Cháthike
Bayanganku dirusak oleh riak. Oleh ombak-ombak kecil yang diciptakan gerakan sirip dan ekor ikan di dalam kolam. Aku tak bisa melihat wajahku dengan baik, dan meski bahkan bayanganku itu bisa terlihat dengan jelas, aku merasa sangat malu untuk menatapnya.
Kepalaku masih dikuasai oleh pening. Aku tidak ingat apapun apa yang terjadi di sisa malam. Pagi ini aku terbangun di atas lantai, hanya memakai celana dalam, dengan tubuh yang lengket dan gatal. Mifta tidak terlihat di manapun, yang kutemui pertama kali saat membuka mata justru Leony, yang masih mengenakan penutup mata bajak lautnya, sementara satu matanya menatapku seolah kecewa. Loncengnya berdencing, mungkin sudah kelaparan, tetapi Leony kabur di detik berikutnya karena aku mulai muntah-muntah di atas lantai.
Aku berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan sisa muntahku di dalam kloset. Aku tidak yakin berapa lama aku duduk berlutut di sana. Usus-ususku terasa seperti saling terikat bagai kabel yang kusut di bawah meja kantor. Saat membersihkan tubuhku dari alkohol yang lengket pun aku masih muntah sesekali. Kencing mungkin lebih dari sepuluh kali. Mataku berputar-putar, dan sempat kukira akan terjatuh di kamar mandi, kemudian tewas di dalam sana dalam keadaan telanjang. Aku pernah mendengar lebih banyak orang yang dibunuh oleh kamar mandi daripada ikan hiu.
Tetapi meski sudah mandi, memakai baju yang bersih, dan membereskan jejak muntahanku di atas lantai, kepalaku masih saja sakit. Aku tidak ingin makan meski lapar, takut akan muntah lagi. Jadi itulah kenapa kuputuskan untuk pergi ke kolam pagi ini, berharap warna-warna cerah ikan atau suara air yang berjibaku bisa menenangkan pikiranku.
Cukup sudah. Aku berjanji tidak akan meladeni Mifta lagi. Kalau perlu aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Satu-satunya hal yang kuingat setelah Mifta memaksaku meneguk minuman keras itu adalah kami tertawa bersama-sama. Entah bagaimana aku berakhir nyaris telanjang setelah itu, mungkin Mifta yang menarik celanaku, atau aku yang sudah terlalu mabuk dan dengan senang hati ikut telanjang seperti Mifta. Meski aku penasaran setengah mati dengan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi biarlah Tuhan yang jadi saksi terakhir untuk semua itu.
Seumur hidup belum pernah aku mabuk. Seumur hidup belum pernah aku mabuk sampai separah itu. Seumur hidup belum pernah aku jadi sinting seperti itu.
Kuhabiskan hampir seharian penuh dengan duduk di bangku dekat kolam. Tak ada siapapun yang datang kemari selain diriku. Tidak bahkan Praga juga menampakkan pucuk hidungnya, dan sebaiknya memang begitu. Aku juga tidak mau bertemu dengan pria itu lagi. Aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa padanya jika misalnya kami berpapasan secara tidak sengaja, sementara bayangan Praga yang bercinta dengan mahasiswa itu terus kembali ke kepalaku setiap tiga puluh menit.
Sungguh kepalaku sedang diaduk-aduk oleh banyak sekali hal. Praga, Mifta dan pesta kami semalam. Mungkin sebenarnya semua itu yang membuat kepalaku masih sakit, bukan efek sisa dari alkohol tengik yang Mifta recoki padaku.
Nyeri di dahiku tak kunjung hilang meski aku sudah ingin pergi dari kolam. Mungkin sudah mereda sedikit, tetapi penglihatanku masih berputar-putar. Aku beranjak dari tempat itu setelah pukul empat sore. Bukan hanya karena aku ingin segera beristirahat, tetapi juga menghindari Praga yang mungkin akan segera datang.
