Chapter 18

Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!

Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂

^_^ Happy Reading 😁

-_Mr. Charming Alexanders_-

Keesokan harinya Grace terbangun dengan kepala yang pusing dan mual. Tidur dengan keadaan setelah menangis benar-benar tidak di rekomendasikan, pasalnya setiap bangun tidur pasti sakit kepala dengan suasana hati yang buruk.

Grace langsung berlari kearah kamar mandi sambil menahan mualnya. Setelan memuntahkan isi perutnya yang berupa hanya cairan bening karena semalaman dia tidak makan sedikitpun. Dia langsung membasuh muka dan menggosok giginya.

Dia memiliki jadwal pagi ini untuk menemui Kaitlyn. Disinilah dia saat ini berada. Di ruang direktur rumah sakit karena faktanya Kaitlyn tidak menjadi dokter yang menangani pasien melainkan dokter dari pihak manajemen. Karena permintaan sahabatnya di Paris pun dia mengambil alih Grace sebagai pasiennya.

"Pasti rasa sakit kepalanya semakin sakit dan sudah timbul efek mual setiap kepalamu kumat?" Ujar Kaitlyn tersenyum sedih.

"Benar rasanya kepalaku hampir mau pecah" ucap Grace lemah. Tubuhnya begitu lemas bahkan pucat sekali tidak seperti biasanya. Grace di depan orang lain hanya berusaha tetap ceria untuk menghilangkan kecurigaan orang lain. Ia sangat tidak menyukai perhatian orang lain karena penyakitnya. Makanya dia menyembunyikan penyakitnya dari semua orang.

"Bagaimana rawat inap saja? Tubuhmu sepertinya terlihat tidak baik-baik saja" Saran Kaitlyn sepertinya agak masuk akal. Grace benar-benar lemah saat ini apalagi serangan mental karena pekerjaannya juga hilang membuatnya lebih lelah lagi.

"Hanya rawat inap biasa tanpa kemoterapi ya? Kemoterapi yang ku lalui selama ini percuma tidak membuahkan hasil. Sisa umurku tidak bisa di perpanjang dan hanya meninggalkan rasa sakit saja" Ucap Grace sambil membuka klip rambut tambahan agar rambut Grace tampak sehat dan berkilau. Hingga hanya tersisa sedikit rambutnya yang tumbuh. Grace sudah mengalami kebotakan karena efek samping dari kemoterapinya.

"Aku sudah menyerah dan tidak ada harapan lagi untuk melawan sel kanker jahat ini" ucap Grace sedih. Kaitlyn hanya terdiam mengamati Grace yang menumpahkan isi hatinya.

"Yang bisa kulakukan hanya membuat bahagia di sisa umurku" Grace tersenyum ironi pada dirinya.

"Bolehkah aku bertanya padamu Kaitlyn?" Tanya Grace pada Kaitlyn di seberang mejanya.

"Tentu" Ujar Kaitlyn sambil tersenyum.

"Sepertinya Chris mengetahui penyakitku. Sebelumnya pada saat kepalaku kumat dia memberikanku anti nyeri" Pikir Grace mengingat kembali apa yang Chris lakukan padanya saat di dalam helikopter.

Kaitlyn tersenyum misterius. "Seorang Alexanders tercipta untuk maha mengetahui orang sekitarnya. Kamu adalah sahabat Angela tentu saja kamu bukan orang asing bagi Chris, apalagi kamu sebelumnya memiliki hubungan yang serius dengan Samuel"

"Aku sebagai dokter di sumpah untuk tidak memberitahukan informasi tentang pasienku" tambah Kaitlyn lagi meyakinkan Grace, ia hanya ingin Grace tetap tenang. Padahal semuanya dia terpaksa memberitahu Chris karena Chrislah yang ingin mengetahui kebenaran apa yang menimpa pada Grace.

"Baiklah aku paham terimakasih Kaitlyn" Ucap Grace tulus.

"Aku akan menyuruh dokter lain untuk menangani dirimu di awal perawatan ini" ucap Kaitlyn yang di oke-kan oleh Grace.

