Chapter 14
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading 😁
-_Mr. Charming Alexanders_-
Pagi ini sesuai dengan jadwal. Grace bersama Samuel datang tepat waktu. Saat ini Naomi masih mendadani Grace sedangkan William sedang melakukan styling pada rambut Samuel. Grace dan Samuel duduk bersebelahan di meja rias yang di sediakan.
"Tema pemotretan pagi ini adalah berlibur di yacht pribadi" Ucap Stella sambil membawa berkas tema pemotretan selama job kerjasama agensi nya dengan S'Alexanders Company.
"Aku, Naomi dan William akan tinggal disini. Kalian terbagi menjadi 2 kelompok yacht, sang potograper dan asistennya sedangkan tuan Samuel bersamamu Grace." Jelas Stella sibuk membuka berkas di tangannya.
Grace melotot tak terima "Kalian harus ikut di satu yacht denganku" Suara Grace terdengar seperti perintah bukan permohonan.
"Tidak Grace" Bantah Stella mentah-mentah.
"Jika kamu tidak ikut, tidak apa-apa tapi aku pasti membutuhkan Naomi" Kini Grace mempertahankan alibinya. Tangannya sudah menggandeng lengan Naomi dengan erat.
"Aku akan membutuhkan Naomi demi penampilanku yang harus extra ordinary bukan seperti itu Naomi?" Tanya Grace pada Naomi yang terkejut atas pertanyaan Grace begitu mendadak untuknya.
Naomi hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Soalnya ini adalah permintaan Stella, dia tidak berani melawan Stella karena hidupnya bergantung pada pendapatannya yang diatur Stella. Naomi membalas Grace dengan gelengan kepala canggung, nyalinya terlalu besar jika harus berhadapan dengan sang manager galak itu.
"Please...." Grace memohon dengan melakukan puppy eyes-nya.
"Kamu berusaha bernegosiasi denganku? Jawabannya tetap tidak Grace" Stella menaikkan nada suaranya dengan tegas. Stella langsung memisahkan Grace dan Naomi.
Mendengar keributan diantara mereka membuat Samuel yang tampak tampan dengan set suit birunya itu bangkit dan mendekat kearah Grace. Mata birunya menatap seksama pakaian yang di kenakan Grace. Grace sangat cantik dengan dress santai namun tetap terkesan seksi karena terdapat belahan panjang hingga pangkal pahanya senada dengan warna yang digunakan Samuel.
"Kamu sangat cantik sekali hari ini" Bisik Samuel di telinga Grace.
"Selama ini aku memang cantik, mungkin kamu saja yang baru tau" Kesal Grace sambil mengibaskan rambut pirang pasirnya hingga mengenai pipi Samuel. Samuel melihat itu hanya bisa tersenyum senang, entah mengapa melihat sifat Grace yang percaya diri itu membuatnya bahagia.
Grace mengambil dua goodie bag besar dan di lemparkan pada lantai tepat di hadapan Samuel.
"Jangan lagi kamu memberikan jas atau apapun untukku" Ancam Grace pada Samuel, matanya pun tidak menatap ramah pada lawan bicaranya itu seakan mengeluarkan laser dari matanya.
Samuel hanya diam dan memungut apa yang di lemparkan Grace sebelumnya. Harga dirinya sebagai laki-laki sedikit terinjak karena apa yang di lakukannya pada Grace malah di kembalikan dengan rasa tidak menghargai sedikitpun. Rahang Samuel pun mengetat karena itu. Tak lama Kenzo datang dan mengambil paper bag milik tuannya.
Sang fotografer sudah menyuruh Grace dan Samuel naik ke dalam yacht yang mungkin muat 4-5 orang sedangkan fotografer dan asistennya berada di kapal speedboat kecil. Samuel mengemudikan yacht hingga di rasa agak ke tengah laut begitu pula dengan fotografer.
Mereka langsung memulai sesi pemotretan. Sesi pemotretan pertama di lakukan masing-masing di belakang yacht. Setelah sesi pemotretan Samuel dan Grace masing-masing kini sesi pemotretan yang memerlukan keduanya.
"Pegang dadanya Grace" Ucap sang fotografer sambil bersemangat memberikan arahan.
