Chapter 6
Jangan lupa untuk memberikan tip dan Vote untuk menyemangati aku. Terimakasih :)
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading ^_^
-_ Mr. Charming Alexanders_-
Semenjak kepulangan para Ladies dari Bali semuanya menjalankan rutinitasnya seperti halnya Angela yang kesehariannya sibuk mengurus baby Carl, Rachel dengan kesibukannya yaitu menganggur di apartemen Tristan dan Grace dengan full sesi photoshootnya.
"Hai!!" Ucap Grace pada Angela yang baru saja tiba bersama Chris yang menggendong baby Carl.
"Aku mampir karena aku dengar photoshootmu kali ini dekat dengan mansionku, makanya aku kemari mampir membawakan makanan untukmu" Ucap Angela tulus sembari tangannya memamerkan goodie bag dari restoran terkenal.
Grace langsung tertawa terbahak tak menyangka kedatangan Angela bersama Chris kali ini. Padahal dia saja tak memberitahu siapapun tentang jadwal sesi photoshootnya kecuali Naomi, Stella dan William. Grace tidak paham Angela tau dari mana sedangkan dia saja tidak menghubungi Samuel semingguan ini karena masing-masing dengan kesibukannya. Semenjak kejadian mereka ketahuan berbohong, Grace memilih menghindari Samuel. Tentunya dia merasa bersalah.
"Kami mengetahuinya dari Ren" Kata Chris sambil menenangkan Baby Carl yang sudah memberontak ingin turun dari pelukan Chris.
Grace mengernyitkan alis pertanda dia tidak mengetahui siapa itu Ren.
Kini Angela yang mengambil pembicaraan. "Ren adalah orang yang pernah menculikku namun dia sudah bersumpah atas nama darahnya untuk melindungi seluruh keluarga Alexanders. Masing-masing Alexanders emang sudah memiliki tangan kanan. Namun Ren dia di tempa langsung oleh Eric untuk khusus menjaga seluruh keluarga Alexanders namun Eric juga jelas masih menjadi orang pertama yang bertanggung jawab atas keselematan kita semua. Eric dan Ren selalu mengawasi kita tanpa di ketahui kita. Jadi di pastikan kita semua pasti aman karena dapat back-up an dari organisasi hitamnya"
"Tapi bagaimana cara kalian percaya untuk menetapkan musuh kalian menjadi sekutu. Apa yang membuat kalian percaya jika dia tidak akan menjadi penghianat. Yeah aku tau jika Alexanders memiliki beribu-ribu musuh di dunia ini. terkhusus Tristan yang perusahaannya di bidang keamanan dan perkembangan IT" Tanya Grace.
"Eric dan Tristan bisa menilai orang. Eric merasa Ren memumpuni jika menjadi penjaga sekaligus pembunuh dengan syarat Ren harus mengikuti segala pelatihan yang diadakan oleh organisasi Eric. Sekarang sudah terbukti dia juga salah satu orang terbaik yang dimiliki Eric hingga saat ini" Jelas Chris. Grace mengangguk paham. Ia hanya ikut apa yang terbaik untuk Alexanders. Karena Alexanders juga sudah dianggap Grace sebagai keluarganya.
Stella datang membawa baju ganti Grace dan meletakkan bathrobe berbulu di kedua pundak Grace.
"Nanti malam ada acara makan malam bersama di kediamanku. Kamu mau ikut Grace? Karena Samuel, Tristan dan Rachel akan datang malam ini" Ucap Angela.
"Jika mau kamu ikut bersama kami sekarang. Aku bisa menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar tamu untukmu beristirahat disana" Ujar Chris menimpali.
"Akan ada kepiting asam manis malam ini, baby" Ujar Angela lagi membuat Grace berbinar. Sudah berapa lama Grace tidak makanan tinggi kolestrol yang membuatnya menenggak air liurnya. Sudah berapa lama dia mengurangi porsi makannya karena tekanan dari manager Victoria Secret yang selalu mengibarkan bendera perang pada setiap modelnya. Bahkan setiap minggu Victoria Secret selalu menimbang badan setiap modelnya. Persaingan yang lumayan ketat, jika saja modelnya sudah tidak proporsional lagi akan di depak dari Victoria Secret.
