Consolation - 2

Yuhuuu update >_<

Kalau nggak meleset, cerita ini update setiap jam 19.00 WIB ye~~

#Now Playing: Kerispatih - Bila Rasaku Ini Rasamu

Dua tahun. Selama itu India sudah banyak bersabar dan menerima perlakuan Jondas. Belakangan India merasa lelah. Baik hati maupun raga. Setiap jawaban yang diucapkan suaminya membuat India ingin pergi. Bolehkah dia beristirahat sejenak dan menikmati hidupnya selama beberapa saat?

Kalau dipikir lagi, India bisa saja menolak wasiat Wantra. Tapi karena dia dengar cerita Wantra kalau Jondas baik, dia menerima tanpa tahu bahwa laki-laki itu benci dijodohkan. Laki-laki itu tidak suka ada pengganti Wantra. Ironi sekali.

Seusai makan malam bersama, India memilih menjauh dari semua sepupu Jondas, berdiri di dekat pintu masuk utama untuk memandangi air mancur yang menjadi simbol kesayangan rumah omnya Jondas ini. Kalau tidak salah William Palmer, omnya Jondas, yang membiarkan rumahnya menjadi tempat perkumpulan hari ini pecinta air mancur. Jadi, tidaklah heran jika air mancur di kawasan rumah mencapai lebih dari sepuluh. Bagian terbesar berada di depan pintu utama yang sedang India pijaki. Air mancur itu tidak hanya sebatas polos melainkan dihias dengan patung berbentuk burung dan kupu-kupu.

India menghela napas. Dia selalu merasa asing di keluarga Palmer. Rasanya seperti ada jarak. India merindukan keluarga Wijaya yang hangat.

"He hurt you, right?"

India menoleh ke samping kiri, menemukan Davares yang baru saja muncul. Dari sekian banyak keluarga Palmer, dia hanya dekat dengan Davares. Jauh sebelum menikah dengan Jondas, dia lebih dulu mengenal Davares melalui Adit, mantan kekasih India. Kalau dulu Davares sebagai penikmat kisah cintanya dengan Adit, sekarang Davares bertugas menjadi pendengar setia curahan hati India terkait Jondas. Tidak diceritakan secara gamblang, sebatas tipis-tipis yang membuat Davares menebak-nebak sendiri.

"Udah biasa, kok," balas India sok tenang.

"Gue nggak paham kenapa lo masih mau bertahan sama Jondas. Lo bisa aja ninggalin dia setelah tahun pertama pernikahan. Kenapa dilanjut sampai dua tahun kalau hasilnya sama aja?"

India menatap lurus memandangi air yang mengalir dari air mancur di depan sana. Kenapa? Jowan dan Joantra yang menjadi jawabannya. Jika tidak ada mereka, India sudah kabur sejauh mungkin. Dua anak itu butuh seseorang yang selalu ada untuk menemani. Jondas bukan tipe yang dekat dengan anak. Entah apa alasannya, India tahu Jondas sempat mengabaikan anak-anaknya setelah kematian Wantra, bahkan menolak mengurus keduanya. Saat Wantra meninggal, anak-anak itu berumur satu tahun dan diserahkan kepada ibunya Jondas untuk diurus. Jadi, selama tiga tahun Jondas tidak mengurus anak-anaknya sampai mereka berusia lima tahun. India tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jowan dan Joantra tumbuh dengan tidak adanya kehadiran orang tua. Jika dia meninggalkan keduanya, apakah Jondas bisa memberi kasih sayang dan perhatian sebesar yang dia berikan?

"Pasti lo nggak rela ninggalin dua anak itu, ya?" tebak Davares.

"Iya. Gue mana tega."

Davares menghela napas. Sudah menduganya sejak awal. "Kenapa bisa, ya, lo lebih menyayangi mereka ketimbang Jondas sendiri? Sepupu kurang ajar gue itu nggak pernah ngurus mereka. Apa gara-gara itu lo merasa perlu kasih yang nggak diberikan Jondas untuk mereka?"

"Iya. Gue masih ingat setelah nikah, mereka senang banget dan meluk gue hampir setiap detik sambil manggil gue Bunda. Mereka sesenang itu punya ibu." India menurunkan pandangan, memandangi cincin pernikahan di jari manisnya. "Tapi kalau lihat kelakuan Jondas, rasanya gue mau kabur. Gue pikir dengan menyibukkan diri sama anak-anak, gue bisa tahan dengan semua sikap Jondas, ternyata nggak. Gue mulai capek. Apa gue baperan, ya?"

"Nggak, bukan baperan. Sabar ada batasnya. Sepupu gue memang nggak tahu diri aja."

India mendesah kasar. "Mau gimana lagi?" Lalu, dia melihat Davares yang juga melihat padanya. "Omong-omong, anak-anak di mana, ya? Gue mau samper mereka."

"Kalau nggak salah lagi di lantai atas main sama Kadon."

"Ya udah, gue samper dulu, deh."

