2
Camilla bergerak gelisah di atas ranjangnya. Gadis itu super pusing memikirkan bagaimana masa depannya. Jika ia tidak bisa memberontak dan mengubah alur cerita ... berarti lima tahun ke depan ia akan tiada?
Itu tidak boleh dibiarkan! Camilla tidak ingin mati untuk kedua kalinya. Ia belum sempat merasakan manisnya jatuh cinta. Belum sempat juga merasakan hidup tanpa beban.
Cita-citanya menjadi jaksa pun belum tersampaikan. Kalau dia tiada, bagaimana nanti? Pokoknya, ia harus merubah alur cerita ini. Dengan sekuat tenaga. Dengan cara apa pun juga.
Gadis itu duduk dari posisi terlentangnya. Menuju meja yang biasa ia gunakan untuk menulis surat atau belajar macam-macam hal.
Camilla mengambil pena dan juga sebuah kertas kosong. Gadis itu memutuskan untuk menulis segala yang diingatnya dan merancang segalanya agar terbebas dari mati muda.
Pertama. Ia tidak bisa mengubah dialognya. Dengan kata lain, ia tidak bisa merubah nasibnya.
Kedua. Kadang ia masih bisa merubah dialognya.
Kemungkinan yang kedua ini aneh sekali. Kenapa ia bisa mengubah dialognya? Padahal saat berbicara dengan Keith ia tidak bisa mengubah dialog yang ditentukan oleh penulis.
Jangan bilang ... begini kesimpulannya.
Ia dapat mengubah dialog yang tidak mempengaruhi keseluruhan cerita. Artinya, saat berbicara hal yang tidak penting ia masih bisa mengubahnya. Saat pembicaraan penting, seperti pertanyaan Kate tentang perasaannya pada Luce yang sangat-sangat penting ia tidak bisa mengubahnya seenaknya.
Kalau begitu, sama bohongnya dong. Itu artinya ia tidak bisa berkutik. Karena kematian Camilla adalah hal yang sangat penting. Akibat kematiannya itu, Luce dan Kate akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.
Penulis benar-benar kejam!
Sabarkan dirimu, Camilla. Ayo susun rencananya.
Ada banyak peluang untuk terbebas. Yap! Apalagi kalau bukan setelah cerita berakhir. Maksudnya, saat tidak ada scene dengan Kate atau tokoh utama lainnya ia masih bisa berkutik. Selain itu, di backstage alias di belakang panggung saat dirinya tidak memiliki peran, ia masih bisa melakukan apa pun yang diinginkannya.
Ia harus memanfaatkan momen itu.
Semangat, Camilla! Jangan sampai kalah dari penulis kejam itu.
•••
Paginya, Camilla langsung didandani sedemikian rupa oleh dayang-dayangnya. Hari ini merupakan momen penting untuknya dan Luce.
Pasalnya, kedua orang tua mereka mulai membahas pertunangan mereka sejak 15 tahun lamanya. Scene ini merupakan scene yang tidak disukainya. Karena diam-diam dirinya shipper Luce dan Kate, tetapi saat ini dirinya merasa bahagia.
Apalagi kalau bukan karena ia dapat melihat wajah tampan Luce secara nyata. Dengan begitu, ia bisa membebaskan jiwa fangril-nya.
Hampir saja dirinya terbawa perasaan karena terlalu senang. Pada akhirnya saat momen berduaan Camilla dan Luce. Camilla memilih mengejar Keithel yang kebetulan memiliki urusan dengan ayahnya.
Keithel seperti pengganggu kebahagiaannya.
Ah, ngenes sekali takdirnya.
"Nona."
"Ya?" jawabnya terkejut.
"Anda ingin memakai gaun seperti apa? Yang sederhana seperti biasanya atau lebih mewah?" tanya salah satu dayang yang mendandaninya. "Hari ini adalah momen berharga untuk Nona. Bagaimana jika memakai gaun yang lebih mewah dari biasanya? Pasti Pangeran Lucerance akan sangat terpesona pada Nona."