Grace menggerutu karena sang fotografer sepertinya tidak bisa melihat situasi diantara keduanya. Samuel dan Grace sedang dalam fase cold war. Grace enggan mendekat kearah Samuel apalagi sampai menyentuh dada Samuel seperti yang diintruksi oleh fotografer alhasil Grace menjaga jarak 30 centi dari Samuel.
Tanpa suara Samuel menarik Grace mendekatnya sehingga tubuh mereka saling bersentuhan, mata Grace seketika itu juga melotot. Samuel menarik tangannya dan menaruh di dada Samuel. Melihat ekspresi terkejut Grace membuat Samuel tersenyum miring.
"Bersikaplah profesional nona Grace. Hilangkan masalah pribadi dalam urusan pekerjaan. Bukankah dulu kamu yang meminta dirimu untuk tetap menjadi model. Saat ini aku memperbolehkan" Bisik Samuel di telinga Grace seakan menggoda gadis itu.
Kelakuan Samuel benar-benar membuat Grace bushing karena merasa ia menjilat ludahnya sendiri. Ingat sekali dirinya pernah berjanji pada Samuel jika dia akan profesional saat menjadi model, tidak ada hubungan lebih jauh dengan rekan-rekan kerja lelaki model lainnya.
"Ganti gaya!" Teriak fotografer lagi.
Grace menarik nafas pasrah dan mengikuti apa yang diintruksikan fotografer menyampingkan segala kebenciannya pada Samuel hingga sesi pemotretan selesai.
"Kalian pergilah dulu, aku akan tetap disini sebentar" Usir Samuel pada fotografer dan asistennya. Grace sedang masuk ke dalam yacht ingin mengambil selimut namun selimut yang seharusnya di taruh oleh Stella kini tidak ada.
"Samuel kamu tau selimut yang berada di dalam?" Tanya Grace pada Samuel yang berada di dek depan yacht.
Samuel mengangkat bahunya tak tau dan lanjut menatap kearah laut di hadapannya. Mata abu-abu itu melotot kala sebuah selimut mengambang diatas air laut di samping yacht.
"Pasti kamu kan yang sengaja membuangnya?" Raung marah Grace sambil membelakangi Samuel, si pemancing emosinya.
Seketika itu juga mata abunya melotot kala melihat speed boat fotografernya sudah menjauh dari pandangannya.
"Loh mereka pergi tanpa memberi tahu kita??" Tanya Grace agak marah, seharusnya jika kembali seharusnya mengajaknya bersama-sama bukan malah sendiri-sendiri seperti ini.
"Apa lagi yang kamu perbuat Samuel Jhon Alexanders!" geram Grace namun berusaha di tahan. Ingin sekali mencekik lelaki ini. Kalo bisa di cincang-cincang dan digiling. Grace meniup poni rambutnya sebagai lampiasan kekesalannya.
Samuel menarik tangan Grace hingga posisi Grace berada di pelukannya, karena Samuel berada di ujung yacht membuat keadaan Grace seakan ingin di ceburkan oleh Samuel namun Samuel menahan tubuh Grace agar tidak tercebur di air laut.
"Seperti inilah aku membuang selimutmu" Saat itu juga Samuel melepaskan tubuh Grace sehingga Grace tercebur ke laut. Gerakan secepat itu membuat kepala Grace berdenyut sakit di tambah lagi tubuh Grace yang belum siap semakin memperparah keadaan Grace. Karena kepanikannya Grace berusaha menggapai permukaan air laut namun tidak bisa, dia pun sudah tersedak oleh air asin di mulutnya.
Samuel yang awalnya ingin bercanda pada Grace kini malah khawatir karena setau dirinya Grace bisa berenang. Samuel memutuskan untuk mencebur mencari Grace yang tak muncul-muncul juga di permukaan.
Mata biru Samuel mendapati Grace tampak lemas dan mulai tenggelam. Secepat kilat Samuel menarik dan membawanya keatas yacht. Samuel menepuk-nepuk pipi Grace agar kesadarannya kembali. Kesadaran Grace masih setengah hingga Samuel harus mengembalikan kesadaran Grace sepenuhnya.
Suara batuk dan air laut yang di telan Grace telah keluar dari mulut Grace membuat Samuel lega.
