Chapter 11
Hati-hati Typo bertebaran dimana-mana!
Jangan lupa Voment oke guys jangan jadi sider wae wkwkwk 😂😂
^_^ Happy Reading 😁
-_Mr. Charming Alexanders_-
"How your sleep, Ai" Ucap Samuel sambil mencium kening Alice yang baru saja bangun.
"Nice dream" Senyuman di wajah polos Alice menampilkan wajah cantik natural.
"Mari kita berjalan-jalan bersama Felix. Aku tunggu di mobil ya" Ucap Samuel tersenyum lalu kembali mencium kening Alice dan berlalu pergi.
Alice dan Felix bersiap-siap karena Samuel mengajaknya keluar. Walaupun Alice secara pribadi sudah sangat hapal dengan kota Paris namun dia tetap senang karena kali ini Samuel yang mengajaknya bepergian. Siapa yang tidak senang jika orang yang di cintainya mengajak jalan-jalan?
"Kita akan kemana, Sammy?" Tanya Alice membuka pintu mobil dan duduk di samping Samuel. Samuel sendiri sudah berada di tempat duduk pengemudi.
"Kita sudah lama tidak ke Boulevard Saint Germain. Kita akan menuju kesana" Ucap Samuel sangat tampan. Pakaian casual dan tak lupa dengan kacamata hitamnya guna menghalau mantahari.
Samuel langsung menyalakan engine mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Apakah ada yang kamu ingin lakukan selama disini? Atau ada yang kamu inginkan?" Tanya Samuel tersenyum manis kearah Alice yang tampak cantik dengan dress baby pink. Tidak ada riasan tebal dan hairdo berlebihan.
"Yeah aku sudah bosan berada di Paris. Aku sudah beratus-ratus kali mengelilingi kota ini. Bahkan hapal dimana penjual croissant terbaik. Butik pakaian terbaik ataupun tempat yang populer di instagram" Ucap Alice jujur namun berusaha tidak menyinggung Samuel. Itu pilihan yang buruk.
"Aku mengajakmu menetap kemari agar kamu bahagia bisa kembali ketempat asalmu bukan malah kamu tidak senang dengan usahaku untuk membagiakanmu" Kesal Samuel. Tangannya mencengkram stir mobil kuat menahan amarahnya agar tidak meledak-ledak.
Merasa dirinya salah berbicara membuat Alice membungkam mulutnya, tidak berani menjawab Samuel karena air wajah Samuel juga mengeras.
"Maafkan aku" Ucap Alice menyentuh lengan Samuel yang masih fokus pada jalanan di hadapannya. Samuel tidak menjawab namun masih berada di posisi sama seperti sebelumnya. Mata birunya menatap lurus dan keras di hadapannya. Banyak mobil-mobil mewah turut meramaikan sabtu malam di kota Paris ini.
Samuel memberhentikan mobilnya kembali di depan penthousenya. "Besok kita akan kembali ke New York" Samuel meninggalkan Alice dan Felix di dalam mobil dengan nada dingin.
Alice menghela nafas lelah. Dia memang salah berbicara dan dia juga sudah berusaha minta maaf pada Samuel walaupun tidak di hiraukannya. Rencana jalan-jalan sabtu malam di kota Paris semuanya buyar karena dirinya. Samuel tadi hanya membawanya berkeliling beberapa blok dari penthouse lalu kembali ke penthouse. Sekarang dia meninggalkan keduanya yang masih di dalam mobil.
Alice mencari keberadaan Samuel di kamarnya namun tidak ada. Kemana dia? Entahlah. Alice lebih memilih untuk menetap di kamar dan bermain dengan Felix menghabiskan malam weekend-nya.
Disisi lain Samuel bertemu dengan Tristan di club malam dimana beberapa tahun lalu menemukan Grace dengan si brengsek Lucius.
"Kenapa lagi mukamu tertekuk seperti ini?" Tanya Tristan melihat sepupunya yang tegap kini terasa beda dan aneh?
"Yeah ku pikir dengan aku bertanggung jawab terhadap Felix dan Alice membuatku bahagia. Felix memang benar anak kandungku namun aku merasa tidak bahagia bersama Alice" Cerita Samuel jujur.
"Ada apa lagi dengan hubungan kalian?" Tanya Tristan heran.
