Chapter 12
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading 😁
-_Mr. Charming Alexanders_-
"Grace" Chris mendatangi Grace yang masih di hadang oleh pelayan. Pelayan itu melepaskan Grace karena benar jika Grace mengenal pelanggannya.
"How are you?" Tanya Grace langsung memeluk Chris dan mencium pipi Chris.
"Aku baik-baik saja" Ucap Chris tersenyum pada sahabat istrinya. Grace sudah dianggap sebagai sahabatnya juga. Chris menghargai Grace karena Gracelah menjadi saksi bagaimana perjalanan hidupnya untuk mendapatkan kembali hati istrinya.
"Mari ikut bersamaku" Ucap Chris lagi menuntun Grace kearah meja tempatnya tadi.
"Tunggu sebentar ya aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan untukmu" Ucap Chris sambil merapikan berkas dan laptop yang tadinya berhambur memenuhi meja besar itu.
"Kamu habis rapat dengan klien?" Tanya Grace. Chris mengangguk membenarkan. Lalu menarikan kursi untuk Grace duduk di seberangnya.
"Sudah selesai atau baru mau rapat. Maaf jadinya aku malah mengganggumu" Ucap Grace merasa bersalah. Merasa merepotkan Chris harus merapikan berkas-berkas yang lumayan cukup banyak.
"Sudah selesai kok, tenang saja Grace. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu padaku" Ucap Chris lagi. Sifatnya dia semakin hangat ketika mulai kembali bersama Angela membuat Grace lebih senang. Ia sangat yakin jika sahabatnya akan selalu bahagia bersama Alexanders satu ini.
"Seleramu cukup keren juga. Like a Gen-Z huh?" Goda Grace sambil memerhatikan interior restoran. Pasalnya bagaimana Chris bisa kepikiran untuk bertemu klien di restoran paling menjamur di kalangan anak muda seperti ini.
"Haha benar. Sera memilihkan restoran ini, karena klien kami memang berusia awal 20 an" Ucap Chris tertawa pelan.
"Sangat tidak cocok untuk baby boomers sepertimu" Ledek Grace lagi pada Chris membuat Chris lebih terbahak.
"Terlihat mencolok tuanya ya?" Tanya Chris meleraikan tawanya.
"Yeah. Karena seleramu tentu membahas pekerjaan di kantor ataupun di restoran mewah" Ucap Grace sambil memutarkan matanya.
"Saat ini demi klien harus menutup satu restoran ini. Entah berapa duit yang kamu hamburkan Chris" Grace tertawa kecil.
"Yeah setidaknya kerjasama ini bisa menguntungkan kisaran 2milyar USD. Aku tidak keberatan untuk menyewa 10 restoran seperti ini" Ucap Chris agak sombong. Rasanya ingin sekali memukul Chris karena ke angkuhan dan sombongnya.
"Wait, aku tadi mendengar bahwa klienmu seorang anak muda, right?" Tanya Grace bersemangat.
Chris mengangguk sambil menatap heran Grace, sepertinya ada sesuatu yang akan di lakukan oleh Grace pada kliennya.
"Boleh kenalkan aku padanya. Bagaimana bisa di umur muda bisa memiliki uang sebanyak itu. Bisa saja dia jodohku" Ucap Grace bersemangat membuat Chris berdecak sebal dan mengabaikan Grace yang mulai tersenyum-senyum sendiri membayangkan dirinya dengan lelaki yang lebih muda darinya.
Tak lama berselang itu beberapa pelayan menaruh banyak menu makan siang di meja besar itu. Hingga memenuhi meja, sudah di pastikan lebih dari 20 menu terhidang di meja.
"Gila kamu Chris. Ini banyak sekali untuk kita berdua makan" Ucap Grace heran pada Chris. Sedangkan Chris hanya tertawa saja tanpa menyahuti Grace.
"Bagaimana keadaan Angela dan baby Carl?" Tanya Grace.
"Mereka baik dan Carl sudah tumbuh besar dan dia akan menjadi seorang kakak" Ucap Chris mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Mata Grace membulat sempurna. "Jadi Angela sekarang hamil?" Tanya Grace berteriak heboh.