Grace tersenyum lemah seraya menggelengkan badannya. "Aku tidak bisa makan itu. Kalian harus tau betapa ketatnya persaingan antar model Victoria Secret. Aku bukan kamu yang makan banyak tetap kurus" Ringis Grace.
"Kau ingin makan apa biar koki di mansion siapkan. Untuk salad tidak mungkin kamu tolak kan?" Senyum Angela menampilkan deretan gigi putihnya membuat Chris juga ikut tersenyum.
Grace mengangguk setuju lalu menghilang di balik pintu bertuliskan 'Staff Only'
-_Mr. Charming Alexanders_-
Keheningan menyelimuti keadaan di ruangan makan berukuran besar. Hanya terdengar desingan sendok dan garpu yang mengenai piring masing-masing orang. Menciptakan suasana menikmati makan malam dengan sajian khusus dari koki terbaik Alexanders.
"Apa kau kelaparan, Hel?" Tanya Samuel dengan nada agak sengit.
Rachel begitu berantakan di mana kedua tangannya sudah memakai sarung tangan plastik dan bumbu dari kepiting asam manisnya sudah mengenai pipi dan dagunya. Salahkah ketika Samuel sangat membenci keberantakan Rachel yang tidak bisa di tolerir. Sedangkan yang lain terlihat cuek saja menikmati hidangannya. Well yang lainnya tidak menyentuh sedikitpun kepiting asam manis kecuali Rachel.
Rachel mendapatkan peringatan dari Samuel hanya mendengus tak perduli dan kembali menyantap kepiting asam manis yang sangat enak.
"Tris izinkan aku mengikuti pelatihan dengan Eric kembali ke Italia" Mohon Rachel sembari menghentikan kegiatan makannya. Matanya menatap kearah Tristan dengan sangat memohon, wajahnya pun di buat melas agar Tristan menyetujui keinginannya.
"Aku mengizinkan kamu untuk study lanjutan untuk menjalani internship. Aku sudah mendaftarkannya di NewYork Presbyterian Hospital. Jika kau ingin mengambil spesialis pun aku bisa menurutimu" Ucap Tristan datar tanpa ekspresi.
"Mengapa kau tak memberitahuku. Sedangkan keinginanku untuk mengasah kemampuan bela diriku di Italia bersama Eric. Aku ingin seperti Ren. Ren menjadi pribadi yang keren dan tak tertandingi dalam hal beladiri" Sungut Rachel berapi-api mengingat Ren yang hebat telah mengasah kemampuannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu belajar untuk hal berbahaya. Sudah cukup pembelajaran dengan Eric kemaren walaupun dengan waktu singkat. Aku menyuruhmu menjadi tuan putri bukan petarung. Aku sanggup menyuruh anak buah terbaikku untuk menjagamu" Ucap dingin Tristan seraya memasukkan sesuap makanan kedalam mulutnya. Mata birunya menatap lurus makanan di hadapannya.
"Hellooooo aku tidak berminat bergelut dengan buku-buku tebal serta hapalan yang begitu banyak. Aku sudah menyerah atas mimpiku menjadi dokter. Menurutku menjadi dokter umum sudah cukup" Bantah Rachel dengan keras kepala.
"Kau tidak bisa menjadi dokter umum jika kamu belum menjalankan Insternship" timpal Tristan dengan tenang tetap memakan makanannya dengan elegan.
Rachel langsung berang mendengarkan itu. Faktanya apa yang di katakan Tristan benar. Dia harus mengikuti internship dulu, ketika lulus baru bisa menyandang gelar dokter umum.
"Menjadi tuan putri tidak ada di kamus hidupku. Aku emang di besarkan layaknya tuan putri namun tidak suka dengan beban yang di tanggung dan tidak ada namanya kebebasan di dalamnya tuan Tristan Lance Alexander" Tekannya pada beberapa kata terakhir Rachel.
