Consolation - 6

Yuhuuu update ^^

India mengulas senyum saat Jowan memberi laporan bahwa Jondas bersedia menetap di sana untuk berkemah. Walau tidak bisa ikut menyaksikan momen langka itu secara langsung, setidaknya dia senang. India bisa bernapas lega. Semoga semesta membantu kedekatan anak-anak itu dengan ayahnya.

Setelah lelah menyetir sendiri, India memilih pergi ke mal dan menikmati gelato. Sebentar saja kelilingnya karena India perlu pulang dan melanjutkan tulisan yang belum selesai. Ya, sekalian refreshing untuk menghilangkan kekesalan dengan Jondas. Walau berkeliling sebentar, ada saja yang India beli untuk Jowan dan Joantra. Kalau dulu dia sering membeli pakaian untuk dirinya sendiri, sekarang untuk anak-anaknya. India sudah berdiri di depan mobil sedan hitam yang diparkir di basemen sambil menenteng dua tas tote.

"India!"

Panggilan nyaring itu berhasil mengejutkan India. Niatnya untuk membuka pintu batal dan menoleh ke belakang untuk menemukan sang pemilik suara. India dikejutkan dengan kehadiran aktor ternama, Kendari Sabang Adipranas. Aktor yang pernah memerankan pemeran utama laki-laki dalam novel buatan India yang diadaptasi menjadi film. Aktor yang paling banyak skandal pula. Bahkan novel India yang diangkat ke layar lebar itu harus dipromosikan gila-gilaan gara-gara skandal perselingkuhan laki-laki itu.

"Ya?"

"Kamu mau pulang, kan?"

India menatap bingung. "Iya."

"Oke, saya nebeng."

Tidak ada permisi atau apa pun, tiba-tiba Kendari membuka pintu mobil bagian belakang. India masih bingung sebentar sebelum akhirnya mengerti mengapa laki-laki itu bersembunyi di jok belakang dengan cara tiduran agar tidak terlihat. Ternyata ada beberapa perempuan yang berlarian seolah sedang memburu zombie untuk dijadikan bahan riset. Sudah begitu mereka semua kompakan bertanya-tanya dengan suara lantang di mana Kendari berada. Rupanya begitu. Kendari kabur dikejar-kejar penggemarnya. Biasanya Kendari bawa pengawal, mengapa sekarang sendirian?

India tidak bisa bertanya dalam hati saja, dia perlu menanyakan kepada sang aktor secara langsung. Juga, dia harus mengusir laki-laki itu dari mobilnya. Dia tidak bisa mengantar Kendari karena dia punya urusan sendiri. Tanpa membuang waktu, India masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya.

"Biasanya kamu pergi sama pengawal pribadi. Kenapa sekarang sendirian?" tanya India tanpa basa-basi.

"Mereka udah pergi belum, In?" Kendari bertanya dengan suara pelan, seolah takut bakal terdengar sampai ke luar.

India melihat ke luar. Tampaknya sudah aman. "Udah. Kamu bisa turun sekarang."

"Ah, nggak, deh. Nanti dikerumunin lagi. Saya dicubitin, nih." Kendari menunjukkan bekas kuku yang masih terlihat di lengannya kepada India, seolah sedang mengadu kepada ibunya.

India melihat bekas cubitan tersebut. Terus apa pedulinya? Bukannya risiko kalau tidak membawa pengawal? Apalagi Kendari termasuk aktor yang sedang naik daun. Lagi banyak-banyaknya job di mana-mana. Bahkan papan billboard dipenuhi dengan mukanya yang tampan itu untuk mempromosikan berbagai iklan.

"Jadi, In ... tolong antar saya sampai ke depan coffee shop seberang mal. Nanti saya minta dijemput di sana. Boleh, ya? Please?" mohon Kendari dengan nada memelas.

India memperhatikan wajah memelas Kendari. Kedua telapak tangan itu disatukan sambil memamerkan puppy eyes yang menggemaskan. Meskipun sambil tiduran, tetap saja terlihat dengan jelas permintaan tulus itu.

