Aplistos
Aneh rasanya memikirkan aku kesepian. Tepat setelah Ferry akhirnya pergi dan membiarkanku tetap merawat Leony, hampir tak ada yang bisa kulakukan. Sofa kubersihkan dengan menyemprotkannya menggunakan parfum—milik Kafta. Lantai bekas muntahanku ku pel sekali lagi untuk memastikannya benar-benar bersih.
Setelah itu, tidak ada. Apa berlebihan kalau kusebut hampa sekalian? Ya, aku merasa sangat sendirian. Aku merasa masih ingin berbicara dengan Ferry meski tadi sudah tertangkap basah olehnya, tetapi toh dia sama sekali tak mempermasalahkan diriku berada di dalam kamar Kafta. Aku yakin dia adalah pria yang baik, seperti adiknya. Tapi seperti katanya, dia harus mempersiapkan pemakaman ibunya.
Aku masih belum mengerti alasan Kafta untuk tetap tinggal di sana. Ibunya sudah mati, seperti kata Ferry. Jadi kalau begitu untuk apa lagi dia tetap di Belanda? Aku ingin menghubunginya, tetapi pulsaku tidak akan pernah cukup untuk melakukan telepon luar negeri, bahkan semenit pun tidak.
Jadi darimana semua rasa kesepian ini datang? Efek setelah mabuk? Apa alkohol bisa melakukan hal tersebut? Yang kutahu hanya narkoba yang bisa melakukan hal tersebut. Apakah sangat salah kalau kukatakan, aku ingin Mifta kembali kemari dan menghabiskan malam denganku sekali lagi? Kami tertawa, menari, ereksi, dan pingsan lagi?
Aku ingin tidur, tetapi bukan di atas sofa yang penuh dengan bau bunga ini—atau keju. Parfum macam apa yang Kafta sebenarnya kenakan? Baunya sama menyengat seperti alkohol.
Aku ingin tidur lagi di kamar Kafta. Memang Ferry sudah melihatku masuk ke dalam sana, tetapi dia tidak tahu aku tidur di dalam sana. Lagipula, Kafta yang melarangku, dan Kafta masih ada di Belanda, entah berduka atau jadi gila. Ferry juga tidak ada di sini. Mifta juga tidak.
Aku kesepian, jadi biarlah kuhabiskan itu di atas kasur Kafta yang empuk.
Memasuki tempat ini rasanya sangat salah. Cobalah berdosa sejenak. Mifta mengatakan itu kemarin malam. Sebenarnya kenapa cowok itu terus-terusan kembali ke kepalaku di saat dia sudah menyiksaku seperti tikus got? Apa mungkin ada ramuan aneh di dalam alkohol itu yang akan membuatku jadi kepikiran terus dengannya?
Namun, seperti yang sudah kuduga, aku tidak bisa langsung tidur. Selimut terasa berat di dadaku, seolah menekan napas. Aku menyingkirkannya, lalu menariknya kembali beberapa menit kemudian. Satu kakiku keluar, satu lagi kututup rapat. Aku membolak-balik bantal untuk mencari sisi yang dingin, tapi rasanya tetap sama: kepalaku berisik.
Detak jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Dengung AC seakan-akan memperolok. Jari-jariku tak berhenti mengusap kain sprei, gerakannya kecil dan sia-sia, tak bisa menenangkan tubuhku dengan itu.
Nama-nama mulai berdesakan masuk ke kepalaku. Kafta. Mifta. Ferry. Praga. Semua ikut rebah di ranjang ini, berdesakan di otakku, menolak memberi ruang untuk tidur.
Aku berguling ke samping, dan melirik nakas tiga laci di sampingku. Suara di dalam kepalaku berkata, aku harus melakukannya lagi. Dulu benda itu juga yang membantuku untuk tertidur pada akhirnya.
Jadi aku bangkit, menarik laci yang kedua, dan mengambil teropong itu. Sejenak—dan hanya sejenak, hatiku meminta untuk meletakkan lagi benda itu. Tanganku terasa lemah saat menggenggam teropong, dan membayangkan aku menjatuhkannya lalu memecahkan lensanya, tetapi pada akhirnya aku membuka jendela, membiarkan angin malam membuai rambutku, dan menaruh teropong di depan mataku.