"In," tahan Davares. Saat India menaikkan alisnya seolah bertanya tanpa menanyakan langsung, dia melanjutkan, "Kabur aja kalau lo udah nggak sanggup. Jangan dipaksain terus. Nggak cuma orang lain yang berhak bahagia, lo pun berhak bahagia."

India mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Tangannya bergerak cepat menepuk pundak Davares. "Iya, tenang aja. Thanks, Dav."

Sesudahnya India berjalan pergi meninggalkan Davares. Beberapa langkah setelah masuk ke dalam rumah, dia berpapasan dengan suaminya.

"Mas," panggilnya pelan.

Namun, Jondas tidak membalas. Jondas terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun. India menelan ludahnya sendiri, membasahi tenggorokkan yang terasa tercekik. India menghela napas selama beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan langkah untuk mencari Jowan dan Joantra.

💝💝💝

Sebelum matahari terbit India sudah bangun untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Jondas beserta kedua anaknya. India mengerjakan semuanya sendiri. Meskipun ada beberapa PRT yang bersedia membantu, India menolak dan memilih mengurus semua sarapan dan bekal seorang diri. Kalaupun India minta tolong, itu pasti untuk membangunkan anak-anak yang terkadang sering bablas walau sudah memasang alarm. Kalau Jondas tidak perlu ditanya lagi. Suaminya sangat tepat waktu dan tidak pernah terlambat sekalipun.

Tidak cuma sebatas sarapan dan bekal makanan, India juga membuatkan kue atau camilan disambil dengan sarapan sekaligus bekal yang dibuat. Biasanya bekal dan sarapan akan berbeda menu.

Seperti sekarang saja, India menyiapkan kue bolu untuk dibawa anak-anak dan Jondas. Dia juga memotong buah-buahan yang mereka suka untuk diletakkan di sisi lain dalam kotak makan. India tahu buah kesukaan Jondas dari Davares jadi tidaklah sulit mencari tahu kesukaan suaminya.

Setelah semua selesai India menempelkan sticky notes berupa kalimat penyemangat di atas masing-masing kotak makan. India serapi dan semanis itu menyiapkan semuanya dengan penuh kasih sayang.

"Bu, benar nggak ada yang perlu dibantu? Wajah Bu India pucat," tanya Surti, salah satu PRT yang sudah lama bekerja untuk Jondas saat masih ada Wantra.

"Nggak ada, Mbak Surti. Saya bisa...." Kata-kata India tertunda saat kepalanya tiba-tiba sakit. India sampai memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dari sakit yang datang.

"Bu? Bu India baik-baik aja?" tanya Surti khawatir.

"Nggak apa-apa." India mengangguk yakin. Pelan-pelan dia membuka mata, memasang senyum setelah sakit tidak begitu parah seperti sebelumnya. "Saya baik-baik aja, Mbak Surti. Oh, iya, kemarin bekal Bapak habis nggak?"

"Habis, Bu. Tapi Bapak nggak makan browniesnya, Bu. Masih utuh."

"Oh, gitu. Apa browniesnya terlalu manis, ya? Kamu cobain, kan? Terlalu manis nggak?"

"Nggak, sih, Bu."

"Mungkin terlalu manis buat Bapak kali, ya. Lain kali saya buatin terpisah, deh."

Surti mengulas senyum. Melihat India selalu berusaha keras dan melakukan semuanya sendirian dengan sepenuh hati, membuat dia kagum. India termasuk sosok yang suaranya lembut dan tidak pernah berbicara kasar. Jika melihat Jondas mengabaikan India, dia ikut sedih. Sayang sekali dia tidak punya kapasitas untuk ikut campur dan cuma bisa mendoakan yang baik-baik saja. Mendoakan India sehat dan diberi banyak kesabaran.

"Kalau lelah istirahat dulu aja, Bu. Nanti biar saya lanjutkan," ucap Surti.

"Saya baik-baik aja, kok." Senyum di wajah India semakin dilebarkan. Dia senang dengan kegiatan yang dilakukan sehingga tidak masalah walau hanya dilanda sakit kepala sekilas saja. "Mbak, tolong nanti bangunin anak-anak seperti biasa, ya. Takutnya Jowan tidur lagi. Dia paling susah bangun pagi."

"Baik, Bu."

"Coba, deh, cicipi bolunya, Mbak. Ada yang kurang nggak?"

India memotong bolu pandan yang baru saja matang dan meletakkan di atas piring untuk Surti. Sambil dikipas-kipas dengan kipas portable dekat meja marmer dapur, India menunggu dengan tidak sabar. Harap-harap cemas, takut rasanya tidak enak.

Surti melahap sepotong kecil bolu yang diberikan setelah lebih dingin. Sambil mengunyah, dia mengacungkan ibu jarinya sebagai penilaian. "Enak, Bu! Enak banget seperti biasa."

"Beneran, nih?"

"Iya, Bu. Saya nggak bohong. Suwer, Bu."

India terkekeh. "Iya, iya, saya percaya. Makasih udah mau cicipi, Mbak. Saya mau potongin dulu, ya. Mbak makan pelan-pelan aja. Nggak perlu buru-buru."

"Makasih, Bu." Surti menyunggingkan senyum senang. "Bu, makasih, ya, Bu."