"Ya udah." India mudah tidak tegas. Pasti begini. "Duduk yang benar, deh. Mobil saya kaca filmnya lumayan gelap jadi kalau dilihat dari luar nggak begitu jelas."

"Asyik! Thank you, In!" Kendari segera bangun dari posisinya dan duduk manis dengan senyum senang. "Jalan sekarang, Bu. Nanti saya kasih bintang lima."

India tidak banyak bicara. Dia mengemudikan mobilnya, membiarkan laki-laki ceriwis itu kegirangan mau diantar ke seberang. India tidak begitu mengenal Kendari, tetapi yang dia tahu dari reputasi laki-laki itu lumayan bikin sakit kepala. Dari sekian banyak aktor dan aktris yang sudah memerankan karakternya, hanya Kendari saja yang tidak dekat-dekat banget dengan India. Sisanya masih suka mengajak India bertemu.

"By the way, In."

"Ya?"

"Mobil kamu wangi, deh. Pakai pengharum merek apa?"

"Pakai jeruk nipis," jawab India asal.

"Seriusan? Kayaknya jeruk nipis wanginya nggak begini."

"Ya, nggaklah. Nanti saya fotoin kalau kamu mau."

"Oh, lagi bercanda. Bikin kaget aja, kirain serius." Kendari tertawa pelan sambil menepuk-nepuk jok bagian belakang yang ditempati India. "Eh, In..."

"Apa lagi?"

"Nanti temani saya ngopi dulu sampai manager saya jemput, ya?"

"Saya punya banyak kerjaan."

Kendari mendaratkan dagunya pada sisi jok yang ditempati India. Sambil menatap India yang sibuk menyetir, dia bertanya, "Nulis novel, ya? Kali ini cerita tentang apa? Nggak mau buat yang happy-happy gitu, In?"

India hampir terlonjak kaget gara-gara Kendari memperhatikannya dari jarak sedekat itu. India bisa mencium aroma parfum musk laki-laki itu dengan jarak yang terhalang oleh batas jok.

"Kamu bisa duduk yang benar nggak? Kalau nanti saya rem mendadak terus kamu kehempas ke depan dan terluka, saya bisa dituntut sama managemen kamu," omel India.

"Galak amat, In. Saya bosan tahu kalau diam aja."

"Duduk manis," titah India.

"Iya, iya."

Kendari kembali duduk tegap seperti semula. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum kembali mendekati India seperti sebelumnya. "Jadi, jawabannya apa, In? Kamu belum jawab pertanyaan saya."

India tetap kaget dengan tindakan Kendari yang tiba-tiba. Mereka tidak seakrab itu untuk mengobrol dan sekarang malah diajak ngobrol. India tidak mengerti sisi sok kenal sok dekat yang dilakukan Kendari sekarang.

"Sekarang buat yang sedih juga." India menjawab singkat dan padat.

"Oh ... dari keluarga mana sekarang? Peran yang saya mainkan dari keluarga Sutoyo, kan? Apa cerita sepupunya?"

India selalu senang ditanya-tanya mengenai novelnya. Soalnya Jondas tidak pernah bertanya dan tidak peduli juga. Akan tetapi, kalau yang bertanya adalah Kendari, manusia yang hampir merusak citra film dari novel India waktu itu, rasanya agak aneh. Lagi pula Kendari tidak mungkin baca novel-novelnya terkecuali naskah yang satu itu untuk peran film.

"Saya baca beberapa novel kamu tahu, In. Adik saya, si Abadi, hobi baca novel bareng gebetannya. Dia punya beberapa novel kamu makanya saya bisa tahu beberapa novel kamu," ucap Kendari.

Kalimat barusan cukup mengejutkan. Seakan Kendari bisa membaca pikiran India barusan.

"Kenapa nggak nulis yang happy-happy aja, In? Hidup, kan, nggak seburuk itu untuk diceritakan menderita terus," lanjut Kendari seraya menarik diri dan duduk dengan benar seperti sebelumnya.