Ide yang bagus. Kalau ia tampil lebih cantik, Luce pasti akan terpesona.
"B—tidak usah. Gaun seperti biasanya saja. Aku tidak ingin lebih dekat dengan Luce. Kau kan tahu jika aku tidak menyukainya." Aish, dialog asli mengambil alih keinginan terdalamnya. "Cepat! Aku tidak ingin berdandan lama-lama hanya karena pembicaraan pertunangan konyol ini."
Ingin sekali Camilla menabok mulutnya sendiri. Kenapa harus seketus ini coba? Kalau tidak suka Luce ya jangan begini, Camilla?! Tidak tahukah jika penghuni tubuhmu ini menginginkannya?
"Baik, Nona."
Dayang yang baik hati memberikan saran untuknya menjadi takut.
Pasalnya, Camilla tidak seperti ini orangnya. Gadis itu sebenarnya ceria dan begitu baik hati, tapi saat ada pembicaraan mengenai pertunangannya dengan Luce hatinya sensitif.
Mau bagaimana lagi. Ia terlanjur jatuh cinta kepada Keithel. Ia tidak bisa menerima pertunangan tidak masuk akal ini, tetapi ia juga tidak bisa menolak. Menolak akan mencoreng nama baik keluarganya.
"Maafkan aku Rara, aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja hari ini aku begitu sensitif," sesal Camilla.
Rara mencoba tersenyum, "Tidak apa-apa, Nona. Saya tahu Anda tidak menyukai Pangeran, tapi saya malah sembarangan mengatakan hal itu. Ini sepenuhnya salah saya."
"Jangan seperti itu, akulah yang bersalah."
Sifat Camilla yang asli mulai muncul. Sayangnya, Clarissa tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikuti naskah aslinya.
Beberapa saat kemudian, dirinya sudah begitu memesona dengan riasan sederhana ditambah gaun sederhana yang begitu memukau. Ternyata tidak buruk juga pilihan Camilla. Walaupun sederhana, tetapi tetap menguar pesonanya.
Camilla tersenyum kecil. Ia sudah mempersiapkan hatinya untuk bertemu Luce. Semoga Luce menyambutnya dengan ramah.
•••
Persiapannya tidaklah ada artinya. Hampir satu jam mereka berbincang-bincang, ia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara pribadi dengan Luce.
Ayahnya sibuk mengambil alih. Sang Raja pun tidak kalah cerewetnya. Daripada membicarakan pertunangan, mereka lebih sibuk membicarakan bisnis. Harusnya title-nya diganti 'Pembicaraan Bisnis Duke Anderson dan Raja Herald William' bukannya 'Pembicaraan Pertunangan Yang Tertunda'.
Pada akhirnya Camilla hanya mendapat kekecewaan. Pembicaraan pertunangan hanya semakin pemanis saja. Mereka tidak benar-benar serius membicarakan. Lalu, kenapa Camilla asli begitu sensitif memikirkannya?
"Camilla."
Yang ditunggu-tunggunya. Akhirnya Luce memanggil namanya. Suara Luce begitu merdu, meneduhkan hatinya. Kekecewaannya hilang seketika.
"Ada apa, Luce?" jawabnya sopan.
Jangan salah paham. Camilla dan Luce cukup dekat sudah dua tahun lamanya mereka memutuskan memanggil dengan nama panggilan masing-masing.
"Ayo kita jalan-jalan. Sepertinya mereka sibuk dengan urusan masing-masing," ujar Luce sambil melirik kedua orang tua mereka.
Luce memang benar. Ibunya dan Ratu Haniah sibuk bergosip di tempat duduk lain. Sementara ayahnya dan Raja Herald sibuk membicarakan bisnis sambil tertawa kencang.
