Bab 7
Mona sedang asyik mencocol udang crispy ke atas sambal luat yang kemarin Denada hibahkan di kawasan dapur saat Rama—adik semata wayangnya—tiba-tiba berteriak-teriak kencang sambil berlari ke arahnya. "Kaaaaaaak Mon, Kaaaaaak Mon, Kaaaaaaaak Mooooon ...!"
Terpaksa mengabaikan kegiatan bersantap rianya, Mona ogah-ogahan berbalik badan. "Apaan banget dah Si Krucil! Kenapa lagi, hah? Lo pipis di celana?" tebaknya seraya bertolak pinggang, netranya bahkan dengan awas memicingi sesosok bocah berpipi menggelembung macem balon, hidung kayak sunset di tengah bukit, mata segaris lurus doang—yang to be honest, nggak ada mirip-miripnya tuh dengan dirinya. Entahlah. Siapa yang tahu kan kalau dulu waktu lahiran Si Rama ini ternyata diam-diam sempat kena tuker di rumah sakit? Ya bisa aja kan? Cuma nggak ada yang percaya juga sih dengan asumsi Mona tersebut secara selain fisik, Rama itu betul-betul bagai pinang di belah dua dengan Mona, khususnya dalam urusan berisik serta bacot.
"Ihhh, ya enggaklah kan Rama udah grade three masa ngompol?"
"Grade three-grade three," gerutu Mona masih nggak habis pikir sebenarnya akan kebiasaan Rama yang doyan abis mencampur-adukkan bahasa dengan nyelenehnya. "Terus, Mami ke mana? Kok sepi?" Benar. Di luar suara gaungan Rama, kalau dipikir-pikir sedari masuk rumah sekitar sepuluh menitan lalu, Mona nggak mendengar apa-apa—berisik-berisik percekcokan antar tokoh sinetron azab yang suka Maminya tonton misalnya?
"Ke rumah Aunty Ocha kan," Rama menjawab.
"Kok, lo nggak ngikut? Tumben?"
"Males. Kikanya juga has gone on a trip."
"Dasar Mini Bucin lo!"
Rama cemberut, membuat bibirnya yang nggak seberapa lebar malah kayak cuma sejempol. "Marlon is so nakal tau, Kak," adunya kemudian.
"Ya, baguslah. Jadi kan lo ada temen nakal." Mona menyahut asal, jarinya bersiap untuk meraih udang-udang lain di atas piring.
"Iiiih! Kapan sih dia returns to his house-nya, Kak?"
"Ntar."
"Ntar-ntar mulu nunggu Rama dicakirin sebadan-badan gitu? Ini lagi, Kak Mon itchy nih tangan Rama."
"Garuklah!" Mona mengunyah santai udang goreng tepung favoritnya.
"Aaaah! Kak Mooon mah!"
"Apa sih? Ampun deh ribet! Sana gih kerjain PR atau ngapain kek, ngedot, molor udah malem!"
"Enak aja! Rama not ngedot anymore! Eh, by the way, tadi Rama lihat Marlon ada botak gitu lho, Kak Mon around his kelek."
"Heh! Pala yang botak! Mana ada kelek kucing botak!" semprot Mona.
"Itu lho, maksudnya the fur around his kelek is rontok. Marlon's skin pada merah-merah gitu. Makanya, shampooin dong Marlonnya!"
"Hoax aja lo tadi juga oke-oke aja!"
"Beneran, Kak Mon. Rama not lying kok, Marlon jadi pitak gitu keleknya. Cek aja, if you don't believe it!"
"Oke, gue cek. Awas yak lo kalau boong! Siap-siap uang jajan lo selama sebulan setengahnya masuk kantong gue!" ancam Mona seraya bergegas menaiki undakkan tangga menuju kamarnya di lantai dua, di mana Fani dan Marlon kerap tinggal juga beraktivitas.
Begitu pintu dibuka, tampak jelas Marlon lengkap bersama Fani yang sedang menggoler-goler malas di atas karpet wol kesayangan Mona tepat di tengah ruangan.
Buru-buru menyongsong keduanya, Mona lalu mengangkat tubuh Marlon demi mengamati keempat kakinya—meski kucing gemuk itu sempat memberontak karena, kegiatan kelonannya dengan Fani terganggu.
Dan, Rama nggak bohong anyway. Ada sejenis ruam, melingkar serta ada kesan agak tebal sewaktu Mona mencoba menyentuh kulit bagian dalam kaki belakang Marlon yang sebelah kiri. Tapi, gimana bisa? Mimi kan protektif banget. Apa baru-baru ini Marlon kena? Dari mana? Ketularan siapa? Fani? Nggak mungkinlah atau ....
Bayangan kucing kampung hitam yang suka diundang Fani ke halaman rumahnya berkelebat dalam benak Mona.
Ya, Gusti!
Mona segera berbalik memandangi Rama yang ternyata mengikutinya dan berdiri di ambang pintu. "Lo udah ngapain aja sama Marlon?"
"Ngapain? Playing lah."
"Lo pernah tidur bareng Marlon?"
"Yep, maybe once or twice or Marlon suka naek ke kasur Rama. Kalau abis beres sekolah, kita main. Marlon suka sembunyi di bawah selimut Rama juga sih. Terus—"
"Kita ke Dokter!"
"Ihhh, nooooo ke Dokter, please noooo! Rama hate going to the Doctor, Kak Mon!!"
