Bab 1

Warna berbagai make up, alat make up, skincare berjajaran di atas meja rias berwarna putih gading dengan cermin bulat. Seorang gadis berambut cokelat gelap duduk di depan cermin menepukkan toner perlahan pada tiap senti wajahnya, disusul dengan skincare lain: essence, moisturizer, sunblock. Setelah puas dengan hasil skincare yang terpulas sempurna di wajah, ia senyum merekah dengan gigi gingsul kecil di sebelah kanan. Sembari menunggu skincare meresap, ia membuka eye shadow pallete lalu menarik tempat koleksi lipcream, memandangi variasi warna yang ada.

"The concept is a teacher who is calm, attractive and dignified. Iyuh, bukan gue banget! Tapi mau gimana lagi, emang harus gitu biar meyakinkan. Demi mencari pundi rupiah, nabung untuk masa depan. Let's go, Girl! Glow your elegancy!"

Ia mulai membuka salah satu foundation yang paling dekat dengan warna kulitnya, memakainya menggunakan beauty blender, meratakannya tipis-tipis perlahan dengan sempurna. Tak lupa sedikit concelear untuk di beberapa tempat yang membutuhkan tone warna lebih terang agar lebih fresh. Tanpa perlu menggunakan pensil alis sebenarnya sudah bagus, hanya saja kali ini ia tidak ingin ada kekurangan di alisnya, jadi ditambahkan sedikit garis-garis pensil alis di pinggir alis. Eye Shadow Chanel kesayangan ia buka, lalu memilih warna-warna soft natural beige, peach dan mide brown. Dengan sentuhan secuil gliter pada bawah lipatan mata. Langkah terakhir ia menggunakan blush on pink rosie milik Youtuber terkenal Sunny Dahye plus Liquid Lipstick Chanel Rouge Allure Liquid Powder in 952 Evocation

"Perfect!" Ia mengecap sisa-sisa liquid lipstick agar rata di sudut bibir ,mengambil cermin bulat kecil lalu melangkah ke depan jendela kamarnya, menyelidiki tiap senti riasan yang terpoles sempurna di wajah. "Aku tidak boleh telat sama sekali. Kesan adalah hal penting untuk bertahan di dunia kerja yang istimewa ini." Tersenyum puas, meraih tas hitamnya lalu melangkah riang.

"Dek, Kakak berangkat kerja dulu ya, Sayang," pamit Andien Kartika Maulina pada adiknya yang sedang sarapan roti tawar selai cokelat dan susu.

"Kakak ga sarapan dulu?" Dengan terburu-buru gadis dengan rambut hitam di kuncir kuda itu menelan makanannya, mengusap pipi yang kotor.

"Buru-buru, Dek. Ada meeting. Kakak bawa roti bantal cokelat aja. Nanti kalau Tomi sudah selesai mandi jangan lupa suruh sarapan ya. Bye." Tak lupa Andien mengecup pipi adik perempuannya, Karin Maryamah.

"Bye." Karin melambai pada kakaknya yang terburu-buru mengenakan sepatu higheels-nya. "Yah, Kakak lagi-lagi ga sarapan bareng aku," gerutunya setelah Kakaknya berhasil memakai sepatu dan terbirit-birit.

"Iya gampang lain kali Dek!" Andien yang masih bisa mendengarkan gerutuan Karin, menyahut dengan lantang.

Mobil hitam Honda Jazz melesat dan terparkir sempurna di depan gerbang rumah berwarna putih dipadu ornamen emas. Andien buru-buru berlari ke arah mobil dengan membawa tas di bahunya, tentengan kantong kresek berisi roti, dan handphone di tangan kiri. Ketika membuka pintu mobil ia harus memindahkan kantong kresek ke tangan kiri. "Telat lagi lo? Belum sarapan?" tanya seorang laki-laki berkumis dan berjanggut tipis dengan lesung pipi yang manis.

"Ini namanya kagak telat, efisiensi waktu. Ga usah banyak bicit lo, tancap gas aja." Andien meniup poni miringnya yang berantakan. "Eh, lo udah bawa ijazahnya kan?"

"Udeh, tenang aje." Laki-laki itu menunjukkan kode mata ke belakang kursi mobil. "Eh tapi lo beneran bisa bahasa Inggris? Jangan ngaco lu entar!"

