Chapter 7
Jangan lupa untuk memberikan tip dan Vote untuk menyemangati aku. Terimakasih :)
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading ^_^
-_ Mr. Charming Alexanders_-
Mata biru milik Samuel terkejut kaget melihat keberadaan Grace yang tak di sangka-sangkanya juga berada disini. Suara halus yang biasanya di lontarkan Grace kini terdengar begitu tajam. Samuel langsung berdiri di antara Alice dan Grace. Mata itu menyiratkan kebingungan dengan sikon tidak menyenangkan seperti ini.
Otaknya mengirimkan sinyal kepada hatinya untuk memilih diantara keduanya. Memilih perempuan yang di cintai atau harus kembali pada masa lalunya demi darah dagingnya.
Samuel langsung memegang tangan Grace "Aku bisa menjelaskan ini. Tolong dengarkan penjelasanku" Suara Samuel terdengar memohon. Alice menatap lelaki yang pernah hinggap di hatinya dengan perasaan hancur, apalagi lelaki itu memegang perempuan lain di hadapannya. Otaknya sudah tidak bisa berpikir untuk apapun, yang dirasakan hanya rasa nyeri di dadanya melihat kekejaman Samuel terhadapnya.
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggang Grace. Membuat di empu terkaget namun hanya sebentar karena dia mengenal orang yang baru saja tiba di samping tubuhnya.
"Benjamin!" Geram Samuel tertahan, tidak mungkin dia langsung menerjang Benjamin disini karena begitu banyak orang yang sedang mengabadikan kejadian ini. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih bahkan rahangnya mengetat keras.
"Ada apa Grace?" Tanya Benjamin seakan-akan sengaja membuat Samuel terbakar api cemburu. Benjamin memberikan senyuman manis pada Grace.
"Ah tidak apa-apa. Aku hanya terkesan dengan reuni keluarga kecil ini" Balas Grace mengikuti alur yang di buat Benjamin guna menyelamatkan dirinya. Senyumannya kini terlihat manis walaupun sangat terpaksa. Tentu dia tidak akan menampilkan kelemahannya saat ini di hadapan Samuel terutama Alice yang notabane-nya adalah rival modelling nya.
"Apakah itu mengganggumu?" Benjamin sedikit memiringkan kepalanya menghadap Grace sambil mengangkat kedua alisnya. Bibirnya pun turut memberikan senyum manis kearah perempuan cantik di sebelahnya.
"Tidak ada, mari kita pergi" Balas Grace tenang walaupun di dalam hatinya mengumpati kata kasar untuk Samuel dengan segala bahasa. Dia sudah kecewa bercampur marah pada Samuel.
Benjamin lalu mengulurkan tangannya pada Grace "Mari kita pergi Princess" Grace pun menyambut uluran tangan Benjamin. Lalu keduanya keluar dari cafe tempat hancurnya dan matinya rasa Grace untuk Samuel.
Cukup untuk kali ini aku sudah tidak bisa melindungi hatiku yang begitu nyeri tak tertolong lagi. Bahkan marah pun tidak mengurangi rasa sakit yang ku derita. Aku menyerah. Selamat atas kematian hatiku untukmu Samuel. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini terakhir kalinya aku memberikan hatiku padamu. Aku melepaskanmu, kamu bebas melakukan hal apapun. Mulai kini keterikatan kita telah usai. Terimakasih atas segala kebahagiaan ataupun luka yang kamu berikan padaku.
"Terimakasih telah menolongku" Ucap Grace pada Benjamin setelah sampai kembali di dalam bar. Grace langsung melepaskan pelukan Benjamin padanya.
Benjamin tak menghiraukan ucapan Grace namun dia menatap heran pada Grace. Matanya memicing seakan tak percaya bagaimana Grace terlihat santai setelah orang yang di percayainya mengecewakan kepercayaan yang telah di berikan padanya.
"Kau tak sakit hati karena pada kenyataan Samuel memiliki anak dengan wanita lain di belakangmu?" Tatapan Benjamin menyelidik memastikan Grace sedang tidak berbohong. Grace menggeleng pelaaan seakan tidak terlalu yakin dengan jawabannya.