India kewalahan menanggapi keceriwisan Kendari. Selain terkenal genit, laki-laki itu ceriwis minta ampun. Senang mengobrol, easy going, dan senang bercanda ria. Mirip dengan Panca, deh, bedanya Panca tidak genit.

"Iya, nanti saya tulis yang happy-happy." Hanya itu yang bisa India sampaikan.

India sibuk menempelkan kartu e-money kepada mesin parkir. Setelahnya, India kembali menyetir. Kali ini Kendari tidak bersuara lagi. India memperhatikan Kendari sekilas melalui spion belakang. Sialnya, Kendari menyadari hal itu dan melempar kerlingan genit andalannya. Ah, ada saja memang. India memalingkan pandangan dan berharap laki-laki ceriwis itu segera turun.

Untungnya jarak antara mal dengan seberang mal tidak begitu jauh jalan memutarnya. Jadi, hanya lima menit sampai, itu pun terhitung dari mereka keluar dari pelataran parkiran. India berhenti tepat di depan pintu coffee shop, tidak berniat turun sama sekali.

"Kamu bisa turun sekarang," ucap India.

"Nggak mau ikut masuk dulu, In?"

"No, thank you."

"Kalau begitu next time saya ajak ngopi bareng, kamu harus mau, ya?"

"Mudah-mudahan kalau saya nggak sibuk."

Kendari menepuk jok yang ditempati India. Sambil tersenyum, dia bersiap untuk turun. "Makasih banyak, In. See you later!"

Tepat setelah Kendari keluar dan menutup pintu, India bernapas lega. India bisa begitu dingin dengan seseorang tergantung bagaimana dia mau merespons. India bisa sangat manja dan hangat, tergantung dengan siapa orangnya. India tidak mau membuang waktu dan segera meninggalkan coffee shop.

Setelah cukup jauh, India berhenti sejenak di pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Saat menoleh ke belakang, dia menangkap topi berwarna hitam yang sebelumnya dipakai Kendari. Ya, Tuhan ... kenapa topinya ketinggalan? India harus mengirim balik ke tempat Kendari nanti. Dia akan bertanya kepada Davares alamat rumah Kendari. Sedikit banyak Davares yang menjadi personel boyband tersohor kenal semua aktor dan aktris di industri hiburan.

💝💝💝

Gelapnya malam menggantikan terang yang perlahan sirna. Joantra dan Jowan duduk berhadapan dengan Jondas. Mereka tidak tahu kalau ayah mereka yang cuek itu pandai memasak. Sekarang sedang memanggang ikan tuna yang dibawa dari rumah. Bukan hanya memasak, ayah mereka juga bisa mendirikan tenda dan membuat api unggun. Mereka pikir ayah mereka tidak bisa apa-apa.

Selagi menunggu ikan matang, Joantra mengeluarkan vitamin dari dalam tasnya dan mengeluarkan satu butir isinya, lalu diserahkan kepada sang ayah.

"Tadi Bunda titip pesan dan bilang Papa harus minum vitamin biar nggak sakit," jelas Joantra dengan wajah memaksa. Kemudian, dia memberikan sebotol air putih kepada ayahnya untuk segera diminum.

Jondas mengambil botol yang diberikan, lalu meminum vitaminnya sesuai permintaan. Kalau India yang melakukan, dia tidak akan mau. Berhubung putrinya menunjukkan wajah memaksa, dia terpaksa menuruti.

"Bunda sebaik itu, lho, Pa." Joantra mengambil posisi duduk di samping ayahnya, sedangkan Jowan sedang memandangi ikan yang hampir matang di seberang mereka. "Teman-temanku iri karena ibu mereka nggak bisa masak seindah dan seenak Bunda. Mereka bilang pengin tukeran ibu biar bisa dimasakin makanan yang enak setiap hari."

Jondas tidak bereaksi. Diam mendengarkan celotehan putrinya.

