Eidikós
Leony itu spesial. Dia kesayangan Kafta, dia mungkin segalanya untuk Kafta. Kucing gemuk, berbulu halus, bermata satu, yang makan sebanyak tiga setengah porsi setiap pagi, siang, dan malam.
Kucing itu masih mengunyah, tubuhnya melingkar malas, bulu halusnya yang mengilat di bawah lampu. Satu matanya menatapku tanpa berkedip. Setiap gerakan kecil ekornya seperti menghitung detik kesabaranku.
Aku mendengar denting kecil dari lonceng di lehernya. Hanya sekali. Tapi bunyi sederhana itu menusuk telingaku lebih tajam dari apapun-seakan suara itu mengulang-ulang kalimat Ferry, kalimat Kafta, dan semuanya terasa seperti ejekan.
Leony itu spesial.
Leony itu segalanya.
Leony, Leony, Leony.
Aku meremas lutut, jari-jariku bergetar, dan sebelum sempat berpikir panjang, aku berderap maju. Dalam satu tarikan napas, kakiku terayun, keras, menghantam tubuh kucing itu.
Denting lonceng itu ikut terlempar ke udara sebelum membentur dinding bersama tubuhnya. Digantikan bunyi gedebuk lirih saat dia mendarat di lantai, sebelum Leony kemudian kabur dengan kaki-kaki kecilnya, menghilang ke arah dapur-tempat yang selalu dia anggap rumah.
Suara lonceng yang sama dengan cepat membawaku dalam rasa penyesalan. Tidak seharusnya kutendang Leony. Kafta memintaku untuk merawatnya, bukan mendisiplinkannya. Namun, Kafta juga memintaku merawat ikan-ikannya. Ikan-ikan kecil yang Kafta ceritakan sebelumnya berjumlah delapan ekor, lalu kemudian sisa empat karena Leony suka mengganggu makhluk-makhluk malang itu, dan sekarang tersisa satu karena Leony membunuhnya.
Aku buru-buru mengambil akuarium dan berlari ke dapur untuk mengisinya dengan air kran, lalu cepat-cepat memasukkan satu korban yang tersisa. Ikan itu masih bernapas, syukurlah, tetapi mungkin stres karena pergerakannya jadi sangat cepat. Apakah ikan ini terkejut mendapati sekarang dia sendirian, ketiga temannya telah pergi. Ingatan ikan hanya tiga detik, tetapi yang satu ini bisa saja tiga hari.
Kutaruh kembali akuarium di atas meja di sudut ruangan. Kuberi beberapa butir pelet ikan, tetapi dia tak tertarik untuk naik ke permukaan dan makan. Sejenak hanya kusaksikan dia berenang sendirian. Kesepian. Semua karena kucing yang rakus itu. Padahal ini baru jam dua siang, dan dia sudah selapar itu. Aku mendesah saat beringsut kembali ke dapur. Leony berada di habitat kesayangannya, dia mundur saat menatapku dengan satu matanya. Bagus, sekarang makhluk ini trauma padaku.
Aku menjulurkan tangan untuk mengelusnya, tetapi dia malah mendesis sembari menjauh pelan-pelan. Jadi aku mengurungkan niat, dan lebih baik memberi dia makan. Tiga setengah porsi seperti biasa, tetapi Leony tak menghabiskannya. Tiga ekor ikan mungkin sudah membuatnya kenyang lebih dahulu.
Begitu Leony tertidur, aku kembali ke ruang tengah dan duduk di atas sofa yang masih bau parfum. Sekarang apa? Kafta pasti akan sangat kecewa padaku. Memang, dia hanya ingin aku menjaga Leony, tetapi ikan-ikan itu juga penting. Kalau Kafta tahu Leony memakan ikannya, maka dia pasti berpikir aku lupa memberi kucing itu makan. Sekarang dia hanya punya satu ikan, dan kucing yang ketakutan setelah ditendang.
Kafta memang bukan satu-satunya temanku, tetapi dia yang paling banyak membantuku. Lebih daripada itu, dia mempercayakanku di saat-saat genting. Aku tidak ingin kehilangan dia, tetapi apa yang bisa kulakukan sekarang?
