Tsigára kai Alkoól
Sebenarnya aku tidak percaya pada ucapan Mifta. Aku tidak yakin dia akan datang. Terlebih sudah pukul sembilan malam, dan keadaan asrama sangat sunyi seperti malam dan dua malam sebelumnya. Sudah terhitung tiga hari aku tinggal di asrama Kafta. Dia tidak lagi menghubungiku sejauh ini. Satu-satunya komunikasi yang kami lakukan terakhir kali adalah dia mengirimkanku bukti transfer uang tambahan.
Kucing itu sudah kuberi makan, dan sekarang tertidur di dekat sofa. Ikan-ikan itu juga sudah. Aku membersihkan tumpukan makanan yang tak sengaja kuberikan tadi pagi, dan memberi mereka yang baru. Kali ini ikan-ikan itu makan dengan lahap dan kenyang dengan cepat.
Aku terbaring di sofa, masih menunggu kedatangan Mifta. Andai saja dia tidak bilang akan berkunjung hari ini, aku pasti sudah berbaring di kamar Kafta dan tertidur dengan pulas. Hari ini aku yakin bisa tertidur dengan pulas, tidak seperti kemarin malam.
Setengah jam berlalu, dan aku yakin anak itu tidak akan datang. Aku bangkit dari sofa dan beringsut ke kamar Kafta. Sebelum terdengar ketukan pintu keras yang membuatku mendesah. Aku memaksakan wajahku untuk bersikap ramah dan bukannya mendengus karena kedatangannya yang terlalu lama, sebelum membuka pintu dan menyambutnya.
Kali ini, dia tersenyum dengan lebar. Hoodie-nya yang terlalu besar seperti yang dikenakannya saat kami bertemu pertama kali, tak lupa headphone longgar itu. Dia membawa dua kantong kertas besar di masing-masing tangan, tetapi tak berniat menyerahkannya padaku.
“Akhirnya kamu datang,” kataku mencoba tak terdengar terlalu kesal.
“Aku habis beli ini,” jawabnya, sambil menunduk menatap kedua kantong kertas tersebut.
Aku mempersilakannya masuk dan dia langsung duduk di sofa yang tadi kutiduri. Leony yang tadinya masih terlelap puas, tiba-tiba saja terbangun dan kabur ke dapur. Kami berdua hampir tak memperdulikannya.
Dia menaruh kantong kertas itu di atas meja dan duduk di sofa. Dia mengambil ponselnya. Aku ikut melakukan hal yang sama. Kami bermain ponsel karena tak punya apapun untuk diobrolkan. Padahal tadi siang kami berbincang dengan lancar. Kurasa Mifta yang menungguku memulai, tetapi bukannya dia yang mengundangku? Memang, dia yang mengunjungiku, tetapi ini adalah idenya.
Aku melirik kembali kantong kertas itu, masih belum jelas apa isinya. Aku baru saja ingin bertanya sebelum Mifta tiba-tiba saja bersuara. “Jadi ... kita mau ngapain?”
Dahiku berkedut. Anak ini memang aneh. Aku tanpa ragu mengedikkan bahu, dan dia malah tertawa puas.
Mifta melepaskan hoodie besarnya. Kaos hitamnya yang lembab menempel bagai lem di dadanya yang basah. Di kantong jaketnya dia mengambil sebungkus rokok, dan tanpa meminta izinku sama sekali, langsung memantiknya. Bau tembakau dengan cepat memenuhi sekitar kami.
Aku tak ada masalah dengan perokok, dan aku tidak tahu apakah Kafta juga begitu, tetapi kurasa sangat salah untuk merokok di tempat ini.
“Nih,” kata Mifta, menyodorkan rokok dan koreknya. Sorot matanya tenang sekali, seolah telah menjawab semua pertanyaan di dalam kepalaku. Udah, tenang aja, Kafta nggak bakal marah, kok. Udah, tenang, pengurus asrama nggak bakal marah kok. Kan aku tinggal di sini, aku juga sering merokok kalau di kamar.
“Diam aja. Buruan! Masa aku sendiri yang merokok?” katanya lagi. Dengan enggan aku meraih bungkus rokok itu dan mengambil satu batang. Jujur saja, ini akan jadi rokok pertamaku. Selama ini aku berjanji tak akan pernah menyelipkan benda itu di antara bibirku. Karena aku tahu, satu batang dan kau akan candu selamanya.
