Consolation - 3

Yuhuuu update ^^

#Now Playing: Arash Buana - Say You're Done With Me

Tempat pertama yang biasa India kunjungi setelah mengantar anak-anak adalah penerbitan milik sepupunya, Yudo, yang bernama Sunshine Publishing. Biasanya India datang untuk memeriksa buku dummy dari naskah yang sudah selesai dicetak atau sebatas mampir saja menanyakan progres buku-bukunya yang lain.

Selain diterbitkan oleh Sunshine Publishing, India menerbitkan di beberapa penerbitan ternama lainnya. Ada yang kerjasamanya masih berjalan sampai sekarang, ada pula yang sudah berakhir. India mencari kenyamanan di setiap penerbitan yang menjadi tempat naskah-naskahnya bernaung.

Saat India tiba di penerbitan, sepupunya belum datang. Kebiasaan Yudo selalu datang agak siang. Entah pergi ke percetakan untuk memeriksa cetakan buku atau ada kerjasama lain dengan pihak rumah produksi film maupun series. Untung saja India mengajak sahabatnya bertemu. Jadi, India tidak perlu menunggu Yudo.

India datang dengan diantar sopir dan meminta sopir itu langsung menjemput anak-anak. India akan menyusul nanti setelah urusannya selesai. Itulah mengapa dia memasuki mobil sedan berwarna hitam, yang mana pengemudinya adalah sahabatnya, Pancaranu Soetomo. Dia hendak mencari kedai kopi bersama Panca. Bukan sebatas berbincang melainkan membahas masalah dokumen yang Jondas berikan pagi ini. Kebetulan Panca seorang pengacara jadi bukanlah perkara sulit meminta Panca untuk memberi tahunya mengenai dokumen tersebut.

"Coba lo baca dokumen ini, deh, Pan," pinta India seraya menyerahkan dokumen di dalam amplop berwarna cokelat kepada sang sahabat selagi mobil Panca masih berada di parkiran gedung penerbitan.

"Dokumen apa, nih?"

"Baca aja dan habis itu kasih tahu gue setelah tanda tangan, apa yang bakal terjadi."

Panca mengambil amplop cokelat tersebut dari India. Mengeluarkan isinya, pupil mata langsung membulat membaca tulisan yang terpampang jelas. Panca tidak langsung mengajak India bicara, dia membaca terlebih dahulu dengan saksama, memahami setiap tulisan yang ditorehkan dalam tinta hitam.

Selama beberapa menit India membiarkan Panca membaca dokumen yang diberikan Jondas. Selama itu pula India terus menghela napas. Panca mendengarnya dengan jelas dan sesekali menoleh untuk memastikan ekspresi yang sedang ditunjukkan India sekarang.

"Kalau lo tanya habis tanda tangan gimana, surat gugatan ini tetap diajukan ke pengadilan. Bedanya kalau sama gugatan dari salah satu pihak, yang ini prosesnya lebih cepat karena semua hal udah dibahas dari A sampai Z. Ditandatangani juga berdua berarti memang udah sepakat dua-duanya. Tapi nanti hakim tetap nguji kesepakatan ini." Panca mulai bersuara setelah selesai membaca dokumen di tangannya dan mengembalikan kepada India. "Ini Jondas yang bikin semuanya atau lo ikutan?"

India mengambil dokumen yang dikembalikan dan meletakkan di atas pahanya. "Dia doang."

"Harusnya kalau mau bersama dibahas bareng, bukan dia aja."

"Nggak tahu. Pagi ini tiba-tiba dia kasih dokumen dan minta gue tanda tangan." India menjawab sambil menyandarkan kepala pada headrest, memandang lurus ke depan, menangkap beberapa orang berlalu lalang di luar sana.

Panca memandangi India yang tampak sedih. "Kalau lo nggak bersedia, nggak usah tanda tangan. Bilang aja nggak mau cerai."

"Apa gue kurang baik?"

"Jangan mulai, deh. Lo baik banget. Jangan nanyain hal yang nggak perlu lo tanyain." Panca duduk menyamping agar lebih leluasa melihat ekspresi India. "Gue mau tanya dari lama cuma nggak yakin lo mau cerita. Setiap lo ada masalah dipendam mulu. Kenapa Jondas minta cerai? Kalian berantem hebat?"