"Aku nggak paham gimana hubungan orang dewasa, tapi aku sedih lihat Papa sama Bunda nggak pernah jalan bareng. Teman-temanku pamer orang tua mereka liburan berdua, jalan berdua, ngopi berdua. Kenapa Papa sama Bunda nggak begitu? Aku nggak bisa pamer balik. Bisanya cuma pamer Bunda selalu nemenin aku ke mana-mana dan masakin makanan yang enak," curhat Joantra.

Jondas diam mendengarkan. Sesekali dia menoleh ke samping untuk memastikan ekspresi apa yang putrinya tunjukkan sekarang. Berbeda dengan Jowan yang jarang bicara, Joantra paling senang protes dan marah padanya. Kalau tidak suka, maka Joantra akan menunjukkan secara terang-terangan. Gadis kecilnya itu sedang menatap danau di depan sana, membuat ekspresi sedih yang baru kali ini dia lihat.

"Papa nggak sayang Bunda, ya? Kalau Papa nggak sayang, Joan sama Kak Jowan sayang. Kami sayang banget sama Bunda. Kami juga mau lihat Bunda senyum, ketawa. Kami mau lihat Bunda gandengan tangan sama Papa," lanjut Joantra lirih.

Jondas menyudahi kegiatannya, meletakkan tuna yang selesai dipanggang di atas piring kosong. Membaginya dengan sama rata untuk dimakan mereka bertiga. Jondas juga menyiapkan nasi yang tinggal disendok saja. India sudah menyiapkan dengan baik, memasukkan nasi ke dalam tempat khusus supaya nasi tetap hangat.

"Papa lihat nggak bawaan sebanyak itu siapa yang siapin? Bunda." Joantra menunjuk semua barang yang dipersiapkan ibunya agar ayahnya tahu. "Kami tinggal ikut dan menemani Bunda nyanyi sepanjang jalan ke sini. Kadang aku bertanya-tanya, Bunda capek nggak, ya, urus kami? Urus Papa yang nggak pernah peduli sama Bunda. Apa nanti Bunda pergi gara-gara Papa atau kami yang selalu nyusahin?"

"Makan dulu aja," kata Jondas seraya meletakkan piring di depan sang putri. Bahkan meja kayu yang bisa dilipat ini pun dibawa oleh India dari rumah. Seakan sudah mempersiapkan dari lama untuk berkemah.

"Nggak mau. Kalau makan nanti Papa nggak mau dengerin aku lagi. Papa pasti sibuk lagi sama hape Papa. Aku mau Papa dengar keluhanku. Aku mau Papa tahu kalau aku nggak suka Papa jahat sama Bunda," tolak Joantra dengan bibir mengerucut.

"Jowan, makan," suruh Jondas setelah meletakkan sepiring nasi dengan ikan tuna panggang dan sayur sop buatan India. Berbeda dengan Joantra, maka Jowan mengangguk dan menyantap makanannya.

Jondas melihat putrinya lagi. "Ya udah ngomong aja, Papa dengerin."

Mata Joantra berkaca-kaca. Bibir bawahnya digigit menahan kesal. "Papa sayang nggak sama aku dan Kak Jowan?"

"Kenapa kamu tanya begitu?"

"Soalnya Papa kelihatan nggak menginginkan aku sama Kak Jowan. Bunda doang yang selalu ada buat kami."

Jondas diam cukup lama. Suara putrinya bergetar, kepalanya menunduk.

"Aku mau dipeluk sama Papa, mau jalan sama Papa, mau liburan bareng Papa. Aku iri teman-temanku akrab sama papanya. Bahkan temanku suka pergi beli es krim berdua sama papanya. Aku mana pernah. Papa cuma sering usap kepalaku, tapi nggak pernah ngobrol sama aku begini. Aku kadang merasa Papa nggak menginginkan aku ataupun Kak Jowan..."

Kata-kata terakhir Joantra tertahan seiring air mata yang mulai jatuh membasahi pipi. Joantra menyeka air matanya dengan cepat. Lambat laun tangis itu lebih keras. Joantra tidak bisa menyembunyikan lagi rasa sedihnya.