Di sisi lain Benjamin kalang kabut karena Grace tidak bisa di hubungi. Setiap kali di telpon nomernya tidak aktif.

Disinilah Benjamin berada di apartemen Grace. Dia bahkan mengetahui password smart lock door apartemen Grace. Mata Benjamin menyapu segala sesuatu di apartemen Grace menemukan keganjilan yaitu hancurnya ponsel milik Grace di dekat dinding kamarnya.

Pantas saja ponselnya tidak bisa di hubungi ternyata Grace menghancurkan ponselnya. Benjamin awalnya mengunjungi Grace karena meminta Grace pindah di villa yang baru di belinya kemaren, kekhawatirannya semakin meningkat karena mendengar issue tentang hubungan Grace dan Chris.

"Dimana dia sekarang?" Tanya Benjamin pada Syauqi yang selalu setia di belakangnya.

"Mungkin sedang jongging tuan lihatlah ini baru jam berapa" Syauqi menunjuk jam di dinding menunjukkan jam 8 pagi.

"Baiklah kita akan menunggunya" putus Benjamin sambil beristirahat di sofa panjang mikik Grace sedangkan Syauqi mengambil posisi di atas karpet berbulu milik Grace.

Sudah lama Benjamin menunggunya namun Grace tak kunjung datang bahkan jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.

"Kemana dia ini. Berolahraga seharusnya tidak sampai sesiang ini" Ucap Benjamin pada Syauqi yang anteng di posisinya.

"Lebih baik kamu mencari keberadaannya daripada menunggu tanpa kejelasan seperti ini" Final Benjamin. "Kita akan kembali ke gedung diplomat, ada hal yang harus diurus"

Benjamin dan Syauqi meninggalkan apartemen Grace.

-_Mr. Charming Alexanders_-

Aura maskulin dan menganggumkan begitu terpancar oleh Chris dan Tristan di lorong rumah sakit, mengundang semua mata tertuju pada mereka karena ketampanannya. Chris dan Tristan tampak biasa menjadi pusat perhatian seperti itu hanya melengos pergi ke tempat yang di tujunya.

Tok tok tok

Suara ketukan pintu dari Chris di ruang perawatan Grace. Tanpa di persilahkan Grace, keduanya masuk.

Grace tampak memprihatinkan, tubuh pucat dan kurus begitu terlihat oleh Chris dari terakhir kalinya dia bertemu. Grace hanya bisa duduk sambil menikmati pemandangan dari jendela besar di sampingnya.

Ia sudah menduga Chris akan menjenguknya dan Grace tetap pada pendiriannya tidak menghiraukan siapapun selama perawatan ini. Pikirannya di penuhi oleh penyakit mematikannya dan pekerjaanmya yang sudah berakhir. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi, hidupnya benar-benar seperti di film-film. Semua harapan untuk sembuh dari penyakit ini pun pupus di tambah lagi dia sudah tidak memiliki pekerjaan membuatnya jadi pengangguran elit. Hatinya benar-benar sakit tapi air matanya sudah kering karena menangisi keadaannya semalaman.

"Bagaimana keadaanmu Grace?" Chris meletakkan bucket bunga segar di pangkuan Grace.

Grace hanya terdiam tak menghiraukan keberadaan Chris dan Tristan, dia memilih bungkam dan tetap menikmati pemandangan dari jendelanya.

"Kami sudah mendiskusikan pada dokter terbaik di seluruh dunia namun presentase keberhasilan dari penyakitmu ini benar-benar kecil sekali, mungkin nyaris tidak bisa di selamatkan" Jelas Tristan.

"Apakah ada yang kamu inginkan? Atau ingin kamu lakukan katakanlah pada kami. Kami akan mewujudkannya" tambah Chris lagi.

Grace masih terdiam di posisi yang sama tanpa menanggapi omongan keduanya. Sorot matanya kosong seperti tidak memiliki keinginan hidup lagi, menyiratkan akan menyerah atas keadaannya saat ini.

Chris menarik tubuh Grace untuk di peluknya.