"Kau benar-benar merencanakan pembunuhan padaku ya" Tuduh Grace lemah sambil berusaha duduk. Kepalanya masih terasa nyut-nyutan.
"Kamu juga lemah sekali, padahal kamu saja bisa berenang, mengapa bisa tenggelam bodoh" Ucap Samuel memukul pelan kepala Grace gemas. Samuel lalu menggerak-gerakkan tubuhnya yang bayah kuyup setidaknya berusaha mengeringkan tubuhnya.
"Semua orang yang bisa berenang pun tetap akan tenggelam jika terkejut, bodoh" Ucap Grace kesal sambil berjalan kearah bagian tengah yacht.
Tubuhnya menggigil kedinginan, bibirnya pun membiru bergetar. "Kamu kenapa? Kamu kedinginan?" Tanya Samuel sambil melihat seksama tubuh Grace. Begitu menyedihkan. Pakaian agak terbuka menembus di penglihatan Samuel karena basah, rambut acak-acakannya juga basah begitu memprihatinkan.
"Aku kedinginan karena ulahmu juga" Ucapan Grace terdengar bergetar karena memang dia cukup lama berada di air, walaupun cuaca panas tapi kesehatannya kurang sehat.
Pandangan Grace agak goyang karena entah mengapa tubuhnya terasa menggigil. Samuel langsung merobek pakaian Grace hingga meninggalkan pakaian dalamnya, Samuel langsung melepaskan bajunya dan membuat Grace langsung memeluk tubuhnya. Skin to skin akan mengurangi efek kedinginan. Di dalam yacht ini tidak ada selimut ataupun kain kering karena sudah basah semuanya. Tidak ada yang bisa digunakan untuk menghangatkan tubuh Grace.
Keduanya lalu berjalan kearah dek depan di mana tempat pengemudi yacht. Samuel langsung duduk di kursi pengemudi dan menaruh Grace di pangkuannya sambil memeluk tubuhnya. Untung saja tempat dimana pengemudi di desain tertutup, jadi mengurangi resiko kedinginan untuk Grace di tambah lagi sinar matahari membias dari kaca depan membuat keduanya mendapatkan kehangatan.
Samuel menyalakan mesin yacht dan mulai menjalankan yachtnya.
"Maafkan aku, tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Awalnya aku hanya berniat untuk berenang bersama sambil menikmati suasana" Ucap Samuel menyesali perbuatannya. Tangannya pun mengelus rambut Grace yang basah. Grace sendiri masih terdiam menerima kehangatan yang bersumber dari kulit Samuel. Bahkan kepalanya sudah berada di leher Samuel menyingkirkan rasa dingin yang tiba-tiba menderanya.
"Kita tidak bisa balik ke villa karena jaraknya lumayan jauh. Sepertinya kita minta pertolongan pada pulau terdekat. Aku rasa disana pasti ada tenaga medis" ucap Samuel benar-benar tidak dihiraukan Grace pasalnya Grace berusaha menenangkan dirinya dan berupaya agar tubuhnya lebih baik dari sebelumnya. Tubuhnya pun masih bergetar kedinginan.
Setelah sampai di sebuah pulau yang tidak di ketahui namanya oleh Grace. Samuel menggendong Grace dengan tubuh yang ditutupi oleh jas basah Samuel.
"Ada yang bisa saya bantu tuan" Seseorang berbicara pada Samuel yang baru saja turun dari yacht pribadinya.
"Dimana ada rumah sakit terdekat?" Tanya Samuel pada lelaki berumur 50-an itu. Pakaian kaos dan celana training panjang berwarna pudar. Topi bulat pun menghiasi kepalanya. Sepertinya masyarakat lokal yang sedang pulang melaut.
"Perkenalkan saya Smith saya nelayan di pulau ini tuan. Maaf tuan disini tidak ada rumah sakit, jika harus kerumah sakit harus menyebrang ke kota seberang" Jelas Smith sambil mengapus peluhnya dengan handuk kecil yang tersampir di pundaknya. Samuel menghela nafas, yang di maksud rumah sakit oleh Smith adalah wilayah daratan tempat villanya berada dan itu sangat jauh sekali dari sini.