Mona memicing sengit saat tetap memaksa menggeret Rama di samping juga lekas memasukkan Marlon dan Fani ke dalam kennel box masing-masing.
***
Sejak kapan nyari klinik kulit di Jakarta sesusah jomblo nyari jodoh? Entahlah. Mungkin sejak Mona harus menyetir mobil dalam kecepatan keong setelah sebelumnya, sempat terjebak macetnya jam pulang kantor di sekitaran Gandaria—pasca-mengunjungi Pet Clinic demi mendapatkan obat oral untuk Marlon, ya, hanya Marlon, sebab, untunglah Fani nggak ikut terpapar serangan dermatofita.
Lalu, sekarang tugasnya adalah membereskan masalah Rama—yang sepertinya justru tertular—sebelum, Maminya tahu dan malah nanti misuh-misuh nyampe subuh. Yah, mending sedia getek sebelum banjir kan?
Sialnya, sudah dua klinik yang Mona datangi justru telah tutup. Hish! Padahal, baru jam delapan lewat sedikit lho. Nggak bisa apa mereka nerima satu pasien lagi? Bikin Mona tambah puyeng aja!
Saat ini, Mona sedang berhenti di lampu merah dengan Rama yang terus mengoceh soal: kapan nyampe, ngantuk, pengen pulang, laper, mau minum susu lah, apa lah, ketika akhirnya Mimi membalas chat yang sudah Mona kirim sedari setengah jam lalu. Hilih! Dasar Si Mimi yak malah bermantap-mantapan mulu! Nggak inget banget kalau nih, anaknya di rumah lagi meriang gini!
Amera Dermatology & Venereology Clinic. Kata Amy Baskoro ini keren, Beb ampuh gitu trus dktrnya ganteng lagi. Knp gitu? Lu panuan?
Mona memutar bola mata tanpa sadar. Mengabaikan kekepoan Mimi, dia segera menginjak pedal gas kala lampu berubah hijau, tinggal putar balik di depan, jalan lurus beberapa puluh meter, plus belok kiri satu kali maka, dia akan sampai di alamat Amera yang barusan Mimi share. Semoga sih masih buka!
Tepat pada jam delapan lewat tiga puluh, Mona berhasil memarkirkan HR-V merahnya di pelataran klinik yang lumayan luas. Amera cabang Dermatology & Venereology tuh kalau boleh dibilang nggak sebesar klinik khusus perempuan dan anak yang pagi tadi Mona datangi. Pun, seperti Amera-Amera bidang yang lain, klinik yang satu ini juga nggak lupa untuk memajang wajah awet muda Amera Hustadja—Founder Yayasan Amera, yang denger-denger sih bakal masuk bursa Calon Menteri Kesehatan pada kabinet selanjutnya—di tiap-tiap tembok depannya.
Disambut dengan ramah oleh seorang Mbak-Mbak di bagian Resepsionis, Mona melakukan pendaftaran, cukup singkat. Karena, memang nggak ada pasien lain lagi di sana. Mungkin gara-gara telah mendekati jam-jam tutup klinik atau karena, kebetulan belum masuk musimnya banjir sehingga kulit-kulit warga Jakarta pada sehat-sehat semua. Yah, entahlah.
Celingak-celinguk sambil duduk di ruang tunggu, actually bagi Mona, Amera yang satu ini agak beda sih suasananya. Gimana ya? Nggak kayak klinik-klinik yang umumnya bau obat atau orang sakit, Amera spesialis Dermatology & Venereology ini punya bau floral yang manis, nggak yang terlalu nyogok hidung gitu waktu dihidu, lebih ke wangi-wangi macem parfum favoritnya cewek-cewek yang nggak banyak gerak-gerak gitulah—kalem.
Alasannya?
Bisa jadi karena, pot berisi Night-Scented Stock yang ada di sisi jendela, yang tengah dibiarkan terbuka. Jika Mona nggak salah ingat, Matthiola Longipetala yang bunganya berwarna ungu dengan kelopak-kelopak mungil, sekitar satu atau dua sentian itu tuh emang suka menebarkan aroma vanilla di setiap sore nyampe malam hari.
Keren sih.
"Atas nama Rama silakan masuk yah, Kak!" Seseorang menginterupsi pengamatan Mona.
"Oh, udah yah?" ujar Mona memastikan.
"Iya."
Berdiri, Mona terpaksa menggendong Rama yang sudah kelewat bongsor itu di depan dada—akibat bocah tersebut ngakunya terlanjur ngantuk dan sedang kumat manjanya. Melangkah satu demi satu dengan lumayan kepayahan, tangan Mona berusaha mendorong pintu kaca yang entah tadi bertuliskan Dokter siapa.
Sukses menyelundupkan tubuhnya ke dalam ruangan, Mona lantas menyapa, "Selamat mala—" Bukan cuma kata-kata yang mendadak lenyap dari lidahnya, tapi juga detakkan jantungnya yang tiba-tiba saja seperti disembunyikan hingga nggak lagi mampu terdengar. Seakan hal itu nggaklah cukup, hati Mona bahkan terasa diremas, menimbulkan rasa nyeri yang di belasan tahun belakangan telah begitu dihafalnya.
Dan, Mona benci kala bola matanya yang membola dengan lancangnya berkaca-kaca saat bibirnya merapal tanpa suara, "S-a-t-r-i-a."
Tapi, kenapa baru datang sekarang?
***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top