Consolation - 7

Yuhuu update ^^

#Now Playing: Adele - All I Ask

Pagi-pagi sekali Joantra duduk di depan danau. Menemani Jowan dan ayahnya memancing. Dia tidak suka kegiatan ini. Maunya makan pancake yang dilumuri maple syrup dan taburan buah stroberi. Sayang sekali tidak ada India. Jika ada, dia pasti akan meminta ibunya untuk membuatkan pancake. Sudah pasti tidak ikutan juga dalam kegiatan membosankan ini.

Joantra menggoyang-goyangkan kakinya ketika duduk di pinggir jembatan. Sesekali dia melihat ke bawah, melihat airnya yang cukup jernih. Tidak bisa dibilang jernih sekali. Tapi kalau disuruh berenang pun, dia tidak mau. Takut ada lumut atau digigit ikan. Ya, meskipun tidak mungkin juga ada ikan piranha.

"Bosan!" keluh Joantra.

"Jangan ganggu fokus kakak, deh," ucap Jowan.

Joantra menoleh ke samping, memelototi kakaknya yang sedang memegang pancingan. Kakaknya, sih, enak diajari ayahnya memancing. Dia, kan, tidak suka memancing. Kalau harus melakukan sesuatu, dia lebih suka diajak menggambar atau melukis. Sungguh jawaban yang menyebalkan sekali. Ayahnya juga sibuk memegang pancingan.

"Kalau ada Bunda, aku pasti nggak bengong begini," gerutu Joantra.

"Telepon Bunda aja," suruh Jowan.

"Ganggu Bunda, ah. Biar aja Bunda bangun siang. Bunda, kan, tiap hari udah bangun pagi siapin makanan buat kita."

"Iya juga, ya." Jowan tetap fokus pada pancingan yang dipegang sambil memandang lurus ke depan sana, tidak menoleh sedikitpun ke arah sang adik.

"Pa, tahu nggak, Bunda populer tahu di sekolah," cerita Joantra.

"Oh," sahut Jondas seadanya.

"Ih ... Papa, nih! Banyak yang deketin Bunda tahu, Pa. Mereka ngira Bunda kakak kami. Mana bapak-bapaknya genit semua suka nyapa Bunda gitu. Tapi bagusnya Bunda selalu pamer cincin nikah kalian."

Jondas diam mendengarkan. Masalah cincin, jangan sampai Joantra tahu kalau cincin yang dipakai India dipegang olehnya.

"Papa nggak sayang sama Bunda, ya?" tembak Joantra mulai kesal dengan reaksi datar sang ayah. Tidak ada jawaban. Ayahnya terlihat tidak tertarik membahas India. "Nggak ada ibu sebaik Bunda. Aku dengar dari teman-temanku ibu mereka senang pergi jalan-jalan nggak ajak mereka, sibuk kerja, ninggalin mereka terus. Pas mereka tahu Bunda rajin jemput padahal udah ada Pak Mamat yang jemput, mereka iri. Terus kami pernah jalan-jalan bareng Bunda. Habis itu Bunda dipanggil Bunda Peri sama mereka karena dianggap ibu kedua mereka. Dan aku senang punya ibu seluar biasa Bunda," lanjutnya.

"Aku setuju sama Joan. Bunda seperhatian itu. Teman-temanku aja kaget Bunda siapin bekal. Ibu mereka terlalu sibuk bahkan minta dibuatinnya sama mbak di rumah. Nggak cuma itu, Bunda mastiin aku sama Joan selalu senyum dan ketawa. Padahal kami sendiri nggak tahu apa Bunda senang hidup sama kami," sambung Jowan lirih.

Mendengar kalimat terakhir Jowan, hati Joantra terenyuh. Joantra teringat kemarin ketika India tertidur pulas di dalam mobil. Ayahnya yang sibuk tidak pernah menjemput, tetapi India yang juga sama sibuknya selalu meluangkan waktu untuk menjemput.

"Pa...," Joantra menatap ayahnya yang berada di samping Jowan. Saat ayahnya menoleh, dia menunjukkan tatapan memohon. "Kalau Papa sayang sama aku dan Kak Jowan, bisa nggak Papa baik sama Bunda? Aku nggak paham perasaan orang dewasa terhadap pasangannya, tapi aku cuma mau Papa nggak cuek sama Bunda."

Jondas memandangi raut wajah memelas putrinya. Jondas ingin menjawab tidak bisa, tetapi melihat Joantra begitu menunjukkan banyak kesedihan dan tanda memohon, dia tidak tega. Apalagi setelah semalam Joantra menangis sesegukan. Dia sudah cukup jahat mengabaikan Joantra dan Jowan, tidak mungkin kalau dia memberi jawaban yang bisa menyakiti hati gadis itu lagi.

