03
"Ian, lo kok jahat? Lo kok tega? Lo kok ter-lalu?" Adrian langsung bergidik mendengarnya.
"Eh curut, makin lama lo makin mirip artis gak laku dan malah nyari sensasi." Adrian tertawa mendengar ucapan Tian yang selalu memojokkan temannya yang satu itu.
"Eh Dono, Kasino. Ini gue Indro. Cowok tertampan sedunia menurut Enya."
"Iya, iya, Fan serah lo lah. Asal jangan ganggu hidup gue aja." Irfan mengendikkan bahunya dan kembali mengusili Tian.
"Tian oh Tian gue pinjem PR lo dong,"
"Gue aja ini pinjem punya Dono," mendengar ucapan Tian, Irfan langsung tergelak.
Adrian tak membalas kegilaan kedua sahabatnya, karena Bu Upah guru Matematika sudah berada di daun pintu bersama seorang murid wanita.
"Dia kan?" Adrian mengucap lirih, matanya terus memandang gadis yang berjalan dibelakang Bu Upah.
"Selamat pagi anak-anak. Pagi ini kita kedatangan anak pindahan, atau tepatnya anak yang sengaja diminta pindah ke kelas kalian untuk membantu kepintaran kalian yang tiada akhir," sebelum melanjutkan Bu Upah menuliskan satu kalimat yang tiba-tiba membuat denyut jantung Adrian memompa hebat.
"Perkenalkan ia adalah Ociana Larasati, murid pindahan yang akan membantu membimbing kalian untuk ujian semester ganjil." gadis yang disebut Ociana langsung mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Oci, kamu duduk di depan Adrian." Oci mengangguk sedangkan Adrian terbelalak juga murid yang lainnya.
Kursi yang dimaksud adalah kursi kosong yang berada di garis depan, namun tak ada satupun yang berani menempati.
Adrian tak pernah ingin pemandangannya terhalang orang lain. Jika ada yang lancang maka dengan segala cara ia akan membuat sang penghuni bangku tersebut langsung mengungsi. Lalu, mengapa tidak ia tempati sendiri? Jawabannya : Malas.
"Ian, Ian lah kok dia berani?" bisik Irfan yang hanya mendapat dengusan kasar Adrian.
"Sudah-sudah, acara perkenalannya nanti kalian lanjut waktu istirahat. Sekarang tolong keluarkan PR kalian, dan siapkan kertas kosong kita ulangan sekarang."
Semua penghuni ruangan langsung lemas pucat, setiap kali Bu Upah mengatakan kata ULANGAN. Bu Upah salah satu guru tanpa hati, ia akan memberikan ulangan yang bahkan bisa menjawab satu saja sudah hebat. Bahkan Bima, sang ketua kelas yang juga termasuk murid pintar di Sekolah. Ia tak pernah lulus lebih dari 70%.
Setelah dibuat pusing selama ulangan dadakan, akhirnya semua murid kembali merasa bisa bernafas lega, saat bel pergantian pelajaran berbunyi nyaring.
"Ok, silahkan kalian kumpulkan pada Oci, dan Oci tolong bawa kertas ulangannya ke ruangan saya, juga tugas PR juga." Oci hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Eh Bim, lo tau kalo tu cewek siapa? Kok tiba-tiba banget ada anak baru, mana di tengah semester kayak begini lagi?" Intan menatap sang ketua kelas yang sedang asik membaca novel.
"Gue juga gak tau, lagian gue juga gak peduli." Bimo mengendikkan bahunya.
"Tadi katanya anak yang sengaja dimintai pindah ke sekolah kita? Sehebat apa tu cewek sampe so-soan diminta buat bantu kita belajar?" kini Elsa yang ikut kepo dengan keberadaan murid baru yang menyita perhatian warga kelas sebelas D.
Para penghuni yang begitu ditakuti dan dihindari mencari masalah dengan mereka. Sebab kelas itu berisi anak-anak kaya namun begitu pintar bikin naik darah, hingga membuat kepala sekolah masuk rumah sakit mendapati nilai telur bebek yang terpampang disetiap tugas yang diberikan guru pada mereka.
"Dono, lo kenapa sih? Dari tadi diem mulu kayak yang abis patah hati." Irfan kembali nyerocos.
Tian hanya geleng-geleng kepala tak percaya dengan sikap Irfan Yang tak pernah insaf dari jaman orok sampai sekarang.
"Diem lo, banyak bacot." Adrian mendengkus kesal dan kembali menatap buku yang ada di hadapannya. Sebenarnya ia juga tidak konsentrasi sejak kemarin, ia terus memikirkan apa yang ia dengan di ruang Mr Adnan.
"Rasain lo, gue bilang juga apa. Diem!" Irfan langsung duduk tanpa gerak saat Tian kembali membenarkan ucapan Adrian.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top