Bab 8


Oh, please, Mona, tentu saja lah dia baru datang. Karena, bukannya dia emang selalunya sebangsat itu yah?

Come on! Satria dan kebangsatan adalah sebuah satu kesatuan. Keduanya musthil terpisahkan. Baik itu dulu, sekarang atau nanti. Mona nggak perlu meragukannya.

Dan, serius dia boleh jadi nggak akan mengulang hal ini dua kali. So, Satria itu, ya masa lalu terbangsatnya—harap dicatat sebab, Mona nggak ada rencana untuk menyebutkannya kembali di masa depan—atau, orang-orang mungkin lebih sering menggolongkannya sebagai mantan? Entahlah. Bodo amat dengan nama status dari Si Bangsat Satria! Jelasnya, orang ini sudah mengilang, lenyap bagai asap sejak tiga belas tahun lalu.

Terus, gimana bisa ujug-ujug takdir membuat guyonan—yang sama sekali nggak ada lucu-lucunya—dengan mengirim pria itu untuk masuk kembali ke dalam pandangan Mona?

Juga, yang lebih sialannya, kenapa bisa tiga belas tahun nggak sanggup guna mengubah apa pun soal Satria yang selama ini mengendap dalam ingatan Mona?

Lihat saja! Tubuhnya yang tinggi tegap, di mana baik itu dulu atau sekarang, agaknya Mona tetap nggak akan pernah bisa melewati tinggi bahu pria itu. Pun, sepasang alisnya yang hitam dan tebal. Rahanya yang tegas juga mata elangnya yang sekali tatap saja sanggup menusuk jantung. Liciknya lagi, nggak ada sebiji pun jerawat yang berani tumbuh pada wajahnya—berbanding terbalik dengan Mona, tentunya.

Jujur, dia bener-bener masihlah kayak Satria versi delapan belas tahun yang saat itu terakhir Mona lihat di hari Senin, datang menghampirinya setelah kegiatan upacara bendera sambil membawa setangkai mawar merah. Kemudian, wooosh, eksistensinya raib begitu saja. Tanpa jejak. Seolah sebelumnya, nggak pernah ada nama Satria yang hidup sekaligus Mona kenal.

"Mona?"

Dan, Satria rasanya sulit buat percaya bahwa ia dapat secara mendadak dipertemukan lagi dengan wanita yang pernah mengisi hidupanya di masa lalu. Seberapa jauh kiranya seseorang bisa berubah dalam rentang tiga belas tahun?

Jelas sekali jawabannya adalah teramat jauh. Sebab, seperti apa yang sekarang tengah dilihatnya, Mona bukan lagi wanita super-lugu yang dikenalnya pada masa itu. Dia, telah bertransformasi menjadi wanita dewasa yang mungkin udah nggak bakal lagi butuh bantuannya untuk sekadar membuka tutup botol air mineral. Wajahnya bahkan terlihat lebih cantik dari yang dia ingat. Selera berpakaiannya pun cukup trendi, nggak melulu sebatas celana jeans belel yang dipadupadankan dengan kaus buluk.

Kemudian, entah didorong oleh keinginan bersebut apa, dia lantas diam-diam menggulirkan pandangan ke arah jari-jemari lentik Mona. Mungkin demi memastikan bahwa nggak ada cincin aneh yang melingar di sana? Entahlah. Namun, toh, matanya justru berhasil mendapati pemandangan berupa sebulatan cincin floral berwarna silver yang tersemat secara sempurna di area telunjuk milik perempuan itu. So, bolehkah Satria mengambil kesimpulan jika itu bukanlah sebuah wedding ring? Yeah. Nggak ada larangan untuk wanita single agar nggak memakai cincin kan? Tetapi, bagaimana caranya menjelaskan soal sosok bocah yang tengah Mona gendong itu?