"Iya," hanya itu yang diucapkan Jondas.

"Janji, ya, Pa?"

Kali ini Jowan menoleh, turut menunjukkan tatapan yang sama, membuat Jondas merasa berat untuk tidak menjawab.

"Iya."

"Iya apa, Pa?" cecar Joantra.

"Iya, janji," ucap Jondas.

Wajah memelas Joantra berubah menjadi senyum lebar. Akhirnya muncul juga secercah harapan untuk melihat ayahnya lebih peduli. Joantra bangun dari tempat duduknya, lalu menghampiri sang ayah dan langsung memeluknya.

"Makasih, Pa," bisik Joantra senang.

Jondas sempat kaget dengan tindakan putrinya yang tiba-tiba. Baru sekali ini Joantra datang padanya dan memeluk. Senyum kecil pun terbit di wajah Jondas. Sambil mengusap kepala putrinya, Jondas menanggapi, "Iya, Joan."

💝💝💝

Belum ada sehari ditinggal anak-anak berkemah, India sudah merindukan suara Joantra dan Jowan. Dia ingin menghubungi anak-anak cuma takut mengganggu. Biarlah anak-anak itu menikmati momen bersama ayah mereka. India memilih mengerjakan novel terakhir yang belum rampung.

India memandangi layar laptop. Novelnya yang berjudul When Will You Love Me menjadi novel angst sekian kalinya di antara novel-novel sedih yang dia buat. India bukan tidak pernah menulis cerita komedi romantis atau romansa biasa tanpa genre angst, pernah, hanya saja tidak begitu meledak seperti novel angst miliknya. Jadi, India berfokus menuliskan novel angst saja selama beberapa tahun belakang. Kalau novel-novel awalnya menuliskan novel yang senang dan ceria. Beberapa sudah tidak diterbitkan lagi dan menumpuk menjadi kenangan. Terlalu malas untuk dicetak ulang atau direvisi lagi.

Jari-jari India bergerak menekan huruf per huruf, kemudian dihapus kembali. Benar-benar buntu. Lalu, dia melihat ke samping pada amplop cokelat yang belum disentuh sama sekali. Surat gugatan cerai bersama yang belum ditandatangani. India diam sejenak, memandangi amplop tersebut.

India bertanya-tanya, selain anak-anak, apa yang membuatnya bertahan di rumah penuh kesunyian ini? Apa yang membuatnya tetap bersama Jondas? Apakah wasiat Wantra? Atau mungkin dia menaruh hati kepada Jondas meskipun sedikit? Tapi rasanya yang terakhir tidak mungkin. Mereka tidak pernah berinteraksi sampai membuatnya mampu jatuh hati dengan laki-laki sedingin Jondas.

"Bundaaaaaa! Bundaaaaa!"

Suara teriakan yang cukup kencang itu mengejutkan India. Dengan cepat dia memasukkan amplopnya ke dalam laci meja kerja. Secepat mungkin tanpa menyimpan novelnya terlebih dahulu, India bergegas keluar dari kamar.

Betapa terkejutnya India melihat Joantra dan Jowan sudah kembali. Seharusnya masih ada satu hari lagi untuk berkemah. Kenapa anak-anak sudah pulang?

"Bunda, kangeeeeeen!" Joantra berlari ke arah India dan langsung memeluk tanpa permisi.

"Aku juga kangen Bunda!" Jowan ikut-ikutan dari belakang menghampiri dan memeluk. Meskipun harus memeluk Joantra yang lebih dulu memeluk India, setidaknya bisa dipeluk bareng sama India.

India balas memeluk keduanya sambil tersenyum semringah. "Kok, kalian udah pulang aja? Kenapa nggak sehari lagi kemahnya?"

Mereka saling berpelukan selama beberapa saat. Joantra dan Jowan tidak bisa menyembunyikan kerinduan mereka akan sang ibu.

Joantra melonggarkan pelukan, yang mana membuat Jowan harus ikut melakukannya. Joantra pun mendongak dan menatap ibunya. "Nggak seru kalau nggak ada Bunda. Papa terlalu mirip robot, Bunnnnn!"

"Betul," timpal Jowan ikutan.

"Eh, nggak boleh ngomong begitu. Papa orangnya seru, lho," ucap India.

"Bunda nggak boleh bohong," kata Joantra manyun.

"Beneran, bukan bohong. Papa, tuh, serba bisa tahu. Masakan Papa juga enak."