Jondas mengusap kepala Joantra. Gadis kecil itu terus menangis tanpa henti. Akhirnya Jondas memangkas jarak yang tersisa, menarik Joantra mendekat. Dalam sekali rengkuhan, Jondas membiarkan putrinya menangis dalam pelukan. Jondas bisa merasakan betapa sedihnya Joantra sampai menangis sesegukan.

Selama ini Jondas sadar sepenuhnya bahwa dia mengabaikan anak-anaknya. Bahkan bicara berdua dan serius seperti ini saja baru sekarang setelah sekian lama. Jondas lebih memilih berduka sendirian, tidak mau mengurus buah hati yang dirasa mengingatkannya akan kenangan bersama Wantra. Kenangan itu yang menggerogotinya. Oleh karena itu, Jondas merasa tidak mampu mengurus keduanya. Itulah mengapa dia menitipkan keduanya kepada orang tuanya. Namun, dia tidak tahu bahwa anaknya akan berpikir demikian, merasa dia tidak menyayangi mereka.

"Papa sayang sama Joan dan Jowan," ungkap Jondas.

"Hiks ... bohong!" sahut Joantra secepat kilat.

"Beneran."

Joantra menarik diri, menatap ayahnya dengan air mata yang bercucuran. "Kalau Papa sayang sama kami berdua, Papa harusnya nggak sibuk di luar. Papa bisa pergi liburan atau kemah begini sama kami..."

Jondas mengusap pipi Joantra yang basah terkena air mata. Semakin diperhatikan, Joantra sangat mirip dengan Wantra. Senang protes, ceriwis, dan berani. Dia merasa bodoh. Anak semanis Joantra dan Jowan harus menerima kenyataan diabaikan. Terang-terangan pula. Jondas merasa bersalah.

"Maafin Papa, ya," ucap Jondas pelan dan lebih lembut.

"Nggak mau ... nggak mau..."

Joantra terus menangis, sedangkan Jowan memperhatikan sambil menahan air mata. Jowan tahu adiknya lebih menderita dan lebih rapuh karena tidak diperhatikan ayah mereka. Sebab, Joantra sering mendengar cerita teman-teman perempuan yang pergi bersama ayahnya berdua saja. Itulah mengapa Jowan paham kalau Joantra ingin diperlakukan sebagaimana anak perempuan seperti yang lain.

"Papa jahat..."

Kata-kata itu menjadi yang terakhir terdengar. Joantra menangis lebih kencang lagi sampai suaranya mengalahkan suara jangkrik. Jondas diam memandangi Joantra yang menangis tanpa henti. Pelan-pelan hati Jondas mulai terketuk. Tangis yang ditunjukkan Joantra sekarang berhasil menyadarkan Jondas.

"Maaf...," ucap Jondas sekali lagi.

Kali ini Jondas kembali menarik putrinya dalam pelukan, mengusap kepalanya dengan lembut. Jondas butuh waktu untuk semua hal yang diinginkan Joantra. 

💝💝💝

Jangan lupa vote dan komen kalian🤗🤗🫶🏻

Follow IG: anothermissjo

Ini kalo ada yang ngeh sama Kendari, iya, itu kakaknya Bangkit dari cerita Cranky Romance wkwkwk di silsilah Cranky Romance, aku udah nulis Kendari muncul di Consolation ini XD kelakuannya rada-rada jadi gausah kaget T_T

Btw, ini beneran aku ubah sepenuhnya sama versi lama. Jadi versi lama yang judulnya Lovely Heart ini diubah total dari awal kecuali prolog~~ sisanya sejauh ini beneran baru semua. Jadi, kalo udah baca versi lama (masih inget) abaikan aja. Nikmatin versi ini ^^

Bakal lebih nguras emosi gak? Keliatannya gimana? Dari awal kurasa versi ini lebih jahat :") lebih angst pulaaaaa :")

Moga kuat ya kalian🥲🤣

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top