Atau mungkin ada. Kafta belum tahu apapun yang terjadi di sini. Dia tak tahu kalau aku tidur di atas kasurnya, atau aku dan Mifta habis pesta miras di kamarnya. Jadi dia juga tidak perlu mengetahui kenyataan tentang ikan-ikan tersebut. Aku hanya tinggal mencari pengganti untuk ikan-ikan tersebut, dan hanya ada satu tempat di asrama ini untuk menemukannya.
Kuambil sebuah botol minum di dapur, dan meninggalkan kamar Kafta sekali lagi. Tak lupa memastikan pintunya benar-benar terkunci. Aku bertemu dengan cleaning service yang sama saat di dalam lift, dan buru-buru kusembunyikan botol itu di balik pakaianku, tapi kenapa juga harus kulakukan itu? Orang ini tak mengenalku, dan tidak juga tahu apa yang kulakukan. Kami hanya bertukar senyum, dan tak berbicara. Kuharap dia tak menyadari gerak-gerikku yang aneh.
Aku pergi sesantai mungkin saat lift terbuka, dan mempercepat langkah setelah yakin sudah cukup jauh. Ini seharusnya akan jadi proses yang mudah. Karena sesuai dugaanku, tak ada siapapun yang menghabiskan waktunya di kolam ikan.
Mungkin aku akan jadi orang pertama yang mencuri di asrama. Oh, tidak. Kafta bilang ada pria aneh yang suka mencuri di asrama. Aku yang kedua kalau begitu? Tetapi bodo amat lah. Aku juga bukan penghuni, dan tidak ada yang memperhatikan. Lagipula, seperti kata Praga, penghuni merawat ikan untuk kemudian dimasukkan ke kolam setelah mereka lulus dan pergi dari asrama. Jadi pada dasarnya aku hanya akan meminjam ikan-ikan ini, dan Kafta akan mengembalikannya setelah dia selesai.
Masalahnya sekarang adalah, ikan-ikan kecil ditaruh di tengah kolam. Satu-satunya cara untuk pergi ke sana adalah berjalan. Kulepas alas kaki dan menggulung bagian bawah celanaku sampai lutut. Botol minum kugenggam erat dengan kedua tangan.
Satu kakiku sudah siap masuk kolam, sebelum sebuah suara membuatku tersentak. Tubuhku gemetar, telapak tanganku yang memegang botol tiba-tiba saja basah oleh keringat. Dengan napas tertahan aku berbalik, dan menemukan dia lagi.
Praga sama terkejutnya seperti diriku. Pria masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat kami berpapasan di lorong. Begitu Praga mendekat, kepalaku tiba-tiba saja kosong. Bahkan saat dia sudah berdiri di hadapanku, dan menyaksikan alas kaki, celana yang tergulung, dan betapa dekat diriku berdiri di tepi kolam, aku tak tahu harus mengatakan apa-apa.
Aku harus pergi, berlari dari sini, tetapi semuanya seolah berhenti. Kakiku tak bisa digerakkan. Semuanya kaku dan beku. Aku sudah tamat.
"Silas? Kamu ngapain?" tanya Praga. Aku menelan ludah sekeras mungkin. Harus berkata apa? Dia menatapku dari atas ke bawah, seolah berusaha memastikan apakah aku memang akan mencuri atau tidak. Mungkin dia sedang mencocokkan rumor pencuri asrama dengan diriku.
"Kamu-"
"Aku mau ngobrol sama Mas Praga," ucapku hampir berteriak. Adrenalin yang memaksaku untuk memotong bicaranya. Semua ini salah-sangat salah.
Sebelah alisnya terangkat, menungguku. Aku merasa tak bisa menarik napas. "Aku ... mau bicara sama Mas Praga. Aku nyariin Mas Praga."
"Bicara?" tanya lagi pria itu.
"Ya." Aku mengangguk berkali-kali, berharap dia mau mengabaikan niatku untuk mencuri ikan. "Aku mau obrolin masalahku."