India tahu dari Wantra. Waktu itu Wantra pernah cerita kalau Jondas selalu menyiapkan sarapan pagi di hari Sabtu dan Minggu. Wantra tidak pernah memasak karena tidak bisa memasak. Masakan Jondas selalu enak. Selain cerita masalah masak, Wantra juga bilang kalau Jondas serba bisa. Dalam konteks apa pun pokoknya. Begitulah yang India dengar.

"Bunda pernah coba masakan Papa?" tanya Jowan.

"Pernah," jawabnya berbohong. Sambil mencolek masing-masing hidung dua anak menggemaskan itu, dia terus berbohong. "Papa pernah buatin Bunda pancake. Rasanya enaaaaak banget. Nanti kita minta Papa buatin pancake, ya."

"Papa bisa buat pancake?" Satu alis Joantra menukik naik. "Kemarin tuna panggang buatan Papa enak, sih, tapi aku baru tahu Papa bisa buat pancake. Ini pancake jadi, Bun? Apa pancake olahan sendiri seperti yang biasa Bunda buat?"

"Pancake olahan sendiri seperti yang Bunda buat." India merasa berterima kasih telinga selalu mendengarkan cerita Wantra soal suaminya. Jika tidak, mana mungkin bisa berbohong sebaik ini.

"Ah, nggak percaya," ujar Joantra.

"Kalian mau pancake?" Jondas di belakang sana bertanya bersamaan dengan langkah yang semakin dekat.

India menatap Jondas yang tampak lebih bersahabat meskipun wajah tetap sedatar jalanan. Sepertinya acara kemah kemarin membuahkan hasil. India senang. Dia akan mengatur acara lain supaya Jondas dan anak-anak bisa lebih akrab lagi.

"Papa mau buatin?" Joantra bertanya setelah berbalik badan. Menatap ayahnya yang mengangguk, dia tersenyum riang. "Asyik! Buatin Bunda pancake juga, ya, Pa!"

Jondas melihat India sekilas, lalu mengusap kepala putrinya. "Iya. Ayo, turun."

"Yippiiiiii!" Joantra langsung menggandeng tangan ayahnya, menariknya dengan cepat agar bisa mencicipi pancake yang dijanjikan. "Bunda jangan lupa turun!" teriaknya keras.

India terkejut mendengarnya. Jondas mau membuatkannya pancake? Jondas? Kenapa tiba-tiba Jondas baik padanya? India terheran-heran.

"Bun, ayo, Bun turun," ajak Jowan seraya mengulurkan tangannya.

India tersentak. Dia menyambut uluran tangan Jowan dan mengangguk pelan. "Iya, Nak."

Meskipun awalnya Joantra jalan duluan, India tidak menyangka Joantra menunggu di depan lift bersama dengan Jondas. Sungguh pemandangan langka yang tidak pernah terpikirkan oleh India. Alhasil mereka turun bersama-sama dalam satu lift yang sama. Juga, dengan pemandangan Joantra bergandengan tangan bersama sang ayah sambil tersenyum riang. Untuk pemandangan yang satu itu India tidak bisa berhenti tersenyum lega.

Setelah tiba di bawah, India duduk bersama Joantra dan Jowan, menunggu Jondas yang sudah memakai apron sibuk dengan urusan pancake. India memandangi punggung lebar dan pundak kokoh Jondas yang selama ini tampak begitu dingin. India tidak pernah membayangkan dia bisa menyaksikan pemandangan seperti ini. Tidak bermimpi juga bisa diajak dan dibuatkan pancake.

"Bun, aku ambil lukisanku. Biar Bunda bisa pamerin di Instagram Bunda," kata Joantra beralasan.

Jowan menatap heran. "Lukisan apa? Kapan kamu buat lukisan, Dek?"

Joantra memberi kode kepada kakaknya melalui mata yang melotot. Tidak peka sekali kakaknya ini. Dia, kan, mau berbohong supaya bisa membiarkan ibu dan ayahnya berduaan sebentar. "Ada! Kakak nggak tahu. Ayo, temenin aku, Kak."

"Nggak, ah, males," tolak Jowan.

"Ih! Harus mau!" paksa Joantra.

India menyela, "Yuk, Bunda temani."

"Eh, nggak usah, Bunda. Aku mau sama Kak Jowan."

Tanpa pikir panjang Joantra menarik tangan kakaknya yang masih tidak peka itu. Jowan sempat menolak, tetapi Joantra mencubit lengan kakaknya keras-keras dan terus melotot supaya bisa ikut dengannya. Walau sudah dikode berulang kali, Jowan tetap menolak. Baru bersedia setelah Joantra menghentakkan kakinya. Dan begitulah akhirnya Jowan pergi menemani Joantra. Tanpa tahu maksud dari tindakan Joantra yang begitu tiba-tiba.

