Bab 4


            Aku nggak pernah membayangkan jika masalah sepele ini akan menjadi serumit sekarang. Awalnya hanya pura-pura pacaran. Kemudian gara-gara kejadian semalam, Tante Tata malah tiba-tiba saja menyuruh kami segera menikah.

Dosa apa yang telah kuperbuat, ya Tuhan?

"Pagi, Sava," sapa Tante Tata ketika aku memasuki ruang makan.

"Pagi, Tan." Aku memaksakan senyum kecil ke arah beliau dan kemudian duduk di kursi yang berada di samping Fasa. Fasa sendiri lebih memilih untuk memakan nasi gorengnya daripada menyapaku atau sekedar menoleh ke arahku.

Lihat kan? Nggak sopan anaknya.

"Dimakan Va, sarapannya," ujar Tante Tata dengan senyum lembut yang membuatku mengangguk.

Sepertinya Tante Tata sudah baikkan, nggak sehisteris atau sepanik semalam. Ia sekarang malah terlihat sumringah dengan senyum yang sejak tadi menghiasi bibir beliau. Dan entah mengapa hal ini malah membuat perasaanku menjadi nggak enak. Rasanya seperti ada hal buruk yang akan terjadi.

"Tan," panggilku yang membuat Tante Tata menoleh ke arahku. "Sava nggak hamil," jelasku dengan wajah memelas, berharap Tante Tata mau mendengar penjelasanku.

"Iya, Tante tahu kok, Va. Udah dimakan sarapannya. Nggak usah dipikirin lagi."

Aku tersenyum lega mendengar ucapan Tante Tata. Jadi Tante Tata sudah tahu kalau aku nggak hamil? Berarti aku nggak bakalan dinikahkan dengan Fasa kan, ya?

Ya, Tuhan terima kasih banyak. Aku benar-benar lega dan bahagia.

"Oh ya, tadi pagi-pagi sekali Papanya Fasa telepon, Va," ucap Tante Tata kepadaku. "Katanya, Papanya Fasa udah menghubungi orang tua kamu semalem."

Aku mengernyit bingung mendengar ucapan Tante Tata. "Om Ian menghubungi orang tua Sava?" tanyaku yang dibalas Tante Tata dengan anggukan kepala. "Memangnya ada urusan apa, Tan? Kok Om Ian sampai menghubungi Mama dan Papa?"

"Buat acara lamaran kamulah," jawab Tante Tata dengan tawa kecilnya.

Aku melotot kaget karena ucapan Tante Tata tersebut. Bahkan sekarang sudah kudengar suara batuk dari arah sebelahku.

"Nanti pas orang tua kamu balik ke Indonesia, kami sekeluarga langsung deh ke rumah kamu buat melamar kamu."

"Uhuk ... uhuk ..., Mama ap ...uhuk ... uhuk...."

Aku menoleh ke arah Fasa yang sekarang sudah terbatuk hebat karena tersedak.

"Sa, minum, Sa," ucap Tante Tata terlihat khawatir.

Segera kusodorkan segelas air putih di hadapanku ke arah Fasa. Dengan tergesa-gesa ia meminum air tersebut.

"Saking senengnya ya gitu, Va. Sampai tersedak," sindir Tante Tata diiringi kekehan. Dan di saat itulah kudengar kembali Fasa terbatuk karena tersedak air yang diminumnya.

Sumpah, nggak bantu banget sih, Fasa. Dalam keadaan darurat begini masih sempat-sempatnya tersedak! Harusnya dia jelasin ke Mamanya soal hubungan kami yang hanya pura-pura ini. Bukan malah tersedak yang malah membuat orang kesal begini.

Puk ... puk ... puk!

Dengan kasar kupukul-pukul punggung Fasa guna membantunya dari peristiwa 'tersedak' yang ia alami.

"Makanya kalau makan hati-hati," ucapku masih memukul punggungnya dengan kasar. Kulihat Fasa meringis menerima pukulanku.