"Aku merasa lebih bahagia bersama Grace daripada Alice. Aku hanya tidak suka dengan sifat keras kepala Grace namun aku tidak bahagia dengan Alice. Padahal Alice tipe yang menuruti segala keinginanku, dia tipe penurut bukan seperti Grace yang pemberontak" Curhat Samuel sambil mengamati segala penjuru ruangan yang begitu ramai para pemuda-pemudi menikmati alkohol dan music yang di mainkan.
"Tapi kamu senang bukan tipikal pemberontak. Merasa tertantang kan?" Tanya Tristan mengejek Samuel, padahal dia saja sangat menyukai gadis pemberontaknya, contohnya Rachel. Sayangnya dia meninggalkan di New York saat ini.
"Dia pasti membenciku karena aku meninggalkannya tiba-tiba dan lebih memilih Felix dan Alice" Desah frustasi Samuel sambil mengambil satu botol alkohol di hadapannya.
Tristan langsung tertawa mendengar sepupunya akhirnya mengakui perasaannya pada Grace.
"Jika kamu berada di posisi Grace, apa yang kamu rasakan?" Tanya Tristan sambil meleraikan tawanya.
Samuel sama sekali tidak tersingung karena tawa Tristan. "Marah dan benci mungkin?" Jawab Samuel tidak yakin.
"Itu kamu sendiri pun tahu" Jawab Tristan pendek.
"Tapi aku ingin mengambil hak asuh Felix, bagaimanapun dia anak kandungku menjadi penerusku" Ucap Samuel menyugar rambutnya.
"Kamu memang orang tua Felix namun Falix masih bayi, masih membutuhkan ibunya. Sekuat apapun kamu memperjuangkan hak asuh Felix, kamu akan tetap kalah di pengadilan. Apalagi Alice memiliki pekerjaan di pastikan Alice bisa membiayai kehidupan Felix membuat kamu semakin mustahil memenangkan hak asuh Felix" Nasehat Tristan membelah suara berisik musik dj yang di mainkan.
"Jika aku menyuruh Alice tidak bekerja, membuatku semakin lebih dekat lagi dengan Alice. Itu membuatku tidak nyaman. Bukannya mendapatkan hak asuh Felix yang ada aku seperti berkeluarga dengan Alice dan Felix, sedangkan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Alice" Kata Samuel sambil menenggak minuman di tangannya. Frustasi itulah yang di rasakannya.
"Bukankah memang seharusnya kalian berkeluarga. Mungkin kalian akan seperti keluarga cemara" Cemooh Tristan.
"Aku sudah menyuruh dia untuk menggugurkan bayinya saat itu namun dia tetap mempertahankan kehamilannya. Padahal dia sudah ku beri banyak uang untuk menggugurkan kandungannya namun si bodoh itu malah memakai uang itu untuk memenuhi kebutuhannya selama kehamilan sampai saat ini. Itu kesalahan terbesarku tidak memeriksa setelahnya. Apakah yang ku minta akan diturutinya" Ucap Samuel masam sambil mengingat masa lalu.
"Sudah terlanjur keadaannya runyam seperti ini. Aku harus bagaimana?" Tanya Samuel mengacak rambutnya frustasi.
"i don't know" Ucap Tristan mengendikkan bahunya.
"Ayolah Tris bantu aku, hanya kamu orang yang bisa ku percaya. Chris pun menjauhiku karena aku meninggalkan Grace notabane-nya adalah sahabat Angel. Meminta bantuan padanya pun tidak akan di bantu" Ucap Samuel semakin frustasi.
"Chris benar-benar tega padaku" Ucap Samuel kini meraup wajahnya menandakan benar-benar frustasi. Dia bingung harus berbuat apa lagi.
"Yeah, karena menurutku kamu sudah sangat keterlaluan. Sudah berapa lama sifatmu berubah setelah bertemu dengan Grace, semenjak bersama Grace membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik tanpa mempermainkan wanita ataupun tidur dengan wanita lain" Ucap Tristan tersenyum kecil di balik remangnya ruangan.
"Tapi entahlah. Semua keputusan berada di tanganmu. Aku tidak berhak untuk ikut campur urusan asmaramu" Ucap Tristan menggendikkan bahunya.
"Bagaimana dengan perusahaanmu? Pusat perusahaanmu sudah di pindahkan ke Paris karena kamu sudah menetap disini bersama Alice" Tanya Tristan lagi.
"Aku akan memindahkannya kembali ke cabang New York, besok aku akan kembali ke New York" Final Samuel meninggalkan Tristan sendirian menikmati kesendirian di tengah-tengah keramaian. Tristan yang mendengar itu hanya tertawa kecil melihat sepupunya yang plin-plan karena masalah perempuan.