"Tidak" Balas Grace pendek "Untuk apa aku sakit hati karena aku bisa saja menjalin hubungan dengan pria yang benar-benar menyukaiku bahkan mungkin lebih sayang padaku. Aku tinggal menunjuk pria yang akan ku pilih menjadi pasanganku" Senyum miring itu terbit di bibir beroleskan lipstick berwarna peach. Grace menatap Benjamin serius menutupi lukanya.
"Jika kau butuh mabuk untuk menenangkan pikiranmu silahkan. Aku menunggu dan menjagamu selama disini" Ucap Benjamin menatap Grace yang pura-pura tegar namun ia paham jika Grace benar-benar terguncang saat ini.
Grace menggelengkan kepala mengurungkan diri untuk mabuk. Awalnya memang dia kesini untuk mabuk tapi dia sudah tidak mood lagi.
"Ren. Umumkan pada seluruh Alexanders jika hubunganku dengan Samuel sudah kandas, jadi aku bukan bagian dari Alexanders lagi dan kau bisa meninggalkanku saat ini" Ucap Grace menatap kearah Ren yang bersembunyi di balik kegelapan. Mendengar namanya di panggil Ren langsung mendekat kearah Grace lalu menunduk untuk hormat pada Grace untuk terakhir kalinya.
Bunyi telpon Grace menampilkan kontak Stella. Grace langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Sorry pertemuan kita kali ini harus berakhir, aku ada sesi pemotretan di Paris. Bahkan kita belum sempat berbincang-bincang lama" Ucap Grace sambil menampilkan senyum tidak enak hati pada benjamin. Benjamin membalas dengan senyuman menawan.
"Ah tidak apa-apa. Aku memakluminya. Ini adalah impianmu aku tidak berhak membatasinya" Balas Benjamin tulus. Benjamin menepuk pelan pucuk kepala Grace membuat Grace sedikit salah tingkah.
"Im sorry" Ucap Grace langsung memasukkan barang-barangnya kedalam tas dan berlalu pergi meninggalkan Benjamin yang masih menatapnya hingga hilang di depan pintu bar.
-_ Mr. Charming Alexanders_-
Setelah kepergian Grace, Samuel langsung menggendong Felix sedangkan tangan satunya menarik tangan Alice membawa keduanya ke tempat yang diinginkan Samuel. Untuk Anya hanya terdiam di tempat duduk cafe, menatap keduanya yang mulai menjauh.
Samuel dan Alice harus menyelesaikan masalah masa lalu mereka. Pikir Anya.
Ketiganya telah sampai di penthouse Samuel. Samuel mendudukkan Felix di ruang tengah dan mengamankan barang-barang yang sekiranya tidak membahayakan Felix.
"Kita harus berbicara" Ucap dingin Samuel menusuk kearah Alice. Tangannya mencengkram kuat pergelangan tangan Alice. Alice sedikit mengernyit menahan sakit karena sudah di pastikan pergengan tangan yang di genggam Samuel akan meninggalkan memar biru.
"Aku rasa tidak perlu di jelaskan lagi karena semuanya sudah terlihat jelas" Kata Alice sambil menatap Felix yang sedang bermain bulu-bulu ambal ruangan ini. Mengalihkan perhatiannya untuk tidak menatap lelaki yang pernah hadir di dalam hatinya.
"Aku memberikan banyak uang padamu untuk menggugurkan kehamilanmu. Kenapa kamu tak menurutiku?" Ucap Samuel menatap tajam kearah Alice, dengan jarak beberapa senti membuat Alice merasa terintimidasi dengan sikap Samuel saat ini.
"Kau egois Sammy. Itu darah daging kamu sendiri. Kamu tidak pernah berada di posisiku. Perasaan ibu selalu ingin melindungi anaknya bagaimanapun caranya. Uang yang kamu berikan ku gunakan untuk biaya selama kehamilan hingga saat ini. Lagi pula aku sudah bisa kembali bekerja lagi bisa untuk membiayai hidupku, Karina dan Felix" Alice tampak mengeluarkan sedikit air mata namun tangannya langsung menghapus kasar agar terlihat kuat di depan Samuel. Ia tidak ingin terlihat ketakutan karena aura mengerikan melingkupi tubuh Samuel.