"Tidak" Jawaban pendek Tristan membuat darah muda Rachel mendidih. Rachel langsung menghentakkan tangannya ke meja makan membuat semua orang di meja makan berjengit kaget. Lalu Rachel meninggalkan ruang makan dengan perasaan kesal.
"Tak bisakah kau membuat makan malam ini tenang Tris? Aku benar-benar kehilangan selera makanku" Ungkap Chris kesal. Dia agak kesal sifat amarah Rachel berhasil membuat orang lain tak nyaman. Sudah beberapa kali Rachel melakukan hal tak menyenangkan seperti ini.
Tristan tampak acuh dan melenggang pergi meninggalkan ruang makan yang diikuti Elmer di belakangnya.
"Bisa kah kau menjelaskan dengan sejujurnya tentang tragedi di Bali kemaren. Aku yakin diantara kalian berdua bisa menjelaskan tanpa berbohong" Ucap final Samuel, matanya menatap Grace lalu beralih ke Angela. Karena pada faktanya masih ada yang di tutupi antara Grace dan Angela. Samuel mendapatkan informasi detail dari Kenzo orang kepercayaannya. Ia hanya memastikan kedua perempuan di hadapannya tidak berbohong atau ada yang di tutup-tutupi.
Angela yang paham pembicaraan Samuel langsung menghela nafas. Diantara mereka tidak ada kebohongan mau di tutupi sekuat apapun Alexanders akan mengetahuinya. Seperti halnya sepandai-pandai bangkai di tutupi, akan tercium juga.
"Yeah kami bertemu Lucius tanpa sengaja saat di pantai" Final Angela mengehela nafas. Matanya melirik ke arah Chris berusaha meminta pertolongan tapi Chris hanya mendiamkan karena Chris ingin Angela dan Grace menyelesaikan masalahnya dengan Samuel.
"Dan kalian menutupinya dariku?" Tuduh Samuel pada kedua perempuan Alexanders itu.
"Mau sekuat apapun kalian berbohong pada kami. Kami akan mengetahuinya. Percayalah Alexanders maha mengetahui" Kata Samuel menyiratkan kekejaman yang tersembunyi selama ini. "Aku hanya ingin kalian jujur, apakah itu susah?" Tambah Samuel sedikit kesal telah di bohongi oleh ketiga ladies Alexanders.
"Lucius sepertinya sudah melacak keberadaan Grace, maka dari itu dia berada di Bali dan seolah-olah pertemuannya dengan Grace adalah takdir" Timpal Chris pendek.
"Lucius bukan orang sembarangan. Dia adalah anak dari mafia dan gembong narkoba di Las Vegas. Dia bermain di dunia gelap. Dia terkenal dengan kebengisan membunuhnya apalagi atas apa yang dimilikinya. Dia menghalalkan segala cara agar apa yang diinginkan terwujud" Samuel menjawab sekenanya seraya mengingat Lucius.
"Sepertinya kita harus mencari informasi lebih lanjut tentang Lucius" Senyum menyeramkan terbit dari bibir Samuel, membuat Angela dan Grace bergidik ngeri. Mereka benar-benar tidak berkutik dengan kengerian keluarga Alexanders.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Mata abu-abu itu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan jam 2 siang.
Dia ingin pergi ke tempat biasa dia mabuk walaupun ini masih siang hari, menghilangkan penat di kepalanya. Apalagi harus berurusan dengan Samuel dan keluarga Alexanders membuat dirinya pusing. Dia hanya tak sengaja bertemu Lucius mantan kekasihnya dulu. Itu pun jauh setelah dirinya putus dengan Samuel di Junior High School. Itu saja membuat Samuel geram, bahkan untuk berbincang-bincang dengan Lucius pun tidak sempat.
Grace baru saja ingin memasuki bar langganannya namun matanya terhenti pada 2 perempuan dan 1 anak bayi yang duduk di depan cafe. Grace mengenali perempuan di jauh sana yang tak lain dan tak bukan adalah rekan model Victoria Secretnya. Alice dan Anya.
