04
"Permisi, Bu." Oci mengetuk pintu ruang guru.
Seluruh guru menatap kehadiran Oci yang memang sudah menarik perhatian mereka sejak namanya disebut-sebut akan menjadi asisten guru di sekolah Pancasila minggu lalu.
"Sini Ci, taruh saja kertas-kertasnya di sana dan semua buku coba langsung kamu cek." Oci mengangguk dan langsung duduk di bangku yang berada tepat dihadapan Bu Upah.
"Ini toh namanya Ociana?" Pak Bayu guru Bahasa yang botak plontos menatap takjub pada Oci.
Oci mengangguk dan tersenyum. Bukannya ia tak sopan tak menjawab setiap ada yang berbicara dengannya. Namun sifat pemalunya yang membuat lidahnya kelu untuk berbicara.
"Saya sudah melihat nilai-nilai kamu, dan saya begitu bangga. Masih ada anak bangsa yang begitu giat dan jenius seperti kamu diusia belia, di jaman milenia kampret ini," kini Pak Subagja yang berbicara dan menepuk pundak Oci. Pak Bagja memang guru jaman now yang sudah terkontaminasi banyak micin. Maka dari itu kadang ucapannya tak terkontrol.
"Sudah-sudah bapa-bapa biarkan Oci menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu nanti juga bapa akan kebagian bisa mengajar bareng Oci." semua hanya mampu mengangguk patuh pada ucapan Bu Upah yang memang tak bisa diganggu gugat.
"Ian ke kantin, yuk!" Irfan menepuk pundak Adrian yang masih terlihat memikirkan sesuatu. Seperti bukan Adrian, karena ia tergolong anak yang cuek dengan sekitar dan tak mau ambil pusing.
"Lo aja, gue mager." Irfan langsung memutar tubuhnya dan menatap Tian dengan mata seperti orang mesum.
"Jangan ajak-ajak gue, bentar lagi giliran my angel ngajar." mendengar jawaban yang menjijikan, Irfan langsung menoyor kepala Tian tanpa ampun.
"Eh otak udang, lo tuh sadar. Bu Citra itu guru kita, umurnya aja beda 10 tahun sama kita. Lo kira Siti Zulaiha, yang gak pernah tua. Sampe bisa nikah sama Nabi Yusup?"
"Biasa aja dong lo ngomong, gak usah ngegas. Lagian gak ada yang gak mungkin, sekarang teknologi udah canggih kali." tak ada kata menyerah dalam kamus seorang Tian Bayangkara kalo udah menyangkut wanita idamannya.
"Alah, tidur aja masih sama nyokap. So aja ngomongin istri idaman." Tian tak mampu kembali membela, saat Bidadari khayalannya sudah berada di pelupuk mata.
Tak ada yang lebih menyenangkan dari apapun, selain menatap wanita cantik yang sedang tenang dengan senyum selalu menghiasi wajahnya mengajar anak-anak terbuang seperti dirinya.
Tian tak pernah meminta lebih, ia sudah begitu bahagia walau hanya mampu menatap wanita yang sudah mencuri hatinya sejak pertama masuk di sekolah internasional itu.
Bahkan Tian tak pernah lagi protes pada kedua orang tuanya yang bahkan tidak ia ketahui keberadaan mereka. Entah di belahan dunia sebelah mana? Orang tuanya begitu sibuk dengan bisnis, sedang ia hanya besar dan tumbuh dengan IRT dan supir yang sudah menemani sejak masih orok.
Dua jam pelajaran memang tak pernah terasa jika bu Ima yang mengajar. Justru waktu itu terasa begitu singkat. Tian hanya mampu mengembuskan nafas kesal, saat bu Ima pamit dan keluar ruangan.
"Udah waktunya istirahat, apa lo berdua gak laper, Dono, Kasino?" kembali Irfan merecoki hidup dua orang yang masih anteng dengan fikiran masing-masing.
"Permisi, Adrian ya?" mendengar namanya dipanggil, Adrian langsung menatap gadis yang menunduk di hadapannya.
"Ngapain lo?"
"Ini jadwal les kamu, Pak Irawan memberikannya pada saya tadi pagi. Katanya jangan telat," Adrian langsung berdiri tanpa melihat kertas yang disodorkan apalagi menjawab ucapan Oca. Ia langsung berlalu diikuti dua sahabatnya.
"Ian, lo mau les?" Adrian hanya mengendikkan bahunya acuh.
Tian juga Irfan hanya saling memandang lalu bergidik jijik pada tingkah masing-masing.
"Adrian ... tunggu. Ini kertasnya, saya tunggu pukul lima nanti di perpustakaan." Oca menyelipkan kertas tersebut disela jemari Adrian dan berlalu mendahului menuju kantin.
Letak kantin yang berada di lantai dua, memiliki ruangan begitu luas mampu menampung seluruh siswa dari mulai kelas sepuluh sampai dua belas. Semua serba ada, dari makanan lokal hingga makanan seperti pasta dan makanan chaenes food. Melihat semuanya membuat Oca mengingat Andi adiknya yang begitu menyukai pasta.
"Di, sini sayang. Teteh bawain makanan enak buat kamu," Andi menatap takjub sterefom yang disuguhkan sang kakak.
"Makan ya sayang, teteh dikasih Bu Asih tadi. Katanya Bu Asih bikin pastanya kebanyakan, jadi teteh dapet bagian deh." Andi langsung melahap pasta dihadapannya dengan lahap sampai menjilati saus bulgogi yang tersisa di wadah.
Oci tersenyum dan segera mengisi wadah bekalnya yang telah tandas dengan pasta, juga tak lupa memasukkan tiga potong paha ayam goreng ke dalamnya. Untuk Ociana dan keluarga daging adalah makanan istimewa yang hanya mampu mereka nikmati setahun sekali saat Ied kurban atau saat ada tetangga yang memiliki acara dan mau memberikan mereka makanan sisa.
Tanpa Oci ketahui Adrian terus memperhatikan tingkah lakunya dan menatapnya dengan tatapan yang tak mampu terbaca.
Suasana rumah mewah Adrian memang selalu sepi. Hanya ada Indri dan Adrian yang menempati, Pak Ujo supir keluarga selalu pulang pergi karena istrinya yang sedang hamil tua.
Tapi beda terbalik keadaannya dengan malam ini. Irfan dan Tian sedang asik bertempur di depan layar tv. Keadaan kamar Adrian berubah total yang tadi sore bersih dan rapi berubah menjadi berantakan dan kotor. Kotak-kotak Pizza berceceran dimana-mana dengan plastik saus juga gelas-gelas cola yang memenuhi ruangan.
"Eh kampret, jangan curang dong ..." Irfan menyikut tangan Tian dengan tangan kiri mencomot Chiki rasa Bbq ukuran besar dan memakannya dengan lahap.
"Elo tuh yang curang, itu ngapa lo bukan ngejar bola malah ngacir ngehindarin bola?" Tian tak mau kalah banyak makan, ia pun mencomot donat coklat di sebelahnya yang baru sampai.
"Gue itu kan emang cowok ganteng yang sering dikejar-kejar cewek, Tian."
"Jaka sembung bawa golok," ucap Tian dan Adrian bersamaan.
"Et dah kalian ni, nyirik aja kerjaannya. Kalian itu harusnya bersyukur karena punya temen sebaik gue."
Adrian hanya geleng-geleng kepala dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menerawang pada sikapnya yang tak bisa mengabaikan gadis menghuni bangku di depannya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top