"Aku lebih suka melihatmu mengamuk daripada harus melihatmu dengan keadaan seperti ini" Chris mengelus rambut pirang pasir Grace yang hampir botak. Tak sengaja tangannya sudah menggenggam banyak helai rambut Grace yang rontok di tangannya.

Melihat keadaan Grace seperti ini tanpa sadar Chris menitikkan air mata. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Grace berusaha menguatkan sahabat istrinya itu. Hati Chris begitu nyeri karena berusaha menyembunyikan keadaan Grace dari istrinya dan juga Samuel sepupunya.

Tak lama seorang perawat datang untuk memberikan Grace obat, Chris membantu Grace memposisikannya agar tidur di dengan nyaman. Tak berselang lama dari itu mata Grace terpejam mungkin efek dari obat yang di berikan sebelumnya.

"Apa yang bisa kita lakukan untuknya?" Tanya Chris pada Tristan

"Tidak ada selain menyemangatinya untuk bangkit dari keterpurukannya" Balas Tristan.

"Jika aku berada di posisi Grace mungkin menjadi gila" Ucap Chris lagi.

"Yasudah gila-lah dengan senang hati aku merekam dan memviralkan jika ternyata seorang Chris Alexanders adalah orang gila" tawa renyah Tristan terdengar, dia bahkan menepuk pundak sepupunya agak kuat. Lalu keduanya pergi meninggalkan Grace untuk beristirahat.

-_Mr. Charming Alexanders_-

Jam sudah menunjukkan jam 5 sore. Sebelum pulang Kaitlyn menyempatkan untuk menjenguk Grace di ruang perawatan.

"Hai Grace" Ucap Kaitlyn mendekat kearah Grace yang duduk di tempat tidur.

"Bagaimana keadaanmu?" Kaitlyn menyerahkan sekeranjang buah-buahan dan di taruhnya diatas nakas.

Grace tersenyum simpul.

"Puasa berbicara hemm?" Tanya Kaitlyn sambil mengedipkan sebelah matanya genit. Dia agak khawatir pada Grace karena dia mendapatkan laporan Grace terlihat seperti orang linglung dan tidak berbicara semenjak masuk ke ruang perawatan.

"Aku lebih baik Kaitlyn daripada tadi pagi" Ucap Grace meyakinkan Kaitlyn, dia tidak bisa berlama-lama meninggalkan apartemen karena Benjamin saat ini pasti sedang mencarinya.

"Benar. Aku sudah melihat informasi dari perawat jika kamu bisa pulang malam ini. Keadaanmu sudah lebih membaik. Dosis obatmu sudah ku naikkan seharusnya bisa menahan sakit kepalamu" Ucap Kaitlyn dengan senyuman keibuan. Kaitlyn duduk di pinggir tempat tidur Grace. Tangannya mengelus pelan punggung tangan Grace.

"Tenang saja aku akan merawatmu dengan baik" Ucap Kaitlyn lagi.

"Terimakasih Kaitlyn" Ucap Grace tulus lalu memeluk tubuh Kaitlyn yang masih memakai jas dokternya. Kaitlyn tersenyum dan membalas pelukan Grace.

"Hello girls" Ucap Chris sambil menenteng beberapa cup minuman Starbucks.

"Ini untuk mom dan ini untuk Grace" Chris memberikan ice americano untuk Kaitlyn dan matcha frappe untuk Grace.

"Kamu pasti membutuhkan yang manis-manis agar lebih semangat lagi, right?" Chris tersenyum pada Grace.

"Thanks Chris" Mata abu Grace begitu bersinar karena dia membutuhkan yang manis-manis untuk mengalihkan pikirannya dari kerasnya dunia ini. Dia lelah dengan semua ini.

"Bagaimana kamu tau jika mom berada disini?" Tanya Kaitlyn dengan mata menyidik.

"Ingat motto Alexanders mom, 'Alexanders akan mengetahui semuanya'" Ucap Chris sambil mengedip genit pada Kaitlyn.

"Akan ku laporkan pada Houston jika anaknya ini genit sekali" Kaitlyn memukul anaknya dengan keras.

