Chapter 13
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading 😁
-_Mr. Charming Alexanders_-
"APA KATAMU KITA AKAN BEKERJA SAMA DENGAN S'ALEXANDERS COMPANY??" Teriak Grace terkejut tak percaya oleh omongan Stella. Naomi yang sudah mengetahuinya hanya terdiam saja.
"Jadi kamu memang menyembunyikan informasi ini dariku selama ini? Bahkan saat berada di pesawat pun, kamu pura-pura menyemangatiku karena hal ini? Padahal kamu tau aku membenci New York karena dia dan sekarang kamu mengumpankanku pada serigala berbulu domba itu? No Thanks" Ucap Grace dengan nada tinggi.
"Tapi dia sudah membayar kita dengan bayaran tinggi Grace. Bahkan tiket penerbangan dari Paris ke sini di tanggung oleh perusahaannya. Tidak bisa membatalkan begitu saja" Ucap Stella berusaha menenangkan Grace.
"Aku gak mau tau batalkan kontraknya dan kita akan kembali ke Paris sekarang juga" Ucap Grace sambil membelakangi Stella dan Naomi. Kemarahannya yang memuncak itu butuh di tenangkan. Jika berada di apartemen ini yang ada Grace terus-terusan akan marah.
"Jika kamu membatalkan kontraknya kita kena pinalti sebesar tujuh juta dollar" Ucap Stella.
"Pikirkan matang-matang Grace. Uang tabunganmu sudah habis karena kamu memberikannya kepada orang tuamu. Aku tau sekarang kamu tidak memiliki uang lagi" Tambah Stella membuat Grace yang ingin keluar dari apartemen berhenti.
"Bisakah kamu bersikap profesional atas pekerjaanmu. Jika menyangkut pekerjaan seharusnya kamu menyampingkan alasan pribadimu apapun itu" Ucapan Stella membuat Grace rasa nya ingin berteriak namun bagaimanapun Stella adalah managernya. Semua ucapan Stella juga harus di dengarnya demi kelangsungan karir yang sudah di bangun selama di dunia modelling.
"Sialan" Kesal Grace sambil menghentakkan kakinya lalu pergi dari apartemen.
Kakinya membawanya di taman lingkungan apartemen. Dia duduk meringkuk diatas lututnya memeluk dirinya sendiri. Kepalanya begitu nyeri, ia bingung harus seperti apa.
Dia berusaha menghindari Samuel dan menyebalkannya Stella malah membuatnya bekerja sama dengan perusahaan Samuel. Walaupun kemungkinan besar dia tidak ada kemungkinan bertemu langsung dengan Samuel namun tetap saja pemilik perusahaannya adalah Samuel, lelaki yang paling di hindarinya.
Grace mengeluarkan sebutir obat dari botol obat kecil, langsung di masukkan ke dalam mulutnya untuk di telan.
Sebuah tangan mengulurkan sebotol air mineral kearah Grace. Grace yang menyadari itu langsung melihat siapa yang sukarela memberikan air mineral. Mata abu-abu itu membulat sempurna namun ia langsung mengambil air mineral itu dan meminumnya karena memang butuh minum agar obat yang di tenggaknya bisa masuk ke dalam tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan malam-malam disini" Ucap Grace tajam pada lelaki yang baru saja duduk di samping nya. Baru saja di pikirkannya, lelaki ini sudah berada di depannya saat ini.
Lelaki itu memberikan sebuah jas yang di pakainya dan memakaikan pada tubuh Grace. Grace membenci lelaki ini namun tubuhnya malah menghianatinya membuat tubuhnya membatu bagaikan es batu di freezer.
"Tidak ada hanya jalan-jalan saja" Ucap lelaki itu sambil tersenyum. Samuel mengambil tempat tepat di samping Grace agak jauh.
"Ini bukan wilayah mu. Ngapain juga berada disini" Ucap Grace masam. Mata abunya menatap lingkungan sekitar karena tidak ingin matanya menuju pada makhluk yang selama ini di hindarinya.
"Oh tentu seluruh gedung apartemen ini adalah milikku" Ucap Samuel dengan nada sombong. "Taman ini juga aku yang merancangnya" tambah Samuel itu lagi membuat Grace ingin memukul kepala Samuel saat ini.
"Kamu lihat panel surya di setiap tiang lampu di taman ini adalah permintaanku untuk menghemat biaya listrik di lingkungan ini" Ucap Samuel membanggakan dirinya.
"Aku membencimu ketika sombong Sam" Ucap Grace melepaskan jas yang digunakan dan ingin meninggalkan Samuel di kursi taman namun tangannya di tahan. Grace spontan melihat Samuel di belakangnya.