"Hotel terdekat dimana?" Tanya Samuel lagi.
"Maaf tuan disini tidak ada hotel ataupun penginapan. Seluruh rumah disini di tinggali oleh masing-masing keluarga. Jika ingin menginap bisa di rumah saya. Dirumah saya hanya saya, istri saya dan anak saya" Balas Smith.
"Baiklah saya akan kerumah anda, tapi sebelumnya bisakah panggilkan tenaga medis untuk membantu gadis ini" Ucap Samuel sambil menunjuk Grace yang masih di pelukannya dengan matanya.
"Baik tuan" balas singkat Smith. Tak lama Smith memanggil pemuda umur 25 tahunan untuk menunjukkan jalan kerumah mereka dan Smith berpisah di perempatan karena harus memanggil dokter sekitar.
"Tidak sopan menatap orang lain seperti itu" Ucap Samuel dingin pasalnya dia melihat anak Smith menatap tertagun kearah Grace yang masih menggunakan dalaman hanya tertutup jas Samuel.
"Ahh-maaf" Ucap lelaki muda itu salah tingkah.
"Namamu siapa?" Tanya Samuel mulai mengikuti langkah lelaki muda di depannya.
"Perkenalkan nama saya Samuel Jonathan Smith" Ucap Joe mengulurkan tangannya di balas Samuel jika tangannya sedang menggendong tubuh Grace.
"Baiklah" Ucap Joe kecewa karena uluran tangannya tidak bisa di terima lalu dia melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Samuel.
"Namaku Samuel Alexanders" Ucap Samuel tiba-tiba membuat Joe terbelalak dan spontan membalikkan tubuhnya.
"Hey nama kita sama! Dirumah aku di panggil Samuel juga" Ucap Joe bahagia pasalnya kebetulan seperti ini sangat jarang terjadi. Otaknya kembali memproses.
Samuel Alexander------Samuel Alexanders??
"Lohhh Samuel Alexanders bukannya billionare sepupu Chris dan Tristan Alexanders?" Mata pemuda itu terbelalak kaget. Samuel hanya mengangguk membenarkan apa yang diucapkan Joe.
"Cepat masuklah daddy-mu sudah memberitahu mommy jika ada yang membutuhkan pertolongan" Teriak wanita berumur 45 tahunan itu keluar dari pagar kayu. Rumah kayu yang berukuran kecil, cat orennya bahkan nyaris pudar. Rumah yang kurang layak untuk di tinggali karena kayunya sudah tidak kokoh.
"Masuklah" Ucap Ibu itu ramah sambil tersenyum tangannya mempersilahkan Samuel masuk kerumahnya "Panggil aku Miley ya" Ucap Miley sambil memperkenalkan dirinya pada Samuel.
Miley menyuruh Samuel menaruh Grace yang tertidur di atas tempat tidur dan menyelimutinya.
"Kalian pergilah dari kamar aku akan mengurus gadis ini. Aku sudah menyiapkan makanan di meja makan ajaklah tuan ini makan" Perintah Miley pada Samuel dan Joe.
"Samuel berilah pakaianmu untuk digunakan karena tuan itu basah kuyup" Teriak Miley pada Joe. "Baik mom" balas Joe sambil teriak juga.
Tak lama Joe kembali ke hadapan Samuel, memberikan sepasang hoodie dan celana training warna abu-abu muda.
"Maaf tuan hanya ini saja pakaian baru yang belum pernah di pakai, aku tidak mungkin memberikan tuan pakaian bekas saya" Ucap Joe agak segan.
"Baiklah. Aku akan numpang berganti pakaian di kamarmu ya?" Ucap Samuel dengan nada mulai ramah. Pasalnya dia dari tadi masih agak kesal karena mata jelalatan Joe yang berani menatap lancang Grace.
"Silahkan" Ucap Joe mempersilahkan Samuel dengan membuka pintu kamarnya.
Setelah berganti pakaian, Samuel berjalan menuju meja makan yang dimana Joe sudah berada disana. Samuel mengambil tempat di sebrang Joe.
"Ayo di makan tuan" Ucap Joe ramah. Mata Samuel memindai makanan yang di sediakan. Makanan sederhana khas masakan rumahan. Rasanya selama hidup dirinya tidak pernah makan makanan sesederhana ini.