"Benar" Ucap Chris lagi.
"Sebesar apa sudah baby Carl?" Tanya Grace antusias pada ponakan tampannya yang satu itu. Grace kembali mengingat baby Carl yang masih bayi saja sudah begitu tampan apalagi ketika mulai besar, sangat tidak bisa di bayangkan.
Chris tersenyum dan memperlihatkan foto terbaru baby Carl dari ponsel yang sudah di jadikan lockscreen.
"Oh my god dia tumbuh menjadi anak yang tampan. Lihat lah lesung pipi itu pasti menjadi pusat perhatian para perempuan saat besar nanti. Ah imutnyaaa" Ucap Grace happy.
"Benar, waktu kecil begini saja sudah menjadi pusat perhatian orang apalagi ketika besar" Ucap Chris setuju dengan Grace. Jangan tanyakan pada Chris, pasalnya Carl adalah cucu favorit para nenek-kakek Alexanders.
"Haha sudah 3 tahun ya aku tidak bertemu dengan Angel dan baby Carl" Tawa ironi Grace. Tampak ada sesuatu yang di sembunyikan. Entah apa, Chris juga tidak mengetahuinya. Lebih tepatnya agak membatasi kehidupan pribadi Grace dan Samuel dengan dirinya.
"Benar mereka merindukanmu" Ucap Chris tersenyum tipis. Mata birunya mentap Grace tampak lebih kurus daripada terakhir mereka bertemu.
"Bagaimana hubunganmu dengan Samuel?" Tanya basa basi Chris. Padahal sangat jelas seorang Alexanders tidak mungkin tidak mengetahui satu sama lain.
"Dia pernah menolongku saat aku sedang sakit saat di Paris. Itu pertemuan terakhirku, setelah itu aku tidak pernah bertemu dengannya selama disini" Ucap Grace sendu. Otaknya memikirkan seharusnya keadaan Samuel pasti bahagia bersama Alice.
"Kamu merindukannya?" Tembak Chris membuat Grace tersedak. Spontan Chris memberikan segelas air putih pada Grace dan langsung di tenggaknya.
"Ak-kku" Ucap Grace bingung mau menjawab apa.
"Entah apa yang di pikirkan di kepala tolol Samuel itu. Beberapa tahun lalu memindahkan pusat perusahaannya ke Paris namun belakangan ini aku mendengarnya dia mengembalikan pusat perusahaannya ke New York berarti dia akan kembali ke New York dalam waktu dekat ini" Cerita Chris pura-pura bodoh. Seakan memberikan clue untuk Grace entah bisa di pahami atau tidak untuk kepala cantik Grace.
"Maaf karena kelakuan sepupuku itu membuat hati mu bingung. Dia juga di landa kebingungan harus memilih kamu atau Alice. Dia memilih Alice karena Felix, jadi wajar saja orang tua pasti lebih memikirkan anaknya dan menyampingkan perasaannya" Tambah Chris lagi.
"Apa dia pernah memikirkan bagaimana perasaanku?" Tanya Grace dengan senyum terpaksa. Di dalam hatinya terdapat cubitan-cubitan kecil yang tak terlihat membuatnya sakit.
"Aku lebih baik tidak di jadikan pilihan. Lebih baik aku yang mundur, tidak apa-apa hatiku sakit tetapi itu membuatku lebih kuat dari sebelumnya" Ucap Grace tersenyum berusaha tetap tegar.
"Setelah pemotretan disini aku akan secepatnya pergi dari sini" Ucap Grace tegas.
"Aku tidak bisa melarangmu. Tapi setidaknya jika kamu berada disini, bisakah kamu menemui Angel dan Carl? Mereka sangat merindukanmu" Chris memohon pada Grace. Permohonan suami sahabatnya mana mungkin bisa di tolak. Ini permohonan sebagai suami dan ayah.
"Baiklah setelah semua pemotretan aku akan berkunjung" Ucap Grace mulai bangkit setelah menyelesaikan makannya.
