Bab 1

"Bisa enggak, lebih ngaret lagi?" sindirnya kepadaku yang masih ngos-ngosan.

"Kan tadi gue udah WA kalau mobil gue mogok," kataku sambil mengatur napas.

Asli, lari dari lantai satu ke lantai tiga itu suatu perjuangan. Capek. Ngos-ngosan.

"Alesan aja!" katanya cuek masih fokus memandang layar laptopnya.

Dasar, cowok enggak jelas! Udah dibilangin mobil mogok juga enggak percayaan amat, sih.

"Anak-anak yang lain mana?" tanyaku tanpa memedulikannya lagi. Kini aku sudah celingak-celinguk mencari anggota kelompok yang lain.

"Masih nanya, ya pulanglah! Emang siapa sih, yang mau nungguin cewek tukang ngaret kayak lo itu? Janjian jam 10 pagi, jam 12 baru dateng. Lo telat dua jam, Va!" bentaknya padaku. "Dua jam!" tandasnya.

"Maaf, kan gue udah bilang kalau mobil gue mogok," kataku menyesal.

Fasa hanya memandangku tajam tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian ia mengemasi semua barang-barangnya yang tergeletak di lantai. Setelah itu, ia berdiri dan pergi dari hadapanku.

Lho ... lho ... lho ... kok aku ditinggal? Ini materi yang aku cari semalaman apa enggak dipakai?

"Sa! Lo mau ke mana?" teriakku sambil mengejarnya.

"Balik," jawabnya singkat tanpa mempedulikanku.

Aku masih setia berjalan cepat agar dapat menyusul langkahnya yang lebar-lebar. Fasa kalau ngambek beneran ngeselin.

"Lhah, ini materi yang gue cari enggak lo masukin sekalian ke PPT?" tanyaku bingung.

Kini Fasa berhenti lalu, berbalik ke arahku. Aku yang kaget langsung mengerem langkahku agar tidak menabraknya.

"Denger ya Sava. Gue enggak butuh materi lo. Gue bahkan enggak ngebutuhin lo dalam kelompok kita. Ngerti," ucapnya tajam.

"Kok lo ngomong gitu sih, Sa?" tanyaku sebal dan enggak terima akan ucapannya

"Sava, cewek tukang ngaret! Tukang tidur! Tukang nyontek! Tukang nyusahin orang! Bisa enggak sih, sekali aja buat diri lo berguna!" bentaknya marah.

"Eh Sa, lo kenapa malah marah gitu! Gue cuman telat doang dan lo udah ngecap gue segala macem tukang! Jahat banget, sih lo!" bentakku juga ikut marah.

Sembarangan aja kalau ngomong. Emang salah kalau mobilku mogok dan aku datangnya telat? Itu kan di luar kendaliku. Emang salah juga kalau pelajarannya ngebosenin dan aku tidur di kelas? Yang kulakukan itu kan sama sekali nggak merugikannya. Lalu, emang salah apa, kalau aku enggak bisa dan menyontek temanku yang kebetulan mau ngasih contekan? Enggak kan? Kenapa juga dia yang repot? Otak, Fasa kayaknya memang kebalik nih! Ribet banget ngurusin hidup orang yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya!

"Emang ya, susah kalau ngomong sama anak yang otaknya separo doang," katanya nusuk.

Tanpa babibu lagi, Fasa langsung pergi meninggalkanku yang masih syok akan perkataannya tadi.

Astaga, Fasa mulutnya pengen kucabein! Rese dan ngeselin banget, sih! 

***

Halo! Terima kasih yang udah baca~

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top