BAB 2

Waktu telah kehilangan semua nilainya dalam bayang-bayang gua bawah tanah. Hiro, Dewa Kematian, duduk membungkuk di atas buku besar, dengan cermat mencatat nama-nama jiwa yang telah berpulang dan mengantar mereka untuk menyeberangi dunia, perjalanan terakhir para jiwa yang malang. Menit demi menit, jam demi jam, ia dengan tekun menjalankan tugasnya, waktu yang terus berlalu tanpa disadari karena tidak adanya sinar matahari atau kebisingan di luar

Hiro sudah tidak yakin berapa lama waktu berlalu ketika dia tenggelam dalam tugas, mungkin sehari atau dua hari, mungkin juga lebih lama dari itu. Dia tidak pernah terlalu memikirkan waktu yang berjalan, hanya selalu terfokus untuk menyelesaikan tugas di tangan. Meskipun tugasnya tidak pernah selesai dan memaksanya untuk selalu bekerja, tidak walau hanya untuk sekadar menutup mata barang sejenak.

Sayangnya, ketenangan di gua bawah tanah itu menghilang setelah suara langkah kaki yang ringan terdengar menggema dari kejauhan. Tanpa sadar, Hiro mengumbuskan napas pelan. Tidak perlu bertanya, tidak perlu mengira, dia tahu milik siapa langkah kaki itu.

Suara langkahnya ringan, anggun, begitu elegan. Tidak berlebihan seperti suara ketukan sepatu para bangsawan manusia dengan keramik dan tidak berat layaknya suara mamalia yang berburu mangsa. Hal ini terasa begitu tidak nyata. Namun, bukankan mereka berdua adalah entitas yang tidak bisa dijelaskan oleh logika para manusia?

Ketika pendar cahaya mulai terlihat di pintu gua, memancarkan rona keemasan dan kehangatan ke seluruh ruangan yang dingin Hiro mengangkat kepalanya. Wajahnya yang gelap, ekspresinya yang kaku, tatapannya yang tajam diterangi oleh cahaya lembut yang terpancar dari sosok yang berdiri di seberang. Untuk sesaat, Hiro menemukan dirinya terpana. Tatapannya yang tajam terpaku pada cahaya dan bayangan yang menari-nari seiring dengan langkah Elisia.

Tidak peduli berapa kalipun dia melihat sosok itu dari awal penciptaan dunia, Hiro masih menemukan dirinya tersihir setiap kali Elisia mengunjunginya. Dia adalah dewi kehidupan, tetapi sosoknya yang begitu indah seolah bisa membuat siapa pun menghentikan napas. Dia terlalu indah dan sempurna.

Hiro memejamkan mata sejenak untuk mengalihkan pikirannya. Semakin lama dia menatap Elisia, semakin terjerat pula dirinya pada sang dewi. Dia menundukkan kepala untuk kembali fokus pada tugas di tangan. Sudah beberapa menit berlalu dan pada waktu itu sudah ribuan, tidak, mungkin jutaan jiwa yang menunggu untuk dicatat dan dikirim.

Elisia melompat anggun dan mendarat di atas tumpukan buku, mengambil ruang kosong di sisi Hiro untuk mendudukkan diri. Lengan rampingnya langsung menelusuri dada bidang Hiro yang masih tertutup oleh jubahnya dengan tidak sopan, mengabaikan protes yang selalu Hiro lontarkan padanya.

"Aku sibuk," selalu, hanya dua kata yang Hiro ucapkan, bahkan sebelum Elisia sempat mengatakan apa pun.

Elisia mendesah lembut. Dia membaringkan kepala di bahu Hiro untuk memeras setetes kasih sayangnya.

"Aku tahu kamu sibuk, tapi memangnya salah kalau aku main ke sini? Kalau bukan ke sini, ke mana lagi aku main?" Sang dewi bertanya lembut. Jemarinya yang ramping senantiasa bergerak nakal menelusuri tubuh bagian atas Hiro, seolah mencari sesuatu di sana untuk dicuri.

"Kelinci atau rusa, atau pepohonan, atau anak-anak yang lain," Hiro berujar pelan, berusaha semaksimal mungkin untuk mengabaikan tangan-tangan nakal yang berusaha menarik perhatiannya.

