Consolation - 5

Yuhuuu update ^^

Joantra memandangi India yang tertidur dari samping. Mereka duduk bersebelahan di mobil. Setiap hari India selalu menjemput Joantra dan Jowan bersama sopir. Selain itu, India juga tidak pernah absen datang ke acara pentas, menghadiri acara sekolah lainnya, mengambil rapor, semuanya dilakukan seorang diri. Tanpa Jondas yang sok sibuk itu.

Mungkin benar Joantra masih terlalu muda untuk memahami dunia percintaan orang dewasa. Namun, dia bukan tidak bisa melihat fakta bahwa ayahnya mengabaikan ibu tirinya. Joantra sedih, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa selain melakukan protes dan ngambek. Usahanya terasa sia-sia karena ayahnya tidak peduli. Lagi pula sejak kapan ayahnya peduli padanya dan sang kakak? Ayahnya lebih banyak mengurus pekerjaan di luar, jarang mengajaknya dan Jowan jalan-jalan. Kalau dijabarkan seberapa banyak ketidakhadiran sang ayah, bisa melebihi daftar panjang belanja bulanan. Untungnya, ada India yang selalu menemani dan meluangkan waktu meskipun banyak urusan. Jadi, Joantra tidak merasa kesepian.

Joantra mengulurkan tangan hingga menyentuh pipi ibunya. Joantra menatap sedih. Mengapa India tidak pernah marah sekalipun kepada ayahnya? Mengapa orang dewasa begitu rumit? Apa sih yang ada dipikiran mereka?

"Kamu ngapain, Dek?" Jowan bertanya begitu menyadari tindakan sang adik.

Joantra tersentak dan buru-buru menarik tangannya. Takut India terbangun dari tidur lelapnya. "Berisik, deh, Kak."

"Bunda lagi tidur juga. Jangan diganggu. Kasihan Bunda, pasti capek," kata Jowan.

Joantra tidak menanggapi kakaknya. Benar. Ibunya pasti lelah. Setiap hari bangun pagi sekali hanya untuk menyiapkan sarapan dan bekal. Menu makanan selalu beda. Mana lucu-lucu. Joantra menyukai semua masakan buatan India.

Walaupun India bukan ibu kandungnya, bagi Joantra, India tetaplah ibunya. Dia tidak menambahkan embel-embel tiri setiap kali menjelaskan pada orang-orang bahwa India adalah ibunya yang cantik. Joantra tidak ingat bagaimana rasanya dipeluk ibu kandungnya. Melalui India, dia bisa merasakan bagaimana kasih sayang, ketulusan, dan perhatian seorang ibu. Joantra senang dan bersyukur memiliki India sebagai ibunya.

"Kenapa Papa sibuk mulu, ya, Kak?" tanya Joantra sedih.

"Entah." Jowan tampak tidak tertarik membahas ayahnya. Sibuk bermain game. Terlalu malas juga. "Lagian kapan Papa pernah sayang sama kita? Dari kecil aja kita diurus Oma sama Opa."

"Iya, ya." Joantra menghela napas sedih, lalu menunduk menatap kedua tangan yang saling diusap bergantian. "Kalau nggak ada Bunda, aku mungkin lebih milih tinggal sama Oma dan Opa. Papa secuek itu sama kita."

Jowan menyadari adiknya sedih. Dari belakang tempatnya berada, dia mencondongkan tubuh dan mengusap kepala Joantra. "Nggak usah pikirin Papa, yang penting kita punya Bunda. Itu cukup, kan?"

Joantra mengangkat wajahnya, menoleh ke belakang memandang sang kakak. "Cukup banget. Kita cuma butuh Bunda."

"Betul."

Joantra mulai tersenyum lagi. Kemudian, dia mendaratkan tangannya di atas punggung tangan India. "Sehat selalu, Bunda. Aku sama Kak Jowan sayang sama Bunda. Kami cuma punya Bunda. Jadi jangan pernah capek menghadapi tingkah laku kami berdua, ya, Bunda. Aku sama Kak Jowan janji bakal jadi anak yang baik buat Bunda asalkan Bunda nggak ke mana-mana."

"Iya, Bunda, kami janji! Tapi kalau jahilin Joan mah nggak bisa dikurangin," sambung Jowan.

"Kakak, ih!" protes Joantra.