"Kemarilah dan temani aku duduk disini" Kata Samuel agak memaksa Grace. Kekuatan Grace yang tidak ada apa-apanya bagi Samuel hanya bisa mengikuti kehendak Samuel.
"Kamu minum obat apa itu?" Tanya Samuel agak kepo. Menurut pandangan Samuel, Grace terlihat tidak sakit dan baik-baik saja.
"Hanya obat sakit kepala biasa" Ucap Grace menatap lurus sandalnya tanpa menatap sang penanya.
"Kamu sakit? Akan ku panggilkan dokter Alvin" Ucap Samuel khawatir. Dia pun mengeluarkan handphone nya ingin menelpon dokter keluarganya.
"Tidak perlu" Balas Grace sambil membuang wajahnya membelakangi Samuel. Melihat sikap Grace membuat Samuel mengurungkan niatnya. Samuel mengambil jas yang masih di genggam Grace lalu kembali memakaikan pada tubuh Grace.
"Mengapa kamu selalu ada di sekitarku gentayangan seperti hantu. Aku melihatmu di balkon hotel dari kolam renang sesi fotoku. Kamu menolongku di Paris saat aku kram perut karena haid dan sekarang kamu datang lagi di hadapanku saat ini. Mengapa kamu menghantuiku dimanapun dan kapanpun" Ucap Grace dengan nada bergetar. Ia benci lemah tapi faktanya dia lemah pada Samuel. Ia benci Samuel, namun di sisi lain dia masih mencintai Samuel secara bersamaan. Ternyata perasaannya pada Samuel tidak berubah setelah tiga tahun kepindahannya di Paris.
"Kamu memang sengaja menyuruhku kembali ke New York dan bekerja sama dengan agensiku untuk melakukan pemotretan" Tambah Grace lagi masih di posisi membelakangi tubuh Samuel. Grace tidak memiliki nyali jika harus berhadapan langsung dengan Samuel.
"Perusahaanku sedang gencar-gencarnya melakukan promosi di properti yang kami jual. Salah satunya unit apartemen yang kamu beli. Kami masih perlu pengembangan penjualan properti di beberapa titik kota. Aku pikir dengan bekerja sama denganmu bisa meningkatkan penjualan" Ucap Samuel tersenyum.
"Apa kamu ingin menjadi Brand Ambassador perusahaanku?" Tawa Samuel lagi.
"Kamu memang merencanakan ini semua ya" Tuduh Grace sewot menatap Samuel dengan kebencian.
"Aku minta maaf tapi ini semua memang aku rencanakan" Ucap Samuel merasa tidak bersalah.
"Ya setidaknya aku bersyukur hanya bertemu dengan partner modelku dan para kru pemotretan. Tidak ada sangkut pautnya bertemu denganmu yang sebagai pemilik perusahaan. Jadi tidak perlu susah payah untuk menghindarimu" Grace langsung meninggalkan Samuel begitu saja.
Setelah sampai di kamar, Grace baru menyadari jika jas Samuel masih bersamanya. Ada rasa ingin mengembalikan namun diurungkan. Mungkin besok saja di kembalikan. Tubuh Grace melangkah mendekat kearah jendela yang menghadap ke taman tempat tadi diduduk. Mata abu-abu itu mendapati Samuel masih di posisi yang sama seperti sebelumnya. Grace tanpa sadar tersenyum miris melihat kehidupannya yang seperti ini.
Disisi lain tangannya memainkan cincin yang di berikan Benjamin sebelumnya. Sangat ingat sekali jika Benjamin memberikannya setelah makan siang dan sebelum berjalan-jalan mengelilingi kota New York.
Ada orang yang mencintainya disisi lain dia masih mencintai orang lain. Begitu mirisnya kisah cintanya. Grace hanya bisa menghapus air matanya dengan kasar. Dia tidak akan jatuh ke lubang yang sama lagi, biarkan Samuel berbahagia dengan wanita pilihannya sendiri.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Pagi ini Grace memiliki janji temu dengan seorang dokter atas rekomendasi dokter pribadinya di Paris. Hari ini dia memiliki sesi photoshoot sore, jadi dia agak santai saat ini. Dia juga sudah mengabari Stella jika dia ada urusan keluar pagi ini tanpa memberitahu kemana ia akan pergi.
"Permisi saya sudah memiliki janji temu dengan dokter Kaitlyn" Ucap Grace sopan pada gadis di meja informasi.
"Maksud anda ibu Kaitly Direktur rumah sakit?" Tanya gadis itu memastikan.
