Bab 3

Pukul 18.10 aku sampai di rumah keluarganya Fasa. Di halaman rumah ini sudah terparkir mobil Fasa yang menandakan bahwa cowok itu sudah pulang. Membayangkan akan bertemu Fasa di rumah ini tanpa sadar membuatku menghembuskan napas lelah.

Hubungan kami itu seperti orang asing. Mau di rumah ataupun di kampus, kami jarang bertegur sapa. Kami berdua itu benar-benar seperti orang yang nggak kenal satu sama lain.

Dengan langkah gontai aku memasuki rumah ini. Rasanya kakiku enggan menapak di tempat ini. Yang kuinginkan adalah lari dari tempat ini dan kembali ke apartemenku. Tapi bagaimana lagi, orangtua Fasa sangat baik kepadaku. Aku nggak tega kalau harus kabur gitu aja. Mau pamit juga nggak enak. Rasanya serba salah pokoknya.

"Sava kok baru pulang?" tanya tante Tata—Mamanya Fasa—ketika aku memasuki ruang tengah. Kulihat beliau berjalan menghampiriku dan tersenyum lebar ke arahku.

"Iya Tan, tadi keasyikan ngobrol sama temen. Jadi lupa waktu deh," jawabku cengengesan.

"Dasar kamu ini. Ya udah sana mandi, terus turun makan bareng kita. Oke?" Tante Tata mengelus rambutku dengan sayang.

Dengan seulas senyum kecil aku menganggukkan kepala.

Lihat kan, beliau baik kayak gini. Aku mana tega kalau harus pergi gitu aja dari sini. Ini semua salah Fasa!

"Sava ke atas dulu ya, Tan," pamitku dan langsung pergi menuju kamar tamu yang berada di lantai atas. Sebenarnya Tante Tata menyuruhku untuk menganggap kamar itu adalah kamarku sendiri. Jadi, mungkin lain kali aku akan menyebutnya sebagai 'kamarku' bukan 'kamar tamu'.

Setelah sampai di kamarku, aku langsung merebahkan tubuhku ke kasur. Badanku rasanya capek sekali. Banyak pikiran seperti ini ternyata mempunyai efek yang nggak baik untuk tubuh.

Aku benar-benar pusing memikirkan nasibku sekarang. Terjebak di rumah ini dengan status 'pacar Fasa' adalah hal yang mengerikan bagiku. Maksudku, aku dan Fasa bahkan nggak dekat sama sekali. Bagaimana bisa kami berpura-pura jadi pacar?

Sebenarnya, sudah beberapa aku aku mencoba untuk berbicara dengan Tante Tata mengenai kebohongan penuh dosa ini. Tapi setiap kali aku mencoba untuk menjelaskan semuanya, selalu saja ada halangan dan rintangan menghadang. Seperti Tante Tata yang tiba-tiba bercerita panjang lebar sampai aku lupa niat awalku untuk mengungkap kebongongan ini. Atau Tante Tata yang super baik dan malah membuatku baper sendiri sehingga tidak tega membuat beliau kecewa. Belum lagi mengingat kalau tiba-tiba Tante Tata jantungan, lalu jatuh sakit gara-gara mengetahui aku telah membohonginya? Apa aku nggak akan merasa tambah berdosa? Pusing sendiri kan?

Mengenai Fasa dan hubungan pacaran pura-pura ini, dia tampak tidak ambil pusing. Cowok itu memang terlalu cuek dan nggak punya hati. Maksudku, aku pusing setengah mati karena merasa bersalah telah membohongi kedua orang tuanya, tapi dianya malah biasa saja. Mana perlakuannya kepadaku nggak ada baik-baiknya pula. Kan, menyebalkan!

Tok...tok...tok...

Tok...tok...tok...

Terdengar berkali-kali pintu kamarku diketuk dengan tidak sabaran. Tanpa membuka pintu tersebut pun aku sudah tahu siapa pelaku pengetukkan pintu dengan semena-mena itu. Ya, tentu saja itu Fasa. Siapa lagi orang nyebelin di rumah ini selain dia?

Dengan malas aku bangun dari posisi tidurku dan berjalan ke arah pintu berada. Kemudian kubuka pintu di hadapanku dan di sana terdapat tampang songong manusia yang sejak tadi ingin kutendang karena saking kesalnya.

Aku hanya memandangnya malas sambil mengangkat sebelah alisku. Aku benar-benar nggak mau ketemu bahkan ngomong sama Fasa. Aku jengkel!

"Mana materi lo?" tanyanya galak.

Materi? Dia minta materi untuk tugas kelompok kami yang tadi siang ia tolak mentah-mentah?

Sumpah, Fasa nggak tahu malu!