Jowan terkekeh dan menunjukkan juluran lidah kepada sang adik, yang mana turut dibalas dengan mata melotot Joantra. Setelah itu Joantra memukul tangan Jowan supaya berhenti menjahilinya dengan wajah konyol itu, sedangkan Jowan tetap memamerkan juluran lidah guna meledek sang adik tanpa henti.

Diam-diam India sudah bangun sejak Joantra dan Jowan bercengkerama membahas Jondas. India menahan diri untuk tidak membuka mata dan mendengarkan ucapan demi ucapan yang disampaikan. Hatinya seperti dicabik-cabik. India sedih mendengar dua anak itu merasa tidak diperhatikan Jondas. Selama ini India sudah berusaha agar Jondas memperhatikan keduanya, tetapi usahanya tidak pernah berhasil.

Jika nanti dia menandatangani surat gugatan cerai itu, anak-anak akan merasa lebih diabaikan bukan? India tidak mau hal itu terjadi. Inilah alasan India sulit meninggalkan Jondas. Dia kepikiran anak-anak. Ternyata apa yang ibu-ibu rasakan di luar sana ketika sulit meninggalkan suami yang tidak baik karena anak, itu benar. India tidak percaya sampai merasakan sendiri. India takut jika dia bercerai nanti, akan lebih menyakitkan untuk anak-anak. Meskipun bukan anak kandungnya, India sangat menyayangi mereka. India tidak mau anak-anak semakin terpuruk. India perlu mengatasi masalah ini.

💝💝💝

Jondas heran kenapa Davares mengajaknya bertemu di vila keluarga Palmer yang berada di Bogor. Memangnya tidak ada tempat lain? Hari Sabtu begini harusnya Jondas pergi ke makam Wantra dan duduk merenung di tea house yang menjadi tempat kencan favoritnya bersama Wantra.

Jondas tidak pergi sendirian melainkan diantar sopir pribadinya, Didin. Sudah lama Jondas memakai jasa sopir. Jika tidak ada sopir, Jondas memilih untuk tidak pergi. Jondas tidak mau menyetir. Terlalu melelahkan.

Selama beberapa waktu bermacet ria di jalanan, akhirnya Jondas tiba di vila yang jarang digunakan keluarga Palmer untuk melangsungkan acara keluarga. Paling hanya digunakan dua atau tiga tahun sekali. Hal ini dikarenakan bukan tempat favorit nenek dan kakek mereka. Sebaliknya, para sepupu Jondas menyukainya karena vila ini memiliki fasilitas yang lebih menyenangkan daripada vila keluarga Palmer lainnya.

Jondas berjalan menuju halaman belakang. Di sana terdapat danau buatan yang diisi dengan ikan-ikan yang bisa dipancing. Inilah yang dimaksud mengapa para sepupunya menyukai tempat ini. Selain karena ada danau yang bisa dijadikan tempat berenang, ada pula lahan besar yang bisa dijadikan tempat berkemah. Biasanya para sepupu datang ke sini untuk berkemah. Tapi tempat ini menjadi satu-satunya tempat yang belum pernah dia datangi bersama Wantra. Sebab, dia tidak sempat mengajak Wantra berkemah karena perempuan itu harus pergi meninggalkannya setelah lima tahun mereka menikah.

Mata Jondas menyipit saat menyadari adanya seorang perempuan berambut panjang sepunggung berwarna cokelat menghadap ke arah danau. Jondas mengernyit selama beberapa saat sebelum akhirnya menyadari bahwa sosok itu adalah India. Sebab, perempuan itu berbalik ke arahnya sehingga Jondas bisa melihatnya dengan baik.

"Mas!" panggil India, yang kini berlari ke arah Jondas.

Jondas berbalik badan dan berjalan kembali menuju mobilnya. Dia terlalu malas meladeni India. Dia tidak perlu bertanya kepada Davares kenapa India ada di sana. Bukankah sudah jelas? Sudah pasti India yang meminta kepada Davares. Sebelum menikah, dia pernah mendengar percakapan Jiwaya dan Kadon, yang mengatakan bahwa India dan Davares sangat akrab. Lain kali dia akan mengingatnya supaya tidak mudah dibohongi Davares.

"Mas, tunggu dulu!" panggil India sekali lagi.

Jondas tetap mengabaikan. Saat hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba dia melihat batu melayang melewati tubuhnya. Jondas tidak menoleh. Sudah pasti India pelakunya. Dia tidak tertarik untuk meladeni India. Lebih baik pulang dan tidur tenang.