"Entahlah. Aku juga tidak tau karena aku mendapat surat rekomendasi ke rumah sakit ini dari rumah sakit di Paris" Ucap Grace sambil mengeluarkan secarik kertas dan di berikan kepada gadis di meja informasi.
"Benar nyonya, ibu Kaitlyn Direktur rumah sakit. Saya akan mengantarkan anda ke ruangannya" Ucap gadis itu ramah lalu mengantarkan Grace ke ruangan Kaitlyn.
Gadis itu mengetuk pintu besar hingga seseorang di dalamnya menyahut menyuruh mereka masuk.
"Maaf bu ini Nyonya Grace yang memiliki janji temu dengan anda. Saya pamit undur diri" Ucap Gadis itu pergi menyisakan Grace dan Kaitlyn.
Grace langsung melotot melihat Kaitlyn. "Anda bukannya ibunya Chris?" Tanya Grace dengan horor. Mengapa dunia ini begitu sempit harus bertemu dengan keluarga Alexanders lainnya.
"Ohhh hai Grace bagaimana keadaanmu?" Tanya Kaitlyn lembut penuh kasih sayang.
Rasa ingin kabur saat mengetahui jika dokter Kaitlyn adalah ibu Chris Alexanders. Tapi sudah tidak memungkinkan untuk kabur karena David dokter Grace pada saat di Paris sudah menghubungi Kaitlyn.
"Jadi anda Direktur rumah sakit?" Tanya Grace agak shock. Mata Grace melihat label nama dan jabatan Kailtyn di atas meja. Dan semua yang di katakan Kaitlyn adalah benar.
"Aku dokter onkologi dan kebetulan menjabat sebagai direktur rumah sakit" Balas Kaitlyn sambil terkikik kecil.
"Aku tidak menyangka nyonya adalah seorang dokter. Saya pikir hanya menjadi seorang ibu rumah tangga seperti wanita umumnya" Ucap Grace lagi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sudah tidak tau berbuat apa karena terlalu canggung di keadaan sekarang.
"Apa karena Houston billionare tetapi aku tidak boleh untuk berkarir?" Balas Kaitlyn lagi membuat Grace semakin salah tingkah.
"Duduklah dulu nak" Grace langsung duduk di kursi di seberang meja kerja Kaitlyn.
"Jadi bagaimana kabar David?" Tanya Kaitlyn basa-basi mengenai temannya di Paris.
"Dia baik-baik saja nyonya. Dia merawat saya dengan baik, bahkan dialah yang merekomendasikan anda kepada saya" Ucap Grace agak segan dengan aura keibuan Kaitlyn.
"Jika nyonya adalah seorang dokter, mengapa keluarga Alexanders memiliki dokter Alvin sebagai dokter pribadi keluarga?" Tanya Grace heran.
Kaitlyn tersenyum kecil. "Aku bukan tidak mumpuni untuk menangani kesehatan keluarga Alexanders melainkan mereka tidak percaya padaku dan memilih mengeluarkan uang untuk membayar dokter pribadi serta menyuruhku untuk bersantai"
Kaitlyn membuka berkas tentang Grace yang di kirimkan oleh sahabatnya David di Hôpital Européen Georges-Pompidou. Matanya lumayan terkejut pasalnya Grace memiliki penyakit ganas namun tampaknya Grace baik-baik saja.
"Bagaimana dengan pemeriksaan ulang disini. Biar aku lebih mudah untuk mendiagnosa dengan hasil terbaru?" Ucap Kaitlyn tersenyum. Dia tidak ingin membuat Grace menjadi takut karena penyakitnya.
Grace langsung mengangguk saja. Apa yang dilakukan seorang dokter di pastikan memberikan yang terbaik untuk pasiennya.
Kaitlyn memencet sebuah intercom dan tak lama orang yang di panggilnya datang.
"Antarkan Grace menjalani seluruh rangkaian pemeriksaan. Dan ini pemeriksaan yang di perlukan" Kaitlyn memberikan berkas pada laki-laki muda yang akan mengantarkan Grace melakukan pemeriksaan.
"Baik bu" Ucap lelaki muda itu patuh.
Setelah semua rangkaian pemeriksaan Grace kembali ke dalam ruangan Kaitlyn.
"Kamu pasti lelah. Istirahatlah. Pemeriksaannya begitu banyak step-nya ya?" Tanya Kaitlyn masih sibuk membuka berkas-berkas rumah sakit yang memerlukan tanda tangannya.
"Iya nyonya" ucap Grace sungkan duduk di sofa panjang di ruang tengah. Tak lama lelaki muda yang mengantarkan Grace sebelumnya datang dan memberikan berkas kepada Kaitlyn.