Dia mendesah lelah. Elisia tidak pernah bersedia mendengarkan. Tidak peduli seberapa banyak pun Hiro menghentikan sang dewi, dia selalu datang untuk mengganggunya.

Hiro kembali memfokuskan perhatian pada buku kematian di tangan. Dia tidak punya waktu untuk terus menghadapi Elisia. Setiap detik yang berjalan begitu berharga. Hanya beberapa waktu dia berhenti sejenak, tidak tahu sudah seperti apa kacaunya dunia dengan kumpulan jiwa yang belum menyeberang.

"Huh! Mereka semua cepat mati! Nyebelin!" Elisia mendengkus, begitu kesal dengan keadaan.

Teman-teman bermainnya begitu rapuh, makhluk fana yang sangat mudah untuk direbut dari genggamannya. Bagi Elisia, Hiro adalah seseorang yang bisa menemani sang dewi dalam kebosanan tak berujung, satu-satunya entitas yang menawarkan persahabatan dalam perjalanan waktu yang tidak pernah berhenti. Elisia menganggap pengabaian sang dewa kematian adalah siksaan yang tak terbayangkan, melebihi rasa sakit apa pun yang pernah dia rasakan, menelannya dalam kesepian yang mengancam di keabadian yang menyesakkan.

"Kalau gitu main sama manusia." Hiro memberi saran. Jika teman-teman bermain Elisia yang lama dianggap rapuh, bagaimana dengan manusia? Mereka hidup lebih lama dibandingkan beberapa hewan seperti kelinci dan burung. Mereka juga bisa berbicara dan bergerak, tidak seperti pepohonan.

Mendengar kata manusia, ekspresi Elisia menjadi buruk. Biasanya dia tidak akan melepaskan pelukan dari Hiro tanpa sang dewa yang menyingkirkan tangannya. Namun, kini Elisia memisahkan diri dari Hiro. Tidak terlalu jauh, tetapi cukup sebagai bukti jika dia benar-benar kesal.

"Ih! Justru mereka semua mati dibunuh manusia. Nyebelin tau, enggak, sih? Bisa, enggak, sih, kalau manusia hilang aja dari bumi? Anak-anak yang lain jadi sengsara." Elisia menggelengkan kepalanya dengan kuat, menunjukkan permusuhan yang begitu jelas pada makhluk yang menganggap diri mereka penguasa bumi.

"Gak bisa gitu. Kamu diskriminasi. Manusia juga, kan, anak-anak," Hiro berujar pelan, berusaha memberi pemahaman pada sifat diskriminasi Elisia.

"Enggak! Aku enggak mau! Aku mau manusia hilang aja semuanya! Semuanya nyebelin!" Elisia terus menyampaikan ketidaksetujuannya. Dia bergeser sedikit dari tempat duduknya, memberikan sedikit ruang antara dirinya dan Hiro.

"Elisia ...." Hiro berusaha membujuk. Jika Elisia sudah seperti ini, sudah jelas dia sedang sangat kesal pada Hiro.

"Kamu lebih nyebelin lagi! Kamu enggak pernah perhatian, enggak pernah sayang-sayang aku," Elisia mengomel, mengurarakan rentetatan kata-kata panjang yang bahkan membuat Hiro lelah hanya dengan mendengarkan.

"Aku sibuk," lagi, kata-kata itu terlontar bak kaset rusak dari mulut Hiro. Dua kata yang selalu Elisia benci seumur eksistensinya.

"Sibuk, sibuk, sibuk terus alasan kamu. Dulu sebelum ada manusia, kamu, tuh, enggak sesibuk ini. Sekarang aja pas udah ada manusia, kamu sibuk mulu. Mending manusia kumusnah-"

"Elisia!" Sebelum Elisia menyelesaikan kalimatnya, Hiro memotong. Dia tidak tahu apa yang akan Elisia katakan jika dia dibiarkan terus berbicara. Mungkin sesuatu yang benar-benar berbahaya.

