Bab 2
"Assalamu'alaikum," Andien mengucapkan salam setelah memasuki pintu rumah. Tersadar dari belenggu perasaan asing, ia kembali ke dunia nyata serta misinya yang jauh lebih penting baginya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabakatuh." Jawaban lengkap ia terima beserta senyum indah yang terukir di wajah manis pria di hadapannya.
"Maaf Bu Andien sebelumnya. Kebetulan saya sedang terburu-buru ada pekerjaan. Bisa langsung saja saya lihat berkas Bu Andien?"
"Oh iya maaf, Pak. Ini." Ia menyodorkan map cokelat yang berisi berkas seperti lamaran pekerjaan pada umumnya.
"Ohya Bu Andien alumni UI ya?" tanya pria itu seraya melihat-lihat berkas.
"Iya Pak." Andien mengukir senyum tipis seanggun mungkin. Detak jantung Andien tak seperti biasanya, ia gugup tanpa tahu sebabnya. Tidak mungkin seorang penipu profesional sepertinya merasa gugup saat melancarkan aksinya. Ia berpikir, apa ia terkena serangan jantung mendadak? Atau suatu gejala penyakit lainnya? Buru-buru ia menggeleng dari lamunan. Tentu saja masih banyak tanggungan hidup yang harus ditanggung. Ia tidak boleh sakit. Sama sekali.
"Nilainya sangat memuaskan ya Bu. Saya harap Ibu bisa membimbing anak saya belajar."
"Insya Allah Pak."
"Mohon dimaklumi ya Bu, kalau anak saya manja dan sulit diatur. Tetapi saya percayakan kepada Bu Andien untuk mengajarkannya. Menurut pihak BIMBEL Ibu salah satu guru favorit yang jam terbangnya tinggi dan selalu sukses, jadi saya yakin Ibu mampu membimbing anak saya." Kali ini senyumnya semakin lebar, menarik mata menyipit. Andien hampir kewalahan membalas senyum itu. Entah kenapa matanya tidak bisa melepaskan pemandangan indah di hadapannya. "Ohya Bu, silakan diminum teh nya. Tadi Bibi ternyata sudah menyiapkannya, kebetulan Ibu datang. Tepat sekali timing-nya." Krisna tertawa ringan menghidupkan suasana di dalam ruangan.
"Artinya sudah rejeki saya Pak. Saya minum dahulu," Andien membalas keramahan Krisna lalu menyeruput teh dengan harum teh menyeruak yang membuatnya mengiler.
"Kalau begitu bisa saya tinggal Bu Andien? Kebetulan saya sudah telat dan sedang ditunggu. Nanti Bibi yang mengantar Ibu ke ruang belajar anak saya."
"Baik Pak." Sukses sesi interview dengan clien. Berjalan mulus tidak ada kecurigaan. Ini semua memang berkat Indro, Jaka dan Naysila, komplotan penipuannya. Indro dan Jaka adalah partner crime dalam urusan IT, pemalsuan data, hack data, dll. Naysila adalah partner Andien dalam tipu menipu, alias saling bergantian berkomplot sebagai admin, sekertaris, dll untuk menyakinkan clien. Sebelum masa pandemi menyerang, sasaran mereka adalah OKB yang kebelet investasi. Semasa pandemi, mencari clien untuk ditipu investasi semakin sulit. Jadi mereka mulai merambah ke bidang lain. Kalau dipikir penipuannya kali ini tergolong penipuan yang terpuji. Ia tidak mungkin pula menyesatkan murid, karena dengan itu kedoknya akan terbongkar.
Krisna masuk ke dalam rumah dan memanggil asisten rumah tangganya. Tak lama kemudian ia berpamitan. Andien dipersilakan masuk dan mengikuti asisten rumah tangga tersebut. Kami memasuki ruang belajar yang sangat berkelas sekaligus feminim. Penuh dengan warna purple.
"Oh, Ibu sudah datang. Ibu Andien kan?" tanya anak remaja perempuan dengan rambut hitam sebahu. Senyumnya ramah.
"Iya. Adek namanya Keysa ya?"
"Iya Bu. Ohya Bu, sini duduk sebentar. Aku sedang video call dengan teman-temanku tentang tugas kelompok. Sebentar ya Bu."
"Iya lanjutkan saja."
"Siapa Key? Kayanya aku kenal suaranya," ujar teman Keysa di dalam video call tersebut. Andien menoleh dan terkejut. Adiknya ada di salah satu video grup call tersebut. Andien berpaling dan menutupi wajah dengan rambutnya.
"Itu guru bimbelku yang baru. Cantik banget loh!"
"Tadi namanya Bu Andien? Mirip kakakku. Bajunya juga mirip."
"Masa? Coba kamu lihat aja."