Mata abu-abu Grace memicing menatap bayi kecil berumur kisaran 9-12 bulan itu. Bayi laki-laki dengan rambut hitam dan bermata biru. Bayi itu tampak bahagia kala sedang diajak bercanda oleh Anya. Alice yang melihat itu tersenyum bahagia apalagi bayi itu tampak tertawa kencang.
Otak Grace langsung menerka-nerka anak siapakah yang berada di antara Anya dan Alice itu. Karena setahu Grace Keduanya masih Single bahkan tak terdengar rumor jika keduanya berdekatan dengan laki-laki. Mengapa anak bayi itu bermata biru? Keluarga Alexanders juga memiliki mata biru. Apakah hanya sebuah kebetulan saja?
"Grace?" Tanya lelaki tiba-tiba datang dan menutupi pandangan Grace yang menatap Anya, Alice dan anak bayi itu.
Grace tersentak kaget. "Ahh Benjamin" Ucapnya menetralkan mimik wajahnya dari rasa terkejutnya. Benjamin langsung otomatis menatap ke arah Grace sebelumnya memandang. Mata Benjamin mendapatkan 3 sosok yang tampak bahagia. Bayi itu tampak tertawa nyaring walaupun suaranya tak terdengar hingga kupingnya.
"Kau mengenal 2 perempuan dan bayi itu?" Tanya Benjamin menyelidik. Grace tidak terlalu memerhatikan Benjamin, dia malah tetap memperhatikan kearah Alice dengan otaknya berspekulasi liar tentang teman modelnya itu.
"Aku mengenal keduanya namun tidak dengan bayinya. Bayinya tampak sedikit familiar di mataku tapi ini kali pertama aku melihatnya" Senyum Grace menyaratkan bahwa dia tidak apa-apa.
"Apa perlu kita mendatangi mereka?" Tanya Benjamin lagi meyakinkan Grace. Bahkan Benjamin sudah memegang lengan Grace untuk mengajak mendatangi orang itu.
Grace hanya menggelengkan kepalanya. Ia pun rasa tak perlu-perlu banget dengan keduanya. Tapi dia cukup tertarik dengan bayi di hadapan Alice dan Anya.
"By the way, bagaimana kamu kesini?" Tanya balik Grace sambil memicingkan matanya pada Benjamin berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Aku hanya ingin berbincang denganmu, aku lama tidak berjumpa denganmu. Terakhir kali kita bertemu di acara pernikahan Chris. Itu pun kita tidak berbincang karena bodyguard kecilmu" Jawab Benjamin sekenanya saja
"Oh iya bagaimana kabar bodyguard yang kecil itu" Tanya Benjamin sambil menyunggingkan senyuman karena kembali mengingat gadis kecil yang pernah sedikit melukainya. Benjamin pun mengakui kemahiran Rachel cukup diatas rata-rata perempuan pada umumnya.
"Ahh Rachel ya. Entah aku tidak mengetahuinya karena dia gadis Tristan. Tristan sendiri selalu berpindah-pindah tempat agar tidak bisa di lacak oleh musuh-musuhnya. You know lah dia CEO perusahaan yang bergerak di bidang keamanan cyber juga" Grace mengendikkan bahunya tanda tak perduli. Dia sudah cukup di buat pusing oleh Samuel, tidak ada tambahan Chris ataupun Tristan. Terkutuklah wahai Alexanders.
Baru saja Benjamin ingin membawa Grace kedalam bar namun tangannya di tahan oleh seseorang.
"Maaf tuan, tolong lepaskan nona Grace" Lelaki itu menghentikan Benjamin dan Grace. Grace mengerutkan keningnya. Mata abunya menatap dengan tatapan bertanya pada orang asing di depannya.
"Maaf siapa?" Tanya Grace jujur karena memang dirinya tak mengenali lelaki itu.