"Tenang saja aku tidak akan meminta uang sepeserpun darimu" Tambah Alice lagi. Baru saja Alice ingin pergi dari panthouse namun langkah kakinya terhenti karena sebuah teriakan membuatnya terkejut.
"Arggghhhhh" Teriak Samuel tertahan. Bahkan tangannya mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Dengan keadaan seperti ini menjadi lebih runyam Ai" Samuel menatap Alice dengan tatapan yang sulit di artikan. Bahkan bibirmya memanggil Alice dengan panggilan kesayangan mereka dulu pada saat masih memiliki hubungan.
"Aku tau aku salah. Aku minta maaf, tapi jika kamu tidak menerima dengan keadaan Felix, aku akan pergi jauh agar kamu tidak perlu menghindariku" kini air mata Alice sudah mulai menganak sungai dengan derasnya di kedua pipinya. Bahkan untuk menahan tangis pun tidak bisa karena suaranya bergetar terdengar di telinga Samuel.
"Apa kamu tau? Aku sudah mencoba menggugurkan Felix sebanyak dua kali namun semuanya nihil. Tidak ada tanda-tanda kontraksi ataupun pendarahan selama dua kali aku mengkonsumsi obatnya. Kamu tau betapa kelut dan depresinya aku kala itu. Aku dengan keadaan hamil tanpa suami. Ekonomiku juga hancur karena aku harus berhenti sementara untuk melindungi karirku sebagai model. Model adalah sumber keuanganku selama ini. Menyembunyikan kehamilan dari seluruh dunia itu melelahkan"
"Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Karina dan Anya sebagai support sistemku. Aku begitu kalut dan bingung apalagi mengingat Felix begitu kuat di dalam kandunganku. Aku malu untuk sekedar keluar dari apartemen karena perutku semakin membesar tanpa memiliki suami. Aku tau disini bukan hal tabu tapi aku tetap memiliki malu, aku begitu takut paparazi memotretku dengan keadaan perutku membesar, karirku bisa hancur. Bahkan selama persalinan hanya Karina dan Anya yang selalu siap sedia berada di sampingku memenuhi kebutuhanku dan Felix"
Uneg-uneg yang selama ini di pendam Alice berhasil keluar, apalagi yang mendengarkannya adalah ayah dari anaknya. Dia begitu lega.
"Apa kamu tau, aku harus rutin mengkonsumsi obat dari psikiater hingga saat ini. Aku begitu hancur namun aku berpura-pura tegar di hadapan orang lain demi apa?? Demi anakku!!! Aku tidak ingin dunia mengetahui keberadaan Felix demi mengamankan karirku." Alice mengakhiri dengan jeritan histerisnya bahkan tanpa disadar Alice sudah berada di pojokan ruangan dengan tangan yang menjambak rambutnya kuat-kuat. Tangisannya pun tak luput dari indera Samuel.
Alice begitu hancur membuat Samuel semakin merasa sangat bersalah kepada kehidupannya Alice. Ini semua karena kecerobohannya.
"Its okey aku bersamamu mulai sekarang" Samuel mendekat kearah Alice dan memeluk Alice agar Alice lebih tenang. Tangan Alice yang menariki rambutnya pun di tahan oleh Samuel agar tak menyakiti dirinya lebih lanjut.
"Apa-apaan kau Samuel" umpat Chris tiba-tiba sudah berada di dapan Alice dan Samuel. Tinjuan Chris mengenai tepat tulang pipi Samuel. Samuel kaget bukan kepalang, bagaimana Chris mengetahui keberadaannya. Sebelumnya dia meluruskan masalah ini pada Grace dan sekarang dia harus di hadapkan seorang Alexanders mengamuk padanya.
"Aku di beritahu Ren jika kau sudah putus dengan Grace? Apa-apaan kau ini memeluk bitch ini" Chris langsung menarik Alice dari dekapan Samuel dengan kasar. Menjatuhkan tubuh Alice di lantai secara keras. Lalu dia menepukkan kedua telapak tangan seakan menyentuh Alice adalah sebuah virus yang menjijikkan.
"Sialan Chris. Dia ibu anakku bukan bitch seperti yang kamu katakan" Samuel mulai tersulut emosi. Samuel menghampiri Alice dan kembali memeluk untuk menenangkannya. Matanya nyalang menatap kearah Chris.
