah.
"Iya kak Asmi, hari ini ada les. Tapi sayang orangnya gak datang, jadi aku telat pulang."
"Oh gitu, tadi Andi main di sini sebentar. Katanya mau sekalian nunggu kamu. Tapi karena tadi udah magrib, dia jadi balik duluan. Mau ngaji Katanya," ia berjalan mendekat dengan membawa kantong kresek warna hitam.
"Ini buat kamu, sepatu kakak waktu SMA juga Beberapa pakaian seragam juga. Kak tau di Pancasila akan menyulitkan kamu untuk masalah administrasi. Tapi kak juga senang sebab kamu sekolah dimana di sana kamu akan mendapatkan banyak ilmu baru yang bisa membuat kejeniusanmu diapresiasi."
"Alhamdulillah, terima kasih banyak kak. Ini semua pasti Oci pakai. Sekali lagi terima kasih." Asmi mengangguk lalu Oci kembali melanjutkan perjalanannya. Ia mengingat bekal yang ia siapkan untuk adiknya, juga orang tuanya bisa makan enak.
Rumah pak Angga terasa sudah sepi, sepertinya semua sudah tertidur pulas. Dengan langkah hati-hati Oci melangkah ia tak ingin mengganggu orang rumah yang sedang istirahat.
"Teteh darimana aja?" suara Rika langsung membuat Oci menghentikan langkahnya.
"Dari Sekolah,"
"Itu bungkusan apa? Sini aku lihat," tanpa izin Oci, Rika langsung merampas kantong kresek dari tangannya.
"Rika yang sopan kamu sama tetehmu," Ibu menghampiri dari balik pintu kamar.
"Idih apaan sih ibu? Aku kan udah minta izin," Rika langsung merobeknya paksa, "apaan nih, aju bekas, sepatu bekas? Teteh sekarang gak lagi jadi pembokat dan malah jadi tukang pulung?" kata-kata nyinyir Rika memang selalu menyakitkan hati Oci, tapi selama ini ia selalu menahan diri untuk mengontrol emosi hanya demi kedua orangtuanya.
"Rika cukup. Kembalikan semuanya dan minta maaf sama tetehmu," bukan mengikuti perintah Ibu, ia justru langsung melempar isi kantong dan melangkahinya begitu saja lalu masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Buat orang pasti ia akan tersinggung. Tapi Oci tak punya waktu untuk menambah beban hidupnya dengan kelakuan adik perempuannya yang tak pernah menganggapnya.
"Kamu sudah makan, Teh?" Ibu mengelus rambut Oci yang tergerai.
"Alhamdulillah bu, bentar Oca mau mandi sebelum siap-siap berangkat kerja." Ibu hanya mengangguk dengan hati teriris.
Jika ia mampu, pasti akan melarang putri yang masih diusia puber bekerja banting tulang demi menghidupi mereka. Namun apa mau diperbuat sejak ia komplikasi, tak ada lagi tenaga cukup untuk bekerja. Bahkan membereskan rumah dan mencuci baju saja bisa membuatnya kelelahan.
Wajah Oci terlihat lebih segar, wajah bulatnya tersenyum menyambut tatapan Ibunya yang selalu menyejukkan seperti air penghapus dahaga.
"Oci berangkat dulu ya bu, insyaallah setelah selesai Oci langsung pulang diantar Bang Ale."
"Hati-hati Teh, jangan lupa pake jaketnya ya sayang." Oci mengangguk dan mengecup jidat ibunya dengan lembut, hidungnya menghirup bau khas yang pemilik surga baginya.
***
Malam ini Oci bekerja di sebuah kedai pecel lele yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Kedai pinggir jalan milik bang Ale tetangganya.
Oci sudah setahun bekerja di sana, membantu bang Ale dari mulai meracik makanan saat ada pembeli sampai mencuci piring dan gelas yang kotor.
"Kamu tumben Ci telat?" Bang Ale menatap sekilas ke arah Oci, dan kembali melayani pembeli yang sedang ramai.
"Iya bang maaf, tadi nge-les-in dulu temen di sekolah." Bang Ale tersenyum ke arahnya.
"Gapapa Ci, abang cuma nanya aja. Sekarang kamu bantu abang angkatin ayam di wajan udah mateng," dengan cekatan Oci meniriskan ayam dan membantu Ale menyiapkan lalapan juga sambal yang harus diulek karena kehabisan.
Oci bersyukur walau kedai Ale adalah warung tenda pinggir jalan. Namun selalu ramai pembeli dan Ale selalu memberi sisa makanan untuk dibawanya ke rumah. Hal itu membuat pengeluaran untuk sarapan berkurang.
"Bang, bebek tiga porsi ya." suara yang familiar mengejutkan Oci yang sedang mencuci piring.
Hay ... up lagi ni. Kemarin gak bikin outline Jadi kek kecepetan gitu. Moga sekarang tambah suka ya kalian bacanya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top