Consolation - 4
Update lagi<3
Yookkk komen yang banyaak ^^
#Now Playing: Kerispatih - Lagu Rindu
•
•
Pukul sebelas malam India merasakan sakit kepala yang luar biasa. Dia turun dari kamarnya sambil membawa obat sakit kepala untuk mengambil air minum. Sebenarnya di lantai dua kamarnya berada sudah disediakan dapur bersih dan kulkas, tetapi India lebih suka turun ke bawah. Biar bisa sekalian merenung di meja makan atau memandangi pemandangan langit sambil duduk di depan kolam renang.
India tidur terpisah dari suaminya. Jondas mengisi kamar utama yang menjadi kamarnya dengan Wantra, sedangkan India tidur di kamar tamu. Meskipun terpisah, beberapa barang India ditaruh di kamar Jondas untuk berjaga-jaga jika orang tua mereka mampir. Kalau orang tua mereka datang, kamar tamu langsung dikunci dan berdalih kamar dijadikan gudang. Hanya para PRT dan anak-anak saja yang tahu kalau Jondas dan India tidak sekamar.
Setibanya di ruang makan, India mengambil gelas dan mengisinya dengan air. India meminum obatnya supaya sakit kepala reda. Mungkin India kurang tidur karena dia terbiasa tidur larut dan bangun terlalu pagi.
"Bunda?"
India meletakkan gelas di atas meja begitu menyadari kehadiran Joantra. Tanpa pikir panjang, dia segera mengusap kepala Joantra yang menghampirinya.
"Lho, kenapa belum tidur, Nak?"
Joantra memeluk India dengan bibir mengerucut. "Tadi mimpi buruk, Bunda. Kirain nggak ada orang, eh, nggak tahunya ada Bunda. Aku takut, Bunda."
"Mimpi apa, Sayang? Dikejar zombie?"
"Hih ... itu mah kekanakan banget."
"Jadi, mimpi apa?"
"Mimpi dikejar hantu berkepala sayur."
India menahan tawa sambil mengusap kepala Joantra berulang kali. Si bungsu ini paling tidak mau dibilang kekanakan, tetapi kalau mimpi suka ada saja. Apalagi kalau sudah cerita pas pagi harinya dengan Jowan. Kakaknya itu selalu punya cara untuk meledek Joantra dan mengatainya penakut.
"Mau minum susu hangat nggak? Habis itu Bunda temani tidur biar mimpi buruknya nggak datang lagi," tawar India.
Joantra melonggarkan pelukan, mendongak agar bisa menatap sang ibunda. Pelan-pelan senyumnya merekah sempurna. "Mau! Ayo, Bunda."
"Sebentar, ya. Kamu duduk dulu."
"Siap, Bunda."
Joantra melepas pelukan dan duduk manis sesuai perintah. Joantra menyunggingkan senyum memandangi India di depan sana. Beginilah pemandangan indah versi Joantra, melihat India membuatkan susu, membuatkan kue, memasak, pokoknya pemandangan yang membuat Joantra senang. Tidak ada yang lebih baik dalam memberikan perhatian untuknya.
India segera membuatkan susu hangat untuk Joantra. Saat sedang membuat susu, dia teringat Jondas. Suaminya sudah pulang karena dia melihat mobil Jondas memasuki kawasan rumah sebelum tidur satu jam yang lalu. India memutuskan membuatkan cokelat hangat untuk Jondas. Kalau memang sudah tidur, cokelat hangatnya bisa dia minum.
"Yang satu lagi buat siapa, Bunda?" tanya Joantra.
"Buat Papa. Jowan udah tidur, kan?" jawab India.
"Jowan udah ngorok, Bun. Tadi aku gedor kamarnya nggak disahutin. Dia mah kebo banget," dengkus Joantra manyun. "Kalau Papa masih melek. Tadi kayaknya sempat lihat Papa masuk ke ruangan home theater."
"Oh, ya? Kalau gitu nanti Bunda antar dulu cokelat hangat ini buat Papa, ya. Kamu naik duluan. Nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa, Bunda. Santai aja." Joantra tetap mempertahankan senyumnya.
India melempar senyum pada sang putri. Selesai menyiapkan dua gelas berbeda, India menghampiri Joantra dan mengusap kepalanya. Takut Joantra kesulitan membawa, India memakaikan sarung berbahan kain yang tebal pada badan gelas dan menutup bagian atas dengan tutup gelas. India takut susu hangatnya melukai Joantra jika tumpah. Jadi, sebisa mungkin India memberi perlindungan ekstra pada bagian gelas.
"Bun, aku naik duluan, ya! Nanti jangan lupa untuk nyusul," ucap Joantra.
"Iya, Sayang. Nanti Bunda susul, ya."
