Chapter 8 : Halloween
"Aishiteru Keiji-kun."
Keiji POV
Saking terkejut karena ternyata dia memiliki perasaan yang sama denganku, langsung saja aku memeluknya, dapat kulihat wajahnya yang memerah. Seandainya dapat kufoto.
"Ja-jadi kita s-sekarang pa-pacaran ya?" Tanyanya yang sambil tergagap.
"Udah jelas jawabannya baka!" Cibirku pada (f/n). Tetap saja wajahku memerah saat mengatakannya.
"Ano Keiji-kun sekarang sudah malam ya?"
"Hm, sebentar lagi Halloween." Tukasku.
"Halloween?. Sou ka, (f/n) saat kita akan kembali ke lab tadi, aku akan menyalakan semua lampu yang berada di situ. Walaupun aku tidak menjamin kalau dia takut cahaya-"
"Pasti berhasil Keiji-kun. Aku percaya padamu." Katanya sambil tersenyum. Dia masih bisa bersikap tenang di saat seperti ini? Hebat.
"Kalau kita berhasil keluar dari sini... Traktir aku ya." Katanya with innocent smile.
"Mari berharap Kami-sama berpihak pada kita."
Braaaakkkk
Pintu ruangan kami dikunci didobrak paksa oleh orang itu, sejak awal aku memang tidak menyukainya.
"Gomen mengganggu, tapi kita akan segera mulai. Kujamin, kalian mati dengan tenang." Kata teman (f/n), sambil menyeringai.
Dia menjentikkan jarinya, seketika kami langsung berada di lab yang kubicarakan dengan (f/n) tadi.
Untung saja aku masih sempat mengambil tas yang agak besar ini. Yang isinya hanya aku dan Kami-sama yang tau.
"Sebelum kita mulai, aku akan menceritakan sedikit tentang keluargaku pada kalian-"
"Teme, tutup mulutmu!" Teriak (f/n), dapat kulihat diantara kami berdua, dia yang paling marah karena persahabatannya berakhir seperti ini.
"Tidak akan lama kok, kujamin akan lebih dulu memutilasi kepalamu (f/n)-chan~" katanya sambil tersenyum ria.
"1 abad yang lalu, keluargaku merupakan yang terkaya di daerah ini. Kami menjalankan pabrik kayu walaupun tidak semodern pabrik yang sekarang. Karena kebutuhan kayu semakin banyak, kami akhirnya mulai melakukan bisnis baru-"
"Itu tidak ada sangkut pautnya dengan kami, baka!" Bentak (f/n).
"Diam dan dengarkan sampai ceritanya habis. Kami memutuskan untuk mulai menjual daging. Menyenangkan sekali bisa menjual daging..." Dia sengaja menggantung ucapannya.
"Jangan bilang..." Gumamku.
"Ya, kami menggunakan daging manusia. Padahal menyenangkan sekali, seandainya saja kalian bisa mendengar teriakan-teriakan mereka. Kemudian banyak keluarga yang mulai curiga dengan kami, satu per satu anggota keluarga mereka mulai menghilang secara misterius."
"Itu memang salah kalian." Kata (f/n) pelan tapi masih bisa terdengar oleh manusia supernatural yang berada di depan kami.
"Pada akhirnya mereka membunuh keluargaku satu demi satu. Sebelum bisa menyentuh aku dan ayahku, ayah mengutuk mereka. Kutukannya berhasil, mereka langsung mati tapi aku memiliki semacam kekuatan super, sedangkan ayah sekarat." Dia seperti meratapi nasibnya.
"Ritual ini hanya bisa dilakukan di hari Halloween. Jujur saja aku menyukai Halloween dimana roh-roh terbebas dan katanya setan-setan berkeliaran. Kalian harus percaya, karena info itu benar adanya." Sambung (b/fn).
"Kenapa kau tidak melakukan ini di Halloween sebelumnya?" Tanyaku.
"Halloween kali ini spesial, ada bulan purnama. Ritual ini hanya bisa dilakukan di saat Halloween dan adanya bulan Purnama ." Jelas teman (f/n), yang saat ini ingin sekali ku spike wajahnya.
Ctar
Tidak mungkin, sekarang sudah malam Halloween. Bahkan kilat pun bisa terdengar walaupun kami berada di bawah sini.
