BAB 1

Di kedalaman bumi, bayangan membentang panjang di sepanjang dinding gua bawah tanah, menyembunyikan dewa yang duduk di singgasananya. Hiro, Penguasa Dunia Bawah, duduk membungkuk di atas buku-buku besar. Garis wajahnya yang tajam diterangi oleh cahaya redup obor. Udara dipenuhi aroma tanah yang lembab sebagaimana tanah kuburan setelah hujan.

Jari-jari Hiro menelusuri pola di sepanjang halaman kuno buku yang sedang dia kerjakan. Matanya mengamati satu demi satu huruf dengan fokus yang tidak dapat ditiru oleh kebanyakan orang.

Ketika dia sedang fokus dengan buku di tangannya, suara langkah kaki yang menggema di kejauhan membuat Hiro mengembuskan napas lembut. Tanpa menutup buku, dia mengangkat dagunya, menatap ke sosok yang masih jauh di pintu gua.

"Hirooooo," dia memanggil lembut. Suaranya memenuhi udara dengan nada yang hidup dan ceria, sangat kontras dengan suasana gua bawah tanah yang terasa suram dan sesak.

"Elisia..." Hiro berbisik pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri, berbanding terbalik dengan sosok yang sudah berada di hadapannya.

Elisia melompat anggun, mendaratkan tubuhnya di atas buku-buku besar. Dia mengambil satu ruang yang cukup bagi dirinya untuk duduk di samping Hiro, secara natural membuat tubuh mereka hampir bersentuhan.

"Ayo maiiin, ayo kita maiiiiin." Elisia sedikit mendesak. Lengannya yang ramping melingkar di antara lengan Hiro dan menarik dewa itu lembut untuk ikut bersamanya. Namun, Hiro bergeming, tidak merespon sama sekali ajakan Elisia.

Hiro mengembuskan napas lembut. Gadis ini, berkebalikan darinya yang merupakan lambang dari kematian, dia adalah lambang dari kehidupan. Dari ujung rambutnya yang berwarna kuning keemasan hingga ujung kakinya begitu bersinar. Saat bersama, mereka akan terlihat seperti dua kutub yang berbeda. Berbeda, tetapi terikat satu sama lain.

"Aku sibuk." Suara Hiro terdengar lebih jauh dan dingin dari yang dia harapkan. Namun, kata-kata itu sudah terucap, dan tidak ada yang bisa dilakukan. Dia tidak bisa menarik kata yang sudah diucapkan dan merasa tidak perlu untuk menarik ucapannya.

"Kamu sibuk mulu." Tentu saja, Elisia merengek.

Elisia memeluk erat lengan Hiro, berusaha menariknya mendekat. Namun usahanya sia-sia; Hiro tetap tidak responsif, tangannya terpaku di tempatnya. Ia mungkin saja terbuat dari batu, gerakannya tidak tergoyahkan seperti kegelapan abadi yang mengelilinginya. Hati Elisia mencelos saat menyadari bahwa ia seolah-olah sedang menarik patung, bukan dewa kematian itu sendiri.

Dewi kehidupan itu kembali menarik lengan Hiro dengan kuat. Tubuhnya sendiri sudah bergerak mundur ketika dia berusaha membuat Hiro berpindah dari posisinya, seperti seorang anak kecil yang berusaha mencabut pohon yang besar dari tanah. Dia sangat tidak berdaya dengan keadaan.

"Hirooooo!" Elisia merengek lagi, mengeluarkan seruan putus asa. Suaranya bergetar karena kesusahan yang nyaris tak tertahan. Dia ingin Hiro memperhatikannya, menuruti keinginannya. Namun, sang dewa kematian masih bergeming.

"Aku sibuk." Hanya dua kata saja yang Hiro ucapkan untuk merespon rengekan itu.

Sang dewa kematian kembali fokus pada buku di tangan. Dia tidak mau repot-repot merespon sosok yang melekat padanya seperti koala. Matanya yang segelap langit malam tanpa bintang menyusuri kata demi kata di buku itu.