Sambil diam-diam menyusun tebakan-tebakan random dalam pikirannya sendiri, Satria bergegas berdiri, lalu secara perlahan-lahan dia mulai mengangsurkan sebelah telapak tangannya ke arah Mona. "Hai, Mona? Apa kabar?" Hanya kalimat tersebutlah yang bisa dia ucapkan di samping segugus senyuman terbaik yang terukir di atas bibirnya.

"Baik." Tanpa membalas uluran yang Satria berikan—karena, kedua tangannya toh, memang sudah sangat sibuk demi menopang Rama—Mona mengukir senyum kecut segaris, sembari dihantui oleh sejuta pemikiran bahwa dia harus segera keluar dari ruangan terkutuk berisi manusia bangsat tersebut. Yah. Satria sangat nggak baik untuk kesehatan mentalnya. Ia sangat menyesal karena, telah memilih datang ke Amera sebagai tempat rujukan pengobatan bagi Rama!

Sial! Jadi, yang dimaksud Mimi kalau di Amera ada dokter gantengnya itu Si Satria ini? Hish! Iya, sih dia ganteng makin ganteng malah, tapi itu toh, nggak menutupi fakta bahwa dia adalah bangsat!

"Mona ...." Satria kembali memandang iris bening Mona. Mona memiliki mata yang indah, kadang-kadang netranya suka kelihatan berkilauan kayak saat ini dan itu praktis membuatnya kembali teringat akan masa lalu. "Aku—"

"Saya nggak ingin membicarakan apa pun."

"Yeah, I know. Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk dijelaskan," Satria mengangkat tangan. "Tapi, kamu—"

"Nggak usah sok kenal deh sama saya!"

Satria terkekeh, ingin tertawa, tapi ia tahan agar tetap tenang, "Kamu sama sekali tidak berubah yah? Doyan banget ngegas."

Mona mendongak menatap Satria. Namun, agaknya itu merupakan sebuah keputusan yang salah sebab, adu tatapan tersebut justru membuatnya jadi sulit bernafas.

Oh, God! Kenapa sih dia mesti bertemu lagi dengan Satria? Rasanya, dia betul-betul kepengen segera cabut dari sana sekarang juga!

"Kamu memangnya nggak lega yah ketemu aku setelah sekian lama?" lanjut Satria. Sumpah! Dia berharap masih bisa sekali saja menyibak rambut panjang Mona, dan jika itu nggak terlalu berlebihan maka, dia pun ingin—meski sekali—memeluk erat tubuh ramping Mona. Karena, dia merasa selega itu begitu mendapati Mona akhirnya berdiri di hadapannya.

Lega pala lo, batin Mona.

Dan, mulutnya memilih buat nggak menjawab. Dia mematung di tempat sampai tiba-tiba suara berisik Rama—yang dia kira lagi molor—hadir menyelamatkannya dari cekikan kecanggungan. "Ohalo, Doctor? Jadi, kapan Rama bakal diperiksanya ini? Rama already ngantuk, hungry juga tau! Please, stop talking too much with Kak Mon!"

Oh, good job, Boy! Mona berjanji akan menambah uang saku Rama selama satu bulan full untuk aksi heroiknya kali ini!

Sementara itu, alis Satria praktis terangkat. Ah, ia hampir saja melupakan kewajibannya. Ia lalu, bergegas menatap bocah laki-laki yang ia segera instruksikan supaya Mona letakkan saja ke atas ranjang periksa—yang hanya berjarak sekitar tiga langkah dari posisinya berdiri kini.

Dengan telapak tangan yang sudah tersembunyi dalam medical gloves, Satria menghampiri Rama sambil duduk di atas kursi yang dia dorong ke sisi ranjang Rama.

"Halo, Rama? Perkenalkan, dengan dokter Satria nih. Jadi, hari ini Rama datang bareng ...?" Satria sengaja menggantung kalimatnya yang terdengar sungguh sok asyik, seraya mulai mengambil sebelah lengan Rama yang diindikasikan bermasalah secara hati-hati.

"Kak Mon," jawab Rama pendek, tanpa melirik Mona yang tengah berdiri malas di belakang punggung Satria.

