Chapter 7 : Escape plan

Bikin baper picturenya, keingat Akashi Seijuurou XD.

Reader POV

"Bukannya kau tidak punya adik?" Tanyaku.

"Lebih tepatnya dia adik sepupuku, tapi dia tinggal di rumahku juga." Jelasnya.

"Karena sudah terlanjur disini, kenapa kita tidak menyelidiki rumah ini saja?" Saranku, kemudian mengeluarkan handycam yang berada di tas kecilku.

"Lebih baik kita pikirkan cara agar bisa keluar dari sini (f/n)." Ucapnya sedikit menyindir.

"Hai (f/n) disini. Aku dan Keiji sekarang berada di lokasi yang telah ditentukan. Mari berharap kami dapat memecahkan misteri rumah ini!!" Kataku sambil merekam diriku dan Keiji yang sedang *uhuk* menggendongku ala bridal style *uhuk*.

'Dasar.' Batin Keiji.

'Let's play (f/n).' Terdengar sebuah suara.

"Keiji tadi kau bilang apa?" Tanyaku karena tadi aku mendengar suara yang samar-samar.

"Jangan bercanda, aku tidak mengatakan apa-apa." Ujarnya dengan nada jengkel.

"Sebenarnya semua ini telah direncanakannya." Sambung Keiji.

"Siapa dan yang merencanakan apa?" Tanyaku. Siapa yang tidak bingung setelah dia mengatakan sesuatu seperti itu.

"Sebenarnya temanmu itu yang merencanakan semuanya."

"Eh? Maksudmu (b/fn)? Jangan bercanda deh, dia tidak mungkin melakukan semua ini." Ucapku.

"Tidakkah kau merasa janggal? Kalau ketua osis yang menyuruhmu datang kemari... seharusnya kau menerima surat izin darinya. Dan yang paling janggal adalah temanmu itu, tidak memberikan keterangan yang jelas."

"Jadi maksudmu..."

"Saat istirahat, dialah yang mengambil handphonemu dan kemudian mengirimku sms itu."

"Keiji-san HEBAT!! bisa menyadari semua itu, sedangkan aku..." aku tertunduk, aku begitu bodoh. Dengan mudahnya bisa percaya tipuannya.

"Yah jangan menyalahkan dirimu. Hanya akan memperburuk keadaan-"

"Siapapun kau yang di tangga, perlihatkan dirimu!" Teriak Keiji. Pertama kalinya dalam sejarah Keiji berteriak.

Yang tidak kusadari adalah kami berjalan dan entah kenapa dan mengapa, kami bisa sampai di semacam pusat ruang bawah tanah ini.

Sekarang aku dan Keiji sedang berada di sebuah lab, entahlah dipakai untuk apa, tetapi di tengah lab ini ada semacam peti dan jangan lupakan ada seseorang yang perlahan berjalan menuju kami.

"Halo (f/n)-chan." Sapa (bf/n) sambil menyeringai padaku, sontak aku memegang tangan Keiji dengan sangat erat.

"Souka... kulihat kalian begitu terkejut." Kata (b/fn) masih menyeringai.

"Cepatlah dan tunjukkan jalan keluar." Bentak Keiji.

"Gomen Keiji-senpai, sayangnya aku tidak bisa melakukannya-"

"Karena aku membutuhkan kalian berdua. Ah kalau kalian ingin bertanya kenapa, kalian akan kujadikan tumbal. Untuk membangkitkan ayahku." Katanya.

"Kau apakan adikku?" Tanya Keiji yang kulihat dia sangat marah.

"Maksudmu anak-anak itu? Sayangnya mereka sudah mati. Mereka sangat tidak penurut, jadi kukurung saja mereka sampai mereka mati kelaparan." Tukas
(b/fn) sambil menyeringai licik.

"(B/fn) teme." Geramku.

Sekarang aku tidak lagi peduli tentangnya, ternyata dia hanya penipu belaka. Yang kupedulikan sekarang adalah bagaimana kami bisa kabur dari sini.

