Adelfós

Tanganku tertahan di gagang pintu. Padahal aku tinggal menariknya saja dan kamar tidur Kafta akan tertutup dengan rapat. 

Kakak Kafta juga masih berdiri di tempatnya, belum masuk. Dia menatapku, dan aku tidak bisa mencari tahu arti sebenarnya dari tatapan itu. Terpana? Terkejut? Marah? Atau hanya menunggu aku mempersilakannya masuk?

Pastinya dia marah. Aku baru saja masuk ke kamar adiknya, saat Kafta dengan sangat jelas melarangku masuk. Atau mungkin Kakak Kafta tidak tahu tentang larangan itu. Mana mungkin? Tentu saja dia tidak tahu.

Aku tak bisa berkata-kata. Selain memikirkan apa alasan yang harus kusampaikan setelah tertangkap basah. Aku cuman habis bersih-bersih kamar Kafta. Tapi mana sapunya? Tadi Leony masuk ke sini jadi aku keluarin dia. Tapi kucing itu masih di dapur, menunggu makanannya. Tidak akan ada satupun jawaban bohong yang akan membantuku.

Tadi aku duduk seharian di dekat kolam dan pas balik kemari aku baru sadar lupa kunci pintu, jadi aku ngecek ada barang hilang atau nggak. Bahkan kejujuran tak bisa menyelamatkanku.

“Pintunya ... nggak kamu kunci?” tanya pria itu, yang langsung membuatku termenung.

“Eh ...?”

“Tadi pintunya nggak dikunci, atau kamu kunci, yah, kalau udah mau tidur ...?”

Aku masih tidak bisa berbicara. Aku bahkan tidak mendengar dengan baik apa yang baru saja kakak Kafta katakan. Mungkin butuh sampai satu menit sebelum aku akhirnya mengangguk dengan pelan-pelan.

Lalu pria itu masuk, duduk di atas sofa yang untungnya bukan sofa kotor dengan alkohol. Aku beringsut duduk di sana juga, dan bau alkohol masih tercium dengan samar. Semoga kakaknya Kafta tak bisa menciumnya. 

Dia melepas kacamatanya hitamnya, dan aku terkejut mendapati dia memiliki retina berwarna biru. Softlens itu membuat matanya tampak menyala. “Oh iya, kita belum kenalan, ya? Aku Ferry, kakaknya Kafta.” Dia mengulurkan tangan. “Kemarin aku yang jemput Kafta di depan gerbang asrama.”

Kubalas uluran tangan itu dengan canggung. Aku masih takut dia akan mempertanyakan alasan aku masuk ke kamar Kafta.

“Kamu ...?” lanjut Ferry.

“Oh. S–Silas. Aku Silas.” Tangan kami masih terus berjabat dan berayun kecil. Baru kulepas tangannya setelah Ferry berdehem. Seluruh situasi ini benar-benar membunuhku.

Dia tersenyum padaku. Senyum yang benar-benar seperti milik Kafta. Lesung pipi di antara rahang yang kokoh dan wajah mulus tanpa kerutan, kumis dan jenggot, atau penyakit apapun di wajahnya. Ditambah softlens biru itu yang mengingatkanku pada Kafta yang pertama kali kutemui.

“Kamu pasti repot, ya, bantuin Kafta di sini,” sambungnya.

Aku menggeleng. “Eh? Nggak, kok. Kan cuman rawat kucing.” Aku tertawa pelan, padahal tidak ada komedi di sini. Justru yang terjadi sekarang adalah ironi. Merawat Leony bukanlah masalah, tetapi andai saja Ferry tahu apa yang terjadi padaku semalam.

“Syukurlah kalau gitu. Sebelumnya maaf, ya, kalau Kafta udah ngerepotin kamu,” ujar lagi Ferry. Dia menarik tubuhnya keluar dari sandaran sofa, dan menaruh kedua punggung tangannya di bawah dagu.

“Kafta nggak ngerepotin aku, kok, Mas Ferry,” balasku.

Dia tersenyum lagi, tetapi senyuman itu turun dengan cepat. Aku sadar dia ingin mengatakan sesuatu yang serius, mungkin pada akhirnya akan membahas diriku yang berada di dalam kamar Kafta.

Dengan gugup, aku bertanya, “jadi Mas Ferry kenapa datang ke sini?”

“Eh? Emang nggak boleh, ya?” dia bertanya balik, dan aku langsung terperanjat, tetapi tak lama dia malah tertawa. “Aku bercanda, kok. Terus nggak usah panggil Mas, panggil Ferry aja,” sambungnya.

Aku memaksakan tawa, tetapi aku tahu dia masih ingin membicarakan sesuatu yang serius.

“Kafta suruh kamu tinggal di sini berapa hari?” Ferry memulai.

“Sepuluh hari,” kataku. “Tapi kemarin Kafta nelpon aku kalau katanya dia harus tinggal lebih lama di Belanda.”

“Oh, ya? Dia bilang begitu?” tanya lagi Ferry, dan aku mengangguk.

Pria itu lalu mendesah. Dua jarinya memijat tengah kening. “Dasar, Kafta ....”