"Kenapa, sih, main kabur? Saya mau bicara dulu sama Mas."

Ketika Jondas akan membuka pintu untuk kedua kalinya, India menahan lebih dulu dengan tangannya. Tanpa permisi, India menarik lengan Jondas sampai berhasil menoleh.

"Saya mau kita berkemah," ucap India.

"Saya nggak mau," tolak Jondas seraya menyingkirkan tangan India dari lengannya.

"Ada anak-anak juga, Mas. Mereka lagi ganti—"

"Saya nggak mau," potong Jondas penuh penekanan.

"Kenapa nggak mau? Saya nggak minta kita berkemah berdua. Saya ajak anak-anak. Mas bisa tidur sama Jowan, saya sama Joantra. Sekali aja liburan bareng. Memangnya segitu susah, ya, liburan keluarga?"

"Kamu bukan keluarga saya."

"Saya ter—"

"Bukan istri saya juga," potong Jondas lebih dulu.

India menahan kesal, mengepal tangannya untuk tidak mengambil batu lain dan menampar Jondas dengan batu tersebut. "Kalau bukan istri, kenapa Mas pakai cincin yang sama dengan saya? Mas selalu pakai cincin pernikahan kita."

"Cincin yang kamu pakai adalah cincin pernikahan saya dengan Wantra. Saya harap kamu bisa kembalikan cincin itu sekarang. Saya hanya meminjamkan, bukan meminta kamu memiliki selamanya. Dan saya juga nggak berniat membiarkan kamu pakai cincin itu selamanya." Jondas menjawab dingin. Tatapannya ikut dingin.

India diam selama beberapa saat. Jadi, cincin yang dia pakai adalah cincin yang dulunya dipakai Wantra? Ah, Jondas benar-benar tidak mengharapkan siapapun di hidupnya selain Wantra. Meskipun hati seperti ditusuk jutaan belati, India tetap memasang wajah sok tangguh.

"Iya, saya balikin asalkan Mas kemah sama saya dan anak-anak," paksa India.

"Nggak," tolak Jondas. Raut wajah dan tatapannya dingin. Jauh lebih dingin dari biasanya. "Bawa mereka pulang. Jangan seenaknya ngajak ke sini. Kamu bukan ibunya jadi jangan belagak seolah-olah kamu ibu kandungnya."

India pikir diabaikan sudah menjadi rasa sakit yang luar biasa, ternyata kata-kata yang terucap dari mulut Jondas jauh lebih menyakitkan. Memang benar dia bukan ibunya, tetapi cara Jondas mengatakan itu dengan tatapan dingin dan mulut yang tajam, dia terluka.

"Jangan gunakan Davares untuk kepentingan kamu dan jangan buang-buang waktu saya. Jangan seperti parasit."

Jondas kembali meraih handle pintu mobil. Seperti sebelumnya, lagi-lagi niatnya membuka pintu gagal karena India. Suara perempuan itu jauh lebih keras dari biasanya dan ... bergetar.

"Mas boleh mengabaikan saya. Tapi tolong jangan mengabaikan anak-anak. Mereka anak Mas bersama Wantra. Kalau memang Mas cinta sama Wantra, bukan seharusnya Mas menyayangi mereka? Mereka berhak dapat kasih sayang dan perhatian Mas. Saya sedih dengar mereka bilang nggak diperhatikan sama Mas. Dan kenyataannya memang begitu, Mas mengabaikan mereka dan hampir nggak pernah meluangkan waktu sama mereka. Mas nggak pernah datang ke acara sekolah mereka, nggak pernah hadir pas mereka ulang tahun, Mas segitunya sama mereka." India menyampaikan niat terpendamnya dengan suara gemetar. India sedang menahan tangis mati-matian. Bukan sedih mendengar kata-kata Jondas melainkan sedih menceritakan bagaimana dua anak itu diperlakukan.

"Saya tahu Mas nggak butuh istri. Saya tahu Mas nggak mau menganggap saya. Nggak apa-apa. Mas bisa mengabaikan saya sesuka hati. Tapi tolong, Mas lihat anak-anak Mas. Mereka seingin itu liburan dan pergi sama ayahnya. Mereka juga ingin dipeluk ayahnya. Kalau Mas tetap ingin pergi dari sini, Mas pikirkan gimana perasaan Wantra kalau dia lihat dari atas sana Mas mengabaikan anak-anak. Apa Wantra nggak sedih?" lanjut India lirih.