Tanganku agak bergetar saat berusaha menyalakan korek. Begitu baranya mulai terbakar, aku menghisapnya sekuat tenaga. Aku sejak dulu selalu menduga kalau rokok akan terasa pahit, panas, dan membakar paru-parumu. Ternyata tidak juga. Walau aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak batuk di hadapan Mifta, tetapi setelah beberapa hisapan berikutnya, aku menikmatinya.
“Kamu bukan perokok, ya?” tanya Mifta saat menyalakan jatah tembakau keduanya. Cepat sekali dia.
Aku mengangguk malu-malu sebagai jawaban. Dia tertawa lagi, tetapi kusadari itu bukan tawa cemooh seperti yang kutakutkan. “Kafta juga bukan, tapi dia tetap merokok.”
Kali ini aku benar-benar batuk. Kutatap Mifta sebentar. “Dia merokok?”
Mifta mengangguk. “Ya, kalau kutawarin dia nggak pernah tolak,” ucapnya dan berhenti sejenak untuk menghisap rokok lagi. Tak ada asbak di tempat ini, aku baru sadar Mifta membuang semua abu rokoknya di atas lantai begitu saja.
“Tapi hebatnya dia nggak pernah ketagihan. Ajaib, yah? Ada orang di dunia ini yang hanya merokok dari punya teman. Nggak pernah beli sendiri, dan cuman nunggu temannya nawarin.”
Aku tidak mengerti dia melantur apa.
Kami terdiam lagi untuk beberapa saat. Aku sudah menghabiskan rokokku, dan mengumpulkan abunya di atas meja agar mudah dibersihkan nanti. Mifta tak repot-repot melakukan hal yang sama. Saat itu hanya ada suara hisapan, pemantik, dan gumam kecil Mifta yang tak jelas sedikitpun. Kemudian lonceng Leony terdengar di dalam dapur. Aku ingin beranjak ke sana, ingin memberinya makan karena keadaanku dengan Mifta jadi semakin canggung, tetapi kuingat lagi kucing itu sudah diberi makan banyak tadi. Jadi entah apa yang membuat loncengnya berbunyi-bunyi.
“Nih,” ucapnya lagi menawarkan sesuatu, tetapi kali ini bukan rokok.
Di dalam kantong kertas itu ternyata berisi botol minuman keras berwarna putih, dan isinya juga bening. Mifta bahkan sudah membawa dua gelas sloki kecilnya. Wajahnya mengerut saat berusaha membuka tutup botol minuman tersebut, tetapi pada akhirnya dia berhasil.
Aku tidak tahu itu alkohol jenis apa, tetapi begitu dia menuangnya di dalam sloki, bau yang lebih menyeruak berhasil menusuk hidungku. Mifta menyerahkan satu gelas padaku sementara dia minum yang satunya. Tangannya terus teracung, menungguku mengambilnya.
“Nggak, makasih,” tolakku sehalus mungkin.
“Ayolah ... masa aku sendiri yang minum? Ini mahal, loh,” ujarnya pura-pura cemberut. “Kafta juga minum, kok. Kamu juga coba, lah.”
Tangannya mulai bergetar. Entah karena lelah atau bau itu. Aku dengan berat hati mengambil gelas kecil tersebut. Jempolku bermain-main sejenak di mulut gelas, dan Mifta menatapku penuh penantian. Aku mendesah, dan akhirnya menghabiskan isi gelas itu dalam sekali tegukan.
Tak pernah di dalam hidupku pernah memikirkan seperti apa rasanya minuman keras, dan yang satu ini benar-benar tak bisa dijelaskan dengan sederhana. Seperti ada pedang yang menusuk-nusuk tenggorokanmu, atau aku hanya berlebihan.
Mifta menyeringai, dan mengisi kembali gelasnya. Dia menyodorkan ujung botol ke arahku, tetapi aku benar-benar sudah tak mau. Pada akhirnya anak itu yang mengambil gelas dari tanganku, mengisinya sampai penuh, dan menaruhnya di hadapanku.
“Selamat datang di neraka.”
Dia memutar musik di ponselnya. Kendrick Lamar. Poetic Justice.
Every time I write these words, they become a taboo.
Making sure my punctuation curve, every letter here is true.
Living my life in the margin and that metaphor was proof.
I'm talking poetic justice, poetic justice.
Dia terus minum, hanyut dalam alunan musik dan suara rapper tersebut. Mifta melepaskan kaos hitam dan juga celana panjangnya. Sekarang dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saja. Apa dia sudah mabuk atau hanya pura-pura mabuk?
Suara lonceng Leony terdengar kembali setelah lagu Mifta juga berganti. Dia berjalan dengan santai ke arah kami. Aku penasaran apakah kucing bisa membau alkohol juga?