India tertawa pahit. Andai saja benar mereka bertengkar, itu jauh lebih baik. India tidak pernah menceritakan kelakuan buruk Jondas pada siapapun meskipun itu kepada Panca. Davares bisa tahu kelakuan buruk Jondas karena melihat sendiri dan India meminta Davares untuk tutup mulut. India serapi itu menutupi semua yang dialaminya selama ini.

"Nggak apa-apa."

"In, ayolah...," bujuk Panca. "Gue sahabat lo. Kenapa nggak cerita? Ada apa?"

India menoleh dan menatap Panca. Dia tidak pernah cerita karena tidak mau orang-orang tahu keburukan Jondas. Lebih baik disimpan sendiri dan tidak ada yang tahu. "Iya, ribut. Tapi kaget aja tiba-tiba dikasih surat begini," bohongnya.

"Jangan-jangan lo mergokin dia selingkuh makanya dia merasa bersalah terus minta cerai?" tebak Panca.

India tertawa lebih keras. Kalau selingkuh lebih jelas, kan? Setidaknya India tahu kalau dia bukanlah sosok yang diinginkan Jondas melainkan sosok lain. Suara tawanya yang nyaring berhasil membuat Panca mengernyit heran.

"Kenapa malah ketawa? Beneran?" desak Panca tambah penasaran.

"Nggak. Memang ribut aja. Tapi mungkin gue nggak cukup baik buat dia."

"Hei, hei, cukup. Lo lebih baik dari siapapun." Panca mencubit pipi kanan India. Tidak terlalu keras, hanya ingin menyadarkan bahwa India tidak perlu merasa demikian. "Lo selalu melakukan yang terbaik selama menjalin hubungan. Waktu kita masih pacaran pun, lo begitu. Sayang aja lo ketemunya laki-laki pengecut yang belum mau nikah. Jadi, ya, lima tahun lo terbuang sia-sia. Kalau itu, gue memang jahat."

India menyentil punggung tangan Panca bermaksud menyudahi obrolan yang akan terlempar pada kenangan masa lalu mereka. Iya, bertahun-tahun yang lalu, mereka pernah menjalin hubungan selama lima tahun. Sebelum berpacaran, mereka memang sudah menjalin hubungan persahabatan. Hubungan mereka kandas lantaran Panca belum siap menikah, sedangkan India butuh kejelasan setelah lima tahun bersama. Dan begitu saja hubungan adem ayem itu bubar di tengah jalan, sudah tidak satu visi dan misi, sudah tidak bisa dikompromi antar satu sama lain. Tapi hubungan persahabatan mereka tetap berjalan meskipun butuh waktu satu tahun untuk saling menjauh sebelum kembali bertemu dan akrab seperti sekarang ini.

"Gue lapar, deh. Yuk, makan? Habis itu antar gue ke sekolah anak-anak. Lo nganggur, kan?" canda India.

"Ada gila-gilanya lo, ya, gue nganggur. Baru juga pindah lawfirm. Bisa dipecat sama Junaedi." Panca geleng-geleng kepala. Tangan memegang kemudi setir, tubuhnya pun menghadap ke depan. "Tapi gue bisa izin sama Junaedi, sih. Nanti gue antar lo ke sekolah. Kita keliling dulu, deh. Mau makan es krim nggak?"

India mengulas senyum. "Boleh. Yuk? Ajak Velven sekalian."

"Lagi sibuk rekaman. Katanya mau comeback lagu baru. Minggu depan aja dia mau konser. Lo mau ikut nonton konsernya nggak, In?" ajak Panca.

"Boleh, nanti gue ajak anak-anak."

"Ajak suami lo sekalian siapa tahu isi kepalanya yang konslet itu sadar lebih baik punya istri sebaik lo daripada menduda."

India tertawa pelan. "Iya, iya, nanti gue ajak sekalian."

Detik berikutnya Panca menyetir, meninggalkan pelataran parkiran. Sementara itu, India memandang keluar sambil memikirkan banyak hal. Sebelum mobil diisi kesunyian Panca lebih dulu menyetel radio, yang sialnya, lagu yang diputar malah berisi lagu galau. Lagu Jalan Terbaik milik Kaleb J mengalun indah, seolah tahu India sedang gundah.

Panca sigap mengganti saluran radio. Lagi-lagi lagu yang terdengar lagu galau. Dilakukan tiga kali pun sama. Sepertinya seisi radio sedang bergalau ria. Alhasil Panca menyerah setelah India menunjukkan protesnya agar tidak diganti-ganti. Lagu Tak Lagi Sama milik Rahmania Astrini akhirnya menjadi lagu yang diputar sampai habis.