Kaitlyn membaca seksama berkas hasil pemeriksaan Grace. Grace langsung duduk di seberang meja kerja Kaitlyn.
"Aku tidak menyangka penyakitmu seserius ini Grace" Ucap Kaitlyn terdengar sedih.
"Sejak kapan kamu menyadarinya?" Tanya Kaitlyn menatap Grace dengan wajah pucatnya.
"Aku mengetahuinya saat berada di Paris beberapa tahun belakangan ini" Ucap Grace sendu.
"Kamu mengidap Glioblastoma. Penyakitmu sudah naik menjadi stadium 4 dan waktumu tidak lama lagi" Ucap Kaitlyn. Grace yang sudah mendengar dari dokter David hanya mengangguk membenarkan apa yang diucapkan oleh Kaitlyn.
"Rasa sakit kepalamu pasti lebih sakit dari biasanya beberapa hari belakangan ini" Empati dan rasa kasihan dari Kaitlyn membuat tangis Grace pecah saat itu juga.
"Kenapa aku harus mengidap penyakit mematikan ini sih" Ucap Grace meleraikan tangisannya. Berusaha kuat.
"Kemungkinan kamu akan mengalami kebutaan sementara karena sel kanker itu akan menekan saraf penglihatanmu. Kemungkinan besar akan kejang dan sakit kepala serta perubahan mood ekstrem. Dalam kasus seperti ini mungkin kamu memiliki sisa waktu berkisar 5-6 bulan. Tapi kami sebagai dokter tidak bisa memvonis umur hidup manusia, itu semua kembali kepada Tuhan" Ucap Kaitlyn membuat Grace semakin sedih.
"Akan ku resepkan obat dan kamu bisa mengambilnya di apotik rumah sakit" Ucap Kaitlyn sambil menggengam tangan Grace berusaha menguatkan Grace.
"Nyonya tolong sembunyikan penyakitku dari seluruh keluarga Alexanders ya. Ini rahasia kita berdua" Ucap Grace lagi berusaha tegar.
"Tentu. Itu adalah sumpah dokter akan menyimpan keadaan sebenarnya pasiennya" Balas Kaitlyn lagi sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih atas bantuannya nyonya. Saya pamit pergi" Ucap Grace lagi sambil keluar dari ruangan pribadi Kaitlyn/
-_Mr. Charming Alexanders_-
Grace sedang mondar mandir tak jelas. Bahkan kukunya tak luput dari gigitannya. Matanya terus-terusan menatap kearah jam dinding yang menunjukkan jam sudah melewati jam pemotretan.
"Kemana si Julio sialan itu" Gemas Grace pada Stella.
"Entahlah tidak seperti biasanya dia begini" Ucap Stella dengan nada khawatir.
Julio adalah rekan model se-agensi dengan Grace. Stella, Naomi dan William bertanggung jawab atas Julio dan Grace pada sesi pemotretan ini.
"Dia tidak bisa di hubungi. Aku akan pergi ke hotelnya saja" Ucap Stella mengambil kunci mobil di meja dekat Grace dan berlalu pergi.
"Sepertinya ada sesuatu yang menimpa Julio. Benar yang di ucapkan Stella, tidak biasanya Julio menghilang tanpa kabar ini" Balas Naomi sambil merapikan makeup Grace.
"Ah sayang sekali Julio tidak ada. Padahal aku senang melihat roti sobeknya" Ucap William masih sibuk melepaskan roller pink dari rambut Grace.
"Kamu ini yang dipikirin hanya lelaki-lelaki tampan saja" Goda Grace dari balik cermin di hadapannya.
"Haha aku memikirkan siapa yang akan menemaiku tidur malam ini" Ucap William dengan senyuman penuh arti.
"Julio juga gay?" Tanya Naomi agak tersentak, pasalnya Julio adalah cowok paling macho di agensinya.
"Tentu saja tidak. Tapi aku ssuka melihat perut kotak-kotaknya" Ucap William jujur sambil tersenyum malu.
"Kamu juga butuh teman tidur heh? Mengapa tidak menikah saja?" Tanya Grace lagi pada Willian namaun pembicaraan menereka terhenti karena suara telepon dari handphone milik Naomi sehingga Naomi menjauhi Grace dan William
"Aku ingin menikah jika aku menemukan yang cocok denganku. Tapi semua lelaki itu sama. Hanya ingin one night stand denganku mereka tidak ingin memiliki ikatan" Ucap William santai.
"Aku doakan semoga kamu menemukan tambatan hatimu" Ucap Grace tulus.
