01

"Kak, kapan SPP-ku mau dilunasi sih?"

"Rika, sabar dong. Kakak juga lagi usaha, kamu kan tau kalo bu Isma lagi liburan. Jadi gaji kakak belum bisa diambil," gadis bermata bulat itu menata meja makan dengan hidangan buatannya yang sederhana.

"Tapi kak, aku malu. Di kelas cuma tinggal aku yang nunggak sampe 5 bulan. Belum lagi, uang buat ujian praktekku juga belum dibayar." tangannya dilipat dibawah dada, tatapannya tak henti memperhatikan kakaknya tanpa ingin membantunya.

"Terus kakak harus bagaimana, heh? Kemarin kakak baru saja membayar SPP Andi, juga menebus obat Ibu. Kak sudah bekerja di tiga tempat, jadi kamu harus sabar."

Ociana Larasati sulung dari tiga bersaudara.  Gadis kelahiran Sukabumi itu sudah tiga tahun menjadi tulang punggung keluarganya. Ia harus sekolah juga bekerja paruh waktu dari sebelum mentari terbit, hingga matahari tenggelam.

"Alah semua ini gara-gara ayah yang lumpuh dan sekarang malah menyusahkan saja." Rika membanting pintu ruang tamu dan pergi entah kemana.

Oci hanya mampu mengusap dadanya yang sesak. Sedangkan Ibu Andini matanya berkaca-kaca. Ia tak mampu berbuat apa-apa sejak kanker menggerogoti tubuhnya.

Ayah Angga menitikan air mata mendengar ocehan Rika, putri keduanya yang masih tak mampu menerima kelumpuhannya karena kecelakaan di tempat kerja.

Ia merasa begitu tak pantas dipanggil ayah. Karena keadaannya yang sama sekali tak mampu membantu, kedua kakinya di amputasi dan tangannya hanya tinggal yang kanan. Sejak saat itu ia hanya mampu berdiam diri dan mengurung di dalam kamar seperti saat ini.

Sedangkan Oci ia langsung menggantikan posisi sang ayah bekerja dan menghidupi adik-adiknya juga kedua orang tuanya.

Andini sang ibu hanya mampu berbaring di atas ranjang dan duduk di kursi setiap pagi, sejak penyakit diabetes dan kolestrol menggerogoti tubuhnya yang kurus kering tinggal tulang dan kulit, hanya waktu yang akan menghentikan embusan napasnya yang sudah terasa berat oleh keadaan rumah tangganya.

"Ayah makan dulu ya, nanti minum obatnya. Oci harus berangkat sekarang." Angga mengangguk dengan linangan air mata yang ia tahan, agar tak jatuh dihadapan putri sulungnya.

"Ndi, jagain rumah sama ibu, ayah ya. Jangan kemana-mana, main di rumah aja udah terlalu sore juga kalo main di rumah Akbar." Andi tersenyum dan mengangkat kedua jempol tangannya.

"Anak pinter, teteh berangkat sekarang ya, sayang," Oci mengecup kening adik bungsunya yang tak pernah bisa memanggil namanya.

Classical_Clover

Hay gues i am back dengan cerita baru. Moga kalian suka ya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top