02

"Mom, sepatuku mana sih?" Adrian mengobrak-abrik isi kamarnya. Mencari sepatu usang pemberian sang kakek.

"Coba kamu cari dong, Ian." Indri sedikit mengeraskan suaranya karena ia sedang memasak menggunakan presto.

"Gak ada, Mom. Pokoknya aku gak mau tau, sepatu itu harus ada pas aku balik nanti." Ucapnya langsung membanting pintu dan keluar dengan mulut masih komat-kamit.

Adrian Banyu Rakarsa, anak tunggal dari pasangan Indri Rakarsa dan lelaki yang hingga kini tak pernah di pertanyakan Adrian sendiri,  ia tumbuh besar dengan serba berkecukupan. Yang membuatnya menjadi pribadi yang  pongah dan menyebalkan.

"Dasar anak ini, gak sabaran." Indri hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Adrian yang tak pernah berubah sejak kejadian itu dialaminya.

Indri men-dial satu nomer dan menghubunginya cepat. Indri tak pernah membersihkan rumah ini sendiri, ia hanya hobi masak dan membuat resep baru untuk resto-restonya.

"Hallo, kamu bisa datang sekarang?"

"...."

"Ini Adrian nyariin sepatu kesayangannya, kali kamu kemarin nyimpennya bukan di tempat biasanya." setelah menjelaskan, Indri langsung mematikan sambungan dan melanjutkan aktifitas memasaknya.

Jalan Jakarta memang selalu ramai terlebih di waktu-waktu tertentu akan terasa lebih padat merapat. Gadis mungil dengan keringat bercucuran terus mengayuh sepeda tuanya. Membelah jalanan ramai yang selalu terasa panas, walau kini jam di tangannya telah menunjukkan pukul lima sore.

Perumahan mewah dengan bangunan indah terpampang di hadapannya, rumah tiga tingkat dengan pagar berwarna hitam yang tinggi dan lancip di ujungnya yang kini jadi tujuannya.

Ting tong ting tong

"Masuk aja Oci," suara dari dalam terdengar cukup keras.

Dengan satu dorongan pintu pagar itu terbuka mempertontonkan keindahan rumah mewah yang selalu membuat Ociana takjub olehnya.

"Maaf bu, saya telat. Tadi jalanan cukup ramai," Indri hanya tersenyum dan mengangguk. Mulutnya masih penuh dengan makanan yang baru saja selesai ia masak sendiri.

"Hmmm, kamu masuk aja Ci," Ociana mengangguk dan masuk menuju pintu utama dan membukanya.

Rumah mewah itu terlihat berkilauan. Banyak barang dari keramik juga kristal yang Oci yakini tak akan pernah mungkin ia mampu membelinya. Walau kaki di jadikan kepala dan kepala di jadikan kaki, semua mustahil.

Pintu berwarna coklat tua dengan tulisan BANGKE di depannya. Ociana hanya mampu tersenyum heran menatap isi kamar yang berantakan. Tak ada satupun barang yang berada di tempatnya.

Dengan gesit Oci membereskan barang-barang dan merapikan tempat tidur. Lalu mengambil sepatu yang tertutup tumpukan bad cover dan menempatkannya tepat depan ranjang.

"Udah ketemu, Ci?" tanpa sepengetahuan Oci Indri sudah memperperhatikannya sejak tadi, bahkan ia begitu kagum dengan gadis belia itu yang mampu bekerja cepat dan rapi.

"Sudah bu,"

                 ***

"Ian ... Adrian ... woy Pororo," dengan nafas terengah-engah seorang lelaki bertubuh tinggi kurus berlari mencoba menyamai langkah Adrian si koridor dalam.

"Berisik, lo."

"Ma Men lo gimana sih? Katanya mau jemput gue?" Ini malah ninggalin gitu aja, gak setia kawan lo." Adrian menghentikan langkahnya dan mantap datar pada lelaki yang terus nyerocos seperti mercon.

"Siapa temen lo?"

"Ya gue lah, sahabat sejati lo dari orok."

"Eh muka badak, berkepala landak, berkaki bebek. Jangan ngaku-ngaku." kini Tian yang menjawab yang memang sejak tadi sudah gatal dengan ocehan teman tergilanya.

"Eh bangke, ini gue Andara Kusuma. Pewaris tunggal Meikarta." Adrian dan Tian langsung saling pandang dan pergi dengan langkah panjang mereka.

"Woy... tungguin gue,"

Brukk

"Eh kalo jalan pake mata dong," Adrian meringis karena seseorang menghantam dadanya.

"Jalan itu pake kaki bukan mata," mendengar jawaban orang yang menabraknya membuat Adrian makin marah.

"Heh, songong lo ya. Udah salah bukannya minta maaf malah ngeyel,"

"Eh ... santai bro. Dia cewek," Adrian hampir saja mengangkat kerah wanita itu jika Tian tidak menghalangi.

"Eh lo? Sana cepet pergi," Tian memberi isyarat agar gadis itu cepat pergi.

"Lo ngapain sih pake ngalangin  gue?" Adrian tak pernah suka jika ada yang ikut campur dengan urusannya.

"Udah lah Ian, dia cuma cewek cupu yang gak penting. Lagian lo harus inget Pak Bimo udah kasih lo 3 peringatan." Adrian mendengkus kesal mendengarnya dan langsung berlalu menuju kelasnya yang berada di lantai tiga.

"Selamat pagi bu, boleh saya masuk?" setelah mengetuk pintu tiga kali Ociana memberanikan diri mendorong daun pintu.

Mr Adnan menatap kedatangan Ociana dengan senang hati. Dan mempersilahkan ia untuk masuk.

"Maaf Pak, saya kira tadi Ibu ..." Oci tak melanjutkan ucapannya saat Mr Adnan justru tergelak tawa.

"Gak kenapa-napa Oci, silahkan masuk. Oh ya, panggil saya Mr Adnan." tangannya terulur dan Oci menerimanya dan mencium telapak tangannya. Mr Adnan langsung terpukau dengan sikap Oci, selama menjabat sebagai kepala sekolah ia tak pernah mendapatkan perlakuan sopan seperti yang dilakukan Oci terhadapnya barusan.

"Silahkan duduk Oci," Ociana mengangguk dan duduk di bangku berhadapan dengan meja Mr Adnan setelah sebelumnya Mr Adnan duduk terlebih dahulu. "Oci sebelumnya saya berterima kasih, karena kamu mau memenuhi undangan saya. Dan saya berharap dengan kedatangan kamu, akan ada kabar baik lainnya yang menyertai kedatanganmu."

Oci hanya tersenyum dan mengangguk.

"Seharusnya saya Mr, yang berterima kasih atas undangan ini. Terlebih saya tak mungkin menolak beasiswa yang begitu diidam-idamkan siswa siswi di negara ini. Saya memang sudah memutuskan untuk menerima tawaran Mr, karena saya tidak punya alasan untuk menolak."

"Jadi dia bakal Sekolah di sini?"

Classical_Clover

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top