"Buat bolunya? Sama-sama, Mbak."

"Buat semuanya, Bu. Ibu baik banget."

India balas tersenyum. "Iya, Mbak Surti. Kamu pun baik. Makasih juga udah membantu saya mengurus rumah ini."

Surti tidak bisa mengatakan hal lain selain terus bersyukur dalam hati dan mendoakan hal baik untuk India.

Selama India kembali fokus memasukkan bolu ke dalam kotak makan dan beberapa makanan lainnya, Surti menikmati bolu dengan tenang. Surti buru-buru melahap bolu yang tersisa setelah menyadari kehadiran Jondas. Kalau India baik, maka ada Jondas yang punya aura menakutkan di mata para PRT.

"Selamat pagi, Bapak," sapa Surti dengan susah payah, soalnya mulut penuh dengan bolu.

"Ya," balas Jondas. Singkat dan padat. "Surti, tolong bilang sama Mas Didin untuk siapkan mobil. Saya mau berangkat sekarang."

India berbalik badan dan menyapa suaminya. "Nggak sarapan dulu, Mas?"

"Sekarang, Surti. Jangan kelamaan," titah Jondas pada Surti, mengabaikan pertanyaan India.

"Ba-ba-baik, Pak." Surti berlari dengan cepat meninggalkan dapur.

India sadar suaminya tidak mau menjawab pertanyaan. Dia mengambil bekal yang telah siap, lalu diletakkan di atas meja marmer dapur. India sengaja meletakkan di sana supaya Jondas bisa langsung ambil tanpa perlu disuruh. Walau Jondas tidak pernah bicara dengannya, setidaknya laki-laki itu mau menikmati bekal buatannya. Itu saja bagi India sudah cukup. Walau dia juga tidak tahu apakah benar-benar dimakan atau dibuang.

"Tanda tangani ini."

India tersentak saat Jondas meletakkan dokumen di atas meja. Pandangan India tertuju pada tulisan yang diberi bold dan bertuliskan; Surat Gugatan Cerai Bersama. Mata India membulat. Dia mengambil dokumen tersebut, membaca secara cepat dari awal sampai akhir. Dalam surat tersebut sudah tercantum apa saja yang akan diberikan Jondas kepada India, termasuk izin untuk membiarkan India tetap merawat anak-anak.

"Saya ingin kita bercerai," jelas Jondas dingin.

India melihat suaminya yang menunjukkan ekspresi serius. "Cerai? Tiba-tiba?"

"Kenapa? Ada larangan saya nggak boleh menceraikan kamu?"

India menatap Jondas lebih lama. Memang tidak ada, tetapi bukan berarti dengan tiba-tiba Jondas sudah membuatkan surat gugatan cerai bersama yang sama sekali tidak ada pembicaraan sebelumnya.

"Saya nggak ngerti sama Mas." India mengepal tangannya kesal. "Selama ini Mas mengabaikan saya, nggak pernah ngajak saya bicara, lalu tiba-tiba Mas buat surat ini dan menyuruh saya ikut tanda tangan. Kita nggak pernah bahas surat ini bersama-sama."

"Kalau kamu nggak mau tanda tangan, ya udah. Tanpa tanda tangan kamu, saya bisa buat surat gugatan baru."

India menggigit bibir bawahnya, menahan diri untuk tidak mengamuk sekarang juga. "Mas nggak merasa keterlaluan? Kalau memang mau cerai, seenggaknya bahas sama saya, bukan tiba-tiba saya disuruh tanda tangan. Mas pikir saya tembok? Apa kehadiran saya udah bikin Mas muak banget sampai memperlakukan saya seperti ini?"

Jondas berkata dengan datar. "Iya."

"Sejak awal saya memang dianggap tembok, ya?" Mata India berkaca-kaca.

"Iya. Kamu bukan siapa-siapa buat saya dan nggak berarti apa pun. Dua tahun cukup untuk saya menjalani pernikahan bodoh ini," ucap Jondas dingin.

Jawaban Jondas berhasil mencabik-cabik perasaan India. Sebisa mungkin dia meyakinkan dirinya untuk tidak menangis di depan Jondas. Jangan sampai laki-laki itu melihatnya menangisi kejamnya mulut tidak berperasaan itu.

"Saya nggak mau tanda tangan," kata India.

"Saya akan buat surat gugatan baru. Siapkan pengacara kamu," tukas Jondas.

Berakhirnya ucapan Jondas, maka berakhir pula pertanyaan yang bisa dilayangkan oleh India. Tanpa pamit, Jondas pergi meninggalkan India. Begitu saja.

India memandangi dokumen di tangannya-tertawa pahit kemudian. Ternyata berusaha sebaik-baiknya hanyalah sebuah kesia-siaan.

💝💝💝

Jangan lupa vote dan komen kalian🤗🤗🥰

Follow IG: anothermissjo

Beneran sih, aku nulis part ini sedih :") India sabarnya udah melebihi sabarnya Wantra ini mah🥲 menembus ruang dan waktu sabarnya tuh😂

Meet our Jondas!<3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top