Semuanya masih sama—atau kurang lebih. Gedung yang saling berjauhan, sebagian mematikan lampu, dan tidak sedikit yang tidur dengan lampu menyala. Aku iseng menyorot ke gedung di yang terletak jauh di sebelah kanan, persis di jendela yang terletak di lantai tiga. Lampunya menyala, tetapi kali ini tak ada perempuan yang menumpu kedua tangannya di teralis sambil telanjang, atau Praga yang berdiri di belakangnya.
Salahkah kalau kukatakan, aku kecewa karena tak menyaksikannya lagi? Tak usah dijawab.
Aku menyorot teropong ke kolam ikan. Makhluk-makhluk berinsang itu berputar-putar di kolam, sirip dan ekor mereka saling bertubrukan. Kasihan sekali rasanya harus hidup di tempat yang sama seumur hidupmu. Tak bisa kemana-mana, hanya berputar-putar. Tapi ikan hanya punya ingatan selama tiga detik, kan? Jadi sepertinya mereka tidak pernah peduli betapa monoton hidup seperti itu.
Atau sepertinya hidup menjadi ikan lebih baik. Meski lahir dan matinya hanya ada di dalam kolam, setidaknya mereka melakukannya bersama-sama. Satu ikan dan satu ikan. Bahkan ikan kecil Kafta di akuarium juga berpasang-pasangan. Leony mungkin satu-satunya kucing di sini, tetapi dia terlihat bahagia dengan hidup hanya untuk makan dan tidur. Selain itu, dia punya Kafta, manusia yang rela membayar temannya hanya agar kucing itu tidak hidup sendirian.
Lalu aku .... Kapan terakhir kali aku merasa dicintai?
Yang terlintas pertama kali di kepalaku adalah nama mantan pacarku.
***
Aku tidak tahu kapan akhirnya aku tertidur, atau kalau aku benar-benar tertidur. Kepalaku berat, tubuhku pegal, dan waktu terasa seperti dibajak begitu saja. Tidak ada mimpi. Tidak ada bayangan. Tahu-tahu cahaya terang menusuk dari balik tirai, membuat mataku perih. Rasanya baru semenit aku menutup mata, tetapi jam di ponselku sudah beranjak jauh, menertawakanku lewat angka sepuluh. Aku tidak pernah merasa tidur, tapi tubuhku tidak juga merasa segar. Seolah aku hanya kehilangan waktu, dicuri diam-diam tanpa sepengetahuanku.
Langkahku gontai ke kamar mandi, membasuh muka yang dinginnya tidak cukup untuk menghapus sisa pening. Lalu aku berdiri lama di depan pintu, menatap gagang itu, tidak tahu mau kemana. Sofa bau parfum, kamar tidur Kafta penuh dosa, teropong di laci seperti menatap balik ke arahku. Tidak ada tempat yang benar-benar bisa jadi milikku di sini. Aku bahkan benci wajahku sendiri ketika bercermin di kamar mandi tadi—mata sembab, kulit pucat, bibir kering. Sial, bahkan bayangan pun menolak jadi sahabatku.
Jadi aku pergi.
Aku tidak peduli ke mana langkah membawaku, asal bukan di sini. Lorong panjang itu menyambut dengan cat yang keropos dan minta dibunuh, lantainya mengkilap tapi terasa licin seperti bisa menelanku kapan saja. Lalu tiba-tiba saja aku sudah berdiri di depan pintu perpustakaan asrama.
Aku tidak pernah tahu asrama punya perpustakaan. Pintu kayunya penuh debu, kaca jendelanya berlapis bintik-bintik abu kusam. Aku masuk, dan aroma kertas tua langsung menampar hidungku. Bukan bau nostalgia, melainkan bau sesuatu yang tewas di tempat. Ironisnya—tetapi sangat tidak mengejutkan—satu-satunya orang yang datang ke tempat ini selain diriku adalah penjaga perpustakaan, pria berambut panjang yang diikat ponytail, memakai seragam coklat seperti halnya petugas cleaning service yang kulihat hampir setiap harinya. Kami tak bertukar kata sedikitpun. Dia membuka buku dan aku mengerti harus menulis nama di situ (nama terakhir ditulis sekitar sembilan bulan lalu). Kemudian dia pergi lima menit kemudian, dan sekali lagi aku sendirian.