"So, Kak Mon itu adalah ...?"

"My sister lah!"

"Ahh, I see." Meski nggak melirik, tapi Satria dapat merasakan hadirnya sebentuk pandangan yang menusuk punggungnya. "Em, ini gatel, yah?" sambungnya nggak seberapa lama pasca-sepersekian detik mengamati penampakkan wujud permukaan kulit yang sedikit menebal dengan ruam kemerahan berbentuk cincin melingkar, sebesar koin lima puluh perakan, pada lengan bagian dalam Rama.

"Yes."

"Di sini saja atau ada juga di tempat lain?"

"Rama kira sih ada another one di bahu, Dok, Rama nggak bisa lihat, tapi gatel."

Satria mengangguk kemudian mengecek bahu atas, sebelah kiri milik Rama yang ternyata memang benar memiliki kondisi sama seperti lengannya. "Okay, do you have any pets?" tanya Satria masih sambil mengamati kondisi kulit Rama.

"No! But, Kak Mon has Fani," balas Rama.

"Fani?"

"Kucing," sahut Mona ogah-ogahan.

Satria sontak berbalik demi menatap Mona, "Apakah kucing kamu sudah divaksinin?"

"Jelaslah Fani rutin vaksin kok. Tapi, nggak tahu yah kalau Marlon, dia kucing titipan teman saya dan dia emang baru saja ketahuan kena infeksi jamur."

Satria mengangguk-angguk, mencoba mengerti arah pembicaraan Mona. Fani dan Marlon yang disebutkannya adalah hewan berbulu toh. Nama Fani dan Marlon terlalu lucu buat ukuran seekor kucing, anyway. Dan, sejak kapan Mona suka memelihara kucing? Benar-benar sebuah perubahan yang besar!

"Untuk saat ini, hindari mencium dan menyentuh hewan di bagian mulutnya yah? Khususnya yang jadi sumber penularan. Jangan berbagi makanan dengan hewan peliharaan, dan batasi kontak terlebih dahulu pokoknya," Satria mencoba menjelaskan. "Tapi, kucing yang terjangkit jamurnya udah dibawa ke Veterinarian kan?"

"Iya." Mona memutar bola matanya sebal karena, sedari tadi nggak kunjung selesai!

"Oke. Bukan cuma orangnya lho yang harus diobati, tapi sumber yang terinfeksi jamurnya juga. Biar nggak jadi mata rantai yang terus menularkan," pesan Satria sembari menuliskan resep obat di kertas. Ia memberi obat salep dan krim untuk Rama. Ia bersyukur bahwa keadaan Rama termasuknya masihlah gejala ringan sih sehingga seharusnya nggak perlu menerima resep oral. "Tenang saja, Rama, besok pas dioles pasti langsung kabur deh jamurnya dan nggak gatel lagi. Rajin-rajin bebersih yah?" lanjutnya, menyerahkan resep tersebut kepada Mona.

"Terima kasih," ujar Mona sambil lalu, hendak berbalik pergi.

"Ramona?"

Entah kenapa Mona justru menoleh kembali ke arah sapaan tersebut. Layaknya sebuah aksi bunuh diri, Mona sontak gelagapan. Di pertemuan pertama ini, Satria bahkan sudah begitu berhasilnya menjarah seluruh pikirannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sialnya lagi, Rama sudah melesat keluar ruangan dengan keadaan pintu tertutup rapat.

Ugh! Rama nggak jadi deh gue tambahin uang jajan lo! Dasar Krucil nakal!

"Apa?" Mona merapatkan tubuhnya sendiri ke daun pintu tanpa sadar ketika, dilihatnya Satria mulai berjalan mendekat menuju posisinya.

"Can I have your number?"

"Hah?"

"Aku boleh minta kontak kamu?" Satria mengulang.

"Untuk apa?" tanya Mona tegang, karena Satria sudah sampai tepat di hadapannya. Gila! Gila! Dari jarak ini Mona bahkan dapat dengan jelas mencium aroma jeruk segar yang berusaha mengusik hidungnya.

