Bab 2

Sekarang jam menunjukan pukul 16.10 dan aku masih duduk malas di taman kampus. Mataku memandang puluhan motor yang berada di parkiran. Kutarik napas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.

Dasar Fasa iblis! Setan! Jin! Genderuwo! Mahluk jadi-jadian! Nyebelin! Ngeselin! Benci! Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Mau sih, meneriakkannya keras-keras. Tapi, kalau ada orang yang mendengarnya, bisa-bisa aku yang dikatai gila.

Memikirkan kelakuan Fasa tadi membuatku sebal sendiri. Mana ada orang yang semena-mena seperti itu kecuali Fasa. Benar-benar jahat. Nggak punya hati. Beneran bukan manusia deh, kayaknya si Fasa itu!

Kurasakan ponsel yang berada digenggamanku bergetar yang menandakan ada panggilan masuk. Tanpa melihat nama kontak penelepon, aku langsung mengangkatnya.

"Halo ...," kataku malas.

"Sava sayang, lagi di mana? Pulang jam berapa?" tanya suara ibu-ibu dari seberang panggilan.

Mampus! Ini suara Mamanya Fasa!

"Iya Tante, ini udah mau pulang kok," jawabku semakin lemas. "

Baiklah, sebenarnya, sekarang aku tinggal di rumah Fasa. Itu pun gara-gara makhluk kampret bernama Fasa yang ngomongnya sembarangan. Ini semua gara-gara Fasa!

Jadi begini.

Sekitar seminggu yang lalu....

Waktu aku hendak pulang, aku melihat sosok Fasa di koridor kelas. Cowok itu tampak celingukan seperti sedang mencari sesuatu. Ekspresi wajahnya yang terlihat panik membuatku penasaran.

"Lo kenapa, Sa?" tanyaku menghampirinya.

"Sava? Nama lo Sava kan?" tanyanya.

Aku mengangguk bingung.

Ya, benar. Fasa tampak tidak yakin ketika mengucapkan namaku, seolah dia tidak benar-benar tahu siapa aku. Padahal, kami sudah sekelas hampir satu semester. Tapi, bisa-bisanya dia tampak seperti tidak benar-benar mengenal siapa aku.

"Lo bawa mobil enggak?" tanyanya lagi.

Aku kembali menganggukkan kepala.

"Va, boleh minta tolong? Anterin gue ke rumah sakit sekarang," katanya terlihat bingung. "Please."

"Lo sakit?" tanyaku agak khawatir yang menyadari bahwa wajahnya sekarang terlihat agak pucat.

Dia menggeleng menjawab pertanyaanku. "Nyokap gue masuk rumah sakit," ucapnya seraya mengusap wajahnya dengan gusar.

Mendengar bahwa mamanya Fasa masuk rumah sakit membuatku bersimpati. Terlebih wajah Fasa tampak panik dan khawatir. Jadi, karena aku baik hati, tidak tegaan, dan tidak sombong, akhirnya aku menganggukkan kepala.

"Ya udah ayok gue anter," ucapku akhirnya seraya menyuruhnya mengikutiku menuju parkiran di mana mobilku berada.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Fasa tampak begitu cemas. Ekspresi wajahnya yang panik membuatku ikut khawatir dengan kondisi mamanya yang sebenarnya tidak kukenal.

"Udah Sa, berdo'a aja. Yakin kok nyokap lo enggak kenapa-napa." Aku mencoba menenangkanya.

Dia hanya menganggukkan kepala sebagai balasan.

Tak berapa lama kemudian, akhirnya kami sampai juga di rumah sakit.

Fasa langsung melesat turun dari mobilku dan pergi menuju dalam rumah sakit. Dan entah kenapa aku mengikutinya—yang seharusnya tidak kulakukan.

Di dalam rumah sakit, Fasa mondar-mandir ke sana kemari mencari kamar rawat Mamanya setelah sebelumnya Fasa sempat bertanya kepada salah satu perawat yang lewat. Ia benar-benar terlihat panik sendiri.

"Sa, nyokap lo dirawat di ruang apa?" tanyaku sambil berjalan di sebelahnya.

Seolah dikejutkan oleh sesuatu, sontak dia berhenti dan memandangku heran.

"VIP," jawab Fasa singkat seraya berjalan meninggalkanku.

"VIP di sebelah sana," ucapku memandunya ke arah berlawanan dengan arah yang tadi ditujunya. Kemudian dia berbalik dan berjalan mengikutiku.

Dalam perjalanan menuju ruang rawat mamanya, Fasa hanya terdiam. Wajahnya datar, tapi terlihat seperti banyak pikiran. Mungkin dia sedang memikirkan kondisi mamanya.

"Ini kamar nyokap gue," ucapnya ketika melihat nama yang tertera di papan nama yang tertempel tembok depan kamar ini

Setelah mengucapkan kalimat tadi, Fasa langsung memasuki kamar pasien tersebut dan meninggalkanku di luar.

Awalnya aku memutuskan untuk langsung pulang. Karena toh aku nggak dibutuhkan lagi di sini. Mengenai Fasa, nanti dia bisa pulang naik taksi atau ojol. Jadi, tugasku untuk mengantarkan Fasa ke rumah sakit sudah selesai. Namun, ketika hendak pulang, tiba-tiba saja aku melihat sosok yang kukenal.

"Ken?" panggilku ketika melihat seorang cowok tengah sibuk mondar-mandir di depan salah satu ruang rawat di sini.

Cowok tersebut kontan menoleh ke arahku ketika namanya dipanggil.

"Ngapain lo di sini?" tanyaku lagi ketika yakin jika cowok itu adalah Ken, salah satu temanku ketika SMA.