"Lo nggak butuh nilai? Atau lo nggak butuh tulisan nama lo di sampul makalah kita?" tanyanya lagi datar.

Aku hanya menghembuskan napas kesal. Dasar! Beraninya mengancam nilai. Kalau begini kan aku jadi nggak bisa berkutik.

"Cepetan mana?" desaknya lagi.

Aku berdecak. Lalu, dengan sebal aku berjalan ke arah tasku yang tadi kugeletakan begitu saja di atas kasur. Kemudian kuambil flashdisk berwarna ungu dengan gantungan berbentuk bintang dan kuserahkan kepadanya. Setelah dia menerima flashdiskku, langsung saja kututup pintu di hadapanku tanpa peduli Fasa masih berdiri di depan pintu kamarku.

"Dasar, nggak sopan!" seru Fasa terdengar cukup jengkel.

"Biar!" balasku kesal sambil menjulurkan lidah ke arah pintu. "Dia kira gue peduli apa," tambahnya bergumam.

***

Kurasakan seseorang menggoyang-goyangkan kakiku. Kemudian samar-samar aku mendengar suara orang mengobrol di dekatku.

"Udah dibilangin kalau Sava itu kebo nggak percaya banget sih, Mama."

Itu suara Fasa. Ya, aku yakin itu suara Fasa.

"Husshh, masak pacar sendiri dibilang kebo sih Sa. Jahat banget."

Nah, kalau itu sara Tante Tata. Aku sangat hafal suara Tante Tata. Beliau memiliki suara yang lembut dan menenangkan.

"Ya habisnya nggak bangun-bangun dari tadi," kata Fasa terdengar menggerutu.

Kemudian aku mulai menggeliat dan menguap. Sambil mengucek-ucek mata, aku mencoba bangun dari posisiku tidur. Sekarang setelah mataku terbuka, kulihat sosok Fasa dan Tante Tata tengah berdiri di sebalah kasurku.

"Ada apa?" tanyaku bingung kepada mereka.

Kudengar tawa ringan dari tante Tata yang membuatku mengernyit. Fasanya sendiri hanya berdecak memandangku dengan tatapan nggak percaya.

"Ayok bangun Va, makan dulu. Kamu belum makan malam kan? Nanti maag kamu kambuh loh," kata tante Tata sambil menepuk pelan pipiku.

"Oh ..., iya Tan," jawabu kemudian menguap. Rasanya aku benar-benar masih mengantuk. Meskipun begitu, aku merasa lapar dan butuh makan.

"Itu Sava digandeng ke bawah," perintah tante Tata kepada Fasa.

Setelahnya Tante Tata keluar dari kamarku, meninggalkanku berdua dengan Fasa.

Kucoba untuk membuka mataku lebih lebar, tapi hasilnya malah mataku semakin ingin menutup. Kurasa, nyawaku masih belum sepenuhnya terkumpul di ragaku. Mungkin masih ada beberapa bagian nyawaku yang melayang-layang di dunia mimpi dan belum kembali.

"Bangun gih," perintah Fasa

Aku menoleh ke arahnya dan mengernyitkan dahi.

"Bangun dari kasur, Sava!"

Aku berdecak sebal dan menuruti perintahnya. Dengan kesal aku bangun dari posisi dudukku. Perlahan aku berjalan menuju ke arah pintu, namun baru beberapa langkah, kepalaku sangat pusing. Bahkan jalanku sudah sempoyongan seperti orang mabuk.

Sontak saja aku berhenti melangkah dan berdiri sambil menundukkan kepala. Saat ini aku sedang mencoba menarik nyawa-nyawaku yang masih melayang untuk kembali ke dalam tubuhku agar aku bisa sepenuhnya sadar dari rasa kantuk.

"Lo tidur sambil berdiri?" tanya Fasa yang berada di belakangku.

Mana ada orang tidur sambil berdiri, gerutuku dalam hati.

"Heh, ayo jalan." Kurasakan punggungku di dorong pelan yang membuatku terdorong ke depan. Kakiku melangkah beberapa langkah dengan tergesa-gesa karena dorongan tiba-tiba tersebut. Dan di saat itulah kurasakan jidatku membentur pintu di hadapanku.

"Aw," rengekku ketika kurasakan jidatku berdenyut sakit. Rasa nyeri kini menjalar di dahiku yang membuat rasa kantukku sontak hilang dalam seketika.

"Nah, kayaknya udah bangun," ucap Fasa tak acuh yang berada di belakangku yang Kemudian ia berjalan begitu saja melewatiku.

Aku memandang Fasa kesal masih dengan tanganku yang menutupi jidatku yang tadi terantuk pintu. Fasa pasti tadi sengaja mendorongku agar kepalaku terbentuk pintu. Iya, dia pasti tadi sengaja!