"Sakit mom" Chris mengelus pundaknya disitulah yang di pukul oleh Kaitlyn.

"Ngapain kamu kemari?" Tanya Kaitlyn pada Chris.

"Aku membantunya untuk mengurus administrasi kepulangannya. Grace akan ku bawa ke mansionku. Karena ku pikir dia akan bahagia jika ada Angela di dekatnya. Lagipula Benjamin sudah menunggu Grace di mansionku" Jelas Chris seketika membuat Grace melotot dengan mulut tercengang.

"Si pangeran Arab itu berada di mansionmu? Bagaimana bisa??" Tanya Grace.

Chris mengendikkan bahunya. "Katanya tadi dia mencarimu di apartemen tidak ada. Dia mencarimu di villa barunya juga tidak ada, jadinya dia mencariku. Dia pergi ke mansionku karena Angela adalah sahabatmu"

"Aku hanya heran pada Ben. Kenapa dia malah memberikan villa yang di belinya untukku dan lihatlah ini" Grace memperlihatkan sebuah cincin berlian bertengger di jari manisnya.

"Jadi yang dikatakan Tristan jika kamu dilamar oleh Benjamin itu benar??" Ucap Chris pura-pura excited.

"Congrats sayangku" Ucap Kaitlyn kembali memeluk Grace, sebelum pelukan itu terjadi Grace menghentikan Kaitlyn.

"Aku tidak mungkin menerima dan menikah dengannya. Aku tidak berniat untuk menjadikan Benjamin duda hot karena kematianku" Ucap Grace sambil tertawa.

"Bagaimana jika kalian membantuku untuk memikirkan bagaimana caranya untuk menolaknya" Tambah Grace lagi.

"Jika dari awal niatmu tidak menerima Ben, mengapa kamu tetap menerima lamaran itu?" Tanya Kaitlyn heran.

"Biasa mom, Grace ingin menyadarkan jika Samuel masih mencintainya" Cibir Chris sambil memutarkan matanya.

"Diamlah" Grace melemparkan sebiji buah anggur pada Chris.

"Ahhh politik cinta? Aku juga dulu pernah seperti itu hingga Houston cemburu bukan main dan lucunya dia memaksaku untuk menerima cintanya" Kaitlyn tertawa kecil sambil mengingat masa lalunya yang manis.

"Aku pergi duluan ya, Houston pasti sedang menungguku dirumah" Kaitlyn pamit pergi duluan. Lalu mencium pipi Chris dan Grace secara bergantian.

"Yeah tentu daddy merindukan istrinya yang super sibuk. Suami pengangguran dan istrinya-lah yang menafkahi kehidupan mereka" Julid Chris pada Kaitlyn sebelum menghilang di telan pintu.

"Dasar bocah kurang ajar " Balas Kaitlyn sambil mendelik kesal atas ucapan Chris lalu meninggalkan Grace dan Chris.

-_Mr. Charming Alexanders_-

"Hai baby Carl" Grace teriak dan merentangkan tangannya pada saat melihat Carl sudah tumbuh besar. Dibalas dengan picingan mata menyelidik oleh Carl.

"I'm not a baby" Sanggah Carl yang mungkin sudah berusia 4 tahunan.

"Oh hai dad?" Carl melambaikan tangan kecilnya pada Chris yang berada di samping Grace. Chris tersenyum hangat pada anaknya itu. Tangannya sedang sibuk menggeret koper milik Grace.

"Hei! ini auntie. Kamu tidak ingin memelukku?" Ucap Grace gemas karena tak kunjung mendapat pelukan hangat dari Carl. Carl menatap seksama Grace dan lalu melengos pergi ke kamarnya di lantai 2.

"Hai Grace welcome" Angela memeluk dan mencium pipi Grace. Lalu beralih mengecup bibir Chris.

"Hati kecilku diremukkan oleh baby Carl" Ucap Grace dramatis sambil memegang dada kirinya seolah-olah sakit.