Setelah anak-anak pergi, India ditinggalkan berdua dengan Jondas. Dalam keheningan yang ada di antara mereka, hanya ada suara alat-alat masak yang mengisi.

"Kemahnya seru, Mas? Kalian ngapain aja?" India membuka obrolan sebelum kesunyian semakin menguasai.

Tidak ada jawaban. Menoleh pun tidak. India bertanya lagi, takut Jondas terlalu fokus dengan kegiatannya dan tidak mendengar pertanyaan.

"Dengar dari Joantra, kalian mancing. Dapat ikan nggak, Mas?"

Seperti sebelumnya, Jondas tidak merespons. India akhirnya memutuskan diam, takut mengganggu ketenangan. Selama lima belas menit suasana tenang tanpa obrolan. Bahkan tidak terasa tahu-tahu pancake sudah jadi. Jondas menyiapkan empat piring berisi masing-masing satu pancake yang diberi guyuran maple syrup dan whipped cream serta potongan buah beri. Pancake tertata dengan rapi dan cantik seperti hidangan chef hotel bintang lima.

"Cantik banget," puji India terkagum-kagum melihatnya. Ini pertama kali dia melihat Jondas membuat makanan dan secantik itu. Tampilannya benar-benar menarik dan pancakenya juga berwarna cokelat yang indah. "Makasih, Mas."

"Satu hal." Jondas mulai bersuara.

India menaikkan pandangan menatap suaminya. "Apa, Mas?"

"Saya berbaik hati seperti ini atas janji saya sama anak-anak. Karena bagi saya, kamu tetap bukan siapa-siapa. Bukan istri saya, bukan juga ibu mereka. Kalau bisa kamu percepat tandatangan biar kita bisa bercerai dan nggak bersandiwara lagi." Jondasberucap dingin dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya. Bisa dibilangseperti tatapan muak terhadap India.

Senyum ceria di wajah India perlahan luntur. Ah, ternyata Jondas bukan mulai menganggapnya ada. Apa, sih, yang India harapkan? Tidak mungkin dalam semalam Jondas menerimanya. Ternyata sikap yang tampak lebih baik itu hanyalah sandiwara demi anak-anak.

"Iya, saya paham." India tersenyum kecut.

"Saya harap kamu lebih tahu diri nggak ajak saya bicara kalau nggak ada anak-anak," tegas Jondas.

India menahan napas mendengarnya. Setiap kata yang terucap seolah menjadi ujung pisau yang menyakitkan. India sungguh tidak mengerti.

"Apa salah saya sampai Mas bersikap seperti ini? Saya nggak minta Mas mencintai saya, nggak minta dipeluk atau sekamar. Saya cuma ingin dianggap ada dan diperlakukan selayaknya manusia. Kalau bukan karena Wantra membaguskan Mas di depan saya, saya juga nggak akan terima wasiatnya. Saya pasti pikir jutaan kali. Kalau memang Mas nggak mau nikah lagi, harusnya tolak. Kenapa malah jadi mendiamkan saya selama ini? Saya, kan, bukan pajangan. Bukan tembok juga. Kenapa? Apa ada hal yang bikin Mas tersinggung dengan tindakan saya?" Akhirnya India meluapkan segala pertanyaan terpendamnya. Capek sekali hatinya menyimpan semua pertanyaan kalau tidak ditanyakan langsung.

"Di dalam surat yang Wantra berikan sama saya, ada kalimat yang memaksa saya harus menyetujui perjodohan bodoh ini. Kalau nggak juga saya nggak mau. Kehadiran kamu aja udah seperti parasit buat saya."

Parasit. Lagi dan lagi sebutan itu keluar dari mulut Jondas. Rasanya sesak. Udara di sekitarnya seakan habis tertelan oleh kata-kata menyakitkan itu. India menelan semua luka dalam diam. India tidak menanggapi lagi dan tidak mau bertanya. Takutnya jawaban Jondas lebih menyakitkan dari ini.

"Lebih baik kamu habiskan makan kamu duluan supaya kita nggak perlu interaksi. Saya benci berpura-pura interaksi sama kamu," tambah Jondas lebih dingin.

"Iya. Makasih atas pancakenya, Mas," ucap India pelan.

India mencoba sabar lebih lama. Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja seperti biasa. Dia perlu bertahan sebentar demi anak-anak. Jika anak-anak sudah bisa dilepaskan pelan-pelan, maka India bisa pergi dari tempat menyesakkan ini. India hanya perlu memperluas sabarnya lebih besar lagi. Iya, sedikit lagi. 

💝💝💝

Jangan lupa vote dan komen kalian🤗🤗🫶🏻

Follow IG: anothermissjo

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top