"Perkenalkan saya Ren, Nona Grace. Saya di perintahkan tuan Samuel untuk menjaga anda. Karena Angela tidak perlu perlindungan dan Nona Rachel sedang bersama tuan Tristan" Ucap Ren tanpa menatap Grace sedikitpun hanya menatap ujung sepatu converse miliknya yang usang.
Grace memekik kesal apa yang di lakukan Samuel padanya. Menyuruh orang untuk menguntitnya kemanapun. Grace menghela nafas kesal karena kelakuan absurd Samuel. Otaknya kembali memutar atas pengakuan Angela sewaktu bertemu dengannya. Oh ini Ren yang di maksud oleh Angela sebelumnya.
"Tenang saja aku akan tetap aman. Kau tidak perlu mengikutiku lagi. Aku sekarang bersama temanku, jadi silahkan pergi" Ucap Grace mengusir secara halus Ren yang baru kali ini di temuinya.
"Maaf nona saya sudah di perintahkan untuk menjaga anda" Ucap Ren pendek kekeh dengan pendiriannya. Jika ia membangkang yang ada kepalanya di gantung di One World Trade Center.
"Jika kau tak percaya padaku mari ikut bersama ku dan Grace ke dalam Bar" Kata Benjamin menengahi keduanya, tangannya menarik Grace mengikuti dia sedangkan Ren membututi keduanya. Benjamin juga tidak akan berbuat macam-macam pada Grace karena emang tujuannya hanya berbincang-berbincang saja tidak lebih.
Setelah sampai di dalam suasana bar sangat sepi hanya terdapat bartender yang sedang mengelap seluruh gelas dan office boy yang membersihkan ruangan bar dan mempersiapkan untuk digunakan nanti malam pada jam operasional. Ren mengambil meja di sudut yang tidak terkena cahaya lampu dan juga menjaga jarak dengan Benjamin dan Grace yang berada di meja bartender. Namun matanya terus menatap nonanya takut terjadi sesuatu pada Grace dan dia selalu siap kapanpun saat di butuhkan.
"Sepertinya dompetku tertinggal di dalam mobil. Sebentar ya aku ambil dulu ya" Sesal Grace pada Benjamin. Grace langsung melangkahkan kakinya keluar bar tersebut.
Pada saat yang sama mata biru itu menatap kearah cafe. Kaki jenjang berlapiskan celana bahan berkualitas itu berjalan mendekat kearah sumber pandangannya. Kaki berbalut sepatu pantofel bermerek itu tanpa ragu mendekat ke tujan pandangannya. Setelah berada di depan pintu cafe, matanya menatap sendu kearah salah satu perempuan sedang memangku anak bayi laki-laki yang sedang membubbling kata-kata yang tidak jelas di pendengaran pria si mata biru.
Lelaki itu adalah Samuel. Samuel mulai menghampiri kedua sahabat itu. Alice terhenyak ketika matanya menangkap siluet Samuel yang semakin mendekat kearahnya. Nafas Alice tercekat rasanya seperti udara sekitarnya menghilang tiba-tiba. Anya malah menatap tajam kearah Samuel.
"Ini anakku?" Bibir Samuel bergetar hebat untuk sekedar mengeluarkan 2 kata magis yang dia sendiri pun tak tau benar atau tidak atas kejelasan ucapannya. Alice terdiam seribu bahasa bahkan bibirnya kelu untuk menjawab pertanyaan Samuel.
"Jadi selama ini kamu menyembunyikan kehamilanmu di belakangku?" Samuel memegang kedua pundak Alice tangannya mulai sedikit meremas pundak Alice berharap bukan kebisuan Alice yang menjawab pertanyaannya.
Alice tidak mengeluarkan sedikitpun suara, pundak yang di sentuh oleh Samuel akhirnya bergetar hebat dan berakhir menangis tanpa suara.
