Bab 9


Entah itu cuma perasaan Mona doang atau bukan, tapi langit Jakarta malam ini memang terkesan jauh lebih pekat hitamnya dari malam-malam biasanya. Apa itu buruk? Absolutely not!

Karena, berkat langit yang super-kelam tersebut maka, tirai-tirai berwarna broken white yang terbentang secara bersekat-sekat—bagai atap—di sepenjuru ruang terbuka, betul-betul menjelma jadi kayak tuts-tuts piano. Nggak berhenti sampai di sana, lampu-lampu senar pun ikut tergantung macam tabir, menjuntai, memanjang, serta menciptakan cahaya berefek vintage, hingga mencapai selajur tangga tepat di sisi poros utama.

Meski demikian, bagian favorit Mona tetaplah area jalan setapak yang beralaskan beton, lalu dilapisi oleh gelaran karpet putih lengkap dengan ratusan lilin yang berjejer pun berpendar-pendar lembut, persis pada lajur tepinya—yang, pastinya diselingi pula oleh vas-vas tinggi berisi rangkaian bunga karya La-Mona.

Uh! Look! Rangkuman pink orchid yang dikombinasikan bersama untaian-untaian greenery juga white rose itu sungguh—

"Keren yah, Mbak Mon?" Jesika dengan bisikan mautnya tiba-tiba menginterupsi lamunan panjang Mona.

Membuat perempuan dalam balutan one shoulder jumpsuit hitam tersebut sontak berdeham dan menyahut cuek, "Lumayan lah."

"Ogh, orang awesome maksimal gini kok. Jadi, pengen ikutan merit juga nggak sih, Mbak Mon?"

"Biasa aja tuh."

"Ih, Mbak Mon mah! Jes sih, yah rasanya pengen gitu kayak Mbak Victoria tadi. Pake kebaya cantik, sambil pegang hand-tied klasik ala-ala bulatan kipas dari La-Mona. Terus ngegandeng lengan cowok kayak Mas Sultan yang luar biasa genteng itu nyambi turun satu demi satu undakan tangga. Abis itu, ngelempar bouquet aphrodite featuring myrtle dengan manja dan lanjut berdansa deh uwhhhh!"

"Bangun, hoi! Jomblo kalo ngimpi sambil pegang GPS, please, biar nggak nyasar kalo kejauhan!"

"Aaah, Mbak Mon mah!" Jesika manyun.

"Noh, centrepiece yang di meja deket gapura masuk, buru deh lo tambahin bunga mawar putihnya kalo yang lalu lalang udah agak sepian! Ambyar banget gila, gue lihat abis dicomotin orang!" titah Mona bossy seperti biasa.

"Lha, ntar juga dicomotin lagi, Mbak Mon."

"Jesika," Mona mendesiskan nama anak buahnya, di mana yang punya nama tahu betul bahwa itu adalah sebentuk tanda peringatan jika Mona nggak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.

"Iya, Mbak Mon. Siap!" patuh Jesika lagi dan akan terus lagi. "Eh, eh, Mbak tahu belum sih? Katanya, mempelai ceweknya, Si Mbak Victoria itu ada percikan-percikan konglomeratnya loh," sambungnya membagi gosip.

"Percikan konglomerat apaan? Wong pesen kembang aja nawarnya nyampe sepuluh kali, udah dikasih diskon lima persen aja minta nambah jadi lima belas persen!" bantah Mona menggebu, teringat kembali akan proses dealing bersama kliennya yang malam ini melangsungkan resepsi pernikahan di kawasan Pondok Cabe—yang superkikir, sampai-sampai mereka harus terlibat tarik-ulur duit sebesar lima puluh ribu rupiah.

"Tapi, seriusan ah, tamu-tamunya yang pada dateng tuh bukan kaleng-kaleng. Tadi pagi aja, Jes lihat ada bintang iklan sabun colek dateng," ujar Jesika.

"Bodo amat! Bukan urusan gue! Mau bintang sabun colek kek, bintang porno kek, enggak ngefek juga buat hidup gue!" tepis Mona.

"Ah, Mbak Mon mah nggak asyik!" gerutu Jesika.