-_Mr. Charming Alexanders_-
Disinilah Grace berada. Di apartemennya bersama Stella dan Naomi, untuk William di sewakan sebuah apartemen nya hanya berbeda tower. Stella dan Naomi satu kamar di kamar tamunya sedangkan Grace tetap tidur di kamar pribadinya. Apartemen mewah dengan lantai 12 begitu mengagumkan karena bisa melihat hiruk pikuk kesibukan kota New York di siang hari seperti ini. Untuk Benjamin sendiri entah kemana karena setelah turun dari pesawat mereka berpisah ke tujuan masing-masing.
"Bagaimana rasanya setelah sekian lama tidak kembali ke New York?" Tanya Stella menoleh kearah Grace di sampingnya.
"Tidak ada rasa menyenangkan sedikitpun. Aku cukup lelah dengan kota ini semoga cepat selesai photoshoot kita dan kembali ke Paris lagi" Balas Grace dengan campuran emosi bergabung jadi satu. Sadih, takut namun waktu yang bersamaan dia harus kuat. Mereka disini hanya sementara karena memiliki kontrak kerjasama dengan beberapa brand tapi photoshoot-nya berlokasi di New York.
Grace sedang sibuk membongkar isi kopernya, namun semuanya terhenti kala suara bel apartemen yang di tekan tak sabar oleh tamu tak diundangnya.
Grace, Naomi dan Stella sama-sama keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang bertamu di siang terik begini, padahal belum genap sejam mereka sampai di apartemen Grace.
Grace terkejut bukan main siapa yang datang, pasalnya mereka adalah orang yang tidak ingin ditemui sepanjang hidupnya.
"Mom, dad?" Ucap Grace bergetar melihat kedua orang tuanya tampak lebih tua dari terakhir dia bertemu.
"Hai Bagaimana kabarmu?" Tanya Lily mom-nya berbasa basi.
"Bagaimana kalian bisa menemukan apartemenku?" Tembak Grace memendam perasaan marahnya.
Ini adalah salah satu alasan mengapa beberapa tahun lalu apartemennya bersama Angela dia sewakan ke orang lain karena kedua orang tuanya pasti mengejar kemanapun dia pergi selama di New York. Entah dari mana orang tuanya mengetahui apartemennya saat ini.
"Ahh maaf kami mengganggu waktumu. Kami datang kesini dengan niat baik-baik. Bolehkah kami masuk dulu untuk berbincang?" Ucap Harry daddy-nya tersenyum.
Grace menghela nafas menenangkan dirinya. Ia tau pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh kedua orang tuanya. Sudah sangat tahu tabiat jelek mereka.
"Masuklah. Di dalam ada teman-temanku. Tolong jangan membuat keributan" Ucap Grace memperingati Harry dan Lily. Orang tuanya mengangguk paham. Lalu semua masuk ke dalam ruang tamu. Harry dan Lily duduk di sofa panjang seberang Grace.
"Apa lagi yang kalian inginkan? Uang lagi? Aku sudah banyak memberikan kalian sebelumnya" Ucap Grace tenang sambil duduk tegak dengan tangan menyilang di depan dada berusaha mengintimidasi orang tuanya.
"Satu juta dollar kurang untuk hidup kami berdua. Itu hanya bertahan selama satu bulan saja" Balas Lily tampak senyum melas membuat Grace sangat muak dengan Lily.
"Biaya hidup kalian melebihi kehidupanku sebulan ya?" Sindir Grace mengalihkan pandangannya dari orang yang sangat tidak ingin di temuinya..
"Satu juta dollar itu hanya untuk makan dan tempat tinggal. Itu belum biaya pembantu dan kebutuhan rumah seperti tagihan listrik air ataupun belanja bulanan" Ucap Lily mulai marah.
"Tidak baik ada perkelahian setelah sekitar 3 tahun tidak bertemu" Ucap Harry menengahi keduanya.
"Mau 3 tahun atau berapa tahun pun aku tidak sudi bertemu dengan kalian" Ucap Grace bangkit dari sofanya.
"Kamu jangan kurang ajar jadi anak. Tidak ada sopan santunnya sama sekali" Ucap Lily marah sambil ikut bangkit dari duduknya, namun Harry menyuruh kembali Lily untuk duduk tenang di sampingnya.