Mifta tersenyum, dan mengangkat hewan itu dengan kedua tangan. Keempat kaki pendeknya bergerak-gerak, tetapi tak terdengar Leony protes ingin dilepaskan. Sampai sekarang belum pernah kudengar makhluk itu mengeong.
“Kafta itu beneran aneh, yah? Dia melihara kucing satu mata,” kata Mifta sambil terkekeh. Yap. Dia sudah mabuk.
Kafta menurunkan Leony di atas sofa dan mengambil sesuatu di dalam kantong kertas yang sama. Sempat kupikir ada sloki ketiga untuk Leony sekalian, tetapi Mifta justru mengambil sesuatu yang tak sedikitpun kuduga.
Penutup mata. Seperti aksesoris yang biasa dikenakan bajak laut di film, dengan ukuran yang sangat kecil dan akan sangat pas untuk Leony. Mifta memakaikannya untuk kucing itu, dan Leony sempat bergerak-gerak tak nyaman beberapa kali. Namun, pada akhirnya, penutup mata itu terpasang dengan sempurna, dan memang sangat pas di kepalanya.
Mifta tertawa keras, lalu tawanya berubah meniru suara bajak laut yang serak dan berdahak. Leony kemudian kabur dari sana, kembali ke habitat kesayangannya di sudut dapur.
“Kucing yang manis,” ucap Mifta, dan kembali minum. Kali ini dia minum langsung dari botol, tetapi dia tiba-tiba berhenti dan menatapku. Seolah baru teringat aku masih ada, dan mungkin dia berpikir aku masih mau minum.
Tanpa berkata-kata, dia mengambil satu botol baru di kantong kertas kedua, seperti yang sudah bisa kutebak. Lalu Mifta lanjut minum. Musik rap terus berputar, sekarang Eminem. Mifta ikut bernyanyi meski dia sama sekali tak bisa mengikuti kecepatan berbicara rapper kulit putih itu. Semua yang Mifta ucapkan adalah kata yang tidak ada di dalam kamus.
Anak itu mulai berputar-putar, menari dengan bayangan atau perempuan imajinya. Dia berdansa tanpa kendali. Botol di tangannya terlepas, dan betapa beruntungnya karena terjatuh tepat di depan dadaku.
“Oh, meaaf,” katanya, dan berjalan sempoyongan. Aku berdiri dengan kesal, berpikir ingin mengusirnya sekarang, tetapi dia langsung mendorongku untuk duduk kembali.
Mifta langsung melepaskan pakaianku begitu saja, dan melemparkannya asal ke atas lantai. Sekarang kami berdua bertelanjang dada, dan berbau alkohol. Mifta tersenyum, dia meraih lagi botolnya yang lepas, kemudian menuang isinya di atas dadanya, yang secara otomatis juga tumpah ke atas tubuhku.
“Mifta. Apa-apaan—” Aku ingin protes, tetapi dia langsung menghentikanku. Dia menuangkan sisa alkohol yang ada ke dalam mulutku. Meski tidak masuk semua karena aku menutup mulut dengan cepat, tetapi aku juga tahu ada cukup banyak alkohol yang tumpah ke dalam mulutku.
Dia tertawa. Mifta duduk di sampingku dan merangkul pundakku. “Ayolah, Silas … cobalah berdosa sejenak.”
Aku benar-benar ingin memukulnya sekarang, tetapi tak kusangka rangkulannya sangat kuat. Aku tak bisa berdiri dan pergi dari sofa, apalagi mengusirnya. Apa kekuatan orang akan bertambah jika ia sedang mabuk?
Karena kali ini Mifta berhasil membuka botol yang kedua tanpa masalah. Lagi-lagi Mifta minum langsung dari botol, dan kemudian menyodorkannya padaku. Ketika aku tak kunjung minum, Mifta mencengkram rahangku dan merecokiku dengan minuman itu. Aku terbatuk, ingin memuntahkan semuanya. Ingin muntah di dadanya agar dia jijik dan pergi saja, tetapi Mifta hanya tertawa.
Kepalaku mulai pusing. Kurasa efek alkohol sudah bekerja padaku. Aku merasa sangat ingin kencing sekarang. Kemaluanku ereksi, dan kemaluannya di balik celana basah itu juga menegang keras.
Semuanya mulai terasa lucu. Aku ikut tertawa bersamanya. Apa yang lucu? Leony si Bajak Laut. Wajah Mifta yang putih. Praga dan mahasiswi itu. Garis-garis semu di langit-langit. Cahaya yang meredup.
Hahahahahahahahahaha.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top