"Hai, Va. Sama siapa lo?"

"Sendirian. Siapa yang sakit?" tanyaku berjalan mendekat ke arahnya.

"Nyokap pacar gue."

"Lo enggak masuk?" tanyaku bingung.

"Nah itu, gue takut," jawabnya terlihat sangat gelisah.

"Nyokap pacar lo monster?" tanyaku tertawa geli.

"Enggaklah!"

"Terus, ngapain takut?"

"Nyokap cewek gue enggak suka sama gue."

"Nah, makanya luluhin dong. Masuk sana dan besuk nyokap cewek lo. Tunjukin ke beliau kalau lo itu cowok perhatian yang sayang sama anak dan keluarganya."

"Tapi gue...," katanya menggantung. Lalu, tiba-tiba saja Ken menatapku bingung. "Lo sendiri ngapain di sini? Siapa yang sakit?" tanyanya.

"Oh, gue tadi—"

Ucapannya terpotong karena tiba-tiba saja tanganku ditarik dari belakang yang membuatku terkejut.

"Sava. Ikut gue!"

"Fasa?" kataku bingung ketika mendapati Fasa lah yang menarik tanganku dan menyeretku pergi dengan seenaknya. "Lo mau bawa gue ke mana?" tanyaku yang diabaikan oleh Fasa. Cowok itu hanya terus menggandeng tanganku dan menyeretku pergi dari hadapan Ken.

"Va, lo enggak apa-apa?" tanya Ken terdengar khawatir.

Mendengar pertanyaan Ken itu membuatku menoleh ke arah cowok itu. "Gak apa-apa. Lo yang semangat ya!" kataku kepadanya. "Semoga nyokap pacar lo segera sehat," tambahku.

Meskipun ekspresi wajah Ken tampak bingung, cowok itu tetap menganggukkan kepala sebagai balasan.

Fasa masih menyeretku paksa tanpa berkata apa-apa. Kini Fasa membuka salah satu pintu ruang rawat di hadapan kami.

Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tiba-tiba saja Fasa berkata dengan lantang, "Ini Ma, pacar Fasa."

Dan tentu saja ucapannya itu membuatku menatap Fasa dengan terkejut. Pacar? Aku pacarnya Fasa? Sejak kapan coba? Wah, ini anak yang sakit kayaknya.

"Fasa cinta sama Sava Ma, Fasa enggak mau dijodohin sama anaknya temen Mama," ucap Fasa lagi tanpa menoleh ke arahku.

Aku memandang Fasa dan sosok perempuan yang Fasa panggil 'Mama' bergantian dengan bingung.

Bagaimana bisa tiba-tiba aku berpacaran dengan Fasa? Dan cinta? Fasa cinta kepadaku? Yang benar saja!

Dan begitulah awal mula nasib sialku dimulai.

Sebenarnya saat itu Mamanya Fasa seperti nggak suka sama aku, namun gara-gara aku yang salah ngomong atau emang Mamanya Fasa yang nggak ngerti maksud dari omonganku, beliau malah tersenyum dan merestuiku menjadi pacarnya Fasa.

Itu parah banget!

Dulu aku hanya mengatakan, "Fasa bercanda Tante, saya bukan siapa-siapanya Fasa kok. Kalau Fasa mau dijodohin, Sava ikhlas kok, Tante."

Dan entah cara ngomongku yang terlihat aneh atau apa, aku enggak tahu. Namun hal itu malah membuat Mamanya Fasa berpikir bahwa 'Sava cinta banget sama Fasa dan oleh sebab itu Sava merelakan Fasa untuk dijodohkan dengan perempuan pilihan mamanya'. Asli, aku enggak ada sedikit pun rasa sama Fasa dan aku enggak mau terjebak dalam masalah bohong membohongi seperti ini.

Yang tambah parahnya lagi nih ya, Mama dan Papanya Fasa menyuruhku untuk tinggal di rumah mereka. Alasannya hanya gara-gara aku tinggal sendirian di kota ini. Demi apa coba aku disuruh tinggal sama orang lain? Orang sudah dari SMA aku memang tinggal sendirian. Bahkan orangtua Fasa menghubungi Mama dan Papaku yang sekarang sedang menatap di Jerman, untuk urusan pekerjaan, hanya untuk meminta ijin agar aku diperbolehkan tinggal bersama dengan keluarga mereka. Parahnya nih ya, Mama dan Papa memberi izin. Apalagi mereka bilang kalau akan pulang ke Indonesia beberapa bulan lagi dan malah menitipkanku kepada mereka.

Aku bahkan tidak tahu kenapa orang tuaku sepercaya itu dengan kedua orang tua Fasa sampai memperbolehkanku tinggal di rumah mereka. Padahal, bisa dibilang mereka adalah orang asing bagiku, bagi kami. Bisa-bisanya aku dititipkan begitu saja tanpa rasa khawatir.

Orang tuaku memang aneh!

Ya..., meskipun orang tua Fasa memang sangat baik dan perhatian kepadaku, tapi anaknya itu loh, menyebalkannya setengah mati! Andai saja aku tinggal di rumah Fasa hanya dengan kedua orang tua Fasa, pasti aku akan senang dan ikhlas—secara mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Namun, sayangnya mereka punya anak bernama Fasa. Jadi, rasanya sungguh berat tinggal di rumah itu dengan adanya Fasa di sana. 

*** 

Halo! 

Adakah yang udah pernah baca cerita ini waktu dulu pernah kupost di sini? 

Atau adakah pembaca baru yang baru pertama kali baca cerita ini?

Terima kasih yaa, udah baca ceritakuu~


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top