"Alice bukan menyembunyikan kehamilannya namun kamu sendiri yang menyuruh Alice untuk menggugurkannya kandungannya. Kau memang manusia gak punya hati. Alice adalah seorang ibu, mana mungkin dia tega untuk menggugurkan anak di kandungannya. Kau itu tak mengetahui perasaan seorang ibu. Alice selalu mengusahakan yang terbaik selama kehamilannya, agar anaknya menjadi anak yang sehat dan cerdas." Anya kini mengambil pembicaraan diantara Samuel dan Alice. Matanya menatap tajam setajam silet karena Anyalah yang menjadi saksi bisu kehidupan Alice. Alice dan Karina sudah terlalu menderita selama ini, hidup tanpa kedua orang tua dan sanak keluarga pun tak ada.
"Matamu tidak bisa melihat bagaimana Felix tumbuh menjadi anak yang imut dan tampan" Sarkas Anya pada Samuel yang dari tadi tidak bisa mengalihkan pandangan sedikitpun pada bayi kecil yang mengeluarkan suara menyenangkan di pangkuan Anya.
"Anakku" Bisik Samuel tanpa suara, tangannya ingin menggapai tubuh Felix namun dia mengurungkan niatnya. Rasanya langit runtuh begitu cepat keatas kelapa Samuel membuatnya jatuh berlutut di hadapan Anya dan Alice. Bahkan kini air mata sudah menganak sungai di kedua pipinya. Hatinya membuncah entah harus bahagia atau menyesal. Semua perasaannya sudah tercampur aduk meninggalkan suara isak tangisnya yang di tahan.
Hal terakhir dia ingat ketika dia menangis atas kepergian neneknya belasan tahun silam dan baru kali ini ia menangis kembali karena keadaan.
Beberapa orang yang mengetahui Samuel menangis sambil berlutut langsung berbondong-bondong untuk memotret maupun mengambil vidio untuk diviralkan. Dunia akan gempar karena seorang Samuel yang terkenal dengan image player bisa menangis bahkan di tempat umum sekalipun.
Samuel memberanikan dirinya untuk menyentuh lapisan epidermis di pipi bayi yang bernama Felix tadi. Terasa sangat halus dan sangat menggemaskan. Mata biru itu menatap bingung pada Samuel yang tengah menangis tanpa bersuara. Felix tersenyum kala tangan Samuel mulai mengelus pelan pipinya. Sebuah ikatan batin yang tak terlihat kini sudah menyambung, menjalin satu sama lainya.
"Nama lengkapnya Felix Rylee Alexanders. Alice tetap memberikan margamu karena dia adalah anak biologismu. Aku sudah mengatakan untuk tidak perlu menyandang Alexanders, karena kamu juga tidak menginginkan Felix" ucap tajam Anya menohok hatinya. Otaknya langsung berputar apakah selama kehamilan Alice baik-baik saja? Bagaimana fase mengidamnya? Bagaimana Alice ketika melahirkan?
Pikiran-pikiran itu membuatnya merasa lebih bersalah lagi. Selama ini tidak pernah ada di samping Alice untuk membantunya. Bahkan bantuan finansial pun tidak. Samuel merasa dia seorang yang bodoh, tolol dan tidak berguna membiarkan Alice berjuang sendirian membesarkan anaknya.
Alice menatap Samuel lama dengan tangisan yang bahkan semakin lama semakin deras. Mata itu mengungkapkan kesedihan, kepedihan dan kehancuran yang selama ini dia tutup-tutupi. Dia selama ini selalu berpura-pura tegar demi anaknya, namun kali ini topeng yang di pakainya sudah terjatuh dia hanya bisa menunjukkan kerapuhan dari dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan nyaring membelah suara keramaian yang menyelimuti meja Alice. Awalnya banyak orang yang mengabadikan momen Samuel yang hancur.
Timbullah wanita dengan rambut pirang pasirnya membelah kerumunan tersebut. Senyuman miring di sertai dengan air mata tertahan membingkai wajah bak barbie miliknya.
"Reuni keluarga yang begitu mengesankan Sammy. Aku turut berduka cita atas pembalasanmu yang begitu kejam kepadaku" ucap Grace yang masih bertepuk tangan membravokan kelakuan Samuel. Bahkan suaranya begitu tajam layaknya pedang Damaskus.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Smd
24-07-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top