"Aku tetap akan selalu memanggilnya bitch karena emang dari awal dia yang selalu menggodamu, dia juga yang selalu mengejar-ngejarmu. Jika bukan namanya bitch apa lagi?? Dia hanya butuh uangmu untuk memenuhi kebutuhan dan gengsinya" Balas Chris dengan kasar penuh emosi. Lalu kembali menonjok keras pipi Samuel hingga berdarah.
Samuel hanya tersenyum miring sambil meludahkan darah yang terasa di mulutnya. Ia tak akan menyangka jika Chris akan berbuat sekasar ini padanya hanya demi seorang Grace.
"Sudah ku katakan jika dia pasti wanita murahan yang bisa tidur dengan siapapun tapi otak tololmu ini begitu bebal saat itu. Lihatlah sekarang hasilnya malah merunyamkan hidupmu sendiri. Dulu aku sudah mengatakan berkali-kali untuk berhati-hati dengan bitch ini. Dia hanya ingin uangmu bukan cintamu" Chris melepaskan genggaman tangannya pada kerah kemeja Samuel dengan kasar.
"Dia akan mendekati semua lelaki kaya demi hidup mewah dan nyaman SAMUEL JHON ALEXANDERS" Kini Chris rasanya ingin mengeluarkan kata-kata kasar atas kebodohan sepupunya itu.
Alice menggeleng dengan air mata yang masih berderai. Seakan dirinya tidak seperti yang omomngkan oleh Chris. Samuel semakin erat memeluk Alice, ia begitu yakin pada Alice tidak seperti omongan Chris sebelumnya.
"Tenanglah kalian. Pikiran kalian harus tenang untuk pembahasan seperti ini jika kalian sedang emosi tidak akan mendapatkan jalan tengahnya" Bentak Tristan melerai Samuel yang hampir saja melayangkan kembali bogeman mentah kearah Chris. Mata Samuel memerah menatap ke arah Chris yang diubun-ubunnya sudah berapi tak kasat mata.
Chris mendengar bentakan Tristan pun berusaha menetralkan emosinya yang sedang diujung tanduknya. Chris baru menyadari jika Tristan ternyata mengikutinya dari tadi.
"Aku butuh jawabanmu, Samuel. Kamu memilih Grace atau bitch ini?" Chris sudah mulai bisa mengontrol emosinya. Mulut tajamnya pun masih memanggil Alice sebagai bitch.
Yang di tanya hanya terdiam bingung apa yang harus di jawab. Memilih tetap bersama Grace sebagai masa depannya atau balik pada Alice karena rasa bersalah selama ini membiarkan Alice mendapatkan kesulitan akibat kelalaian dirinya.
"Diammu menandakan kamu tetap memilih bitch ini. Baik jika itu maumu, aku akan memperingatkanmu jangan lagi kamu menampilkan batang hidungmu ke hadapanku atau Angel. Kali ini kau benar-benar fatal tidak bisa di maafkan lagi. Kau menyakiti Grace sama dengan menyakiti Angela secara tak langsung. Ingat ini ultimatum terkhirku untukmu" ucap Chris tajam sambil menunjuk-nunjuk pada Samuel yang masih memeluk Alice berusaha melindungi Alice dari amukan Chris.
Mata biru Chris menatap kearah Tristan. "Kau silahkan urus bajingan ini, aku benar-benar putus hubungan dengannya. Aku tidak akan lagi ikut campur masalah mereka. Aku angkat tangan"
"Silahkan bahagia diatas penderitaan Grace. Kali ini ku ucapkan selamat atas menemukan anak yang tak pernah di ketahui olehmu" ucap Chris melirik Samuel di belakangnya karena dirinya sudah berjalan keluar dari penthouse pribadi Samuel.
"Tolong selidiki benar-benar masa lalu Alice agar kamu tidak salah dengan pilihanmu" Kata Tristan dengan makna tersirat berharap Samuel mengerti apa yang di maksud.
"Aku tidak bisa berkata apapun kepada mu Samuel. Ini sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur, maka jadikan bubur itu menjadi enak untuk di konsumsi. Masa lalu tidak bisa di ulang, namun masa depan bisa kamu ciptakan dengan pilihanmu sendiri semuanya berada di tanganmu" Tambah Tristan sambil menepuk bahu Samuel lalu berjalan mengikuti Chris kearah luar.