Raut wajahnya masih sama. Terkejut dan bingung bercampur bersama rambutnya yang sudah putih sebagian. "Okey ...." Dia berhenti sejenak. "Sekarang?"
"Ya, sekarang," jawabku terpaksa.
Lalu senyap, tak ada suara selain percikan air. Lagi-lagi, bayangan saat Praga bercinta dengan perempuan itu kembali ke kepalaku. Situasi ini benar-benar membunuh. Seharusnya aku memang kabur saja dan bukan malah meladeninya. Tak lama senyuman ramah itu kembali di wajahnya, dan itu tak membuatku merasa lega sedikitpun.
"Baiklah," katanya. "Kita boleh ke kamarku. Di sini agak panas, dan siapa tahu ada orang lain yang datang."
Aku mengangguk lagi, dan dia berjalan pergi. Aku buru-buru mengambil sandal, dan kupikir sekarang saatnya untuk benar-benar kabur, kembali ke kamar Kafta, menunggu sampai waktunya tepat, dan mencuri ikan. Namun, tidak kulakukan.
Justru malah kuikuti Praga, tepat di belakangnya. Lalu Praga melambatkan langkah agar kami bisa berdampingan. Bayangan itu kembali. Dia berdiri di belakang perempuan itu, bercumbu di depan jendela, dan mungkin aku satu-satunya yang pernah menyaksikan hal tersebut.
Tak ada pertukaran kata hingga kami tiba di kamarnya. Dengan jarak gedungnya yang ternyata cukup jauh semakin menambahkan kecanggungan yang kurasakan, tetapi sepertinya Praga tak merasakan hal yang sama.
Kami masuk lift, dan keluar saat mencapai lantai dua. Dadaku mulai berdebar saat kami melangkah menuju pintu kamarnya yang terletak sedikit ke tengah lorong. Kusaksikan Praga dengan napas patah-patah saat dia memasukkan kunci dan menarik gagang pintu. Praga berbalik dan tersenyum lagi padaku. "Ayo masuk."
Kondisi kamarnya tidak begitu berbeda jauh dengan milik Kafta. Ada sofa, televisi, dapur, tempat tidur, kamar mandi, dan akuarium yang ditinggali oleh delapan ekor ikan berwarna merah-kuning. Bedanya adalah, tidak ada kucing.
Praga beringsut ke jendela, membiarkan udara segar dan sorot panas matahari memasuki ruangan. Sekali lagi bayangan sialan itu kembali ke kepalaku. Rasanya seperti ada sosok perempuan lain bersama kami sekarang, dia berdiri dan menumpu tangan pada teralis jendela, sementara Praga mempersiapkan dirinya sebelum menyusul ke jendela.
Kemudian sesuatu seperti menghantam kepalaku dengan cepat. Kali ini aku tak membayangkannya, aku benar-benar melihatnya. Ini kamarnya. Kamar yang terletak jauh di gedung sebelah kanan. Kamar yang kulihat lewat teropong. Mereka berhubungan seks di sini. Di kamar Praga!
"Silas." suara Praga langsung mengembalikanku ke dunia nyata. Dia sudah duduk di sofa, bersama sebuah teko dan dua cangkir gelas. Kapan dia menyiapkan itu semua? "Ayo, duduk."
Aku berjalan dan duduk di hadapannya dengan hati-hati. Praga menjulurkan tangannya, mempersilakanku minum teh. Kami menyesap teh pelan-pelan, sebelum kemudian Praga bersandar di sofa.
Aku melirik akuarium ikan Praga di sudut ruangan. Kedelapan makhluk itu berenang dengan cepat, tetapi tak saling menabrakkan ekor atau sirip. Terasa beberapa ikan menatapku dengan mata-mata di sisi kepalanya. Seakan mereka takut aku malah akan mencuri tiga di antara mereka untuk menggantikan ikan-ikan Kafta.
"Jadi ... apa masalahmu?" kata Praga kemudian, masih tersenyum.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top