"Jika kalian terus-terusan mendesakku untuk menghidupi kehidupan glamour kalian maaf aku tidak bisa. Aku kerja keras mati-matian menjadi seorang model namun uangku selalu kalian rampok dengan dalih anak harus berbakti kepada orang tua" Grace berbicara ketus dengan sedikit menengok kearah orang tuanya yang berada di belakangnya.
"Aku mohon padamu untuk membantu kami, kami datang untuk meminta uang lagi. Kartu kredit dad memiliki tunggakan yang sebentar lagi akan jatuh tempo" Ucap Harry berusaha mendapatkan belas kasihan dari Grace.
"Kalian yang mengambil kredit, terus aku yang di suruh bayar? Aku sudah lelah di peras habis-habisan oleh kalian. Yang kalian tau hanya meminta terus kepadaku. Jika dad ingin sesuatu, seharusnya dad bekerja dan bukan menyuruh anak satu-satunya menjadi tulang punggung kalian" Grace membalikkan tubuhnya dan meraung keras membuat Naomi dan Stella agak tersentak di balik pintu kamarnya. Pasalnya mereka mengintip percakapan Grace dan kedua orang tuanya.
"Jangan kurang ajar kamu sama orang tua. Kamu baru memberi sedikit saja mengeluh. Kamu sudah kami biayain dari kecil hingga besar ini balasanmu!" Ucap Lily menampar pipi Grace.
"Yeah tidak ada orang tua yang menyuruh anaknya bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah dan gajinya untuk kalian hidup mewah. Sepeserpun tidak di berikan kepadaku. Padahal itu hasil kerja kerasku." Ucap Grace menatap nyalang kearah Lily dengan air mata masih menggenang di matanya. Tak percaya jika kali ini Lily menamparnya.
"Dan sekarang kalian datang dengan tidak tahu malunya untuk meminta uangku demi kehidupan kalian. Kalian benar-benar tidak memiliki urat malu ya?" Ucap Grace kasar. Dia ingin kembali melangkah namun tertahan oleh tangan Lily yang menjambak rambutnya kuat.
"Benar seperti katamu. Kami tidak memiliki urat malu. Jika hanya meminta uang kepada anak yang seharusnya berbakti pada orang tua. Bukannya malah durhaka seperti kamu ini" Teriak Lily sambil menghempaskan kepala Grace kearah meja ruang tamunya.
Kepala Grace berdarah kala ujung meja itu membentur kepalanya dengan keras. Grace merasakan darah keluar dari kepalanya, lumayan pening namun dia harus kuat menghadapi kedua orang tuanya yang memang sifatnya seperti ini mulai dari dulu. Tak pernah puas seberapa banyakpun yang di berikan oleh Grace.
Tanpa mengaduh ataupun berucap apapun dia pergi ke dalam kamar dan mengambil sebuah debit card. Lalu membanting kartu itu di hadapan Harry dan Lily.
"Disana terdapat lima juta dollar dengan pin tanggal ulang tahunku. Tolong jangan pernah kehadapanku lagi beberapa bulan setidaknya lima bulan kedepan" Ucap Grace tajam. Tangannya masih memegang kepalanya yang luka. Rasa sakit di kepalanya tidak sebanding dengan sakit di hatinya melihat kedua orang tuanya.
"Baiklah terimakasih" Ucap Lily tersenyum lalu mengambil kartu itu dan pergi bersama Harry dari apartemen Grace. Lily pergi sambil mencium debit card milik Grace, merasa mendapatkan rejeki nomplok untuk di hambur-hamburkan lagi.
Setelah kepergian keduanya, Naomi dan Stella mendekat kearah Grace. Mereka berdua melihat apa yang terjadi di ruang tamu sehingga Stella dengan suka rela membawakan kotak P3K.
"Kalian pasti mendengar pertengkaranku dan kedua orang tuaku?" Tanya Grace tenang saat Stella membersihkan lukanya di kepalanya.
"Kamu tidak apa-apa Grace?" Tanya Naomi agak khawatir menatap darah merembes dari kepala Grace..
"Hanya terluka sedikit" Ucap Grace berusaha baik-baik saja.
"Terluka sedikit apanya? Pendarahannya susah berhenti karena terlalu lebar lukanya" Ucap Stella memukul pundak Grace, membuat Grace mengaduh atas pukulan kerasa Stella.
"Iya buruan selesaikan. Sakit tau" Kesal Grace. Kini Stella mulai membersihkan luka Grace dengan alkohol dan kapas.