"Bu Andien, Bu Andien kakaknya Keysa ya? Ini Bu yang namanya Keysa. Katanya Ibu mirip kakaknya," ujar Keysa menunjuk layar monitor. Situasi gawat darurat yang tidak diinginkan.
Andien bersin-bersin beberapa kali. "Maaf Keysa. Ibu bisa ikut ke kamar mandi sebentar? Ibu tiba-tiba ingin bersin."
"Ohya boleh Bu. Kamar mandi di depan ruangan ini ada."
"Ah, bukan Kakakku lah jelas. Cuma mirip saja. Kakakku kan lagi kerja di kantor," ujar Karin adik Andien.
Hampir saja Andien tertangkap basah oleh adiknya sendiri. Untung ia juga mengenakan masker. Ia hanya perlu bertindak seolah ia orang lain di depan adiknya. Segala macam barang yang otentik miliknya tidak boleh terlihat di layar video. Andien kembali ke ruang belajar Keysa. Ia masih video call berdiskusi. Andien sudah merubah penampilannya sedemikian rupa agar tidak dikenali adiknya. Rambutnya ia beri poni, ia melepas anting, jam, cincin, dan meletakkan tasnya jauh dari tangkapan kamera video.
"Bu, ada tugas drama dan kita harus pilih cerita rakyat Indonesia dijadikan bahasa Inggris. Kita bingung Bu. Ada prakteknya juga Bu, tapi per-anak di video lalu diedit. Ribet banget kan? Males banget deh Bu."
"Ada berapa anak yang ikut?" tanya Andien dengan suara yang dilembutkan agar tidak dikenali.
"Ada 7 anak Bu. Perempuan 4, laki-laki 3. Kan susah ya Bu?"
"Bagaimana kalau Cerita Rakyat Klenting Kuning? Formasinya pas menurut Ibu."
"Ohya masa sih Bu? Gimana ceritanya?"
"Coba kamu cari aja di Google ceritanya, biar jelas. Nanti Ibu bantuin bikin naskahnya."
"Wah Ibu baik banget. Makasih Bu." Keysa tersenyum riang. "Temen-temen aku dapat saran dari Bu Andien dan katanya mau bantuin ngerjain tugas!" Seluruh anak bersorak ria.
Mereka mulai sibuk membaca cerita rakyat. Andien menyarankan agar mereka masing-masing membuat cerita versi mereka dahulu. Barulah Andien mengambil cerita dari mereka dan merevisinya. Semua anak fokus menulis cerita versi mereka masing-masing. Waktu berjalan sudah hampir 1 jam.
"Sudahkah anak-anak?"
"Belum Bu, dikit lagi," jawab Karin.
"Ya sudah gapapa. Ga perlu lengkap dulu sementara. Besok bisa diperbaiki lagi. Kirim ke WA Ibu ya, hasilnya nanti Ibu beri kesimpulan."
"Baik Bu," mereka semua menjawab kompak.
"Menurut Ibu paling baik alurnya adalah punya Keysa. Sedangkan percakapan paling baik milik Karin. Dan beberapa plot dari kalian banyak yang bagus. Jadi nanti pertemuan berikutnya Ibu buat versi revisian Ibu dari cerita-cerita yang kalian buat ya. Tapi karena ending-nya belum ditulis, PR kalian buat endingnya ya."
"Baik Bu."
Pertemuan pertama yang baik. Andien sukses menjalankan misinya tanpa dicurigai.
"Karin, gue denger dari sodara gue yang di Semarang, kalau lo itu anaknya Pak Suherman yang jadi tersangka pemerkosaan anak CEO PT. Mest ya? Ga mungkin kan? Tapi dia yakin banget pas liat foto-fotomu," ujar Keysa dengan gaya bercerita yang menggebu-gebu.
"Pa-Pak Suherman?" Karin terkejut. Badannya membeku, mukanya pucat. Andien sedikit mengintip reaksi Karin.
"Aku ga tau siapa Pak Suherman! Mirip aja kali! Sodara lo salah liat tuh! Ya kali gua kan anak yatim."
"Iya kan ya? Tolol banget sodara gue. Udah gue bilang ga mungkin." Keysa mengipaskan tangan.
"Lagian ga mungkin kan, anak napi sekolah di sekolah kita. Terus jadi temen kita. Ngeri banget ga sih?" ujar Karin sembari tertawa, sementara Andien mendengarnya sebagai suara sumbang yang menggambarkan kegetiran. Andien merasakan kegetiran dua kali lipat melihat adiknya. Ia tak pernah mengharapkan apapun selain adik-adiknya bisa hidup normal. Hanya itu. Dan itu pula yang sedang ia perjuangkan sampai kapanpun.
"Iya dong. Ga mungkin. Lo mah ada-ada aja, Key," ujar salah satu anak.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top