"Nah untuk acara utamanya..." ucapannya menggantung.
Tik
Dengan menghidupkan aliran listrik, tiba-tiba teman (f/n) jatuh tersungkur di lantai. Setidaknya kami beruntung, dia tidak terlalu terbiasa dengan cahaya seterang ini. Ini merupakan kesempatan bagi kami.
"Ayo kita harus pergi dari sini." Kataku pada (f/n).
Dia hanya mengangguk sebagai balasan, kemudian aku menarik tangannya dan mengisyaratkan untuk berlari.
Kami menaiki tangga tempo hari, yang entah akan membawa kami kemana.
Hanya satu yang ada di pikiranku sekarang bagaimana kami bisa keluar dari sini.
****
"Sialan mereka." Kata (b/fn) kesal.
"Ah... aku baru ingat kalau tangga itu menuju lantai 3. Terakhir kali aku disana tidak ada jalan keluar. Aku kejar mereka dengan santai saja."
****
Reader POV
Kuso. Dari tadi kami berlari, namun tidak ada jalan keluar yang nampak.
'Santai saja (f/n), aku akan mengejar kalian dengan santai kok.'
Tch, sekarang dia tertawa di pikiranku.
Tangga demi tangga kami naiki, koridor demi koridor kami lewati, ruangan demi ruangan kami periksa, namun tidak ada jalan keluar yang nampak.
Namun ada satu ruangan yang belum kami periksa. Ruangan yang berada di ujung.
Blam
Keiji menendang secara paksa pintu itu dan di dalamnya tidak ada apa-apa. Tapi di ruangan itu ada jendelanya.
Aku memeriksa jendela itu, kemudian terkejut karena kami berada di lantai 4 rumah ini. Siapa yang menyangka rumah ini dari luar terlihat memiliki 2 lantai, sedangkan jika di dalamnya memiliki 4 lantai?!.
Pepatah 'Jangan menilai dari sampul buku' benar adanya.
"Ne Keiji-kun, sekarang apa?" Kataku pelan sambil menyesuaikan napasku karena baru habis berlari. Jujur saja, aku ingin menangis. Dasar bodoh, kenapa aku mau berteman dengan orang seperti
(b/fn)?.
"Kalau kita melompat, kita bisa mati. Dan seandainya kita lolos, dia pasti akan mengincar orang lain. Kita harus membuat pilihan (f/n)."
Braak!!
Pintu yang telah kami kunci didobrak paksa olehnya.
"Are are senangnya melihat wajah kalian seperti itu~. Akan kubuat penawaran. Kalau kalian menyerahkan diri secara baik-baik, kujamin kalian akan mati tenang." Katanya menyeringai.
"Aku tidak jamin kalau bisa mati tenang." Tukas Keiji mengejek.
"Aku punya pertanyaan. Apakah kau bisa merasakan rasa sakit seperti manusia?" Sambung Keiji. Wajahnya lebih serius dari yang biasanya.
"Hmm tentu saja. Kenapa?" Tanya (b/fn) pada Keiji.
"Arigatou, kau mempermudah rencanaku." Kata Keiji sambil menyeringai.
Tidak biasanya dia menyeringai, entah apa yang ada di pikirannya sekarang.
"(F/n), ambil ini. Semua bukti-bukti kejahatannya ada disini. Dan tenang saja, aku sudah menelepon polisi." Katanya sambil menyerahkan handycam pemberiannya.
"Eh? Ta-tapi bukannya disini tidak terjangkau?" Tanyaku.
'Tenang saja, di bawah tanah tadi yang tidak ada signal." Katanya sedikit terkekeh.
"(F/n), maaf dan sayonara."
Kemudian dia mengecup bibirku singkat.
Bruk!!
Keiji mendorongku keluar jendela dan aku jatuh dari ketinggian 4 lantai.
Kemudian semuanya berubah menjadi hitam.
****
Keiji POV
"Senpai, teganya mendorong temanku. Dia bisa mati tau."
"(B/fn) mari mati bersamaku." Kataku kemudian mengeluarkan dinamit dari tas yang kudapat di ruang bawah tanah.
"Manusia sialan, aku tidak akan melupakan hal ini."
DHUARR!!!
Minggu 30 Oktober 2016
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top