"Julio terkena musibah. Dia kecelakaan di jalan saat menuju kemari. Jadi kemungkinan pemotretan kali ini batal" Naomi kembali mendekat kearah Grace dan Willian setelah menutup telponnya. Pemberitahuan Naomi membuat Grace kesal. Padahal Grace sudah siap 95% namun batal begitu saja.
"Izin tuan, ingin menyampaikan jika sesi pemotretan miss Grace batal karena partner modelnya Julio Karl mengalami kecelakaan di perjalanan saat menuju tempat pemotretan" Lapor Kenzo pada Samuel yang duduk di meja kerjanya. Dirinya yang sebelumnya sibuk memeriksa berkas langsung berhenti seketika. Tatapannya penuh arti kepada tangan kanannya.
Senyum lebar mengembang di bibir Samuel. "Cepat antarkan aku ke sana" Ucap Samuel sambil membanting pulpen yang tadi di pegangnya.
"Baik tuan" Ucap Kenzo hormat.
Sesi pemotretannya berada di Long Beach, New York. Perusahaan Samuel menjual villa mewah disana yang di pastikan harganya ratusan juta dollar pasalnya pemandangan dari villa itu begitu cantik langsung mengarah pada pemandangan matahari tenggelam dengan suasana angin laut hilir mudik menyapa setiap orang yang berada disana.
Sebelum Grace kembali ke apartemennya karena sesi pemotretan batal, ia ingin menghabiskan waktu sambil melihat sunset yang begitu indah di ujung pandangannya. Angin sepoi-sepoi mendukung suasana tentram. Matanya terpejam menikmati sinar matahari yang mengenai wajahnya yang bergabung dengan dinginnya angin. Tangannya menggenggam erat pagar pembatas demi keselamatannya. Karena tidak lucu jika dia terjatuh dari setinggi tebing ini.
Sebuah tangan memberikan long coat nya pada tubuh Grace, membuat Grace memekik terkejut. Matanya membulat melihat siapa yang baru saja datang. Lelaki itu tersenyum lebar dan mengambil tempat di samping Grace melakukan hal yang sama yaitu menatap semburat jingga yang akan tenggelam.
"Apalagi yang kamu lakukan disini?" Ucap Grace menatap Samuel. Walaupun gelap mulai menyelimuti namun Grace masih bisa melihat Samuel dengan jelas.
"Ini propertiku ten-" Ucapan Samuel terputus ketika Grace yang meneruskan dengan nada mengejek. "Tentu saja aku bebas kemanapun yang kuinginkan"
Samuel semakin terbahak ketika tabiatnya benar-benar di pahami oleh Grace dengan baik. Bahkan ucapannya persis di tiru oleh Grace.
"Sudah ku bilang kamu tidak ada urusannya denganku sebagai model mengapa sih masih berkeliaran di sekitarku" Gerutu Grace sambil memanyunkan bibirnya. Samuel mencubit pelan pipi Grace karena gemas atas sikap Grace.
"Besok pagi kita masih ada sesi pemotretan diatas yacht" ucap Samuel sambil menatap rindu kearah Grace.
"What?? Kita???" Grace berjengit kaget menjauh dari Samuel.
"Iya benar. Aku akan menggantikan Julio untuk sesi pemotretan besok" Ucap Samuel lagi.
"Heiii! kamu pikir manjadi model itu gampang. Kamu harus memiliki teknik dan angle terbaik untuk seorang model. Tidak semudah itu broow" Protes Grace sambil menunjuk-nunjuk dada Samuel.
"Aku pernah menjadi model, jika kamu tau" Ucap Samuel dengan menepuk dadanya bangga.
"Yeah model majalah Forbes" Ucap Grace jengah. "Jika berpose duduk di atas single sofa atau di depan meja, semua model sudah pasti bisa. Aku saja bisa" Ucap Grace kesal sambil menirukan wajah serius dan menatap tajam kearah depannya. Entah mengapa akhir-akhir ini semakin sering bertemu Samuel, semakin sering pula ia merasa kesal.
Grace menghentakkan kakinya kesal meninggalkan Samuel. Dia baru menyadari jika long coat Samuel masih di pakainya, baru saja ingin mengembalikan pasa Samuel tapi lelaki itu hilang begitu saja seakan di telan ombak pantai dari bawa villa ini.
'Hah aku harus mengembalikan jas dan long coat nya Samuel besok' Ucap Grace melangkah pergi meninggalkan villa saksi bisu pertemuannya dan Samuel yang kedua kalinya setelah tiba di New York.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Love, Jun-JunFish
SMD, 3-11-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top