Di lorong lantai tiga, aku berpapasan lagi dengan seorang cleaning service saat meninggalkan lift. Petugas itu masih mengenakan seragam serba coklat. Baju, celana, sepatu, dan topinya. Tangannya mendorong troli ember dengan gagang pel. Dia menunduk, tetapi mungkin sempat melempar senyum padaku saat masuk ke dalam lift. Aku tak tahu. Aku tak melihat petugas itu dengan baik. Saat ini yang kuinginkan hanya kembali ke kamar dan beristirahat dengan tenang.
Hingga tiba di depan pintu kamar asrama Kafta, dan seluruh adrenalin di dalam tubuhku rasanya meningkat secara drastis.
Aku lupa mengunci pintu.
Dengan seluruh sakit kepala, ditambah kini dadaku yang berdebar kencang, aku langsung berlari masuk. Kuperiksa setiap sudut kamar asrama Kafta. Apa yang hilang? Semuanya tampak bersih. Semua masih terlihat ada di tempatnya.
Televisi itu masih tergantung di dinding sebelah kanan. Apa lagi barang berharga di tempat ini? Sofa Kafta yang masih bau alkohol masih ada di sana. Akuarium ikan Kafta ada di sudut ruangan. Keempat ikannya masih berenang dengan tenang, sesekali satu ikan bertabrakan dengan ikan lain.
Di dapur, semuanya juga baik-baik saja. Kompor datar itu masih ada, piring-piring Kafta tak tersentuh. Leony di sudut dapur mengeong padaku dengan lantang. Suara loncengnya hampir tak terdengar. Dia pasti lapar, tetapi aku terlalu panik memikirkan benda apa yang mungkin dicuri saat aku menghabiskan hampir sepanjang siang di kolam.
Kamar Kafta. Tentu saja. Di sana lah barang-barang berharganya tersimpan. Aku berlari masuk ke tempat tidurnya, kamar itu bersih, tak nampak habis diacak-acak, tetapi aku tetap ingin memastikan. Kubuka lemari Kafta, baju-bajunya masih tersusun dengan rapi. Nakasnya masih terisi alat-alat kedokteran, dan juga teropong itu masih ada di laci kedua. Apa mungkin memang tak ada yang hilang? Mungkin aku hanya terlalu paranoid.
Atau mungkin tidak. Bagaimana kalau ada barang lain? Barang yang tidak pernah kulihat sebelumnya? Yang disimpan Kafta dengan baik, yang jadi alasan mengapa dia melarangku masuk kamarnya.
Apakah paket itu? Paket yang dicari Mifta? Apakah Mifta masuk kemari dan mengambil sesuatu? Apa dia mengambil sesuatu semalam dan aku tak menyadarinya? Tidak mungkin. Dia terlalu mabuk. Aku bahkan masih bertanya-tanya bagaimana Mifta bisa pergi dari sini dan meninggalkanku terkapar di atas lantai.
Mungkin Praga. Ya. Dia tidak pernah terlihat di kolam. Mungkin dia datang ke kamar Kafta, membobol masuk, dan mengambil sesuatu. Ahhhh! Sialan! Semoga tidak ada apapun yang hilang.
Aku menarik napas panjang, berharap bisa menenangkan diri, tetapi sia-sia saja. Kepalaku semakin berdenyut-denyut. Bagai ada paku yang ingin ditancapkan ke kepalaku dengan palu keras. Aku keluar dari kamar Kafta, dan saat berbalik, napasku langsung tertahan.
Lagi-lagi aku lupa menutup pintu depan, dan kali ini ada sosok pria dengan postur tubuh tinggi berdiri di sana. Mengenakan kacamata hitam serta jas yang rapi.
Aku ingat siapa pria itu, dan dia mendapati diriku baru saja keluar dari kamar Kafta, aku tahu aku dalam masalah yang sangat besar.
Karena pria itu adalah kakak Kafta.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top