Tepat di samping kursi Chris dia tersandung oleh kakinya sendiri membuat Chris langsung menolong Grace. Suasana begitu awkward saat ini Grace berada di pelukan Chris.
"Terimakasih telah menolongku" Ucap Grace melepaskan diri dari Chris dengan keadaan canggung.
"Berhati-hatilah jika menggunakan heels setinggi itu" Ucap Chris santai sambil merapikan suit yang di kenakannya.
"Aku sudah terbiasa dengan sepatu seperti ini tapi namanya hari apes tidak ada di kalender" Ucap Grace sambil mengibaskan rambutnya. Lalu pergi meninggalkan Chris sendirian di restoran.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Hari ini masih hari libur pra-pemotretan di New York. Stella masih sibuk dengan urusan dokumen kerjasama bersama para vendor yang menyewa jasa model Grace. Untuk Naomi dan William entah mereka berada dimana Grace tidak mengetahuinya.
Hi Ben. Kamu masih ada di Amerika? Belum balik ke UEA?
Grace memberi pesan pada Benjamin. Setelah perpisahannya di bandara, Benjamin dan dirinya benar-benar tidak saling berkabar. Benjamin pun tidak pernah mengabarinya dan Grace sibuk kepindahan sementaranya di New York.
Ada apa Grace? Aku saat ini di kedubes UEA, Manhattan - Benjamin
Grace tersenyum kala Benjamin ternyata masih berada di Amerika.
Lunch bareng? - Grace
Kirim saja alamatnya. Jam setengah 1 siang di tempat ya - Benjamin
Oke - Grace
Grace tampak cantik dengan dress selututnya berwarna senada dengan rambut pirangnya. Aksen emas begitu menambah kesan luxury pada pakaian yang di kenakan Grace. Rambut pirang bergelombangnya di modelkan pony tail membuat Grace tampak muda dari umurnya. Tidak ada kesan dewasa hanya meninggalkan kesan manis di wajah Amerikanya.
Grace sudah mendapat nomor antrian restoran itu sambil celingak celinguk mencari keberadaan Benjamin. Ini sudah lewat lima belas menit dari yang di tentukan.
Beberapa pasangan juga rela antri untuk mendapatkan tempat di restoran ini. Sistem reservasinya pun tidak umum, mereka akan memberikan nomor antrian sesuai kedatangan.
"Maaf aku terlambat" Ucap Benjamin ngos-ngosan layaknya abis lari 5 kilo.
"Tidak apa-apa lagipula nomor antrian kita belum di panggil juga" Ucap Grace masih tersenyum.
"Mengapa dirimu berlari?" Tanya Grace heran menatap Benjamin yang menghapus keringat di pelipisnya.
"Aku harus berlari karena macet sekali kota ini. Aku lari saja masih terlambat" Ucap Benjamin melirik jam tangannya. Benjamin langsung duduk di samping Grace sambil menengkan dirinya yang masih ngos-ngosan.
Benjamin begitu tampan dengan suit tiga lapisnya dengan pin satu bintang di dada kirinya. Pin yang terbuat dari bahan kuningan tidak dapat luntur.
"Apa arti dari pin bintang satu itu" Ucap Grace sambil menunjuk pin bintang satu.
"Bintang satu artinya anggota kerjaan UEA" Membuat Grace mengangguk paham.
Tak lama datang Syauqi dan beberapa orang berpakaian hitam ngos-ngosan persis seperti Benjamin sebelumnya. Semuanya berhenti tepat di hadapan Benjamin.
"Tuan jika ingin cepat bukan malah lari dan meninggalkan kami" Nada bicara Syauqi agak jengkel pada Benjamin. Namun yang di marahi-nya tidak memperdulikan Syauqi malah tetap memandangi Grace yang cantik di sebelahnya.
"Prince" Panggil Syauqi kala dirinya diacuhkan oleh Benjamin yang masih fokus menatap Grace.
"Pergilah kalian. Aku akan bersama Grace disini" Usir Benjamin tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Grace.
"Baiklah" Ucap Syauqi menarik pasukannya dari hadapan Benjamin.
