3
"Kak Keithel!" panggil Camilla ceria dengan wajah berduka.
Keithel tidak melirik padanya. Malah mempercepat langkahnya.
Camilla menghapus sisa-sisa air matanya dan mengejar Keithel. Gadis itu tersenyum ceria di samping Keithel. Clarissa tidak bisa mengendalikan yang satu ini. "Kakak sedang apa di sini?"
"Ada urusan."
Keithel memang kekurangan kosakata. Karena itu, laki-laki selalu saja menjawab dengan begitu singkat pertanyaan Camilla.
Dalam hati Camilla sedih sekaligus marah, tapi perasaannya lebih dalam dibandingkan itu. "Ada urusan apa dengan ayah? Membicarakan bisnis kain lagi?"
"Bukan."
Ingin sekali Clarissa merobek mulut itu.
"Lalu apa? Kayu?" Camilla tetap tidak mau mengalah.
"Jangan banyak bertanya." Keithel mulai kesal. Laki-laki itu akhirnya menoleh padanya. "Urus saja tunanganmu itu. Bukannya kalian sedang bermesraan tadi? Kenapa tiba-tiba mendatangiku?"
Kenapa ada sedikit nada cemburu di sini? Bukannya Keithel tidak menyukai Camilla? Ah, itu mungkin kekesalan. Hanya saja dia salah mengartikannya.
"Kami tidak sedang bermesraan. Tadi Luce memelukku karena aku menangis. Asal Kakak tahu L—"
"Tidak perlu menjelaskan semua. Sana temui tunanganmu," usir Keithel.
Camilla pada akhirnya menyerah dan menelan kekecewaan. Rasanya tambah sakit saja dadanya ini. Setelah Keithel menghilang sepenuhnya. Camilla menggeleng-gelengkan kepalanya. Kepalanya mulai jernih, rasa sakit hatinya pada Keithel mulai hilang. Mungkin karena jiwa Camilla perlahan terendam.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Luce yang ternyata sudah ada di belakangnya.
"Aku baik-baik saja. Ayo kita jalan lagi," jawabnya santai. Camilla memimpin jalan mendahului Luce.
Luce diam dan mengikuti Camilla dengan tenang. Tidak ada pembicaraan lagi. Luce sebenarnya ingin bertanya mengenai hubungan Camilla dan Keithel, tapi rasanya itu tidak baik. Apalagi ekspresi Camilla terlihat begitu menyedihkan. Ia tidak enak hati menanyakannya.
Camilla yang menyadari tatapan Luce mulai risih. Membicarakan Keithel membuatnya tambah sakit hati saja. "Jika kau ingin bertanya soal hubunganku dengan Kak Keithel, jawabannya tidak baik-baik saja. Dia masih saja ketus padaku."
"Apa rasanya sakit sekali?"
"Tentu. Rasanya sakit, tapi tak apa. Suatu saat nanti hubungan kami pasti membaik." Camilla memaksakan senyumnya. "Jangan mengasihaniku. Aku tidak suka itu."
Luce tertawa, "Baiklah. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pusat kota? Ada banyak hal yang bisa menghiburmu di sana."
Luce memang pria baik hati. Di novel pun, Luce selalu menghibur Camilla di saat gadis itu bersedih.
"Ayo! Aku ingin makan banyak camilan!"
Camilla menggandeng tangan Luce spontan. Luce tidak menolak, pria itu malah beralih menggenggam tangan mungil itu.
Clarissa bingung. Kenapa Camilla tidak jatuh cinta pada Luce? Dan kenapa Luce malah jatuh cinta pada Kate? Padahal perlakuan Luce begitu manis pada Camilla.
Jawabannya masih tanda tanya besar di kepalanya.
•••
"Waw! Aku tak menyangka di hari kerja pusat kota akan seramai ini," kagum Camilla dengan kedua mata yang melotot selebar-lebarnya. Camilla adalah tipe gadis rumahan. Karena itu ia terkagum-kagum melihat keramaian.
"Lain kali aku akan lebih sering mengajakmu agar kau tidak terkejut lagi." Luce terkikik geli melihat tingkah Camilla. "Apa kau ingin makan pie rasberi? Setahuku, itu adalah camilan yang populer saat ini."
Pie rasberi? Dari namanya saja terdengar begitu lezat.
"Ayo kita ke sana. Aku ingin sekali mencobanya," seru Camilla penuh semangat. Camilla tidak lagi memikirkan Keithel. "Di mana tempat itu?" bingungnya sambil melihat kanan-kiri tidak ada kedai yang menjual pie rasberi.
Luce tertawa kencang. Sahabatnya itu tidak sabar sekali kalau berbicara soal camilan. Pantas saja namanya Camilla, jika ditambah 'n' pasti akan menjadi Camillan. Memikirkan itu membuat tawanya semakin kencang.
"Luce ...." Camilla mulai merengek. "Di mana tempat itu? Atau jangan-jangan ... kau menipuku?"
