Consolation - 8
Yuhuu update ^^
•
•
Seperti biasa pagi-pagi India sudah bangun. Menyiapkan sarapan, tetapi tidak menyiapkan bekal karena masih hari Minggu. Walau tidak menyiapkan bekal, India menyiapkan makan siang dan cupcake untuk dinikmati anak-anak serta suaminya. India memiliki jadwal siang nanti menghadiri booktalk bersama beberapa penulis lain yang diadakan oleh penerbit jadi memilih mempersiapkan semuanya lebih awal. Acaranya memang masih jam dua belas siang, tetapi India tidak bisa masak buru-buru jadi harus lebih awal.
Kalau hari Minggu seperti ini India tidak memaksa anak-anak untuk bangun pagi. Namun, Joantra yang senang berdandan sudah bangun lebih awal untuk memakai rok ruffle warna-warni kesayangannya. Sekarang saja Joantra sudah duduk manis di meja makan dengan rambut dikuncir dua menggunakan pita.
"Mbak, Bapak udah pergi, ya?" tanya India kepada Surti.
"Bapak belum turun, Bu."
"Tumben. Biasanya udah pergi."
"Papa malas kali, Bun," sela Joantra.
India mengusap kepala Joantra. "Bisa jadi, ya. Kalau begitu Bunda mau cek Papa dulu, ya."
"Oke, Bunda."
"Makan yang banyak, Sayang. Kalau butuh apa-apa bilang Mbak Surti."
"Iya, Bunda Sayang."
India tersenyum senang memandangi Joantra mulai menyantap nasi goreng daging asap dengan telur mata sapi. Hari ini buatnya yang sederhana. Begitu pula dessert yang dibuat. India cuma membuat puding stroberi dengan potongan buah stroberi di dalamnya.
Menit berikutnya India sudah meninggalkan ruang makan menuju kamar Jondas yang berada di lantai dua seperti kamarnya dan anak-anak. Begitu tiba di depan pintu kamar Jondas, dia mengetuk pintu kamarnya dengan pelan. Tidak ada jawaban. India mencoba membuka pintunya dan ternyata tidak dikunci.
"Permisi," ucap India pelan seraya berjalan masuk lebih dalam.
India mendekati tempat tidur. Suaminya terlihat masih tidur. Namun, dia melihat Jondas berkeringat. Keningnya penuh dengan peluh. Padahal kamar cukup dingin. Pendingin ruangan juga tidak dimatikan. Merasa khawatir, India mendaratkan punggung tangan di kening Jondas. Betapa terkejutnya India merasakan suhu tubuh Jondas sangat panas. Sepertinya Jondas demam.
Ragu dengan punggung tangannya, India beranjak keluar mengambil termometer. Saat memeriksa suhu Jondas, dia terkejut hasilnya tinggi. 39,4 derajat celcius. Benar-benar angka yang tinggi dan tidak bisa dianggap remeh.
"Gue telepon dokter dulu, deh," ucapnya panik.
India menarik tangannya, berpindah merogoh ponsel dari saku celana jeans yang dia pakai. Tidak mau membuang waktu, dia menghubungi Airi Indrawan, dokter pribadi keluarga Palmer untuk datang memeriksa. Keluarga Palmer sudah sering memakai jasa Dokter Airi. Keluarga Wijaya juga punya dokter langganan mereka. Berhubung India tinggal bersama Jondas, dia menghubungi dokter keluarga Palmer yang sudah mengetahui riwayat penyakit keluarga Palmer.
Setelah selesai menghubungi dokter, India mengambil handuk kecil dari dalam lemari. Kemudian, dia menyeka peluh yang membasahi wajah dan leher Jondas. Sesudahnya India duduk di samping ranjang berukuran queen bed tersebut. Dia membuka ponselnya yang sempat dikunci sebelumnya dan segera menghubungi Yudo.
"Halo, Yud," sapa India.
"Hei, In. Lo udah jalan belum? Apa mau gue jemput?" tanya Yudo di seberang sana.
"Nggak usah, Yud. Gue berhalangan hadir. Suami gue sakit," jawab India.
"Sakit apa? Lo mau bawa ke rumah sakit?"