"Aku tidak bisa makan makanan seperti ini" Ucap Samuel jujur. Tiba-tiba Miley datang dan duduk di samping Joe. Tangannya langsung memotek sebagian ikan goreng dan ditaruh tepat diatas nasi di hadapan Samuel.
"Makanlah, ikan tuna ini sangat enak" Ucap Miley sambil memberikan potekan ikan pada nasi Joe anaknya. Joe tanpa ragu langsung memakan apa yang di berikan Miley dengan lahap.
"Ikan tuna ini hasil tangkapan Smith tadi pagi, di jamin masih segar. Tak perlu meragukannya" Ucap Miley sambil tersenyum menenangkan khas seorang ibu. Samuel melihat itu semakin bingung harus makan apa yang di sajikan Miley.
Joe menatap Samuel dengan sedikit mengangguk karena setidaknya Samuel menghargai makanan yang di buatkan oleh mommynya.
Samuel dengan ragu menyuap nasi yang diatasnya ada daging ikan. Pada saat sudah di kunyah membuat Samuel terkejut, ternyata ikan tuna buatan Miley memiliki rasa segar dan manis secara bersamaan. Samuel pernah banyak mencoba masakan koki restoran atau hotel terbaik tapi ini rasanya memang berbeda. Samuel tanpa ragu kembali menyuapkan nasinya yang tentunya tunanya kali ini sudah di berikan oleh Miley untuknya.
"Enak kan buatan mommyku?" Tanya Joe tersenyum melihat Samuel seperti orang yang baru kali ini mencicipi makanan terenak.
"Ini enak dagingnya fresh dan manis. Aku tidak mendapatkan rasa ini pada tuna yang sering kumakan" Ucap Samuel jujur sambil tersenyum kecil.
"Biasanya tuna yang warga sini tangkap langsung di bekukan dan di jual dalam keadaan beku agar tetap terjaga kualitas dagingnya tapi akan tetap kalah dengan tuna fresh yang baru di tangkap" Ucap Miley sambil tertawa kecil.
"Makanlah yang banyak" Kini Miley memberikan sebuah ikan tuna goreng utuh di piring Samuel. Samuel menerimanya dengan senang hati termasuk pada saat Miley menuangkan sebuah sayur sebagai pelengkap makan Samuel. Dia memakannya dengan lahap dan bahagia.
Mengapa Samuel terasa bahagia dan merasa hangat dengan kesederhanaan ini. Padahal hidupnya dipenuhi kemewahan, tidak kekurangan sedikitpun. Tempat tinggal dan kendaraan pun sangat amat mewah. Mengapa rasa bahagia ini terasa berbeda dari yang biasa dia dapatkan.
"Apa pekerjaanmu saat ini Joe" tanya Samuel pada Joe yang sama sepertinya menikmati makan.
Joe terdiam dan tertegun. "Dia hanya membantu Smith menangkap ikan" jawab Miley sambil ikut makan bersama Joe dan Samuel.
"Apakah ada pekerjaan yang kamu inginkan Joe?" Tanya Samuel lagi seraya menatap Joe dengan seksama. Joe sedikit gugup hingga menelan makanannya dengan susah payah.
"Aku memiliki bakat memanah dan menembak. Itu medaliku" Ucap Joe sambil menunjuk jejeran medali menghiasi dinding ruangan tengahnya.
"Miley apakah aku boleh membawa Joe untuk memiliki pekerjaan yang lebih baik lagi?" Kali ini Samuel menatap Miley serius. Anak sehebat itu memilih meneruskan pekerjaan daddy nya karena tidak ada pilihan.
Miley mengangguk setuju. "Aku sebagai orang tua hanya mendukung apa yang diinginkan anakku. Jika itu yang dia inginkan akan ku perbolehkan" ucap Miley lugas.
"Aku mau tuan Samuel" ucap Joe dengan semangat.
Samuel tersenyum hangat bahkan dengan kehadirannya disini dia mendapatkan potensi besar dari pemuda di pulau terpencil. Itu sangat jarang terjadi.
-_Mr.Charming Alexanders_-
Love, Jun-JunFish
Smd, 3-11-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top