"Mana berani aku menipumu. Bisa-bisa ayahmu membantaiku," sahutnya.
Camilla memutar bola matanya. Luce memiliki sisi menyebalkan. "Kau kan pangeran. Mana mungkin ayahku membantaimu."
"Kau kan putri tercintanya. Itu bisa terjadi tahu."
"Maka dari itu, jangan bermain-main denganku. Ayo tunjukan jalannya!" geram Camilla. Gadis itu memasang ekspresi garang.
Luce mengangguk sambil menahan tawanya. Ia menuntun Camilla menuju kedai yang menjual pie rasberi yang direkomendasikannya. Selama beberapa menit berjalan akhirnya mereka berhenti. "Setahuku ada di sekitar sini," jelas Luce pada akhirnya.
"Di mana?" Camilla mengamati sekelilingnya. "Kau tahu dari mana kalau kedai itu ada di sini?"
"Itu ... Kate yang memberitahu. Beberapa hari lalu kami sempat bertemu dan membicarakan pie rasberi yang sedang populer itu."
Kenapa rasanya sesak, ya? Dasar, Clarissa. Baperan sekali dirimu.
"Kalau begitu jangan makan itu," sungutnya lalu pergi meninggalkan Luce yang sedang kebingungan.
"Kenapa?" Luce mengejarnya. "Bukannya kau ingin memakan itu? Kenapa tiba-tiba tidak mau?"
Camilla menatap tajam Luce. "Aku cemburu," ujarnya kesal. "Kate tidak pernah membahas hal itu denganku. Padahal kami dekat sekali. Sepertinya, kau adalah sahabat baiknya saat ini. Begitu pun denganmu, pasti kau lebih menyayangi Kate daripada aku."
Astaga. Kenapa begitu saja Camilla sudah marah padanya? Padahal ini hanya perihal pie rasberi yang belum pernah ia lihat bagaimana wujudnya. Luce benar-benar kebingungan.
Jujur. Clarissa tidak ingat ada scene Camilla cemburu seperti ini, tapi bukankah ini bagus untuknya? Jika hati Luce tergerak ia bisa sedikit memelintir alur cerita yang menyesakkan ini. Jangan bilang, itu tadi suara hatinya?
Kalau itu kenyataannya benar-benar luar biasa perkembangannya.
"Camilla! Jangan merajuk seperti itu!" Luce mencoba meluluhkan hatinya. "Kau tetap nomor satu di hatiku."
"Penipu! Jelas sekali kau lebih menyukai Kate daripada aku!"
Pukulan telak mengenai Luce. Duh, kalau begini caranya. Bisa-bisa rencananya berjalan mulus.
Luce terdiam. Camilla merasa tidak enak hati melihat itu. Beberapa saat kemudian Luce menatapnya, "Lalu bagaimana denganmu? Bukannya aku bukan orang yang paling kau sayangi saat ini?"
Oh, astaga. Kenapa begini jadinya?
"Oh, itu. A—"
"Bukannya kau lebih menyayangi Keithel yang tidak memedulikanmu daripada aku?!" serang Luce. "Lalu, jika aku mulai menyayangi Kate apa itu salahku?"
Camilla menjadi salah tingkah. Pertanyaan itu sudah jelas sekali jawabannya, tapi ia tidak rela Luce lebih sayang pada Keith yang baru dikenalnya daripada dia. "Jangan mengungkit hal itu. Aku tidak menyukainya," larang Camilla. Camilla meninggalkan Luce yang menunggu jawabannya.
Luce menahan lengannya, menatapnya penuh tekanan. "Jika kau ingin menjadi nomor satu di hatiku, tolong lupakan Keithel dan jadikan aku nomor satu di hatimu."
Dadanya menjadi sesak. Di dalam novel Luce tidak akan pernah mengatakan hal itu. Di hati Luce hanya ada Kate, ia hanya menjadi sampingan di dalam hati laki-laki itu. Tidak benar-benar berkesan.
Kenapa Luce meminta hal itu? Apakah pengaruh penulis mulai menghilang? Jika dipikir-pikir, pertengkarannya dengan Luce tadi tidak ada di novel.
Jika benar pengaruh penulis mulai hilang ... artinya ia bisa berjuang dengan lebih mudah.
"Camilla, jawab aku!" bentak Luce yang tidak sabar menunggu jawaban gadis itu. "Apa kau bisa melakukan hal itu?"
Kebimbangan melanda dirinya. Ia bisa memanfaatkan ini untuk lepas dari kematian lima tahun yang akan datang. Jika ia bersama dengan Luce, ceritanya akan berubah sepenuhnya. Namun, jika pengaruh penulis itu kembali. Apa mungkin ia bisa terus bersama Luce?
•••
Halo-halo! Bagaiamana kabarnya? Baik-baik saja, kan?
Mohon maaf baru update. Semoga suka❤️
Rencananya mau double up. Jadi, ditunggu ya part selanjutnya ☺️ jangan lupa vote dan commentnya❤️
Sampai jumpa❤️
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top