"Demam. Gue lagi nunggu dokter, sih. Maaf banget, Yud. Bisa tolong sampaikan nggak gue minta maaf dan berhalangan hadir? Gue nggak bisa ninggalin Jondas begitu aja. Anak-anak juga kasihan kalau gue tinggal pas Jondas sakit begini."
"Santai, In. Nanti gue sampaikan, ya. Lo urus suami aja dulu. Nanti gue mampir, deh."
India bernapas lega. "Thank you, Yud. Sukses acaranya, ya. So sorry."
"Santai. Ya udah sana. See you later, In."
Tidak lama sambungan berakhir. Syukurlah India bisa mengandalkan sepupunya untuk urusan buku. India mencondongkan tubuhnya, mengusap kening Jondas yang tampak mengernyit seolah tengah menahan sakit. Entah Jondas bermimpi apa, bisa jadi kejadian yang kurang menyenangkan.
India bangun dari tempatnya, bergegas keluar untuk mengambil obat dan segala keperluan untuk menurunkan demam di lantai yang sama. Di lantai dua terdapat lemari berisi keperluan obat-obatan dan segala macam yang dibutuhkan ketika mengalami demam atau beberapa penyakit lainnya.
Hanya beberapa menit sibuk, India telah kembali ke kamar Jondas dengan membawakan wadah berukuran kecil berisi air hangat dan handuk berukuran kecil. India meletakkan wadah tersebut di atas nakas, lantas mencelupkan handuk ke dalamnya hingga sepenuhnya basah. India memeras handuk, tetapi tidak sampai kering supaya tetap lembab. Sesudahnya India menempelkan handuk di atas dahi suaminya. Cara seperti ini masih mujarab untuk India. Semoga saja demam Jondas bisa turun.
India melakukannya secara berulang sambil menunggu dokter datang. Dia merawat Jondas dengan sabar. Dia tahu sakit tidaklah enak. Pasti untuk membuka mata saja sulit karena mata ikut panas akibat suhu panas yang lumayan tinggi.
"Semoga lekas sembuh, Mas," doanya pelan.
💝💝💝
India dengan sabar menemani Jondas yang masih tidur. Efek suhu badan yang terlalu panas, Jondas sampai tidak membuka mata. Tadi sempat terbangun, habis itu mata terpejam lagi. Jondas belum makan dan minum obat sama sekali. India khawatir. Dokter bilang kalau sampai tiga hari ke depan demamnya tidak ada perubahan, Jondas harus dibawa ke rumah sakit. Dokter sudah memberikan obat. India juga sudah menyiapkan bubur untuk dimakan suaminya.
Setelah cukup lama menunggu dan mengganti kompresan hingga demam turun meskipun tidak begitu banyak, akhirnya Jondas benar-benar membuka mata. India sigap bangun dari tempat duduknya dan mendekati suaminya.
"Mas, kepalanya sakit, ya?" tanya India.
Jondas mencoba menyadarkan dirinya dari sakit kepala. Tubuhnya terasa sangat panas.
"Mas, makan dulu, ya, biar bisa minum obat. Habis itu Mas bisa tidur lagi," lanjut India.
India mengambilkan bubur yang dimasukkan ke dalam food jar. Dia tidak mau buburnya dingin jadi sebisa mungkin harus tetap hangat. Sesudahnya India duduk di pinggir ranjang, bersiap untuk menyuapi Jondas.
"Mas, saya suapin, ya. Buburnya nggak terlalu pa––"
"Nggak mau," tolak Jondas.
"Mas masih mau keras kepala lagi sakit gini?"
"Saya makan sendiri aja."
Jondas bangun dari posisinya, berusaha duduk dengan tegap, tetapi kepalanya yang pusing membuatnya sulit untuk menjaga posisi. India yang melihat hal itu segera meletakkan mangkuk di atas nakas dan merapikan bantal untuk tumpuan punggung Jondas.
Tidak peduli Jondas marah, India tetap melakukannya. India mengambil mangkuk bubur, menyendok bubur, dan meniup pelan-pelan supaya tidak begitu panas saat menyentuh lidah.
"Saya suapin. Mas boleh cuekin saya nanti setelah udah sembuh. Sekarang Mas harus nurut sama saya. Sekali aja," tegas India.