Angela melihat itu hanya tertawa. "Semakin besar sifatnya semakin dingin. Entah mengikuti jejak siapa"

"Jangan-jangan dia anak Tristan" Ledek Grace langsung mendapat toyoran di kepalanya dari Angela. Chris hanya tertawa mendengar perkataan konyol Grace.

"Bodoh" Ucap Angela pura-pura kesal pada sahabatnya.

"Aku bikinnya dengan Chris mengapa bisa jadi anaknya Tristan" Tambah Angela tidak terima.

"Masuklah di dalam sudah ada Benjamin menunggumu" Angela mempersilahkan Grace masuk. Chris langsung menarik pinggang Angela untuk menempel pada tubuhnya sambil berjalan masuk ke dalam mansion mereka. Tangan Chris mengelus sayang perut rata Angela karena disanalah calon anak mereka berada.

"Hai" Sapa Grace salah tingkah saat melihat Benjamin sedang santai di ruang tamu. Pipinya pun memerah saat mengingat Benjamin beberapa hari lalu melamarnya.

"Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi tidak ada. Aku pikir kamu berada di mansion Angela ternyata kamu tidak ada juga. Bisa jelaskan kamu berada dimana?" Tanya Benjamin dengan nada otoriternya.

"An---u a--ku seharian ini sedang spa di langgananku. Biasa lah jika perempuan di salon gak cukup sejam-dua jam kan? Aku diseret oleh Chris dari salon untuk tinggal sementara disini" Ucap Grace berbohong. Tangannya menunjuk sebuah koper yang di pegang Chris.

"Jika seperti itu seharusnya kamu bisa mengabariku. Aku sangat cemas karena berita yang menimpamu" Ucap Benjamin lega melihat Grace baik-baik saja. Benjamin langsung menarik tubuh Grace ke pelukannya.

"Ponselku sudah hancur, bagaimana aku bisa mengabarimu?" Tanya Grace.

"Itu karena kamu sendiri yang menghancurkannya. Kamu tidak tau seberapa khawatirnya diriku seharian ini mencarimu kemana-mana" Ucap Benjamin sambil menjitak pelan kepala Grace dengan gemas.

Grace merasa salah tingkah pasalnya Benjamin begitu manis hingga mengkhawatirkannya. Grace tersenyum kecil karena pelukan hangat ini membuatnya nyaman.

"Hai kak Angela. Kabarmu baik?" Tanya seseorang yang baru saja datang bersama Tristan.

"Hai Rachel. Aku baik. Aku dengar kamu menjalani pelatihan di Italia ya?" Grace menyambut hangat Rachel.

Rachel mengangguk membenarkan pertanyaan Angela. "Sudah berapa lama kita tidak berjumpa?" Tanya Angela pada Rachel.

Rachel tampak terdiam dan berpikir. "Mungkin sekitar tiga tahun?" Ucap Rachel agak ragu.

"Loh Eric????" Angela berteriak senang dengan keberadaan Eric. Grace menyadari Eric datang pun langsung melepaskan pelukan Benjamin. 

Angela berlari kecil mendekat kearah Eric. "Hati-hati Angel" Chris memperingatkan istrinya tentu tidak di dengarkan. Angela dan Grace langsung memeluk tubuh Eric bersamaan.

"Hai girls aku membawakan makanan untuk kalian. Aku harap tidak ada perkelahian lagi ya" Eric memperingatkan Rachel, pasalnya Rachel-lah manusia sumbu pendek diantara mereka. Mungkin juga karena Rachel paling muda dibandingkan lainnya.

"Eric! Long time no see" Grace bahagia dengan keberadaan Eric. Baru beberapa detik Grace di pelukan Eric, sebuah tangan menariknya menjauhi Eric.

"Woahhhh tenang pangeran, aku tidak akan mengambil gadismu" Ucap Eric meledek Benjamin. Tubuh Grace sudah berada di belakang Benjamin, seakan-akan ingin menyembunyikan Grace.

"KAMU!!" Teriakan bersamaan antara Rachel dan Benjamin.

-_Mr. Charming Alexanders_-

Jun-JunFish

SMD, 4-11-25

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top