“M–Memangnya kenapa?”

Ferry lama terdiam, hanya menatapku dan tersenyum, tetapi kali ini senyum itu berbeda. Daripada keramahan, lebih seperti dia berusaha menutupi sesuatu.

“Kamu nggak bertanya-tanya kenapa aku malah di sini, dan bukannya di Belanda jagain ibuku sama kayak Kafta?”

Aku benar-benar baru tersadar. Benar juga. Kenapa Ferry malah ada di sini? Aku hanya menggeleng sebagai jawaban.

Dia mendesah lagi, dan akhirnya berkata dengan lirih. “Dua hari lalu, ibuku udah meninggal, Silas ....”

Rasanya seperti waktu baru saja melambat. Mataku melebar dengan perlahan-lahan. Kusaksikan Ferry berusaha menahan tangis dengan menunduk dan bernapas keras-keras. Apa seseorang masih bisa menangis saat menggunakan softlens?

Aku tak tahu harus berkata apa. Aku ingin ikut berduka untuknya, tetapi disaat bersamaan aku juga bertanya-tanya. Mengapa Kafta masih di Belanda kalau begitu? Mengapa dia malah bilang butuh waktu lebih lama?

“Aku turut berduka,” kataku pada akhirnya, dan dia tersenyum. Matanya memerah—biru dan merah menyatu.

“Terima kasih.”

“Tapi, kalau gitu kenapa Kafta malah bilang—”

“Aku juga nggak tahu,” potongnya. “Aku juga nggak ngerti kenapa. Dokter udah bilang ibu meninggal pas operasi. Tapi pas kami mau balik ke Indonesia, Kafta malah nggak mau pulang. Sekarang dia masih di sana bareng ayah, aku terpaksa balik sendiri karena harus ngurusin pemakaman ibu.”

Suaranya mulai berubah sendu. Ferry terlihat seperti seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, juga seorang anak yang begitu cinta pada ibunya.

“Aku minta maaf, ya, Silas. Kafta benar-benar ngerepotin kamu.”

“Nggak papa, aku ngerti, kok,” kataku dengan bersungguh-sungguh. Setiap orang punya cara yang berbeda-beda dalam melewati duka. Mungkin saat ini Kafta sedang dalam masa penyangkalan. Dia masih berpikir ibunya harus melakukan operasi yang lain.

“Aku kemari sebenarnya mau ngambil Leony. Biar kamu nggak usah tinggal di sini lagi. Aku bakalan bawa Leony pulang ke rumah,” lanjutnya.

“Oh, oke. Tapi ... apa nggak papa? Bukannya tadi kamu bilang harus ngurusin pemakaman ibumu?”

Ferry tersenyum lagi. “Iya, sih ....”

“Aku bisa tetap urus Leony, kok. Sampai Kafta pulang, atau pemakaman ibumu udah selesai.”

Ferry menatapku, kelegaan terpancar di sorot matanya. “Terima kasih, ya, Silas. Aku beneran bersyukur Kafta punya teman kayak kamu.”

Pria itu berdiri, sudah ingin pergi, tetapi kemudian suara Leony terdengar lagi di sudut dapur. Benar juga, aku belum memberinya makan.

“Uh ... permisi,” kataku dan beringsut ke dapur. Leony terus mengeong di sudut, tetapi dia tenang dengan segera begitu kutuang tiga sendok ke atas mangkuk makanannya. Kali ini dia makan dengan lebih pelan, tidak seperti beberapa hari sebelumnya. Ferry menyusulku ke dalam dapur, melihat Leony makan.

Mangkuk makanan itu habis setelah lima menit, dan aku menumpahkan porsi keduanya, tetapi kali ini Leony malah menyingkir dan tertidur. Padahal kucing itu biasa makan sampai tiga setengah porsi. Kemana semua kerakusannya pergi?

“Kamu yang pasang penutup mata itu?” tanya Ferry. Aku terperanjat, tetapi mengangguk. Aku tidak ingin mengatakan kalau Mifta lah pelakunya. 

“Kalau begitu, tolong ya, Silas.”

“Pasti, kok.”

“Leony itu spesial buat Kafta,” katanya. “Leony hadiah dari ibuku buat Kafta, dan dia udah dirawat dari kecil. Nggak ada yang boleh mandiin dia selain Kafta, bahkan potong kukunya saja Kafta harus lakuin sendiri, nggak mau dibawa ke salon hewan. Pas mata kirinya pecah, dia nangis kayak anak kecil. Takut banget Leony mati. Ayahku langsung bawa Leony ke dokter hewan buat amputasi matanya.”

Aku tidak perlu cerita Ferry untuk tahu betapa adiknya sangat menyayangi Leony. Malah awalnya aku bahkan merasa kecintaannya pada Leony terasa aneh.

Sekarang aku bisa mengerti. Ibu Kafta sudah tiada. Aku tidak tahu apakah ini peninggalan terakhir ibunya—dan kuyakini pasti bukan, tetapi seperti kata Ferry. Leony itu spesial. Aku akan menjaganya demi Kafta.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top