"Kenapa kita berada di luar?" Tanya Benjamin menyadari jika mereka belum mendapatkan meja makan masih berada di sebuah kursi antrian luar restoran.
"Kita menunggu antrian" Ucap Grace sambil menunjukkan nomor antriannya ditangannya.
"Makan saja harus sampai mengantri?" Tanya Benjamin heran. "Emangnya seenak apa makanannya hingga harus mengantri hanya demi makanan saja"
"Bisa diam atau tidak jadi ku traktir" Ancam Grace sambil melotot pada benjamin.
"Selama hidupku aku tidak pernah menunggu seperti ini" Kata Benjamin sombong tapi dia mengecilkan suaranya takut menyinggung pihak restoran ataupun Grace. Benjamin berharap Grace tidak terlalu mendengar ucapannnya, namun nyatanya Grace mendengar jelas ucapan Benjamin.
"Baiklah" Ucap Grace merajuk bangkit dari kursinya.
"Tidak-tidak. Aku akan menunggu" Ucap Benjamin merasa bersalah, tangannya menghentikan Grace yang hendak pergi. "Aku ingin Mencoba experience baru?" Tambah Benjamin agak tidak yakin pada dirinya namun dirinya berusaha meyakinkan Grace membuat Grace pun kembali duduk dengan wajah tertekuk.
"Sudahlah tidak baik seorang gadis cemberut seperti itu" Benjamin mencubit gemas pipi Grace yang memelototi lelaki itu.
"Harusnya seperti ini" Benjamin menarik kedua ujung bibir Grace membentuk sebuah senyuman. Senyuman terpaksa di lemparkan pada Benjamin membuat lelaki itu juga tersenyum.
"Antrian 115" Teriak pelayan membuat Grace dan Benjamin serentak berdiri dan pelayan itu mengarahkan mereka sebuah tempat duduk dimana di seberang mejanya terdapat wajan pemanggang seukuran meja.
Benjamin melihat meja para pelanggan di layani masing-masing chef. "Apa kita akan seperti itu juga?" Tanya Benjamin pada Grace dengan mata masih menuju meja dimana sang chef sedang melakukan atraksi dengan makanan untuk pelanggannya.
Grace mengangguk. "Karena pelayanannya self service hingga membuat kita menunggu pelanggan lain keluar dahulu?" Tanya Benjamin lagi. Grace membalasnya dengan mengangguk lagi.
"Selamat siang tuan dan nona. Perkenalkan saya Febio chef anda hari ini" Ucap sang chef dengan ramah. Kumis tebal nya bergetar setiap kali Febio berbicara membuat Grace ingin tertawa namun di tahannya.
Melihat Grace yang menahan tawa membuat Benjamin menatap heran pada Grace.
"Kumisnya lucu sekali bergerak seperti itu" Bisik Grace di telinga Benjamin. Mata Benjamin langsung menuju kearah apa yang di maksudkan Grace seketika itu pula Benjamin tertawa terbahak saat Febio menjelaskan bahan-bahan makanan dari menu yang sudah di pesan oleh Grace sebelumnya.
Febio merasa heran dengan dua pelanggan di hadapannya, entah apa yang mereka ketawakan namun dia acuh dan melanjutkan atraksi masaknya.
Febio dengan lihai memberikan pertunjukan spektakulernya, ia menerbangkan tempat garam dengan spatula di tangannya lalu menaburkan garam itu diatas minyak panas penggorengannya. Secepat kilat Febio mengambil telur dengan spatulanya dan memecahkan telurnya di pinggir spatulanya.
Febio membuat gambar love dan anak panahnya dengan telur tadi.
Selama atraksi Febio, Grace dan Benjamin hanya bisa bertepuk tangan riuh karena Febio benar-benar lihai dan hebat.
"Bolehkah aku merequest menuliskan namaku dan Grace diatas gambar love yang kamu buat Febio?" Tanya Benjamin tanpa malu. Grace mencubit pinggang Benjamin menyuruhnya tidak usah macam-macam.
Febio tersenyum karena permintaan pelanggannya, lalu dia memecah telur lagi dengan ujung spatulanya. Febio menatap kearah Benjamin sambil menunggu Benjamin menyebutkan namanya untuk di tulis.