-_ Mr. Charming Alexanders_-
Sudah sebulan berlalu dari tragedi menggegerkan dunia maya akibat ulah Samuel. Semua media meliput gosip tentang Samuel Alexanders, membuat harga saham S'Alexanders Company yang bergerak di bidang property dan maskapai pun anjlok. Sebagian kecil yang memiliki saham di S'Alexanders Company mengambil langkah aman untuk menjual sahamnya dengan harga murah.
Sudah sebulan juga Grace menetap di Paris. Ia meminta pada perusahaan Victoria Secret Paris menjadikan model tetap di kota tersebut. Ia menjadikan Paris kota pelariannya. Dia tidak mampu jika berada terus menerus di New York, dimana kota itu di jadikan kota terkutuk oleh Grace sendiri. Selalu mengingat hal tentang bajingan Samuel Alexanders. Terlalu banyak kenangan di kota itu.
"Selamat pagi salam sejahtera untuk kita semuanya. Izinkan saya untuk membawakan sebuah berita yang menjadi top line di internet. Samuel Alexanders ternyata memiliki anak di luar nikah dan digadang-gadang tuan Samuel dan nona Alice akan bertunangan di waktu dekat ini"
Tangan Grace langsung mengambil remot tv dan mematikan tv yang menampilkan berita tentang Samuel. Tangan lentiknya langsung menghancurkan remot tv dengan di banting kearah lantai. Ia masih sangat membenci Samuel tapi mengapa di dunia ini masih terus menggosipkan tentang Alexanders yang paling berengsek ini.
"OH MY GOD, APA YANG KAU LAKUKAN GRACE!" Teriak cempreng Stella memenuhi ruangan apartemen ini.
"Aku hanya bosan dengan berita sebulan belakangan ini. Mengapa semuanya tentang Samuel. Ini sudah sebulan dari kejadian mengapa dia selalu menjadi trending topik" kesal Grace sambil mengambil roti dan mengoleskan selai coklat di rotinya. Memakan sarapannya agak beringas.
"Yeah karena dia seorang Alexanders" sahut Stella mengikuti jejak Grace yang tengah sarapan. Tak mengherankan bagi Stella karena yang sedang trending topic adalah billionare terkenal sekaliber Alexanders. Manusia tertampan yang keluar masuk di majalah Forbes.
Grace meniup poninya dengan kesal berusaha menetralkan kekesalannya di pagi hari yang cerah ini membuat suasana hatinya buruk.
"Apa kamu tidak bisa move on dengan Samuel?" Goda Stella sambil menyuapkan makanan di mulutnya.
"Hah yang benar saja Luke lebih baik dan tampan dari bajingan Samuel itu" kesal Grace.
"Kau dengan Luke memiliki hubungan???" Tanya Stella heran. Stella memikirkan kapan sekiranya Grace bertemu dengan Lucius sedangkan dirinya 24/7 selalu menempeli Grace kemanapun, kapanpun dan dimanapun layaknya lintah.
"Yeah Lucius. Kemaren aku tak sengaja bertemu dengannya karena dia menjadi penonton fashion show, aku tidak bisa lama berbincang dengannya di backstage karena kamu memanggilku untuk mengganti baju selanjutnya dengan tema yang berbeda dari sebelumnya" Balas Grace bete kejadian Stella memaksanya cepat mengganti baju.
Stella mengangguk tanda paham. Stella kembali mengingat Lucius adalah lelaki bermata abu memiliki badan besar penuh otot dan tato di kedua lengannya. warna kulit ten like suku indian. Begitu tampan tapi dia tetap menyukai lelaki berkulit putih seperti dirinya.
"Tapi sayang dia tak sekaya Alexanders" goda Stella lagi karena emang faktanya Alexanders pemegang tahta tertinggi mengenai kekayaan tidak ada yang bisa menandingi mereka.
"Sialan kau Stella" kesal Grace sambil mengambil popcorn di toples lalu melemparkannya pada Stella.
"Aku akan bersiap karena aku memiliki janji dengan Luke pagi ini, bye sayangku" ucap Grace sambil menyium pipi Stella. Stella hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah kurang ajar Grace padanya.
-_ Mr. Charming Alexanders_-
Smd
27-7-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top