Elisia merengut, bibirnya membentuk kerucut ketika dia merajuk. Dia merasa lelah menarik Hiro tanpa hasil terus-menerus. Walaupun tentu saja terasa aneh jika seorang dewi merasa lelah hanya karena hal seperti itu. Seharusnya butuh lebih banyak untuk membuatnya lelah. Hiro merasa aneh, tetapi memilih untuk abai, diam-diam bersyukur Elisia menyerah lebih cepat dari yang dia bayangkan.

Kepala Elisia bersandar di bahu Hiro. Dia mengembuskan napas pelan, frustrasi dengan keadaannya sekarang. Matanya yang sewarna matahari terbenam turut menyusuri kata demi kata di buku yang Hiro genggam.

Elisia memusatkan pandangannya pada jari telunjuk Hiro saat jari itu bergerak di sepanjang halaman buku. Setiap kali jarinya bergerak, halaman yang tadinya kosong terisi dengan baris demi baris nama, kehadiran mereka merupakan manifestasi nyata dari berlalunya waktu yang tak terelakkan dan derap langkah kematian yang tak henti-hentinya.

Sayangnya, dewi kehidupan bukan sosok yang bisa duduk tenang tanpa melakukan apa pun. Kepribadiannya ceria dan lasak, berbanding terbalik dengan Hiro yang pendiam dan tenang. Tentu saja tetap berada di gua lembab yang hanya dipenuhi buku dan tidak melakukan apa pun membuat Elisia tertekan.

Mata sang dewi tiba-tiba bersinar cerah, wajahnya berseri dan sepenuhi dengan senyuman yang mencurigakan. Tangannya perlahan mulai bergerak menyusuri tubuh Hiro ditutupi jubah hitamnya. Dia tidak punya niat lain, hanya mencari keseruan dari sensasi dalam kebosanan tak berujung di gua yang gelap dan lembab ini. Sentuhannya ringan dan menggoda saat ia menjelajahi kontur tubuh Hiro, sebuah permainan yang menyenangkan di tengah kegelapan yang menindas.

Hal itu berhasil membuat Hiro bereaksi. Dia menangkap tangan Elisia yang bergerak tidak sopan serta memindahkan tangannya menjauh. Sang dewa kematian mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dia kerjakan untuk melihat senyuman nakal Elisia.

"Aku lagi sibuk. Pergilah keluar untuk main sama kelinci atau rusa." Dia tidak bermaksud untuk terdengar kasar. Namun, nada bawaannya yang dingin membuatnya terdengar kasar.

Senyuman Elisia memudar. Bibirnya yang sebelum ini melengkung ke atas kini membentuk garis lurus.

"Kamu nyebelin. Manusia-manusia itu lebih penting daripada aku, kah?" Elisia bertanya dengan nada yang bergetar, ucapannya bahkan hampir tidak terdengar di telinganya sendiri, tertutup oleh suara jantungnya yang berdetak kesakitan.

Hiro mendesah lelah. Dia menyandarkan tubuhnya ke tumpukan buku yang berada di belakangnya. Sang dewa kematian memijat keningnya yang mendadak terasa lelah. Dia adalah dewa, tidak semestinya kelelahan. Namun, Elisia selalu berhasil membuatnya kelelahan hanya dengan kehadirannya.

Hiro sendiri bingung. Mereka sudah bersama sejak alam semesta tercipta. Namun, semakin lama Elisia semakin menuntut waktu dan perhatiannya. Semakin dia sibuk dengan tanggung jawabnya sebagai dewa kematian, semakin lekat pula Elisia menempel padanya dan meminta perhatiannya. Setiap waktu yang dia habiskan untuk menuntun jiwa-jiwa ke alam kematian seperti memicu kecemburuan pada Elisia akan waktu dan kasih sayangnya, membuatnya terperangkap dalam perang tak berujung antara kewajiban dan kesetiaan.

"Elisia, kamu, kan, tahu aku punya tugas yang gak bisa ditinggal. Jiwa-jiwa itu harus segera dikirim untuk menyebrangi dunia. Jadi kumohon, mengertilah sedikit, ya?" Hiro berkata lembut, berusaha menjelaskan posisinya yang sulit dan sedikit memohon pengertian Elisia. Walaupun sepertinya dari raut wajah sang dewi tidak menunjukkan tanda-tanda mau mengerti.