"Benjamin dan Grace" Ucap Benjamin menyadari sikap Febio terlihat menunggunya.
Dengan telaten Febio menuliskan nama Benjamin di atas gambar love nya lalu di bawahnya di tulis nama Grace.
"Bolehkah aku memotretnya?" Tanya Benjamin sambil tersenyum puas kerana keinginannya di turuti oleh Febio.
"Sure" Ucap Febio senang.
Setelah beberapa gambar telah di ambil. Febio langsung menyelesaikan masakan yang di pesan oleh Grace.
"Silahkan di nikmati tuan dan nona" Febio menghidangkan menu terakhirnya sebelum dia menghilang dari hadapan Grace dan Benjamin.
Ada nasi goreng khas Asia dan pasta daging. Untuk hidangan penutupnya Febio menyiapkan sup labu dan sebuah botol bear berukuran satu liter.
"Woahhhhhh ini pasti enak" Grace excited dengan sajian menarik di hadapannya.
"Aku tidak pernah makan ini sebelumnya" Ucap Benjamin dengan suara kecil. Dia begitu ragu untuk menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
"Ini enak percayalah padaku" Ucap Grace sambil mengunyah nasi goreng telur.
Benjamin yang awalnya sudah memegang sendok kini dia malah membanting sendok itu keatas meja. "Aku tidak bisa makan ini" Kekeh Benjamin menegaskan pada Grace jika dia tidak makan jika bukan Chef andalannya ataupun makan makanan restoran berbintang. Restoran ini bukan retoran mewah apalagi mahal, mereka terkenal dengan self service dan atraksi dari para chef nya itu yang membuat restoran ini ramai.
"Ak-" suara Benjamin terputus karena sesuap nasi di masukkan Grace secara mendadak.
"Makanlah jangan banyak ngomong" Ucap Grace memutar matanya.
Benjamin awalnya ragu untuk mengunyah namun dia baru menyadari jika makanan ini begitu nikmat. Benjamin mengeluarkan suara bingung masih tetap mengunyah nasi gorengnya.
"Ini apa? Kok bisa enak?" Tanya Benjamin heran. Grace membalasnya dengan senyuman penuh kemenangan.
"Sudah ku katakan ini sangat enak bukan?" Grace bukannya menjawab pertanyaan Benjamin malah bertanya balik.
Grace semakin tersenyum puas kala Benjamin sudah menyuapkan setengah porsinya ke dalam mulutnya.
"Gayamu saja ngomong tidak bisa memakannya. Lihatlah kamu sudah makan seberapa banyak" Grace tersenyum sambil masih menyendokkan nasi gorengnya dengan tenang ke dalam mulutnya.
"Aku harus menyuruh kokiku membuatkan ini untukku" Ucap Benjamin di suapan terakhirnya.
Grace terkikik geli saat Benjamin tidak meninggalkan sebutir nasi di piringnya.
"Makan lah pasta dan sup labunya" Grace memberikan keduanya di hadapan Benjamin.
Alis Benjamin tampak mengekerut karena dia tak yakin akan rasanya. Grace gemas lalu memaksa Benjamin menerima suapan pasta dari garpunya.
"Loh ini kok bisa enak? Tidak kalah dengan chef bintang 5" Ucap Benjamin bahagia dan melanjutkan makannya hingga semuanya tandas.
"Gayanya aja ngomong gak bisa makan makanan ini" Cibir Grace lagi dengan wajah masamnya. Benjamin merasa tak bersalah hanya memamerkan senyum pepsodent-nya. Grace juga sudah selesai dengan makannya di saat bersamaan Benjamin juga sudah menyelesaikan makannya.
"Ayo kita pergi" Benjamin menarik tangan Grace.
"Kita akan kemana?" Tanya Grace saat mereka sudah berada di luar restoran.
"Ikut saja" Benjamin kembali menarik tangan Grace menuju sebuah sport car berlambang kuda jingkrak berwarna merah dengan 2 seatnya.