Dasar jahat!

Denyutan rasa nyeri di jidatku membuatku berjengkok di tempat. Tanganku meraba dahiku yang tadi terbentur. Meskipun agak samar, aku dapat merasakan benjolan yang ketika disentuh rasanya cukup menyakitkan.

"Sakit...," rintihku merengek karena rasa sakit di dahiku.

"Loh, Sava kenapa jongkok?"

Suara tante Tata yang berada di hadapanku membuatku mengangkat kepala. Kutatap tante Tata sambil memasang ekspresi mewek.

"Fasa, Tante," ucapku merengek sambil menunjuk ke arah Fasa yang sedang duduk di sofa depan kamarku. "Jidat Sava jedotin pintu sama Fasa," aduku memandang Fasa sebal.

Kulihat Fasa hanya berdecak tak peduli. Lihat kan, betapa menyebalkannya cowok itu! Kalau aku Sumanto, sudah aku makan dia!

"Fasa! Tega banget sih, sama pacar sendiri!" omel tante Tata yang membuat Fasa memutar bola matanya bosan.

Kini tante Tata sudah membantuku berdiri dan menuntunku untuk duduk di sofa yang sama dengan Fasa.

"Astaga, sampe biru-biru begitu Va," kata tante Tata memandang jidatku prihatin.

"Sampe biru-biru, Tante?" sahutku kaget.

Tante Tata menganggukkan kepala seadanya. "Tante ambilin salep dulu ya, Va," kata Tante meninggalkanku untuk pergi ke lantai bawah mengambil salep.

Masih kupegangi jidatku yang terasa nyeri dan sakit. Bahkan tanpa sadar aku sudah terisak karena sakit di jidatku dan rasa kesal di dalam diriku. Rasanya menyebalkan!

"Emang sesakit itu, apa?" tanya Fasa tanpa dosa.

Aku menoleh ke arah Fasa dan memberinya lirikan tajam setajam pisau yang baru diasah. Masih berani tanya!

"Lo jahat banget sih Sa, sama gue! Gue punya salah apa, sih, sama lo? Kenapa lo suka banget ngisengin gue kayak gini! Suka bentak-bentak gue juga! Salah gue apa sama lo!" bentakku sambil menangis menahan sakit. Bukan hanya sakit di jidat, tapi sakit di hati juga.

Fasa tampak kaget dengan semburan kekesalanku barusan. Namun, ekspresi kagetnya hanya bertahan beberapa detik saja. Setelahnya, Fasa malah memajukan badannya seraya mengamati dahiku yang tertutup poni dengan seksama.

"Nggak biru gini kok. Mama aja yang lebay bilang ini biru-biru. Hanya merah aja. Itu pun, sedikit merah," kata Fasa sambil menyingkirkan poni yang menutupi jidatku. "Udah, nggak usah nangis. Cengeng banget sih," lanjutnya tanpa dosa.

Namun, ucapan Fasa itu sama sekali tidak menenangkan. Malah, ucapannya itu membuat tangisku semakin histeris. "Lo udah ngancurin hidup gue! Dan lo bilang gue gak boleh nangis?" tanyanyaku sambil sesenggukan.

"Ya tuhan. Jadi, Sava hamil?" seru tante Tata mengagetkan kami. Sontak saja aku dan Fasa menoleh ke arah Tante Tata yang tampak begitu syok sambil memegang dadanya.

Hamil? Aku hamil? Kokt tiba-tiba jadi aku hamil?

Melihat Tante Tata yang hampir ambruk, seketika membuat Fasa bangkit dari duduk lalu berlari ke arah beliau. Dengan sigap Fasa memegangi Mamanya agar beliau nggak terjatuh ke lantai.

"Mama nggak apa-apa?" tanya Fasa tampak cukup panik.

"Fasa! Kamu apain anak orang? Kenapa kamu tega banget ngancurin hidup dan masa depannya Sava, Nak?!" ucap tante Tata dengan cukup histeris yang membuatku kebingungan sendiri.

"Mama ngomong apa, sih?" tanya Fasa yang tampaknya juga sama bingungnya dengan diriku.

"Pokoknya kalian harus segara menikah!" kata tante Tata menatap ke arahku dan Fasa secara bergantian.

Tunggu, apa aku tidak salah dengar? Menikah? Tante Tata menyuruh kami menikah? Aku dan Fasa, menikah?

Mama, Sava mau pulang! 

*** 

Halo! 

Nostalgia banget buka file cerita ini di laptop.  Rasanya kayak baru kemarin aku nulis cerita ini, taunya udah sepuluh tahun lebih! hahaha lama banget yaaa


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top