"Aku, kan, udah engga ngajak kamu main lagi, tapi masih diusir." Elisia berusaha membela dirinya, menuntut Hiro untuk membenarkan tindangan sang dewi dan berhenti mengusirnya.

"Kamu menggangguku." Hanya dua kata dari Hiro, tetapi dua kata itu cukup untuk membuat Elisia lebih terluka.

"Hiro jahat! Jahat! Jahat! Ini sangat sakit, Hiro. Kamu engga sayang aku, kah? Ini tuh sakit banget." Elisia merengek.

Dia memeluk erat Hiro seraya membenamkan wajahnya di pundak sang dewa. Air mata Elisia mengalir dan membasahi jubah Hiro.

"Elisia, kumohon. Kamu sekarang kayak ratu drama. Nanti aku main sama kamu kalau udah gak sibuk, ya?" Hiro mencoba membujuknya. Jika dia diam, Elisia pasti hanya akan semakin mengganggunya dan mencari cara untuk mendapatkan perhatiannya.

"Tapi kapan? Kamu sibuk terus."

Elisia mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Hiro. Matanya yang berwarna jingga, sebagaimana warna matahari terbenam bertemu dengan mata Hiro yang hitam kelam, sekelam langit malam tanpa bintang.

"Nanti..." Kata-kata Hiro menggantung. Dia juga tidak tahu kapan bisa sedikit bernapas lega dari tugas-tugasnya.

Hiro tidak memiliki pilihan. Setiap milisekon selalu terjadi kematian di bumi, membuatnya harus mencatat jiwa yang mati dan mengirimkan jiwa itu menyebrangi dunia. Dia tidak memiliki waktu untuk Elisia.

Dahulu keadaannya tidak seperti ini. Dia tidak terlalu sibuk seperti sekarang dan punya banyak waktu serta energi untuk menemani Elisia bermain. Pada saat itu dia juga tidak terlalu menuntut seperti sekarang, lebih banyak bermain dengan hewan-hewan berbulu dan menikmati aroma bunga dibandingkan mengganggu Hiro bekerja.

Keadaan mulai berubah ketika populasi manusia semakin banyak. Elisia mendadak berubah dan lebih sering mengunjungi Hiro di gua bawah tanahnya. Dia sering mengajaknya bermain, mengobrol, apa pun itu selama Hiro memperhatikannya. Namun, keadaan Hiro juga sudah berubah. Kematian yang disebabkan manusia terlalu banyak membuatnya dia bisa memberikan waktu untuk Elisia.

Jika dia bisa, Hiro ingin saja membiarkan Elisia bermain sendiri. Sayangnya, Elisia selalu menyentuhnya dengan tidak sopan ketika sang dewi bermain sendiri. Hal itu membuatnya merasa aneh dan pikirannya menjadi tidak fokus pada tugas di tangan. Jadi, Hiro tidak bisa membiarkan Elisia melakukan hal yang dia suka dan mengusirnya adalah pilihan terbaik.

"Sekarang tolong tinggalkan aku sendiri, ya? Pergilah main sama kelinci di hutan." Lagi, Hiro berusaha membujuk.

"Hiro ngeselin! Aku benci kamu!"

Elisia melompat dari tumpukan buku-buku besar dan mendarat di lantai gua. Matanya masih berkaca-kaca, penuh dengan air mata yang berusaha dia tahan. Ketika dia tidak melihat tanda-tanda Hiro akan turun untuk menenangkannya, dia menjadi semakin sedih dan terluka. Dia menghentakkan kakinya lalu berjalan meninggalkan gua yang gelap dan lembab itu.

Hiro menatap punggung Elisia yang perlahan menghilang di ujung gua. Tidak peduli seberapa gelap dan panjang gua tempat Hiro tinggal, Elisia selalu tertangkap pandangannya. Dia terlalu bersinar, selalu terlihat seperti sumber cahaya di gua yang gelap. Terkadang, kehadirannya seperti terlihat seperti penyelamat. Namun, kepribadiannya membuat Hiro menyerah dan memilih obor sebagai sumber cahaya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top