Jondas hendak menolak, tetapi sakit kepala tidak kunjung reda. Mau tidak mau hanya mengangguk pelan dan pasrah.
India tersenyum kecil melihat Jondas akhirnya mau menurut. Tidak masalah efek sakit, India merasa bersyukur sekali-sekalinya Jondas tidak mengucapkan kalimat yang menyakitkan. India mulai menyuapi Jondas setelah bubur mulai dingin.
Berulang kali India menyuapi Jondas dengan sabar. Dia tidak lelah. Padahal India sendiri belum makan dari pagi, tetapi dia lebih mengutamakan Jondas supaya bisa minum obat. Biarpun tidak ada percakapan, melihat Jondas mau menerima suapan darinya saja sudah bersyukur.
"Satu suap lagi, Mas. Setelah ini minum obat dan bisa tidur lagi," ujar India.
"Iya." Jondas menjawab dengan singkat dan padat.
India memandangi Jondas yang mau melahap suapan bubur terakhir. Kemudian, dia memberikan segelas air putih untuk Jondas. Begitu sudah diminum, India menenteng nampan berisi alat makan yang perlu dibawa turun. India tidak bisa menunggu Surti atau yang lain datang. Lagi pula dia sekalian ingin bertemu anak-anak.
"Mas, obatnya di sini, ya." India menunjuk obat yang diletakkan di atas nakas. "Nanti tolong minum obatnya. Saya mau turun bawa mangkuk dan samper anak-anak dulu. Mereka tadi nanya Mas sakit apa. Mereka pasti khawatir."
"Iya."
India meletakkan kembali nampan di atas nakas, lalu mendaratkan punggung tangan di dahi Jondas. Belum ada satu detik Jondas menepis tangan India dengan kasar. India pun kaget.
"Saya cuma mau cek demam Mas udah turun belum, bukan mau pegang-pegang Mas. Nyebelin banget jadi orang," gerutunya sebal.
Sekali lagi India mendaratkan punggung tangannya di dahi Jondas. Demamnya sudah turun sedikit dari sebelumnya. Syukurlah kompresan masih memberi efek sedikit. India menarik tangannya, menuangkan air ke dalam gelas yang kosong dan menutup dengan penutup gelas.
"Nanti saya datang lagi, ya, buat kasih Mas obat. Sekarang Mas tiduran dulu aja. Soalnya minum obat itu bagusnya tiga puluh menit sampai sejam setelah suapan terakhir. Ayo, saya bantu Mas biar bisa tiduran lebih nyenyak," cerocos India.
Sebenarnya India bisa saja membiarkan Jondas mengambil obatnya sendiri di atas nakas. Namun, dia tidak tega. Pasti setelah Jondas tiduran, tiga puluh menit ke depan sudah beneran tidur. Bisa jadi Jondas lupa sama obatnya. Ada baiknya India membantunya nanti. Tidak masalah meskipun harus bolak-balik.
"Nggak usah," tolak Jondas.
"Nggak usah mulu. Mas, tuh, lagi sakit. Jangan rewel, deh. Ingat kata saya tadi. Kalau udah selesai sakit Mas mau cuekin saya, nggak apa-apa. Terserah aja. Sekarang Mas jadi pasien saya jadi harus nurut apa kata saya."
Mungkin efek sakit, Jondas tidak banyak menentang. India dengan mudahnya membantu Jondas berbaring. India membantu merapikan bantalnya agar lebih nyaman untuk dijadikan tumpuan. Kemudian, India menyelimuti Jondas seperti anak kecil yang menunggu cerita dongeng sang ibunda. Selain itu, India memastikan suhu ruangan sudah cukup tepat untuk suaminya.
"Cepat sembuh, Mas, biar nanti bisa main sama anak-anak."
India mengakhiri kalimatnya dengan melempar senyum tipis. Selama beberapa saat India tetap berdiri di sana sampai Jondas memejamkan mata. Begitu memastikan Jondas lebih nyaman, India baru keluar dengan membawa nampan di tangannya.
💝💝💝
Jangan lupa vote dan komen kalian😘❤
Semoga kalian bisa bertahan baca cerita ini sampai akhir ya😭🤣 kalo gak kuat, sumpahin aja si Jondas😭🙏
Follow IG: anothermissjo
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top