Rak-raknya dipenuhi buku yang menguning. Tanganku sudah gatal terlebih dahulu sebelum menyentuh buku yang ditumbuhi jamur mungil. Pembatas buku menempel seperti lem basi, meninggalkan noda kecoklatan di salah satu halaman. Aku bersin sekali saat menarik salah satu novel klasik, yang terjemahannya terasa seperti lelucon—paragraf yang berantakan, kata-kata yang terasa diartikan asal lewat mesin. Aku tidak tahu apakah penulisnya sedang bicara tentang kapitalisme, perselingkuhan rumah tangga, atau sapi perah yang sakit flu. Mungkin ketiganya. Mungkin tidak ada artinya sama sekali.
Aku mencari buku lain untuk dibaca, dan pergi dari perpustakaan sebelum penjaganya bahkan kembali. Sepertinya pria itu juga tidak peduli kalau ada orang-orang yang akan mencuri buku-bukunya. Tapi lagi-lagi, ini Asrama Kolam Ikan, tidak akan ada yang mencuri. Mereka kaya. Miris sekali mengetahui buku saja tak mau dibeli mereka, apalagi dicuri.
Aku bertemu dengan beberapa penghuni lain di lorong, mereka tak menyapaku. Aku juga tidak mau melakukan hal yang sama. Kami melewati lorong seperti seekor ikan memutari kolam dengan ingatan tiga detik mereka.
Namun, satu dari sekian banyak penghuni yang tak ingin kutemui di tempat ini, malah berjalan ke arahku, dan menyapaku.
"Selamat siang, Silas,” katanya dengan senyum. Pakaiannya tidak jauh berbeda seperti saat aku bertemu dengannya di kolam. Kemeja kotak-kotak dan celana kain berwarna hitam. Salahkah kalau aku ingin mengabaikan pria ini dan pergi saja? Aku tahu Praga orang yang ramah, tetapi wajah itu bagai topeng kulit untuk menyamar. Ada sosok lain di baliknya.
Aku terpaksa menarik kedua sudut bibirku, tetapi tak mengucapkan apapun untuknya. Untung saja dia pergi dengan cepat.
Tetapi sebelum itu, dia mengatakan satu hal kepadaku. “Kalau mau, kamu bisa cerita masalahmu ke aku. Mungkin aku bisa bantu.”
Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada senyumannya. Aku menatap punggungnya makin jauh, dan jantungku ikut mengetuk dada.
Kenapa dia terus berkata aku punya masalah?
Kenapa dia begitu yakin?
Dan yang lebih buruk lagi—bagian diriku yang lain, bagian kecil yang busuk, benar-benar ingin dia berhenti, berbalik, agar aku bisa bertanya.
Aku menggeleng sejenak sebelum akhirnya berjalan lagi, dan kembali ke kamar Kafta tanpa bertemu siapa-siapa lagi. Leony harus segera diberi makan. Jadi setelah lift terbuka, aku mempercepat langkah ke kamar Kafta. Kumasukkan kunci ke lubang pintu—sudah kupastikan terkunci dengan rapat sebelum pergi, dan saat kukira Praga akan menjadi makhluk hidup terakhir yang harus kupikirkan hari ini, aku salah.
Karena begitu pintu terbuka, kutemukan akuarium ikan Kafta tergeletak di atas lantai. Aku sama sekali tidak ingin mengagumi bagaimana akuarium itu tak pecah.
Karena ada ikan-ikan Kafta yang tergelepar di sisa-sisa air yang tumpah, atau ikan—hanya ikan. Tersisa satu saja.
Leony berdiri di sana, menatapku dengan satu matanya, sambil mengunyah salah satu ikan berwarna merah. Dua lainnya sudah ditelan sampai habis.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top