💝💝💝

Di depan makam bertuliskan nama yang selalu disimpan di hati dan pikiran, Jondas meletakkan bunga mawar merah. Siang hari saat jam makan siang, Jondas mendatangi makam istrinya terdahulu, Wantra Heralie. Dia melewatkan makan siang dan langsung datang ke sini.

Jondas duduk di samping makam sang istri. Tangannya yang kokoh dan besar mengusap batu nisan dengan mata berkaca-kaca.

"Aku kangen kamu, Wantra...." Kata-katanya tertahan sejenak. Air mata yang telah membendung sempurna pun jatuh menetes. "Kangen banget," lanjutnya terisak.

Tidak ada kalimat yang terucap selain tangis. Jondas terisak-isak menangisi Wantra yang telah pergi bertahun-tahun lalu, meninggalkannya sendirian. Selamanya.

Jondas bersedia menikah dengan India setelah wasiat yang diberikan Wantra padanya. Dalam wasiat itu setelah kepergian Wantra beberapa tahun, Jondas harus menikah dengan India. Jika bukan karena wasiat itu, Jondas lebih memilih untuk sendiri dan hidup dengan mengenang Wantra sampai akhir hayatnya. Jondas tidak mau menggantikan Wantra dengan siapa pun. Tidak dengan perempuan lain ataupun India.

Bayang-bayang akan sosok Wantra masih terus mengisi pikiran Jondas. Tidak cuma itu saja, Jondas sering memimpikan Wantra. Jika ada yang bilang Jondas belum melepaskan Wantra, itu benar adanya. Jondas masih belum bisa menerima kenyataan pahit. Dalam duka yang terus menggerogoti, terkadang Jondas berharap bisa menyusul Wantra.

Langit yang kala itu sedang gelap, tiba-tiba menurunkan hujan lebat. Air mata yang jatuh menyatu dengan air hujan. Jondas tetap di sana, tidak beranjak sedikitpun walau tubuh sudah basah kuyup.

"Astaga, Mas! Kenapa nggak neduh?"

Pertanyaan dari suara yang sudah familier di telinga Jondas terdengar seiring air hujan yang tidak lagi membasahi tubuhnya. Jondas menoleh ke samping menemukan India memayunginya.

India datang bukan secara spesial ingin memayungi Jondas. Kedatangan India karena ingin mengunjung makam Wantra. Sayangnya, sebelum dilakukan hujan turun dan tidak sengaja menemukan Jondas diam di depan makam Wantra dalam keadaan basah kuyup. Oleh karena itu, India turun dan bergegas mendatangi Jondas supaya laki-laki itu tidak lagi kehujanan.

"Ini hujan deras, lho, Mas. Kalau sakit gimana? Ayo, pulang."

Jondas tidak menanggapi. Bangun dari posisinya, dia menepis tangan India hingga membuat payung yang dipegang menjauh. Akibatnya, India basah kuyup gara-gara payungnya sempat terhempas sebentar.

"Bukan urusan kamu," balas Jondas dingin.

India sudah cukup kesal. Dia menggamit tangan Jondas, lalu memindahtangankan payung supaya bisa dipegang oleh suaminya. Dia tidak peduli basah kuyup karena habis ini mau berlari ke mobil. "Memang bukan urusan saya, tapi pikirkan juga kesehatan Mas. Sekarang lagi hujan lebat. Kalau Mas nggak mau pulang, terserah. Saya pamit duluan."

Jondas membuang payung yang dibawa India ke tanah. "Saya nggak butuh perhatian kamu."

India kaget dengan tindakan Jondas barusan. Dia memungut payung yang untungnya tidak terbang dibuang seenaknya. India memayungi dirinya yang terlanjur basah. "Saya tahu Mas nggak butuh perhatian, tapi saya melakukan ini supaya Mas nggak sakit. Kalau Mas sakit, anak-anak pasti sedih. Saya memikirkan mereka. Jadi, jangan cerewet. Saya mau pulang."

Sekali lagi India menyerahkan payungnya. Tidak mau melihat penolakan lagi, dia bergegas meninggalkan Jondas. India tidak menoleh ke belakang supaya tidak kecewa. Tindakan India sudah benar karena pada akhirnya Jondas tetap membuang payung itu. Jondas memilih diguyur hujan lebat ketimbang bernaung di bawah payung yang dibawa India.

💝💝💝

Jangan lupa vote dan komen kalian🤗🤗🥰

Follow IG: anothermissjo

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top