Jondas diam mendengarkan. Dia tetap tidak mau berkemah. Jondas membuka pintu. Saat hendak masuk, India tiba-tiba mengulurkan tangannya. Jondas pun menoleh.

"Ini saya balikin cincin Mas. Kalau Mas takut saya ikut kemah, Mas nggak usah khawatir. Saya nggak ikut. Yang penting Mas mau menghabiskan waktu bersama anak-anak. Saya pulang," ucap India.

Jondas menengadahkan tangannya. Cincin yang tadinya dipakai India kini sudah berada di atas telapak tangannya. Jondas memandangi cincin itu selama beberapa saat. Akhirnya bisa dia genggam kembali cincin yang sering dipakai Wantra selama mereka menikah.

"Bagus kalau kamu pulang," ucap Jondas pelan.

India bisa mendengar kalimat itu. Dia tidak sanggup lagi berlama-lama berdiri di depan Jondas. Bisa-bisa darah tinggi. "Iya, saya pamit."

Tanpa mau mengatakan apa-apa India pergi berlalu memasuki mobilnya dan meninggalkan vila. Sedangkan Jondas, dia tidak mempedulikan kepergian India. Jondas sibuk memasukkan cincin yang dikembalikan India ke dalam kalung untuk dijadikan bandulan. Kalung yang Jondas pakai pun hadiah dari Wantra.

Jondas menutup pintu, lalu berbalik badan. Betapa terkejutnya ketika dia melihat Joantra ada di hadapannya sambil celingak-celinguk.

"Pa, Bunda ke mana?" tanya Joantra.

"Pulang," jawabnya singkat.

"Lho? Kenapa pulang, Pa? Bukannya kita mau kemah?" Raut wajah Joantra berubah muram.

"Kita bertiga doang."

"Nggak mau!" tolak Joantra cemberut. "Kalau nggak ada Bunda, aku nggak mau kemah!"

"Kenapa?"

"Soalnya Papa nggak seru. Bunda bakal pelukin aku sama Kak Jowan kalau takut. Kalau Papa bakal apa? Kami pasti dicuekin. Bunda selalu ngajak ngobrol kami, nggak kayak Papa yang pernah ngobrol sama kami. Aku nggak butuh Papa, aku butuhnya Bunda." Joantra semakin menunjukkan wajah cemberutnya. Bibirnya mengerucut dengan jelas dengan tangan yang bersedekap di dada. "Aku mau telepon Bunda."

Jondas diam sesaat. Pengaruh India untuk anak-anaknya ternyata besar. Mereka kelihatan lebih menuruti India ketimbang dirinya. Tapi entah mengapa, kata-kata India membekas di kepala. Jondas memang hampir tidak pernah meluangkan waktu untuk anak-anak. Bahkan sudah dari lama setelah kepergian Wantra. Jadi, dia tidak kaget kalau Joantra dan Jowan tidak menyukainya.

"Dek, katanya Bunda ada acara makanya pulang duluan. Kita disuruh kemah sama Papa bertiga. Ini kakak dapat pesan dari Bunda. Ah, males..." Kalimat yang diucapkan Jowan sambil melihat ponsel mendadak dihentikan ketika mata menangkap sosok ayahnya yang sudah ada di sana.

"Bohong, ya, Kak?" Joantra merampas ponsel sang kakak dan langsung membaca pesan dari sang ibunda. Wajah cemberutnya tambah parah. "Ih ... kenapa nggak ajak kita sekalian, sih? Kenapa harus pergi? Sebel!"

"Iya, lagi," gumam Jowan pelan.

Keduanya memandangi Jondas yang tampak dingin dan tidak bersahabat seperti ayah pada umumnya. Mereka kompakan cemberut. Namun, saat mereka membaca pesan untuk tidak melawan Jondas dari India, mereka menghela napas. Mereka selalu menuruti India.

"Jadi, gimana? Masih mau kemah?" tanya Jondas.

Joantra mendengkus kesal. "Ya udahlah."

Dengan terpaksa Joantra dan Jowan berkemah hanya bertiga dengan ayah mereka yang menyebalkan. Apa yang bisa mereka harapkan dari ayahnya yang tidak pernah peduli itu? Huh! Setelah ini mereka akan protes kepada India untuk tidak meninggalkannya hanya bertiga dengan Jondas.

💝💝💝

Jangan lupa vote dan komen kalian😘❤

Follow IG: anothermissjo

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top