"Maaf ya kalian jadi harus tau masalah keluargaku" Ucap Grace tak enak pada dua orang yang dianggapnya sahabatnya selain Angela
"Kami yang seharusnya meminta maaf karena kami tidak tau apa-apa tentangmu, Grace" Ucap Stella lagi.
"Kedua orang tuaku selalu memerasku untuk menghidupin kehidupannya yang terlihat kaya. Mom dan dad tidak bekerja, mereka mengandalkanku untuk menghidupi mereka. Maka dari itu kalian pasti tau isi rekeningku tak seberapa di bandingkan model-model lain karena aku harus mentransfer berapapun yang di minta oleh orang tuaku. Pikiran kolot mereka begitu menyusahkanku. Mereka berpikir jika anak harus membalas budi kepada orang tuanya karena anaknya sudah di besarkan dari kecil. Aku sudah bekerja keras dari kecil dengan semua hasil mereka yang memetiknya" Ucap Grace sambil menunduk, menyembunyikan tangisnya dari Stella dan Naomi.
"Aku mengerti" Ucap Stella sambil memeluk tubuh Grace. Semakin mendapatkan dukungan emosional seperti ini membuat Grace semakin nyaring untuk menangisi hidupnya yang rumit.
"Hidupmu begitu prihatin sekali. Di hianati oleh si mata biru, keluargamu juga seperti ini. Kamu begitu kuat, jika itu aku mungkin sudah bunuh diri" Ucap Stella mengelus punggung Grace sayang.
"Benar, kamu kuat sekali Grace. So proud of you" Ucap Naomi memeluk keduanya.
"Daripada kita menangis mending kita berjalan keluar bagaimana?" Ucap Stella senang. Dia berusaha mengalihkan kesedihan Grace.
"Baiklah lagi pula kita juga belum makan siang"Balas Grace sambil menghapus air matanya.
"Ayo kita pergi" Ucap Naomi semangat.
Setelah selesai bersiap-siap. Ketiganya kini sudah berada di sebuah restoran yang cukup terkenal di sosial media, mereka bertiga celingak-celinguk. Pasalnya baru kali ini pasalnya restoran ter-hybe tidak ada pelanggan sekalipun.
'Reserved' Tulisan di luar restoran yang menandakan satu restoran ini sudah di pesan oleh seseorang yang tentunya sangat kaya. Karena bisa menyewa satu restoran, jika seorang model seperti Grace akan terasa membuang-buang uang jika hanya ingin mendapatkan ketenangan dalam makan.
Suara telpon Stella berbunyi mengalihkan perhatian mereka dari restoran, Stella menerima telpon itu namun tak berselang lama dia menutup telponnya.
"Siapa?" Tanya Grace pada Stella.
"MD Entertaiment yang ingin melakukan photoshootmu selama di New York. Dia menghubungiku karena aku dan Naomi harus menemuinya untuk membahas konsep photoshoot" Ucap Stella merasa bersalah harus meninggalkan Grace.
"Kami pergi dulu. Ayo Naomi, Bye Grace" Ucap Stella sambil menarik tangan Naomi menjauh dari Grace.
Grace menghela nafas lelah karena harus di tinggalkan namun perutnya sudah berdemo untuk makan. Matanya menatap jeli kearah dalam restoran yang di reservasi itu. Matanya menangkap siluet yang sangat di kenalinya. Baru saja ingin masuk ke restoran namun di tahan oleh pelayan yang menjaga di pintu.
"Maaf nona anda tidak bisa masuk karena restoran ini sudah di reservasi" Ucap pelayan itu galak kala Grace berusaha masuk.
"Aku mengenal orang itu" Ucap Grace menatap pelayan itu kesal.
"Tapi maaf, pelanggan tersebut tidak menerima siapapun selain yang diizinkannya" Ucap pelayan menahan emosinya karena Grace terus bergerak untuk melepaskan diri dari sang pelayan.
"Tapi aku mengenalnya!" Ucap Grace naik beberapa oktaf.
"Chris!!!!" Teriak Grace berharap orang yang di panggilnya mendengar teriakannya. Sang pemilik nama itu berbalik badan mencari sumber suara yang meneriaki namanya tanpa rasa hormat. Mata biru itu terkejut melihat Grace sahabat istrinya.
"Grace?" Ucap Chris tak yakin. Grace mengangguk keras. Berharap Chris memperbolehkannya masuk ke restoran itu. Ia hanya melambai-lambaikan tangannya agar mudah di kenali oleh Chris.
-_Mr.Charming Alexanders_-
Love, Jun-JunFish
1-11-25
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top