"Udah," ucap Fasa menghindarkan punggungnya dari tanganku. "Gue udah nggak apa-apa," lanjutnya memandangku sebal.

"Yakin?" tanyaku melotot ke arahnya. Tangan kananku kini sudah kuangkat dan siap memukulnya kembali.

Tiba-tiba Fasa berdiri dari posisi duduknya dan memandangku dengan tatapan ngeri.

"Ma, Fasa berangkat dulu," ucap Fasa seraya berjalan meninggalkan ruang makan meninggalkanku dan Tante Tata.

Dasar, dipukul gitu aja sudah kabur.

***

Dengan tergesa-gesa aku berjalan menyusuri koridor kelas untuk mencari keberadaan Fasa. Aku harus bicara dengan Fasa mengenai masalah yang ia sebabkan ini. Bagaimana mungkin kepura-puraan kami dapat berakhir seserius ini? Aku mana mau dinikahkan dengan Fasa.

Aku nggak mau! Pokoknya nggak mau! Titik!

"Va," panggil seseorang yang membuatku menoleh ke arah kananku, di mana suara tersebut berasal. Kini kulihat Dela, sahabatku, tengah berjalan ke arahku dengan senyum mengembang di bibirnya. "Kesel nggak sih, udah buru-buru dandan malah makul pagi ini kosong," gerutunya.

"Iya kesel, tau gitu kan gue mending kan lanjut tidur aja," balasku.

"Dasar tukang tidur lo," cibir Dela menyenggol bahuku.

Tadi sesampainya di kampus, tiba-tiba aku melihat pesan di grup kelas jika makul pagi ini kosong karena dosennya sedang berhalangan hadir. Tapi percuma juga dapat kabar kalau akunya sudah sampai di kampus.

"Eh lihat Fasa nggak, Del?" tanyaku siapa tahu Dela melihat sosok cowok menyebalkan itu.

"Nggak lihat, Va. Kenapa nyariin Fasa? Tumben banget."

Dan ya, nggak ada satu orang pun di kampus ini yang mengetahui bahwa aku kini tinggal di rumah Fasa dan sedang terjebak menjadi pacar pura-puranya. Ini bukanlah hal yang patut dibanggakan, jadi memang lebih baik nggak ada orang yang tahu mengenai informasi ini.

"Itu Del," aku terdiam sejenak mencoba mencari alasan kenapa aku mencari Fasa, "itu, tugas. Iya tugas kelompok. Gue kan ada tugas yang satu kelompok sama dia," jawabku cengengesan.

Semoga Dela nggak sadar kalau aku sedang berbohong. Tapi, nggak bohong juga, sih. Sebab, aku kan memang satu kelompok dengan Fasa di salah satu makul.

"Di WA aja, Va. Tanya dia di mana."

Memang bisa sih, mengirim WA kepada Fasa, tanya dia di mana. Hanya saja, belum tentu juga dia membuka pesan WA dariku. Selain itu, aku juga malas mengirim pesan kepada Fasa. Akan tetapi, memang itu lah satu-satunya cara mencari keberadaan Fasa. Jadi, mau nggak mau, memang aku harus menghubunginya lewat WA.

Aku menganggukkan kepala sebagai balasan. Lalu, aku mengambil ponselku yang berada di dalam tas. Aku mulai mencari kontak nomor WA Fasa. Setelah menemukannya, segera aku mengirimkan WA kepada cowok itu menanyakan keberadaannya. Akan tetapi, pesanku hanya centang satu.

Aku mengernyitkan dahi bingung. Fasa nggak memblokir nomorku kan, ya?

"Eh, itu Fasa," ucap Dela tiba-tiba seraya menunjuk arah lapangan berada.

Sontak saja aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Dela. Kini kulihat Fasa tengah berjalan ke arah perpustakaan dengan ponsel yang menempel di telinganya.

Akhirnya

"Gue duluan Del," ujarku kemudian pergi meninggalkan Dela untuk mengejar Fasa.