Joantra mengangguk pelan. "See you, Bunda. Makasih udah dibuatin susu. I love you!" Lalu, dia melempar chef's kiss ke udara sebagai rasa terima kasihnya.
India terkekeh dan melempar hal yang sama untuk balasannya. Tak lama setelah Joantra menghilang dari pandangan, India membawa segelas cokelat hangat menuju home theater.
Beberapa menit melangkah, India mendapati pintu home theater terbuka sedikit. India mengintip melalui celah pintu yang terbuka, menemukan kepala yang menyembul dari kursi yang diduduki. Seperti kata Joantra sebelumnya, Jondas berada di sana. Pandangan India beralih pada layar yang memutar sebuah rekaman.
Bukan film maupun series melainkan rekaman video akan sosok Wantra. Kumpulan video Wantra saat sedang tersenyum, tertawa, menggendong Jowan dan Joantra, dan masih banyak lagi. India ikut menonton sebentar, menyadari betapa cerianya sosok Wantra dibandingkan dirinya. Selain itu, Wantra juga terlihat berani dan tegas. Sungguh berbeda sekali dengan dirinya yang terlalu lembek bagaikan lemper.
Terlepas dari video yang menyala, India bisa mendengar suara tangis. Suara dari video disunyikan sehingga hanya ada tangis yang mengisi. Bukan hal baru bagi India mendengar Jondas menangis. Setiap malam sepanjang pernikahan mereka, entah di mana pun yang menyangkut akan Wantra, suaminya menangis. India sering menjadi saksi bisu kesedihan Jondas. Duka mendalam itu belum bisa disingkirkan.
Jika India memberikan cokelat hangat sekarang, dia yakin Jondas akan menumpahkan ke karpet. Tadi siang saja payung dibuang. India tidak mau hal yang sama terulang. Maka dari itu, India berniat menghubungi Surti. Biasanya Surti baru tidur pukul dua belas malam, karena pembantunya itu suka menonton sinetron sampai larut malam. India tahu kebiasaan Surti karena sering mendengar gosip para PRT saat sedang di dapur membicarakan plot sinetron yang mereka tonton. Surti yang paling vokal.
India kembali ke kamarnya lebih dahulu. Dia meletakkan cokelat hangat dan menggantinya dengan mengambil ponsel. Dia menghubungi Surti dengan cepat.
"Halo, Mbak Surti. Maaf ganggu malam-malam." India menyapa setelah telepon dijawab.
"Iya, Bu. Ada apa, Bu?" jawab Surti di seberang sana.
"Saya mau minta tolong. Mau minta Mbak Surti bawain cokelat hangat untuk Bapak. Cokelatnya ada di kamar saya jadi nanti ambil dulu aja di kamar saya. Kira-kira bisa nggak?"
"Ya, ampun, Bu! Kenapa nanya begitu? Bisa, kok. Saya naik sekarang, ya, Bu. Saya segera ke sana."
"Saya nggak enak sama kamu. Makasih, ya, Mbak Surti."
"Ih, Ibu ... santai aja. Macam sama siapa aja. Kalau gitu saya matikan, ya, Bu. Saya izin naik ke atas."
"Iya, Mbak. Terima kasih sekali lagi. Saya tunggu, ya."
Setelah sambungan terputus, India menunggu kedatangan Surti. Dia memeriksa ponselnya yang mendapatkan banyak pesan dari orang-orang terdekatnya. India membalas satu per satu pesan yang belum dibuka selagi menunggu.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya Surti datang. India menyerahkan cokelat hangat, yang pelan-pelan mulai dingin karena kamar India AC-nya disetel sangat dingin. Hampir seperti udara di Kutub Utara.
Setelah Surti membawa gelas tersebut, India bernapas lega. Beruntung ada Surti jadi bisa memberikan cokelat hangat kepada suaminya.
Semoga saja dengan adanya cokelat hangat, Jondas merasa lebih baik. India tidak bisa menghibur Jondas atas kehilangan istri terdahulu. Dia cuma bisa melakukan hal seperti ini, berharap Jondas tahu bahwa dia selalu ada jika Jondas ingin mencurahkan isi hatinya. Meskipun berperan sebagai istri saja sudah berat, setidaknya Jondas bisa menganggap dia ada, bukan mengabaikan.
💝💝💝
Seperti hari-hari biasanya, Jondas membaca berkas yang menumpuk di atas meja. Sejak Wantra meninggal, dia lebih memilih menyibukkan diri sampai malam, jadi terkadang tidak sempat bertemu anak-anaknya. Jondas juga jarang bertemu dengan India selain pagi hari.
Jondas menghela napas, menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, sambil memijat keningnya. Kepalanya sakit. Jondas melirik jam berwarna cokelat di atas meja pemberian Wantra. Di samping jam itu terdapat bingkai yang diisi dengan potret keluarga kecil mereka saat Jowan dan Joantra baru lahir. Jondas mengambil bingkai tersebut, mengusap foto dengan ibu jarinya. Sebentar saja Jondas melepas penat dengan memandangi senyum Wantra. Dia merindukan istrinya. Wantra, bukan India.