Satria mengerutkan dahi, ia menahan tawa—entah sudah yang ke berapa kalinya sejak kembali bertemu dengan Mona, "Aku pikir itu—"

"Saya pikir itu nggak perlu dan bukannya saya sudah bilang untuk nggak bersikap sok kenal dengan saya?" gunting Mona, ia memegang handle pintu, berniat agar dapat segera keluar dari sana.

"Tapi, aku nggak bisa pura-pura. Faktanya, aku kenal kamu. Dan, aku cuma nggak ingin terjadi apa-apa dengan Rama," Satria memberi alasan yang terdengar sebagai modus semata bagi Mona.

"Jika Rama sakit lagi, saya akan mencari dokter kulit lainnya," ujar Mona.

"Kenapa?"

"Ya, terserah saya lah. Rama adik saya, mau saya bawa dia berobat ke mana kek. Ini Jakarta, ada segudang dokter kulit lainnya yang saya yakin banyak dari mereka yang jauh lebih segala-galanya dari kamu!"

"I see ...." Satria tersenyum simpul. Ia melihat tatapan mata Mona yang setengah menunduk, wanita itu sengaja mengalihkan tatapannya. Satria juga melihat tangan Mona meremas tas hingga buku-buku jemari itu memutih. Satu sisi dalam diri Mona yang Satria kenal betul.

Lalu, tanpa sengaja perhatian Satria sempat mengenai pergelangan Mona, di mana di sana tampak adanya sebuah gelang bertuliskan La-Mona. Sepertinya, ia nggak asing deh dengan kata itu. Karena, akhir-akhir ini rekan kerjanya baik Raka, Dimas atau bahkan Tiara kayaknya terus saja menyinggung-nyinggung kata 'La-Mona' dalam setiap percakapan. Namun, apa betul cuma karena itu?

Satria menatap Mona lebih intens. "La-Mona yah," ucapnya.

"Saya nggak ingin Rama menunggu lebih lama. So, permisi!" Mona cepat-cepat mendorong pintu, meninggalkan Satria yang mungkin sedang disisipi oleh rasa penuh kemenangan.

***

"Fan, masa tadi gue ketemu sama Si Bangsat tau di klinik yang kita nganter Rama," Mona merubah posisi tidurnya menyamping—menghadap Fani. Semengara Fani memperhatikannya seakan mendengarkan keluh kesahnya. "Gue mesti gimana dong, Fan?"

"Meow."

"Iya, iya lo tau sendiri kan, Fan, Satria itu emang sebangsat itu! Dia dulu ninggalin gue gitu aja, Fan seakan-akan kami ini nggak pernah kenal dan tadi ngapain coba dia pake sok kenal gitu? Nggak ada tuh dia ngerasa bersalah atau apa kek. Minta maaf aja lupa! Dasar tengik!"

Fani menggeliat mendekatinya. Di setiap situasi macam ini, Fani adalah tempat satu-satunya ia bisa bercerita apa saja.

"Meowww."

"Tau nggak lo? Tampilan barunya Si Bangsat? Busettttt dah, dia nggak banget, Fan! Makin dekil, item, berewokan, kayak preman pasar aja! Macem nggak terurus gitu loh, Fan, ih nggak banget kan? Gue yakin tuh orang nggak mandi satu abad!" cerocos Mona.

"Meow."

"Serem Fan, sumpah! Gue nggak boong!"

"Meow."

"Serius, gue nggak ngibul!"

"Meow."

"Lo nggak percaya?"

Fani dengan santai menjilati kaki-kakinya.

"Oke, dia jadi ganteng. Terus, gimana kalau gue ketemu dia lagi? Dia kan dulu nekatan. Gimana kalau—"

"Meow."

"Kalau ...."

"Meow."

"Kalau ...."

"Meow."

"Gue gagal move on?"

***

Kami datang lagi eaaaak 😂😂😂

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top