"Bisa Cot! Lu pikir gue mau bunuh diri? Kagak bisa bahasa Inggris mau ngelesin anak polisi reskrim bahasa Inggris?" Andien memutar bola matanya.

"Lu nipu polisi aja udah setengah menuju kebunuh dirian!"

"Iya juga sih." Mereka terbahak bersama. "Ngaco juga ya gue, kaya nyawanya seribu."

"Emang elu kan makhluk jadi-jadian. Kagak takut ape-ape."

"Tapi mau gimana lagi dong Ndro? Clien kita sepi selama masa Covid. Lu pikir gampang nipu orang? Sekarang orang boro-boro mikir buat investasi yang aneh-aneh. Mikir buat kebutuhan aja engap-engapan tahu ga lo?"

"Dih, gaya lo kaya emak-emak beranak lima! Udah macem kudu ngempanin."

"Ya gue ga punya anak, tapi punya adik. Sama aja Kampret! Lu tuh niat bantuin gue apa mau dipecat?"

"Bantuinlah. Gue juga butuh duit." Indro dengan centil mencolek dagu Andien seraya terkekeh.

"Sialan lo! Bikin waktu gue habis aja. Gue belom makan nih gegara bacitan lo!"

"Yee.. yauda sih tinggal makan!" sergah Indro.

"Ngomong lagi gua kepret lo!" ancam Andien dengan roti bantal yang sudah masuk mulutnya.

"Sia-sia riasan lo! Ga bisa nutupin kebusukan lambe lo! Jadi cewek tuh yang manis, Ndien, kapan lo kawin kalau kaya gitu terus?"

Andien sudah berhasil melayangkan tangannya ke pipi Indro tapi buru-buru Indro tutupi. "Sialan lu! Lu aja belum tobat segala nasehatin gue! Lo juga kapan kawin? Main sama batangan mulu!"

"Yee ... itu mah beda cerita. Gua mah udah dari sononya."

"Pret... diem ga lo sebelum gua sumpel mulut lo pake kaos kaki andalan!"

Indro tergelak. "Sialan lo! Kalau itu sih gua angkat tangan. Kaos kaki andalan lo emang bius mematikan. Lagian lo bawa-bawa kaos kaki begituan buat ape sih?"

"Itu salah satu senjata, Mbel. Lo inget sendiri waktu gua ketemu beberapa clien, ada aja yang mau ngelecehin gue. Jadi kalau itu orang macem-macem gua bisa pake itu kaos kaki untuk serangan pertama. Lo aja mau pingsan kan?"

"Iya deh. Otak lo emang psikopat dari sananya. Makanya susah tobat ya Nek?"

Andien cuma mengangguk dan melanjutkan makannya sampai akhirnya tujuannya sampai. Sebuah rumah serba putih, elegan. Dengan lebar rumah sekitar 20 meter, desain ala Jepang minimalis dengan ornament kayu khas Jepang. Tak lupa hamparan taman yang di tata sederhana, tidak terlalu mencolok, namun cukup rindang karena ada pohon mangga di pinggir gerbang dan pohon cemara kecil di tengah taman. Air terjun buatan yang mengalir ke kolam ikan di dekat taman ga kalah membuat rumah ini terasa hommie.

Pintu kayu yang mengkilap itu terbuka. Seseorang mengenakan baju kemaja hitam polos, dan celana panjang hitam polos keluar dari rumah tersebut.

"Ah, Ibu sudah datang? Pas sekali saya hendak menunggu ibu di teras, Silakan masuk Bu."

Senyuman manis merekah ditambah lesung pipi yang sangat kecil di kulit sawo matangnya terlihat sangat maskulin di mata Andien. Entah kenapa keramah-tamahannya justru membuat aura magic-nya menguar dan membuat Andien menyelami perasaan yang asing itu. Detak jantungnya sudah dibiarkan tak beraturan. Yang ia rasakan saat ini adalah seperti musim semi. Entah bagaimana dia merasakan perasaan asing ini. Tanpa sepatah kata, ia mengangguk lemah, dengan langkah yang terasa melayang mengikuti sosok tersebut tanpa bisa berpikir apapun.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top