"Lagian, kalau tamunya emang nggak kaleng-kaleng ngapain coba mereka nyomotin kembang yang jelas-jelas bukan disediakan buat dicomot?" jengkel Mona. "Udahlah, gih buru ambil stok kembang kita, yang jalan mulai agak sepian tuh!" lanjut Mona sambil terlebih dahulu beranjak pergi guna menyongsong letak meja yang ingin dia perbaiki setting-annya.

Tangan-tangan Mona sedang sibuk merapikan bunga dalam vas secara diam-diam—di samping para tamu yang menuju jajaran meja berisi makanan—ketika, matanya dibuat mendadak melebar akibat menemukan wujud seseorang yang baru saja tertangkap melewati pintu masuk dan praktis membuat Mona secera refleks langsung sigap merunduk ke bawah meja.

Oh, God! Dosa apa sih seorang Ramona itu? Kenapa takdir suka banget mengerjainya?!

Kali ini apa?

Oh, please! Baru semalam loh dia bertemu dengan manusia mengesalkan itu! Mungkin juga belum ada genap dua puluh empat jam! Apa, ya nggak terlalu kecepatan mereka bersinggungan lagi di tempat ini?

Lagipula, apa-apaan sih itu Si Bangsat? Kenapa dia sampai segitunya nekat buat nyamperin Mona—bahkan sampai ke tempat kerjanya? Terus, dari mana pula dia tahu jika Mona sedang memiliki agenda tugas di Depok? Ya, kali dia sempat singgah ke La-Mona? Namun, yang paling anehnya lagi, kok, ya bisa Satria lolos, masuk ke venue acara resepsinya Victoria?

Mengintip melalui celah di kaki-kaki meja ke arah Satria, dapat Mona lihat bahwa pria itu masihlah berdiri di sekitaran gapura yang tersusun dari lengkungan akar serta semak belukar.

Dengan hem batik cokelat terang, Satria tertangkap terus sibuk mengutak-atik ponsel. Dan, itu mungkin cuma sedetik saat Mona berkedip lalu, tahu-tahu berikutnya sudah muncul sesosok wanita ber-midi-dress batik dengan aksen warna senada, yang mengambil tempat untuk menggamit santai lengan Satria untuk kemudian, berjalan bersama, saling bersisian menuju area pelaminan.

So, pria itu ada di sana ternyata bukan untuk membuntuti Mona, tapi buat kondangan? Oh, God!

"Mbak Mon, ngapain di situ?" Buyar sudah semua!

Mona bahkan harus merelakan dahinya terjedot pinggiran meja tatkala mencoba untuk bangkit gara-gara terlalu terkejut akan hadirnya seruan Jesika di tengah aktivitas pengintaiannya! Sial!

"Mbak Mon, ngapa—" Jesika nyaris mengulang—dan mungkin bakal membuat keributan—untungnya telapak tangan Mona dengan luar biasa sigap bergerak taktis untuk membekap mulut ceriwis itu.

"Diem!" Mona berdesis sarat akan ancaman. "Gue abis nemu kotoran barusan dan kepengen buru-buru ngebuang," ujarnya penuh penekanan seraya mulai melepas Jesika yang pelan-pelan mengangguk paham—meski bisa jadi nggak beneran mengerti perihal situasi yang tengah terjadi. "Nah, lo benerin dulu deh bunga yang di meja tuh! Gue haus, mau cari minum bentar. Titip lo lihatin rangkain kembang-kembangnya, oke?"

"Siap, Mbak Mon!"

Mona pun pelan-pelan melangkahkan kakinya—tentu bersama netra yang terus awas menginvasi sekitar, kalau-kalau makhluk yang dihindarinya terjaring mendekat.

Jantung Mona bahkan belum berdetak normal, sewaktu tangannya berhasil menggenggam segelas minuman. Pun, kerongkongannya toh, tetap kering kerontang begitu dia berbalik badan serta malah bertemu muka dengan orang yang membuatnya kontak menjatuhkan gelas—kaget.

"Lho, Mona ...?"

Itu, mungkin bakal lebih baik andaikan Satria sendiri atau Tiara sendiri saja yang mesti Mona hadapi. Bukannya malah langsung dua combo bom begini!

***

Fani ganjen ewh, tapi ndak apa daripada kepedean kek Mona 😰😰😰

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top