"Ide bagus. Aku mulai bosan," setuju Camilla. Gadis itu mulai berdiri dari duduknya. Langsung saja Camilla berpamitan kepada ayah, raja, ibu, dan juga ratu agar tidak dicari oleh mereka.
Setelah diizinkan, Camilla langsung mengajak Luce berjalan-jalan mengelilingi kediamannya. Tidak ada yang istimewa. Hampir sama seperti kediaman Duke pada umumnya.
Mereka bahkan tidak memulai percakapan di sepanjang jalan. Padahal dari ingatan Camilla, sebelum keduanya beranjak remaja Camilla dan Luce begitu atraktif dan suka sekali berceloteh.
Entah angin apa yang membuatnya keduanya jadi saling mendiami seperti ini.
Clarissa tidak bisa memulai pembicaraan. Karena semua ini sudah di atur dalam novel. Ia hanya bisa menuruti apa kata penulis dan menjalaninya dengan ikhlas hati.
"Camilla."
Luce membuka suara saat keduanya sampai di taman utama.
"Ya?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Kate?"
Dadanya sesak mendengarkan pertanyaan itu. Luce dan Kate sudah mulai tertarik beberapa bulan sebelum hari ini. Seharusnya, Camilla yang asli akan sangat bahagia mendengar Luce begitu tertarik dengan sahabatnya, tapi Clarissa yang berwujud Camilla tidak bahagia.
"Kami masih berhubungan baik. Apa kau ingin bertemu Kate lagi? Jika mau, aku bisa mengundangnya ke mari. Kalian bisa berbincang-bincang dan saling mengenal seperti sebelumnya." Begitulah jawaban Camilla. Tambah sesak saja hatinya. Perannya di sini adalah jembatan percintaan keduanya. Dengan kata lain adalah Mak Comblang atau gaulnya Matchmaker.
Luce tertawa malu-malu. Jelas sekali dia sangat ingin bertemu Kate yang diam-diam dia sukai. "Tidak perlu. Hari ini aku akan bersamamu. Jika kami ditakdirkan untuk bertemu, kami pasti akan bertemu."
Luce kenapa mulutmu lembut sekali mengatakan itu? Tidak tahukah, hati Clarissa teriris-iris begini?
"Cam. Kenapa matamu berkaca-kaca?" tanya Luce khawatir.
Ternyata ia masih bisa berekspresi sesuai dengan keinginannya. Seharusnya ini tidak ada di dalam naskah, Camilla seharusnya tertawa bahagia bukannya berkaca-kaca.
"Aku c—terharu." Ingin sekali ia mengatakan 'aku cemburu', sayangnya ia tidak bisa. Malah berakhir meneteskan air mata.
Luce malah tertawa melihat tangisannya, "Tidak kusangka kau begitu melankolis." Pria itu menepuk-nepuk pundaknya. "Tidak perlu terharu sampai menangis seperti itu." Luce mengusap air matanya sambil tersenyum.
Bukannya berhenti. Air matanya malah turun semakin deras. Ia mulai menangis kencang disertai isakan.
"Ya ampun, Cam. Jangan menangis kencang-kencang. Nanti aku dikira melukai hatimu."
Memang itu kenyataannya. Saat ini Luce melukai hatinya.
Luce kebingungan harus bertindak seperti apa. Pada akhirnya Luce memeluk Camilla, seperti memeluk adik perempuannya.
Ingin rasanya Camilla meresapi pelukan hangat ini. Namun, Keithel tiba-tiba melintasi keduanya. Camilla yang asli mengambil alih dirinya, gadis itu mendorong Luce dan berlari mengejar Keithel.
Melihat kelakuan Camilla, Luce hanya bisa mengelus dadanya. Entah mengapa, ia tidak rela melihat Camilla mengejar Keithel dan mengabaikannya.
•••
Yuhu, part 2-nya!
Semoga suka❤️
Sekian, jangan lupa tekan bintang ya.
Thank you❤️
Bay-bay❤️
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top