"Bahasamu kasar sekali, tapi aku memaafkanmu kok, karena kau akan membebaskan ayahku. Jujur saja aku hanya ingin satu korban, tapi sudahlah karena sudah susah payah datang kemari, akan kuberikan pelayanan yang terbaik."

Sial! Kata-katanya, seandainya kakiku tidak sedang terkilir, kujamin wajahnya sudah remuk sekarang.

"Kenapa kau memilih (f/n)? Bukankah diluar sana masih banyak orang? Yang bisa kaujadikan sebagai tumbalmu." Keiji bertanya sambil menatap tajam (b/fn).

"Soal itu ya, simpel saja dia itu spesial. Dia merupakan orang pertama yang mau berteman denganku, walaupun aku dikutuk." Kata (b/fn).

"Kita akhiri dulu pembicaraannya. Aku harus mempersiapkan segalanya."

Woosh

Dia menghilang.

"Gomen (f/n)." Katanya sambil berbisik pelan.

****

"(F/n)."

"Ng...?"

"(F/n)?"

"Hai hai." Kataku pelan kemudian membuka mata.

Yang kulihat pertama wajah KEIJI!?.

"Tadi dia membuat kita pingsan. Dan kita dikurung disini."

'I-ia aku mengerti Keiji, tapi haruskah kita seperti ini?!' Batinku panik.

Posisi mereka sekarang (f/n) tidur di pangkuan Keiji, sedangkan tangan Keiji mengelus pelan pucuk kepala (f/n).

Siapa sih yang tidak tersepona (?) Dengan melihat wajah Keiji dari dekat.

"Soal yang tadi, katanya kau teman pertamanya?" Bisik Keiji pelan.

"Oh tentang itu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di atap. Saat itu seperti biasa kau dan Bokuto latihan, kemudian saat istirahat aku makan di atap. Aku melihatnya sendirian, toh tanpa pikir panjang aku menemuinya kemudian berkenalan dengannya. Dan seperti yang terjadi sekarang, aku menyesal telah bertemu dengannya."

"Itu biasa saja, siapapun pasti akan berbuat seperti itu."

"Ngomong-ngomong, bagaimana kita akan keluar dari sini?" Tanyaku dengan memasang tampang yang cukup konyol.

"Soal itu, tenang saja aku sudah memikirkan semuanya. Semua rencana kita ada di tas ini." Katanya sambil mengangkat tas yang lumayan besar.

"Apa isinya?" Tanyaku.

"Nanti kau akan tahu." Jawab Keiji.

"Tentang adikmu-"

"Setelah kita keluar dari sini, aku akan pastikan dia mendapat hukuman yang tepat." Katanya yakin dengan penuh penekanan di setiap kata.

"Dan mungkin, rencana ini tidak akan berjalan mulus karena dia sepertinya punya kekuatan super." Sambung Keiji.

"Mungkin kau benar." Kataku kemudian bangun dari pangkuannya. Wajahku bisa berubah menjadi tomat kalau kami dalam posisi seperti itu terus.

"Keiji kalau bisa keluar dari sini apa yang akan kaulakukan?" Tanyaku.

"Kembali ke kegiatanku sehari-hari mungkin?" Jawabnya.

"Haha begitu ya."

Gawat, situasi yang canggung. Tidak ada yang buka mulut.

"(F/n)." Kata Keiji pelan.

"Y-ya?" Eh kenapa aku jadi gugup?.

"Aishiteru."

Satu kata itu.
Membuatku bahagia setengah mati, entah karena alasan apa. Padahal kami sahabat sejati kan?.

"K-Keiji-san t-tadi bilang ap-apa?"

Cup

Dia menciumku pelan.
Bibirnya terasa lembut di bibirku. Entah mengapa jantungku berdetak tak karuan. Kami berciuman sampai napas kami hampir habis.

Apakah aku mencintainya?

Jawabannya

Ya.

"Jadi apa jawabanmu (f/n)?" Tanyanya to the point.

"Aishiteru Keiji-kun."

Buset 2 hari lagi deadline.
Doakan cerita ini cepat selesai ya readers.

Sabtu 29 Oktober 2016

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top