Chapter 6 : Problem
Reader POV
"(F/n)." Panggil seseorang.
Aku mencoba membuka kelopak mataku, walaupun terasa berat untuk dilakukan.
"K-Keiji." Kataku terbata-bata. Perasaanku sekarang tercampur aduk. Takut? Terkejut? Senang karena ada Keiji?.
"Tenanglah, aku disini." Katanya pelan.
Entah kenapa pipiku merona. Dengan cepat, aku menyembunyikannya dengan menengok sekeliling.
Ada bau samar-samar busuk, disini gelap tetapi bukan berarti tidak ada cahaya. Untungnya cahaya matahari mampu menembus, walaupun hanya sedikit.
"Aku butuh penjelasan." Kata lawan bicaraku yang sekarang tengah menatapku dengan tatapannya yang kelewatan tajam.
"Pe-Penjelasan a-apa?!" Sial! Kenapa aku jadi gugup begini.
"Kenapa kau mengirim pesan ini?" Katanya sambil memberikan handphonenya padaku.
Aku langsung mengambilnya kemudian kubaca.
Mataku melebar setelah membacanya.
"Sumpah, Keiji bukan aku yang mengirimnya. Handphoneku sekarang sudah hilang." Kataku dengan sangat menyesal. Aku tidak ingin membuat bestfriendku marah.
"Sudah kuduga. Kau atau lebih tepatnya kita, telah ditipu mentah-mentah." Jelas Keiji.
"Tapi aku juga ingin tahu, kenapa tadi kau berteriak 'rumah ini dikutuk' kenapa kau berkata begitu?" Tanyaku penasaran.
Seakan tersadar, pikiran Keiji jernih kembali. Sekarang mereka tengah berada di ruang bawah tanah.
"Ini Gawat." Gumamnya kemudian membantuku berdiri.
"Aku tahu kakimu keseleo." Katanya kemudian membantuku berdiri.
"Eh masa?." Tidak percaya, aku mencoba berdiri sendiri dan hasilnya aku jatuh dengan bokongku mencium lantai yang kotor ini.
Keiji? Dia mendesah pelan melihat kelakuanku ini.
Tanpa aba-aba, atau peringatan, Keiji menggendongku bridal style.
"O-oi." Kataku mencoba protes.
"Diamlah, untung saja kau ringan seperti kapas." Katanya dan sukses membuat wajahku merah seperti kepiting rebus.
"Um, kenapa tadi kau bilang rumah ini dikutuk?" Tukasku.
"Orangtuaku selalu melarangku untuk menginjakkan kaki di rumah ini. Tapi membiarkanmu sendiri disini, aku tidak bisa diam saja." Kata-kata terakhirnya terdengar seperti sebuah bisikan, yang tak bisa kudengar.
Tapi entah mengapa aku bisa merasakan detak jantungnya sedikit berpacu?. Dengan posisi kepalaku yang bersandar pada dadanya, setidaknya aku bisa merasakannya.
"Bukannya aku tidak percaya, tapi
Keiji-san apa kau punya bukti kuat kalau rumah ini dikutuk?"
"Darah dan beberapa goresan yang kau lihat tadi tidak cukup?" Katanya yang langsung membuatku terdiam.
"Bagaimana-"
"Aku bisa tahu?" Katanya memotong ucapanku.
"Dulu, tapi aku tidak tahu apakah cerita ini benar atau tidak. Katanya ada beberapa orang anak nakal yang lari dari rumahnya, mereka kemudian lari di rumah ini, dan menjadikan tempat ini sebagai persembunyian mereka. Beberapa hari kemudian, karena orangtua dari anak-anak itu khawatir, mereka menelpon dan memberitahu polisi. Polisi sudah mencari mereka, tetapi mereka tidak pernah ditemukan." Jelas Keiji panjang lebar.
"Kenapa Keiji-san bisa tahu sebanyak itu?"
"Karena salah satu dari mereka adalah adikku."
Kamis 27 Oktober 2016
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top