Beberapa menit setelahnya Jondas meletakkan kembali bingkai seperti semula. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Sudah saatnya Jondas istirahat. Dia melirik tas khusus berwarna hitam berisi kotak makan yang biasa dibawakan India untuknya. Jondas meraih tas itu, membuka ritsleting tasnya dan menemukan sticky notes seperti biasa. Jondas membaca isi dari sticky notes itu sekilas.
Semoga hari ini pekerjaan berjalan lancar ya, Mas. Saya buatkan telur puyuh balado sesuai kesukaan Mas. Semangat!
-India
Jondas menutup lebih dahulu tasnya, lalu merogoh ponsel dari dalam saku celana untuk menghubungi sekretarisnya. Dia menyuruh sekretarisnya untuk masuk ke dalam ruangan. Hanya beberapa detik saja sekretarisnya, Yeza Sasmono, sudah tiba di dalam ruangan setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Makan ini, Yez," suruh Jondas seraya mendorong tas berisi kotak makan kepada Yeza.
Yeza sudah tidak kaget lagi ketika disuruh memakan bekal tersebut. "Nggak dimakan lagi, Pak? Masa dikasih saya terus, Pak?"
Selama dua tahun ini, Jondas selalu memberikan bekal makanan yang dibuatkan India kepada sekretarisnya. Yeza lah yang memakan bekal tersebut, bukan dirinya. Jondas hanya makan masakan buatan India saat pagi hari, kalau malam jarang sekali. Meskipun India rajin menyiapkan makan malam, sebisa mungkin Jondas melewati makan malam. Tentu sebelum pulang Jondas sudah makan di luar jadinya saat tiba di rumah, dia bisa menghindar dari makan malam bersama India. Pulang malam melewati jam makan malam karena bekerja hanyalah sebuah alasan agar Jondas tidak melihat India.
Kalau ada yang bertanya mengapa Jondas tidak pindah rumah supaya tidak bertemu dengan India, tentu saja dia tidak mau meninggalkan kenangan bersama Wantra. Rumah yang ditempati adalah rumahnya sejak menikah dengan Wantra. Kalau ada yang harus meninggalkan rumah itu tentulah India, bukan dirinya. Alasan Jondas ingin bercerai juga karena sudah merasa cukup dengan pernikahan yang tidak pernah diinginkan olehnya.
"Iya, makan aja."
Sebelum Jondas pergi, dia menunjuk sticky notes yang terpampang di atas kotak makan. "Jangan lupa buang catatan sampah itu. Saya mau pergi keluar cari makan. Baliknya agak terlambat soalnya mau sekalian ke makam istri saya."
Istri saya. Yeza hanya mendengar sebutan itu untuk Wantra, bukan India. Selama dua tahun tidak pernah sekalipun Yeza mendengar Jondas membahas India. Tidak pernah. Selain itu, Jondas tidak pernah membawa India ke kantor. Tidak pernah pula diperkenalkan kepada pegawai kantor. Bahkan dipamerkan fotonya saja tidak. Akibatnya, banyak pegawai yang bertanya-tanya seperti apa wajah dari istri kedua Jondas.
"Mau saya antar, Pak?" tawar Yeza.
"Nggak perlu. Saya sendiri aja."
"Baik, Pak. Hati-hati di jalan, Pak."
Yeza mengambil tas berisi kotak makan, lalu berjalan keluar mengikuti Jondas yang juga keluar dari ruangan. Setelah kepergian Jondas, dia meletakkan tas yang dipegang sejak tadi di atas meja.
Kalau sampai India tahu Jondas tidak pernah memakan bekal, India pasti akan sedih bukan? Yeza tidak mengerti jalan pikiran bosnya. Kalau memang tidak mau menikah lagi, lebih baik ditolak. Yeza menghela napas. Permintaan Jondas untuk membuang sticky notes yang ditempel di atas kotak makan tidak didengarkan. Yeza menyimpannya dengan rapi entah untuk apa. Siapa tahu nanti berguna.
Yeza sudah bekerja untuk Jondas sejak laki-laki itu menikah dengan Wantra. Mengetahui bagaimana kisah cinta Jondas dan sedalam apa bosnya mencintai Wantra. Namun, bukan berarti bisa menyakiti yang lain, kan? Memikirkan kelakuan bosnya yang tidak bisa dimengerti membuat sakit kepala. Yeza tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap bosnya bisa membuka hati walau sedikit.
💝💝💝
Jangan lupa vote dan komen kalian😘❤
Banyak-banyak sabar ye baca ini wkwkwk
Follow IG: anothermissjo
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top