Fasa benar-benar harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan kepadaku. Dia harus bilang kepada kedua orang tuanya jika aku bukanlah pacarnya. Aku nggak mau lagi harus berpura-pura jadi pacarnya Fasa. Lagian Fasa anaknya ngeselin, suka seenaknya aja. Mana mau aku dimanfaatin kayak gini.

"Sa!" panggilku yang kini sudah berada di belakangnya. "Fasa, berhenti lo."

Kulihat Fasa berhenti lalu berbalik memandang ke arahku. Fasa menatapku dengan ekspresi nggak minta yang sontak membuatku berdecak sebal.

"Gue nggak mau lagi jadi pacar bohongan lo," kataku kesal yang langsung membuat Fasa mendekat ke arahku dan membekap mulutku.

"Gila lo, ya? Ngomong kenceng banget. Lo mau seisi kampus dengar?" gerutunya melotot panik ke arahku.

Segera kuinjak kakinya yang membuatnya meringis kesakitan.

"Sakit tau!" Fasa sudah berjongkok dan mengelus-elus kaki kirinya yang tadi kena injakanku.

"Sakitan juga jidat gue nih," ucapku seraya menyingkirkan poni yang menutupi jidatku, menunjuk benjolan di jidatku akibat menabrak pintu semalam. "Benjol, biru, nyeri. Sakit tau!" tambahku sebal.

"Itu salah lo sendiri. Makanya kalau jalan nggak usah merem. Dasar kebo tukang tidur," ledeknya mendongak ke arahku.

"Sembarangan ngatain orang!" ucapku kesal.

"Gue nggak ngatain, gue ngomongin fakta."

Sumpah demi apa pun, aku benar-benar ingin menendang Fasa.

"Fasa ... Sava ..., hai kalian berdua." Terdengar seseorang memanggil nama kami berdua. Kini Fasa sudah kembali berdiri dan melongok ke arah belakangku di mana suara tersebut berasal. Aku pun berbalik untuk melihat siapa yang telah memanggil kami berdua tadi.

"Hai Ben," sapaku kepada Beben teman sekelas kami dan juga sahabatnya Fasa.

"Ngapain lo berdua berdiri di tengah lapangan begini?" tanya Beben terlihat bingung.

"Tugas," jawabku dan Fasa bersamaan. '

"Wuidih, barengan jawabnya." Beben terkekeh yang membuatku cengengesan sendiri.

Semoga Beben percaya kalau aku dan Fasa tadi sedang membicarakan tugas. Sepertinya gara-gara Fasa, aku akan menjadi orang yang banyak bohong. Aduh, dosa.

"Udah kelar belum bahas tugasnya?" tanya Beben lagi.

"Belum," jawabku seraya menggelengkan kepala.

"Udah," kata Fasa bersamaan dengan jawabanku.

Seketika aku langsung menoleh ke arah Fasa dan melotot sebal. Kami kan belum selesai bahas masalah 'pura-pura pacaran' ini. Bahkan kami belum mulai membahasnya.

"Ke perpus dulu yuk, Ben. Gue mau ngembaliin buku. Habis itu ke kantin," ucap Fasa tanpa mempedulikanku lagi. Kemudian ia berbalik dan mulai berjalan meninggalkanku.

"Ikut nggak, Va?" ajak Beben ketika ia berjalan melewatiku.

"Sava mau balik, Ben," ucap Fasa tanpa menoleh ke arahku. "Dia mau tidur," tambahnya jelas-jelas menyindirku.

"Ya udah duluan ya, Va." Beben menepuk pundakku lalu berjalan mengikuti Fasa.

Tuh kan lihat, Fasa ngeselin.

Terus bagaimana nasibku ini?

***

Halo! 

Buat yang mau baca lanjutannya bisa langsung ke karyakarsa yaaa. Cari aja judul Fasava atau akunku TheSkyscraper. Bakal kupost komplet di karyakarsa. Dan sejauh ini, sudah ada 9 bab di sana. Untuk bab ini pun di sana lebih panjang dari  ini.

Terima kasih banyaaaak~


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top