"Tapi, kan, kenyataannya gitu. Mereka, toh, sekarang sibuk perang. Perang inilah, perang itulah, bom nuklir lah, senjata biologislah. Kamu tahu enggak, sih, kalau anak yang satu itu suka ngehancurin diri sendiri? Kan aku cuma ngasih saran biar mempercepat aja." Elisia merajuk, bibirnya mengerucut, keningnya berkerut.

"Elisia! Tolong, tolong jangan bicara omong kosong! Kita gak boleh ikut campur urusan anak-anak!" Hiro berseru. Ekspresinya memburuk setiap kali dia mendengar kata-kata yang dia anggap terkutuk dan berbahaya. Dia tidak mengerti bagaimana bisa seorang dewi kehidupan bisa mengatakan hal-hal kejam begitu ringan. Dia tidak paham alasan Elisia bisa memiliki begitu banyak kebencian dalam dirinya.

"Kamu, tuh, selalu marahin aku kalau aku ngomong fakta. Kamu emang enggak sayang aku!"

Elisia tidak tahu kenapa Hiro memarahinya begitu buruk. Dia hanya mengatakan fakta, tetapi Hiro memarahinya seolah Elisia melakukan sesuatu yang salah. Elisia sama sekali tidak mengerti di mana letak kesalahannya atau kesalahan dari kata-katanya.

"Elisia, kita gak seharusnya ikut campur urusan anak-anak. Kamu juga tahu itu kan? Bagaimanapun semuanya berakhir nanti, itu adalah hasil tangan anak-anak. Kita terlalu kuat untuk ikut campur," Hiro mencoba berbicara dengan lembut, menurunkan nada bicaranya yang sebelumnya meninggi.

Hiro sudah mengenal Elisia bahkan sebelum lautan dan daratan terbentuk. Dia tidak bisa memarahi Elisia begitu buruk karena hanya akan membuat sang dewi merajuk. Selain itu, Hiro tidak tega melihat ekspresi terluka di wajah cantiknya setiap kali dia merajuk.

Hiro mengembuskan napas lembut, berusaha sesabar mungkin memberikan pengertian pada Elisia. Meskipun dari ekspresi sang dewi, dia tidak terlihat paham sama sekali.

"Tapi Hiro, ini sakit banget. Manusia, anak-anak kesayangan kamu itu terlalu merusak alam." Elisia merengek, memeluk lengan Hiro dan menarik-nariknya laksana balita yang sedang merajuk.

"Mereka bukan anak-anak kesayanganku. Aku melihat mereka semua sama." Hiro mengerutkan kening, tidak tahu dari mana Elisia mendapatkan ide seperti itu. Dia memijat pelipisnya, berusaha semaksimal mungkin untuk meredakan kepalanya yang sakit.

"Huh! Kamu bahkan lebih sayang mereka daripada aku!" Elisia berseru kesal, dia melipat tangannya di depan dada dan menatap tajam pada Hiro.

"Aku lelah berdebat terus dengan kamu. Gara-gara kamu ada banyak tugasku gak selesai. Terserah kamu, lah. Jangan ganggu aku sekarang." Sungguh, Hiro sudah kehabisan kesabaran sekarang. Dia tidak bisa menghadapi Elisia lebih jauh lagi. Pekerjaannya sudah begitu lama terbengkalai dan dia tidak bisa memgabaikan pekerjaannya lebih lama. Hiro melihat buku kematian di tangannya, sepenuhnya fokus pada tugas di tangan.

"Hiro nyebelin! Nyebelin! Nyebelin!"

Elisia melompat turun dari tumpukan buku. Ekspresinya terlihat begitu terluka. Matanya yang biasa bersinar terang ditutupi air mata yang tertahan.

Elisia mengepalkan tangan, membuat kuku-kukunya menembus kulit tangannya yang lembut. Namun, Hiro bergeming, sepenuhnya abai pada Elisia yang tengah merajuk. Dia terlalu sibuk sekarang untuk peduli pada Elisia. Sudah berapa lama waktu terlewati hanya untuk membujuk sang dewi.

Tidak mendapatkan respon apa pun, Elisia meninggalkan gua bawah tanah. Cahaya di sana perlahan-lahan menghilang dan menyisakan gua kembali dalam kegelapan yang menyesakkan.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top