"Mobilmu?" Tanya Grace lagi pada Benjamin yang sudah membuka pintu untuknya.
"Cepat masuk" Ucap Benjamin lagi saat sedikit mendorong tubuh Grace segera masuk di kursi penumpang. Setelah memastikan Grace sudah masuk kemudian dia duduk di kursi pengemudi.
Benjamin langsung menarik seat belt Grace dan memakaikannya, membuat Grace terkejut atas tindakan Benjamin yang begitu mendadak. Jarak diantara mereka hanya beberapa senti membuat Grace bisa mencium aroma parfum after shave. Grace langsung tersenyum seperti orang bodoh. Pikirannya terus memikirkan betapa maskulinnya Benjamin walaupun hanya berdasarkan dari aroma tubuhnya membuat pikirannya melayang-layang ke hal-hal yang tidak senonoh.
Sebuah tangan menoyor kepala Grace hingga lamunan Grace sebelumnya menguap begitu saja.
"Kenapa senyum seperti orang gila seperti itu. Membuatku takut saja" Goda Benjamin sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Ah tidak" Ucap Grace salah tingkah. Semburat merah di pipi Grace tidak kunjung padam membuat Benjamin mencubit sebelah pipi Grace.
"Pasti berpikiran yang jorok tentangku ya" Benjamin tertawa meledek Grace yang mulai salah tingkah. Dia malah marah dengan membelakangi Benjamin, mata abu-abunya menatap barisan gedung yang di lewati. Benjamin berusaha menggoda Grace namun tak di hiraukan oleh Grace.
"Kamu masih tinggal di apartemen kecilmu itu?" Tanya Benjamin mulai masuk ke perbincangan serius.
"Yeah. Yang kamu bilang apartemenku itu kecil kamu salah. Apartemenku termasuk besar, aku bahkan membayar mahal mendapatkan apartemen mewah itu" Wajah Grace semakin tertekuk kala Benjamin menganggap apartemennya kecil. Sudah di pastikan jika tempat tinggal Benjamin adalah sebuah kastil dengan ukuran raksasa.
Apartemen barunya bahkan berukuran 2 kali lipat dari apartemennya saat bersama Angela. Ia tau Benjamin orang kaya tapi sepertinya tidak perlu meledek masalah kekayaan dengannya yang sama sekali bukan apa-apa bagi Benjamin.
"Ini pertemuan terakhir kita sebelum aku kembali ke negaraku" Ucap Benjamin dengan nada menyesal.
"Secepat itu kamu pergi dari sini?" Tanya Grace agak kecewa.
Padahal baru hari ini dia bisa bersama Benjamin. Grace berpikir jika Benjamin adalah orang yang menyenangkan karena dengan polosnya Benjamin yang hidup glamour harus merasakan hidup menjadi warga negara biasa seperti Grace. Dia belum merasakan banyak kuliner enak di negara ini.
Mobil mahal Benjamin berhenti di persimpangan lampu lalu lintasnya yang berwarna merah.
"Aku berjanji akan kembali kesini. Aku pasti akan membahagiakanmu" Ucap Benjamin menatap serius kearah Grace. Tangannya pun menggenggam erat tangan Grace.
Benjamin langsung mengeluarkan kotak kecil berbahan beludru berwarna maroon. Membukanya dan memakaikan cincin emas putih bertahta berlian kecil di jemari tengah Grace.
Mata Grace melotot dengan apa yang dilakukan Benjamin padanya hingga tidak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya. Grace merasa otaknya tiba-tiba hilang begitu saja.
"Ini tanda kamu adalah milikku" Ucap Benjamin lalu mengecup punggung tangan Grace. Benjamin menatap penuh keseriusan di barengi senyuman manis yang membuat tubuh Grace tidak bisa bergerak.
Semua yang di lakukan oleh Benjamin terlalu mendadak dan secepat itu. Otak Grace mencerna apa yang dilakukan Benjamin namun di hati kecilnya dia cukup senang apa yang di lakukan Benjamin padanya. Yang di lakukan Grace hanya pasrah dan menerima pelakuan Benjamin.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Love,
Jun-JunFish
3-11-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top